<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-10771740</id><updated>2011-08-16T22:51:21.202+07:00</updated><category term='Makan-makan'/><category term='Puisi'/><category term='Sepakbola'/><category term='Kesehatan'/><category term='Romance'/><category term='Nonton'/><category term='Budaya'/><category term='Kado'/><category term='Inspirasi'/><category term='Keluarga'/><category term='Liverpool'/><category term='Meditasi'/><category term='Cita-cita'/><category term='Cerpen'/><category term='Advertising'/><category term='Kongkow'/><category term='Musik'/><category term='Kutipan'/><category term='Jalan-jalan'/><category term='a la Stevie'/><title type='text'>iStevie</title><subtitle type='html'>Dari Stevie untuk siapa saja, a la Stevie. Ditulis sejak 2005.</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://stevie18181.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10771740/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://stevie18181.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10771740/posts/default?start-index=101&amp;max-results=100'/><author><name>Stevie Sulaiman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02685787684909090570</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_rC_LrIRDnOM/RoEiB0NXSxI/AAAAAAAAAGU/tf75ldN9ZAY/s400/Bedroom_3.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>468</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10771740.post-8448290692824239574</id><published>2008-05-22T16:54:00.004+07:00</published><updated>2008-05-22T17:13:26.559+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Keluarga'/><title type='text'>Pindah rumah</title><content type='html'>Per hari ini, 22 Mei 2008, aku pindah "rumah" ke &lt;a href="http://istevie.wordpress.com"&gt;istevie.wordpress.com&lt;/a&gt;. Selamat tinggal stevie18181.blogspot.com, 40 bulan yang menyenangkan. Takkan sampai sejauh ini tanpamu.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10771740-8448290692824239574?l=stevie18181.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://stevie18181.blogspot.com/feeds/8448290692824239574/comments/default' title='Publier les commentaires'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10771740&amp;postID=8448290692824239574&amp;isPopup=true' title='0 commentaires'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10771740/posts/default/8448290692824239574'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10771740/posts/default/8448290692824239574'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://stevie18181.blogspot.com/2008/05/pindah-rumah.html' title='Pindah rumah'/><author><name>Stevie Sulaiman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02685787684909090570</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_rC_LrIRDnOM/RoEiB0NXSxI/AAAAAAAAAGU/tf75ldN9ZAY/s400/Bedroom_3.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10771740.post-3692000853439139729</id><published>2008-05-21T20:54:00.003+07:00</published><updated>2008-05-21T21:00:51.696+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jalan-jalan'/><title type='text'>Sunset sky from 30,000 feet</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_rC_LrIRDnOM/SDQp7pR9yRI/AAAAAAAAANw/OIIYVmEnHOE/s1600-h/Sunset+sky+from+30,000+feet.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://2.bp.blogspot.com/_rC_LrIRDnOM/SDQp7pR9yRI/AAAAAAAAANw/OIIYVmEnHOE/s400/Sunset+sky+from+30,000+feet.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5202829574189992210" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sebetulnya sayang terbang pulang dari hometown sore hari. Umpama ada flight besok paginya aku pasti akan pilih pagi. Selain jarang sekali delay, terbang pagi juga menyisakan hawa yang enak, plus bisa ekstra semalam lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya penerbangan Air Asia dari Surabaya ke Jakarta paling awal sudah jam 2.45 siang, jadi harus pulang dari malam sebelumnya. Mungkin karena kali ini jumlah penumpangnya nanggung, penerbangan malam itu pun dialihkan ke penerbangan sebelumnya di sore hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun waktu di hometown terpotong lagi beberapa jam, toh penerbangan sore hari juga memberikan kepuasan tersendiri. Apa lagi kalau bukan pemandangan langit matahari terbenam dari jendela. Warna langit yang biru bercampur merah muda, dan awan-awan yang ada di bawah kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemandangan kali ini memang belum seindah pemandangan sunset pertama waktu itu–yang sayangnya lupa aku potret–tapi tetap saja meneduhkan hati. Serasa sedang menjadi saksi sebuah lukisan yang sangat indah, di kanvas yang tak terhingga luasnya. Kalau saja ada yang bisa diajak berbagi bersama keindahan hidup ini...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10771740-3692000853439139729?l=stevie18181.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://stevie18181.blogspot.com/feeds/3692000853439139729/comments/default' title='Publier les commentaires'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10771740&amp;postID=3692000853439139729&amp;isPopup=true' title='0 commentaires'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10771740/posts/default/3692000853439139729'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10771740/posts/default/3692000853439139729'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://stevie18181.blogspot.com/2008/05/sunset-sky-from-30000-feet.html' title='Sunset sky from 30,000 feet'/><author><name>Stevie Sulaiman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02685787684909090570</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_rC_LrIRDnOM/RoEiB0NXSxI/AAAAAAAAAGU/tf75ldN9ZAY/s400/Bedroom_3.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_rC_LrIRDnOM/SDQp7pR9yRI/AAAAAAAAANw/OIIYVmEnHOE/s72-c/Sunset+sky+from+30,000+feet.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10771740.post-7396332312374760405</id><published>2008-05-15T15:53:00.006+07:00</published><updated>2008-05-16T11:59:29.033+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Meditasi'/><title type='text'>Ronin</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_rC_LrIRDnOM/SCwD1JR9yPI/AAAAAAAAANg/FHneMt4IZFs/s1600-h/Handing+sword.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://4.bp.blogspot.com/_rC_LrIRDnOM/SCwD1JR9yPI/AAAAAAAAANg/FHneMt4IZFs/s400/Handing+sword.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5200535881265301746" /&gt;&lt;/a&gt;Setelah merasakan 3 kali pindah kerja dalam kurang dari 5 tahun, ada kejanggalan yang terjadi hampir di setiap tempat yang aku singgahi: atasanku pindah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentunya memang sudah rencana masing-masing, tapi kok kejadiannya pas aku belum lama bergabung. Jadinya sempat terlintas di perasaanku, apa aku ini biang bikin bos pindah...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang pertama terjadi sekaligus 2 orang yang resign–satunya beralih ke posisi yang lebih strategis di belakang layar, satunya lagi bener-bener resign dan alih bidang ke seni murni. Keduanya sudah mengabdi 18 tahun dan 13 tahun saat resign.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kejadian kedua, di perusahaan berikutnya, bos yang sudah mengabdi 11 tahun juga resign menjelang hampir setahun sejak aku bergabung, justru pas lagi asik-asiknya kerja bareng dia. Lalu yang terakhir, di perusahaan berikutnya lagi, Group Head yang baru sama-sama bergabung hampir tiga bulan lalu juga resign–buka usaha sendiri bersama teman-temannya–juga pas lagi asik-asiknya chemistry di tim kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di satu sisi ikut senang melihat teman bergerak maju, baik itu pindah ke posisi yang lebih strategis, pindah ke perusahaan yang lebih bagus, menemukan profesi baru yang lebih disukainya, atau bahkan memulai usahanya untuk menjadi lebih mandiri. Tapi bagaimanapun kehilangan bukan hal yang mudah untuk dihadapi, apalagi bila itu adalah kehilangan mitra kerja yang selaras dan sevisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih kehilangan lagi ketika mengingat belum banyak project berarti yang terealisasi selama kerja bareng. Seandainya saja sedikit lebih panjang kebersamaan itu, sampai sempat bikin "sesuatu" dulu, mungkin perpisahan itu tidak akan terasa sedemikian berat. Atau malah tambah berat lagi? Ah, entahlah...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah manusia, sulit merasa cukup, dan selalu kurang siap untuk berpisah. Lupa bahwa setiap orang hakikatnya adalah jiwa yang bebas, dan kebersamaan apa pun cepat atau lambat pasti akan berakhir.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10771740-7396332312374760405?l=stevie18181.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://stevie18181.blogspot.com/feeds/7396332312374760405/comments/default' title='Publier les commentaires'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10771740&amp;postID=7396332312374760405&amp;isPopup=true' title='0 commentaires'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10771740/posts/default/7396332312374760405'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10771740/posts/default/7396332312374760405'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://stevie18181.blogspot.com/2008/05/ronin.html' title='Ronin'/><author><name>Stevie Sulaiman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02685787684909090570</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_rC_LrIRDnOM/RoEiB0NXSxI/AAAAAAAAAGU/tf75ldN9ZAY/s400/Bedroom_3.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_rC_LrIRDnOM/SCwD1JR9yPI/AAAAAAAAANg/FHneMt4IZFs/s72-c/Handing+sword.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10771740.post-1335896306809805076</id><published>2008-05-02T00:55:00.002+07:00</published><updated>2008-05-03T13:42:13.405+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Romance'/><title type='text'>Interest yang sama</title><content type='html'>Dalam mencari teman, kebanyakan orang tentunya cenderung lebih suka (dan lebih nyaman) bersama teman yang memiliki interest yang sama. Tapi situasi ini bisa berubah menjadi aneh ketika interest itu adalah gebetan yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalnya seperti pengalaman bertahun-tahun yang lalu, di mana aku dan seorang temanku naksir cewek yang sama, Winona Cheung (wajahnya mirip Maggie Cheung, tapi dandanan dan rambut cepaknya mirip Winona Ryder). Untuk menambah lebih tolol, nama kami sama-sama berawalan "S". Hehehe... jadi ibaratnya S1 dan S2 (untung inisialnya bukan “B”, kalo nggak bisa jadi anjing dan babi :p).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pertemanan, tentunya, selain saling jujur dan berbagi suka-duka bersama, ada juga semacam hukum tidak tertulis (atau kesepakatan) untuk saling mendukung. Yang kemudian jadi aneh adalah pada kondisi naksir cewek yang sama itu, kedua orang yang saling berteman ini kemudian sekaligus saling berebut. Begitu pula kalau mengincar posisi yang sama di sebuah kantor, atau di sebuah tim sepakbola, atau klien yang sama–walaupun tidak sesulit naksir cewek yang sama tadi. Banyak pertemanan yang kandas gara-gara situasi aneh ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang susah memilih antara teman dan pasangan. Sebagian orang mengorbankan temannya demi pasangan, tapi ternyata pasangan yang dibela-belain itu bukanlah jodohnya, kemudian mereka berpisah dan orang itu kehilangan kedua-duanya. Sebagian lagi memilih temannya dan mengorbankan pasangannya–berpegang pada prinsip bahwa pertemanan itu abadi dan tidak mungkin dikorbankan–tapi kemudian ia tak kunjung menemukan pasangan yang lebih ideal daripada cewek itu, dan berakhir dengan antara tidak pernah menikah atau kawin-cerai hingga beberapa kali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memilih dua-duanya malah lebih ruwet lagi, ibarat bikin iklan yang mengandung dua pesan utama sekaligus (nggak jelas maunya apa), seperti yang dilakukan S1 dan S2 ini. Akhirnya sudah sempat terjadi persaingan tetap tidak ada di antara mereka yang mendapatkan si cewek, walaupun masih melegakan ketika di kemudian hari mereka bertiga masih bisa berteman dan tidak saling menyimpan sakit hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya masih tersisa cinta buat Winona di hati S1, walau ia tak lagi berharap akan bisa lebih dari just friends. Buktinya ia sulit melupakan hari ulang tahunnya, dan tiap hari terakhir di bulan April mengucapkan Happy Birthday–apakah itu telepon, SMS, atau sekedar message di Friendster atau email–yang tak terasa kali ini sudah ke-27, bukan lagi ke-17. Sementara S2 memilih berpasangan dengan cewek lain yang mencintainya, lalu menikahinya. Sekarang mereka sudah dikaruniai seorang anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun demi tahun berlalu, S1 akhirnya berhasil memaafkan dirinya yang tolol tidak tegas itu, dan jatuh cinta lagi kepada cewek lain. Sayangnya, kali ini ia kembali harus menghadapi situasi aneh yang sama: bersaing dengan teman sendiri. Lagi.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10771740-1335896306809805076?l=stevie18181.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://stevie18181.blogspot.com/feeds/1335896306809805076/comments/default' title='Publier les commentaires'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10771740&amp;postID=1335896306809805076&amp;isPopup=true' title='0 commentaires'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10771740/posts/default/1335896306809805076'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10771740/posts/default/1335896306809805076'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://stevie18181.blogspot.com/2008/05/interest-yang-sama.html' title='Interest yang sama'/><author><name>Stevie Sulaiman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02685787684909090570</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_rC_LrIRDnOM/RoEiB0NXSxI/AAAAAAAAAGU/tf75ldN9ZAY/s400/Bedroom_3.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10771740.post-5006558748010896168</id><published>2008-05-01T22:47:00.001+07:00</published><updated>2008-05-02T19:54:58.057+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Liverpool'/><title type='text'>Liverpool FC 2008/2009</title><content type='html'>by Stevie Sulaiman (Liverpool assistant manager wannabe :p)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_rC_LrIRDnOM/SBsNx9-3d0I/AAAAAAAAANY/HJPHTBRs8F4/s1600-h/PROP080430-132-Chelsea_Liverpool.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://4.bp.blogspot.com/_rC_LrIRDnOM/SBsNx9-3d0I/AAAAAAAAANY/HJPHTBRs8F4/s400/PROP080430-132-Chelsea_Liverpool.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5195761747204994882" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;p style="text-align:center;"&gt;9. Torres&lt;br /&gt;7. Kuyt       8. Gerrard&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;14. Alonso      11. Benayoun&lt;br /&gt;20. Mascherano&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Riise      5. Agger     4. Hyypia     Dani Alves (Sevilla)/Eboué (Arsenal)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;25. Reina&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;(4-3-3)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Subs:&lt;br /&gt;1. Carson/Itandje, 23. Carragher, 37. Skrtel, 12. Aurélio, 3. Finnan, 21. Lucas, Cambiasso (Inter), 16. Pennant, 19. Babel, 10. Voronin, Bendtner (Arsenal)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Outs:&lt;br /&gt;Arbeloa, Kewell, Crouch&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10771740-5006558748010896168?l=stevie18181.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://stevie18181.blogspot.com/feeds/5006558748010896168/comments/default' title='Publier les commentaires'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10771740&amp;postID=5006558748010896168&amp;isPopup=true' title='0 commentaires'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10771740/posts/default/5006558748010896168'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10771740/posts/default/5006558748010896168'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://stevie18181.blogspot.com/2008/05/liverpool-fc-20082009.html' title='Liverpool FC 2008/2009'/><author><name>Stevie Sulaiman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02685787684909090570</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_rC_LrIRDnOM/RoEiB0NXSxI/AAAAAAAAAGU/tf75ldN9ZAY/s400/Bedroom_3.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_rC_LrIRDnOM/SBsNx9-3d0I/AAAAAAAAANY/HJPHTBRs8F4/s72-c/PROP080430-132-Chelsea_Liverpool.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10771740.post-3002675663971769131</id><published>2008-05-01T21:42:00.003+07:00</published><updated>2008-05-02T19:47:09.590+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Liverpool'/><title type='text'>Good luck, Chelsea!</title><content type='html'>Riise melunasi utangnya dengan penampilan yang bagus pada semifinal Liga Champions putaran kedua ini, terlepas dari masih tersisanya kesialannya–dua dari 3 gol Chelsea tercipta setelah melewati dirinya, dan Chelsea pun melaju ke final dengan skor akhir 3-1 (extra-time).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi kedua gol Drogba itu bukan salah Riise. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_rC_LrIRDnOM/SBsMi9-3dyI/AAAAAAAAANI/1Ln9dKVA96w/s1600-h/PROP300408_009_Chelsea_Liverpool.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://4.bp.blogspot.com/_rC_LrIRDnOM/SBsMi9-3dyI/AAAAAAAAANI/1Ln9dKVA96w/s400/PROP300408_009_Chelsea_Liverpool.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5195760389995329314" /&gt;&lt;/a&gt;Gol pertama Drogba terjadi lebih karena baik Alonso maupun Mascherano tidak ada yang mengawal ketat Drogba yang masih di luar kotak penalti, sehingga ketika tembakan Salomon Kalou yang ditepis Reina muntah tanpa terkawal ke Drogba. Begitu pula gol ketiga Chelsea dan kedua Drogba yang berawal dari cross Anelka dari sayap kanan. Walaupun memang Riise yang mengawal Anelka, tapi Carragher dan Hyypia-lah yang terlambat mengantisipasi gerakan Drogba sehingga (lagi-lagi) ia bebas bergerak dan mendapatkan posisi menendang yang leluasa. Tapi bagaimanapun penampilan terburuk tetap lebih pantas diberikan kepada Alvaro Arbeloa, karena kesembronoannya menjaga pertahanan sayap kanan Liverpool membuat Kalou (dan Malouda, penggantinya di sayap kiri Chelsea) leluasa mengobrak-abrik masuk ke daerah penalti. Kesembronoan Arbeloa juga membuat Carragher sering terpancing ikut membendung ke sayap kanan dan meninggalkan jantung pertahanan, begitu pula Dirk Kuyt yang–boro-boro mendapatkan bantuan menyerang–juga sering terpaksa mundur membantu bertahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan tidak efektifnya Kuyt di sayap kanan seperti biasanya, otomatis umpan-umpan ke Gerrard maupun Torres lebih mengandalkan operan dari tengah. Dan beruntung Mascherano malam itu, plus Riise yang sering membantu maju ke depan, tak kenal lelah dan tampil maksimal, sehingga Liverpool masih sempat sesekali menembus hingga jantung pertahan Chelsea.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari starting line-up memang sudah sedikit terbaca pertahanan Liverpool tidak sekuat biasanya. Setelah menemukan formula terbaik saat melawan Arsenal–dengan menggeser Carragher ke bek kanan dan Hyypia-Skrtel berduet di tengah–pelatih Rafa Benitez malah lebih memilih Arbeloa. Mungkin maksudnya supaya bisa sesekali membantu menyerang, karena memang begitulah seringnya dipilih formasi dengan 4 pemain bertahan, apakah itu 4-4-3, 4-3-3, atau 4-5-1, supaya bek kanan dan kiri berfungsi sebagai bek sayap. Tapi sayangnya Arbeloa memang bukan pemain yang cukup baik, walaupun ia punya skill untuk bisa ditempatkan di posisi kanan-kiri-maupun tengah. Antisipasi dan marking-nya kurang baik, ditambah dengan kecepatan larinya yang kurang memadai, sehingga ketika berhadapan dengan pemain sayap yang gesit (dan biasanya yang namanya winger selalu gesit) macam Kalou atau Malouda jadi keteteran. Itu belum ditambah si licin Ashley Cole yang sering membantu maju ke depan, makin kedodoran saja pertahanan di sayap kanan itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimanapun sektor ini memang menjadi sektor lemah Liverpool sepeninggal Markus Babbel (Jerman; dilepas ke Stuttgart 2003/2004 setelah lebih dari setahun menderita sakit saraf misterius dan tidak pernah kembali ke performa terbaiknya selepas itu), dan setelah itu belum ada lagi penerus yang bisa dibilang bagus–mulai dari Abel Xavier, Steve Finnan, hingga Arbeloa. Carragher yang sesekali diplot mengisinya pun masih tergolong lumayan, belum sesolid Babbel atau seeksplosif Jason McAteer (Rep. Irlandia; pindah ke Blackburn Rovers akhir musim 1998/1999). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi setidaknya ini dapat menjadi pekerjaan rumah Rafa untuk musim depan, setidaknya bila ingin membentuk tim yang lebih solid lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertandingan semifinal putaran kedua ini sebenarnya tidak buruk-buruk amat, walaupun masih lebih bagus kedua pertandingan melawan Arsenal. Tipe permainan Chelsea yang lebih mengandalkan fisik memang membuat olah bola Liverpool lebih susah berkembang, lebih-lebih strategi (jitu) pelatih Avram Grant yang memplot Michael Essien sebagai bek kanan. Gerakan-gerakan Essien membuat serangan-serangan dari sayap kiri Liverpool banyak yang mentah. Pemain kreatif seperti Yossi Benayoun pun akhirnya di-switch ke kanan supaya bisa lebih efektif, sementara Kuyt yang lebih kuat adu fisik dengan Essien ditukar ke sayap kiri. Pertukaran sayap ini terbukti efektif, dan gerakan Benayoun dari sayap kananlah yang membelah pertahanan Chelsea hingga membuka ruang bagi Torres untuk mencetak gol. 1-1.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_rC_LrIRDnOM/SBsNB9-3dzI/AAAAAAAAANQ/_SmsawEHbME/s1600-h/PROP300408_026_Chelsea_Liverpool.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://4.bp.blogspot.com/_rC_LrIRDnOM/SBsNB9-3dzI/AAAAAAAAANQ/_SmsawEHbME/s400/PROP300408_026_Chelsea_Liverpool.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5195760922571274034" /&gt;&lt;/a&gt;Pertandingan kali ini juga menunjukkan skill tambahan Benayoun sebagai gelandang bertahan. Beberapa kali ia melakukan blocking umpan dari tengah dengan bersih dan membuat tugas para bek tengah lebih mudah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Taktik Rafa memasukkan Jermaine Pennant yang fresh dan gesit memang tepat, tapi sayang Benayoun yang efektif malah dikeluarkan. Mestinya yang ditarik Arbeloa, lalu formasi diubah menjadi 3-5-2 (Kuyt dipindah ke depan), atau tetap 4-5-1 dan memindahkan Steven Gerrard ke bek kanan. Selain lebih gesit untuk membendung Kalou atau Malouda, perpindahan ini mestinya bisa memberikan ruang gerak baru buat Gerrard–yang malam itu sering dikunci dan “disikat” di tengah, sehingga kurang efektif. Dari bek kanan Gerrard juga mungkin bisa kembali memainkan cross-cross maut atau sesekali melakukan tembakan jarak jauh–dua spesialisasinya sebelum skill dribbling dan heading istimewa yang baru didapatkannya musim ini dari Torres. Bila ini dilakukan saat kedudukan 1-1, mungkin ada peluang untuk menambah 1 gol lagi dan memecahkan rekor kandang Chelsea.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi sayangnya itu tidak terjadi, dan Chelsea pun menang. Yo wes… setidaknya kalahnya bukan karena kalah superior tapi karena diri sendiri. Tetap good luck buat Chelsea. Nggak papa kali ini Liverpool kalah, asal bukan Man United yang juara :p&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10771740-3002675663971769131?l=stevie18181.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://stevie18181.blogspot.com/feeds/3002675663971769131/comments/default' title='Publier les commentaires'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10771740&amp;postID=3002675663971769131&amp;isPopup=true' title='0 commentaires'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10771740/posts/default/3002675663971769131'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10771740/posts/default/3002675663971769131'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://stevie18181.blogspot.com/2008/05/good-luck-chelsea.html' title='Good luck, Chelsea!'/><author><name>Stevie Sulaiman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02685787684909090570</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_rC_LrIRDnOM/RoEiB0NXSxI/AAAAAAAAAGU/tf75ldN9ZAY/s400/Bedroom_3.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_rC_LrIRDnOM/SBsMi9-3dyI/AAAAAAAAANI/1Ln9dKVA96w/s72-c/PROP300408_009_Chelsea_Liverpool.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10771740.post-7571249040473106292</id><published>2008-05-01T18:31:00.003+07:00</published><updated>2008-05-02T19:42:27.253+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Nonton'/><title type='text'>Disemangati oleh si cacat</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_rC_LrIRDnOM/SBsK7t-3dxI/AAAAAAAAANA/q5x9PT5t8E4/s1600-h/Le+scaphandre+et+le+papillon.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://3.bp.blogspot.com/_rC_LrIRDnOM/SBsK7t-3dxI/AAAAAAAAANA/q5x9PT5t8E4/s200/Le+scaphandre+et+le+papillon.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5195758616173836050" /&gt;&lt;/a&gt;Le scaphandre et le papillon&lt;br /&gt;(The Diving Bell and The Butterfly)&lt;br /&gt;Perancis | 2007 | Sutradara: Julian Schnabel&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kita sedang menghadapi tantangan hidup yang berat, ada baiknya kita tidak hanya mendongak ngiler melihat mereka yang lebih sukses, kaya, atau mapan, sambil terus meratapi nasib kita yang tak secemerlang mereka–melainkan sesekali melihat ke bawah, ke arah mereka yang nasibnya lebih muram daripada kita, seperti Jean-Dominique Bauby, fashion editor majalah Elle yang tampan, kaya, dan punya kehidupan duniawi yang sangat indah, namun mendadak terserang stroke.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Stroke memang tidak segera merenggut nyawa Jean-Do, panggilan Bauby, pun kewarasannya. Ingatannya juga masih utuh (walau sedang berantakan akibat koma tiga minggu), begitu pula kemampuan berpikir dan berimajinasinya. Namun kerusakan parah pada batang otaknya hanya menyisakan otot mata kirinya yang tetap mampu bekerja normal, sementara fungsi tubuh lainnya dari ujung rambut hingga ujung kaki lumpuh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda dengan stroke yang pernah kita jumpai selama ini, yang “hanya” melumpuhkan separuh badan si penderita, stroke yang dialami Jean-Do adalah tipe langka yang diberi istilah “locked-in syndrome”, di mana penderita seperti bisa tetap hidup normal, melihat dan mendengar, tapi orang lain tak bisa mendengarnya atau mengerti gerak-geriknya. Kondisi terisolasi ini yang kemudian oleh Jean-Do (film ini diadaptasi dari memoar yang dikarang oleh Jean-Do sendiri) diibaratkan terkunci dalam sebuah kostum selam (diving bell), dan diam melayang di air, tidak kandas ke dasar (mati) ataupun terapung ke permukaan (sadar)–lalu digambarkan di film oleh sutradara Julian Schnabel seakan-akan kita (pemirsa) sedang mengalami stroke itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena hanya bisa berhubungan dengan dunia luar melalui mata kirinya, tim dokter kemudian memberikan metode kriptologi khusus dengan menyusun alfabet berdasarkan huruf yang paling sering digunakan. Dalam bahasa Perancis, karena “E” paling sering digunakan maka ia diletakkan paling depan, menggantikan “A”. Lalu dilanjutkan “S”, abjad paling sering digunakan kedua, menggantikan “B”, begitu seterusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_rC_LrIRDnOM/SBsKlN-3dwI/AAAAAAAAAM4/VImpScsan6E/s1600-h/The+Diving+Bell+and+The+Butterfly.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://1.bp.blogspot.com/_rC_LrIRDnOM/SBsKlN-3dwI/AAAAAAAAAM4/VImpScsan6E/s400/The+Diving+Bell+and+The+Butterfly.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5195758229626779394" /&gt;&lt;/a&gt;Setelah Jean-Do dilatih oleh dokter Henriette Durand–diperankan Marie-Josée Crozée (Ararat, 2002; The Barbarian Invasions, 2003)–hingga menguasai teknik dikte ini, barulah kemudian ia dapat sedikit menikmati kembali hidup normalnya, begitu pula mengarang memoar yang penulisannya dibantu oleh seorang narator, Claude.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memoar itu antara lain berkisah tentang hubungannya dengan sang ayah, kehidupan pekerjaannya, mantan kekasihnya, Céline, dan ketiga anak mereka; serta tak lupa kekasihnya yang terakhir, Joséphine, lengkap beserta pengalaman mereka bercumbu di tepi pantai, dan bertengkar di sebuah kios di Lourdes gara-gara Jean-Do yang entah atheis atau agnostik itu menolak membelikan Joséphine sebuah patung Madonna (Santa Maria yang sedang diberkati, dan kepalanya diterangi oleh halo). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah bertengkar hingga Joséphine mengancam putus, Jean-Do akhirnya membelikan Joséphine patung seharga 1.899 francs yang halo-nya bisa menyala itu dan mereka berdamai kembali, tapi kembali bertengkar ketika mereka sedang bercinta di sebuah motel (masih di Lourdes) dan Joséphine memaksa ingin menyalakan lampu di patung itu saat mereka tengah bercinta. Jean-Do yang be-te terus berbeda pendapat dengan Joséphine mengancam putus sepulang dari Lourdes, tapi hingga ia jatuh stroke Ines masih meneleponnya dan mengatakan ia masih menunggunya, yang kemudian dijawab senada oleh Jean-Do melalui kedipan matanya–yang diterjemahkan kepada Joséphine dengan bantuan Céline yang sedang mendampingi Jean-Do.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi rupanya tak cukup hanya Joséphine dan Céline wanita yang mengisi hari-hari Jean-Do setelah ia terserang stroke. Fisioterapisnya yang cantik dan seksi, Marie Lopez (diperankan Olatz López Garmendia, yang tak lain adalah istri sutradara Julian Schnabel sendiri), juga ditaksirnya, apalagi ketika ia melatih Jean-Do menggerakkan lidahnya untuk bisa menelan obat. Melihat bibir dan lidah si fisioterapis yang memeragakan seperti sedang mencium dan menjilat, Jean-Do seperti terangsang secara seksual, namun apa daya ia sedang lumpuh total. “Oh, ini tidak adil. Aku sedang lumpuh,” sambil dengan kecutnya bersebal dalam hati :p&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat berdua dengan Claude di sebuah padang rumput, matanya juga sering menatap rok yang tersapu angin dan memperlihatkan daerah pahanya. Dari situ imajinasi Jean-Do berkembang hingga membayangkan mereka sedang makan sambil berciuman mesra di sebuah resto Perancis mewah, lengkap dengan beragam menu dan pelayan yang tak henti menyajikan makanan. Tapi lagi-lagi, seandainya saja ia tidak lumpuh… Seandainya ia tidak lumpuh, mungkin ia takkan pernah bertemu dengan Claude, Marie Lopez, dan dokter Henriette, si speech therapist.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah sisi manusiawi yang lucu sekaligus menyentuh yang terungkap secara jujur dari sekadar memoar seorang cacat. Bukannya sedih dan penuh ratap–seperti mungkin dugaan banyak orang yang enggan menontonnya–tapi malah mengandung tawa, sebal bercampur haru, sambil juga bersimpati dan respek terhadap semangat hidup Jean-Do. Kelumpuhan ternyata tidak mampu mengunci energi kehidupannya, dan bagai kupu-kupu dewasa ia menyeruak keluar dari kepompongnya, terbang bebas menikmati kehidupannya yang tersisa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga banyak kupu-kupu lain yang lahir dan mewarnai kehidupan ini. Merayakannya, walau di kehidupan yang singkat ini.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10771740-7571249040473106292?l=stevie18181.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://stevie18181.blogspot.com/feeds/7571249040473106292/comments/default' title='Publier les commentaires'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10771740&amp;postID=7571249040473106292&amp;isPopup=true' title='0 commentaires'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10771740/posts/default/7571249040473106292'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10771740/posts/default/7571249040473106292'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://stevie18181.blogspot.com/2008/05/disemangati-oleh-si-cacat.html' title='Disemangati oleh si cacat'/><author><name>Stevie Sulaiman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02685787684909090570</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_rC_LrIRDnOM/RoEiB0NXSxI/AAAAAAAAAGU/tf75ldN9ZAY/s400/Bedroom_3.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_rC_LrIRDnOM/SBsK7t-3dxI/AAAAAAAAANA/q5x9PT5t8E4/s72-c/Le+scaphandre+et+le+papillon.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10771740.post-5050255597191488292</id><published>2008-05-01T17:13:00.008+07:00</published><updated>2008-05-14T17:00:16.499+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Nonton'/><title type='text'>Mon festival film français–un moment culminant</title><content type='html'>Bulan April-Mei dan awal Desember tiap tahun memang selalu menjadi “musim” yang aku nantikan. Selain biasanya banyak kerjaan lagi produksi atau tayang–which is portfolio bertambah–di luar dunia kerja juga sedang musim festival film. Selain JIFFest di awal Desember, pada bulan April atau Mei di Jakarta sedang ada Festival Film Perancis, yang tahun ini memasuki tahun ke-13.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, festival kali ini tampak kurang persiapan. Terlihat dari minimnya informasi mengenai tanggal penyelenggaraan, baik di website maupun di bioskop tempat penyelenggaraan. Praktis baru seminggu sebelum pembukaan poster festival baru bertebaran di website dan CCF, tempat les Perancisku. Itu pun loket yang berjualan di Blitz Megaplex, salah satu venue, sempat tutup selama 1 hari, tanpa pemberitahuan, bikin orang kecele. Beruntung akhirnya di CCF juga ada loket penjualan tiket, sehingga aku tidak perlu buru-buru pulang kantor ke Blitz lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_rC_LrIRDnOM/SBsJWt-3dvI/AAAAAAAAAMw/6VUGJFdmJS4/s1600-h/Poltergay.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_rC_LrIRDnOM/SBsJWt-3dvI/AAAAAAAAAMw/6VUGJFdmJS4/s200/Poltergay.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5195756881007048434" border="0"&gt;&lt;/a&gt;Salah satu film yang aku incar adalah Poltergay, drama komedi tentang sepasang suami-istri yang membeli rumah tua yang ternyata bekas klab disko gay, di mana dua puluh sekian tahun sebelumnya terjadi kecelakaan listrik dan 5 orang gay meninggal. Hantu-hantu gay itu kemudian gentayangan di rumah, mengusili si lelaki, menampakkan diri kepadanya, namun tidak bisa dilihat oleh istrinya. Terbayang bakal lucu banget tuh film, plus karena diputar saat Sabtu malam, aku pun berencana beli 4-5 tiket untuk dibagi ke beberapa teman dan nonton bareng. Sayang saat itu hanya tersisa 2 tiket.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain Poltergay, tidak terasa akan ada film-film yang istimewa–kecuali closing film, Le scaphandre et le papillon (The Diving Bell and The Butterfly), yang tentunya nggak bisa aku beli tiketnya karena hanya diperuntukkan bagi undangan. Itu sebabnya aku tidak terlalu berharap pada festival kali ini. Tidak berharap akan ada masterpiece macam Paris je t’aime, Mon meilleur ami, atau drama seksi seperti Quand j’étais chanteur seperti tahun lalu–yaa… paling-paling cari yang ringan-ringan saja macam Poltergay gitu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi ternyata aku salah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun sempat kelewatan 2 film di hari pertama, dokumenter Lagerfeld confidentiel dan Mauvaise foi, hari keduaku langsung sukses berat. Selain karena hari kedua itu pas Minggu dan bisa memborong 4 film sekaligus, dua di antaranya bagus banget, yaitu Ma vie en l’air (Love Is In The Air) dan La vie d’artiste (The Artist’s Life).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_rC_LrIRDnOM/SBsH8N-3drI/AAAAAAAAAMQ/qFQPGZXHCD4/s1600-h/Ma+vie+en+l%27air.2.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_rC_LrIRDnOM/SBsH8N-3drI/AAAAAAAAAMQ/qFQPGZXHCD4/s400/Ma+vie+en+l%27air.2.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5195755326228887218" border="0"&gt;&lt;/a&gt;Yang mengesankan dari Ma vie en l’air, cerita yang tampak linier itu ternyata sarat simbol. Dan simbol terkuat adalah karakter sahabat loser, yang sebelumnya serba tidak mandiri dan selalu merepotkan Yann (diperankan Vincent Elbaz) bagai seorang adik manja terhadap kakaknya, tapi ternyata malah bisa go-on dengan hidupnya. Sementara Yann, di balik penampilannya yang rapi dan hidup serba lancar itu–punya apartemen dan punya pekerjaan layak–ternyata tidak bisa lepas dari masa lalunya. Ia terus ingin kembali ke cinta pertamanya, dan hampir kehilangan cinta sejatinya. Dan kisah romantis unik ini terfilmkan dengan sempurna dengan kehadiran Marion Cotillard, tentunya juga dengan dukungan musik dan sinematografi yang begitu menarik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_rC_LrIRDnOM/SBsISN-3dsI/AAAAAAAAAMY/R1rxtt_7FdY/s1600-h/La+vie+d%27artiste.jpeg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_rC_LrIRDnOM/SBsISN-3dsI/AAAAAAAAAMY/R1rxtt_7FdY/s200/La+vie+d%27artiste.jpeg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5195755704186009282" border="0"&gt;&lt;/a&gt;La vie d’artiste juga tak kalah menarik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau biasanya kita selalu disuguhi kisah seniman sukses, maka ini adalah sisi sebaliknya: kisah seniman gagal. Bahkan begitu gagalnya, sehingga belum bisa disebut seniman. Teknik bercerita mosaik (yang populer akhir-akhir ini) menyatukan tiga karakter–Alice (diperankan Sandrine Kiberlain), dubber film kartun yang ingin menjadi aktris; Bertrand (Denis Podalydes), guru sastra yang ingin jadi penulis; dan Cora (Emilie Dequenne), MC sebuah karaoke yang ingin menjadi penyanyi populer–di mana ketiganya mewakili tiga medium seni, yaitu seni visual, verbal, dan musikal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baik Alice, Bertrand, maupun Cora, yang merasa punya bakat seni, dikisahkan tidak puas dengan profesinya, dan berusaha mengejar profesi impiannya namun gagal. Alice gagal dalam berbagai casting dan tak kunjung mendapatkan perannya. Buku Bertrand berhasil diterbitkan namun tak ada yang membelinya, bahkan tak ada yang mendatangi acara penandatanganan di hari pertama penerbitannya. Untuk menghibur, asisten pemilik toko buku memanggil seorang wanita yang melintas di depan tokonya–ternyata Alice–untuk pura-pura mengagumi buku Bertrand dan minta tanda tangannya, tapi sandiwara buyar ketika ia salah menganggap si pemilik toko buku sebagai Bertrand. “Umm, penulisnya yang ini,” kata si pemilik toko buku sambil menunjuk ke Bertrand yang duduk di sebelahnya, tersenyum masam :p Untuk menambah lebih parah, Alice kemudian minta maaf sambil mengaku bahwa ia diminta oleh seseorang saat di luar toko untuk pura-pura minta tanda tangan karena tak ada satu pun pengunjung yang datang ke acara launching buku Bertrand. Dhuar!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nasib Cora tak kalah trenyuhnya. Karena tak tahan melihat pengunjung karaoke menyanyi salah-salah dan jelek, ia yang sebenarnya hanya MC lalu mengambil mikrofon, membantu menyanyi dan bablas tak berhenti menyanyi terus, terbawa suasana. Pengunjung sebal, dan ia pun dipecat dari pekerjaannya. Ia lalu terpaksa bekerja sebagai pelayan restoran, dan setelah sial menumpahkan wine saat membukakan bagi salah satu tamu restoran–Bertrand dan muridnya–ia diturunkan lagi posisinya. Cora yang cantik dan seksi itu pun harus mengenakan kostum beruang gendut, maskot restoran, dan berjaga di luar restoran sambil menawarkan brosur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_rC_LrIRDnOM/SBsIst-3dtI/AAAAAAAAAMg/zixZy40Um6c/s1600-h/La+v%C3%A9rit%C3%A9+ou+presque.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_rC_LrIRDnOM/SBsIst-3dtI/AAAAAAAAAMg/zixZy40Um6c/s200/La+v%C3%A9rit%C3%A9+ou+presque.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5195756159452542674" border="0"&gt;&lt;/a&gt;Dua film istimewa lainnya adalah La vérité ou presque (True Enough), tentang perselingkuhan antar dua pasang suami-istri, di mana istri lelaki pertama adalah bekas istri lelaki kedua; dan Michou d’Auber, drama tentang konflik politik sosial antara ras Perancis dan muslim Aljazair di era 1960-an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diperankan oleh Gerard Depardieu, Georges adalah seorang veteran tentara Perancis yang fanatik terhadap bangsanya. Begitu fanatiknya, hingga sang istri, Gisele (Nathalie Baye), diam-diam berubah dari mencintainya menjadi takut kepadanya. Kehilangan anak satu-satunya memperdingin hubungan pasangan ini, dan sang istri berusaha mengadopsi anak untuk menggantikan anak mereka yang meninggal itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Messaoud, 9 tahun, adalah seorang anak imigran Aljazair di Aubervilliers, Perancis. Karena ketidakstabilan politik dan ibu yang sakit keras ia harus berpisah dengan orang tuanya. Ia lalu bersama Abdel, kakaknya, dititipkan oleh sang ayah di yayasan sosial penitipan anak, yang kemudian mengantarkan Messaoud pada Gisele. Ada pun sang kakak diadopsi oleh orang tua lain dan tinggal di desa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari perkenalan yang dingin (Gisele sempat paranoid karena mendapat adopsi keturunan Arab, sehingga melakukan segala cara untuk menyembunyikan identitas Messaoud, termasuk mengecat pirang rambutnya dan mengganti namanya menjadi Michel; dipanggil Michou), Messaoud yang anak adopsi itu perlahan dicintai Georges dan Gisele seperti anak kandungnya sendiri. Bahkan Georges, ketika mulai mencium gelagat anak asuhnya itu Arab dan muslim, bilang kepada Messaoud bahwa siapa pun dan ras apa pun dia, ia tetap akan mencintainya. Begitu pula Messaoud yang juga mencintai kedua orang tua asuhnya itu, ketika kedua orang tuanya bertengkar hebat dan mengarah ke perceraian, ia hadir sebagai pemersatu keduanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_rC_LrIRDnOM/SBsJD9-3duI/AAAAAAAAAMo/wNHOQbyKq2I/s1600-h/Michou+d%27Auber.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_rC_LrIRDnOM/SBsJD9-3duI/AAAAAAAAAMo/wNHOQbyKq2I/s400/Michou+d%27Auber.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5195756558884501218" border="0"&gt;&lt;/a&gt;Hubungan mesra ini kemudian tampak akan berakhir bahagia bagi ketiganya, sebelum datang kembalinya sang ayah dan kakak menjemput Messaoud. Kedatangan sang ayah setelah dua tahun membuat perasaan Messaoud campur aduk, dan karena takut kehilangan Georges dan Gisele ia lalu menyangkal ayah dan kakaknya itu. Tersentuh oleh cinta yang tulus, Georges-lah yang kemudian membujuk Messaoud untuk kembali ke keluarganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah film terbaikku pada festival kali ini, dan untuk membuatnya makin sempurna ia ada di urutan terakhir dari total 9 film yang berhasil aku tonton. A perfect end. Un moment culminant.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Piccolo, Saxo et Cie&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ma vie en l’air&lt;br /&gt;****1/2&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;La vie d’artiste&lt;br /&gt;****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Les témoins&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Le voyage du ballon rouge&lt;br /&gt;**1/2&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mon petit doigt m’a dit&lt;br /&gt;*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;La vérité ou presque&lt;br /&gt;****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Poltergay&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Michou d’Auber&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Salah pilih&lt;br /&gt;** Boleh deh, kalau ada waktu&lt;br /&gt;*** Hmm, not bad&lt;br /&gt;**** Special&lt;br /&gt;***** Masterpiece&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10771740-5050255597191488292?l=stevie18181.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='enclosure' type='video/mp4' href='http://www.blogger.com/video-play.mp4?contentId=e413ab3f366ee64c&amp;type=video%2Fmp4' length='0'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://stevie18181.blogspot.com/feeds/5050255597191488292/comments/default' title='Publier les commentaires'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10771740&amp;postID=5050255597191488292&amp;isPopup=true' title='1 commentaires'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10771740/posts/default/5050255597191488292'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10771740/posts/default/5050255597191488292'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://stevie18181.blogspot.com/2008/05/mon-festival-film-franaisun-moment.html' title='Mon festival film français–un moment culminant'/><author><name>Stevie Sulaiman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02685787684909090570</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_rC_LrIRDnOM/RoEiB0NXSxI/AAAAAAAAAGU/tf75ldN9ZAY/s400/Bedroom_3.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_rC_LrIRDnOM/SBsJWt-3dvI/AAAAAAAAAMw/6VUGJFdmJS4/s72-c/Poltergay.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10771740.post-8139891073333402449</id><published>2008-04-30T11:32:00.002+07:00</published><updated>2008-04-30T11:41:25.723+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Liverpool'/><title type='text'>Riise will bounce back and prove a point!</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_rC_LrIRDnOM/SBf4W9-3dqI/AAAAAAAAAMI/oA-_vvZIvXM/s1600-h/Riise+against+Chelsea.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://4.bp.blogspot.com/_rC_LrIRDnOM/SBf4W9-3dqI/AAAAAAAAAMI/oA-_vvZIvXM/s400/Riise+against+Chelsea.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5194893768674211490" /&gt;&lt;/a&gt;"We have to respect Chelsea for the team they are. They beat Manchester United on Saturday and haven't lost at home for God knows how many games so I think we have to respect that beforehand – but records are there to be broken."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(John Arne Riise, ahead of Champions League Semi-Final Leg 2 at Stamford Bridge, 30 April 2008)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10771740-8139891073333402449?l=stevie18181.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://stevie18181.blogspot.com/feeds/8139891073333402449/comments/default' title='Publier les commentaires'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10771740&amp;postID=8139891073333402449&amp;isPopup=true' title='0 commentaires'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10771740/posts/default/8139891073333402449'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10771740/posts/default/8139891073333402449'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://stevie18181.blogspot.com/2008/04/riise-will-bounce-back-and-prove-point.html' title='Riise will bounce back and prove a point!'/><author><name>Stevie Sulaiman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02685787684909090570</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_rC_LrIRDnOM/RoEiB0NXSxI/AAAAAAAAAGU/tf75ldN9ZAY/s400/Bedroom_3.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_rC_LrIRDnOM/SBf4W9-3dqI/AAAAAAAAAMI/oA-_vvZIvXM/s72-c/Riise+against+Chelsea.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10771740.post-2070297001203694012</id><published>2008-04-28T11:26:00.000+07:00</published><updated>2008-04-28T11:27:33.073+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kado'/><title type='text'>Dirgahayu Pakde!</title><content type='html'>Selamat ulang tahun ke-4 buat Pakde dotcom, dan selamat ulang tahun ke-44 buat Pakde yang nggak pake com :p Tetap semangats!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10771740-2070297001203694012?l=stevie18181.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://stevie18181.blogspot.com/feeds/2070297001203694012/comments/default' title='Publier les commentaires'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10771740&amp;postID=2070297001203694012&amp;isPopup=true' title='2 commentaires'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10771740/posts/default/2070297001203694012'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10771740/posts/default/2070297001203694012'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://stevie18181.blogspot.com/2008/04/dirgahayu-pakde.html' title='Dirgahayu Pakde!'/><author><name>Stevie Sulaiman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02685787684909090570</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_rC_LrIRDnOM/RoEiB0NXSxI/AAAAAAAAAGU/tf75ldN9ZAY/s400/Bedroom_3.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10771740.post-4540029802431837377</id><published>2008-04-28T11:23:00.002+07:00</published><updated>2008-04-28T11:30:09.933+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>Djenou</title><content type='html'>terlarut rutinitas&lt;br /&gt;dan rutinitas&lt;br /&gt;dan rutinitas&lt;br /&gt;dan rutinitas&lt;br /&gt;dan rutinitas&lt;br /&gt;dan rutinitas&lt;br /&gt;dan rutinitas&lt;br /&gt;dan rutinitas&lt;br /&gt;dan rutinitas&lt;br /&gt;dan rutinitas&lt;br /&gt;dan rutinitas&lt;br /&gt;dan rutinitas&lt;br /&gt;dan rutinitas&lt;br /&gt;dan rutinitas&lt;br /&gt;dan rutinitas&lt;br /&gt;dan rutinitas&lt;br /&gt;dan rutinitas&lt;br /&gt;dan rutinitas&lt;br /&gt;dan rutinitas&lt;br /&gt;dan rutinitas&lt;br /&gt;dan rutinitas&lt;br /&gt;dan rutinitas&lt;br /&gt;dan rutinitas&lt;br /&gt;dan rutinitas&lt;br /&gt;dan rutinitas&lt;br /&gt;dan rutinitas&lt;br /&gt;dan rutinitas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dan setelah 27 hari lahirlah dia&lt;br /&gt;kuberinya nama,&lt;br /&gt;Djenou Ching&lt;br /&gt;dasar babé chinois dan emak française&lt;br /&gt;(nggak ada yang waras, maksudnya)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dan Djenou pun memaki, “Vingt-sept!”&lt;br /&gt;olala…&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10771740-4540029802431837377?l=stevie18181.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://stevie18181.blogspot.com/feeds/4540029802431837377/comments/default' title='Publier les commentaires'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10771740&amp;postID=4540029802431837377&amp;isPopup=true' title='0 commentaires'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10771740/posts/default/4540029802431837377'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10771740/posts/default/4540029802431837377'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://stevie18181.blogspot.com/2008/04/djenou.html' title='Djenou'/><author><name>Stevie Sulaiman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02685787684909090570</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_rC_LrIRDnOM/RoEiB0NXSxI/AAAAAAAAAGU/tf75ldN9ZAY/s400/Bedroom_3.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10771740.post-3654465961937956531</id><published>2008-04-02T10:29:00.002+07:00</published><updated>2008-04-02T10:31:19.104+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kutipan'/><title type='text'>A company of dwarfs, or giants?</title><content type='html'>If you always hire people who are smaller than you are, we shall become a company of dwarfs. If, on the other hand, you always hire people who are bigger than you are, we shall become a company of giants.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;David Ogilvy&lt;br /&gt;Viewpoint&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10771740-3654465961937956531?l=stevie18181.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://stevie18181.blogspot.com/feeds/3654465961937956531/comments/default' title='Publier les commentaires'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10771740&amp;postID=3654465961937956531&amp;isPopup=true' title='0 commentaires'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10771740/posts/default/3654465961937956531'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10771740/posts/default/3654465961937956531'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://stevie18181.blogspot.com/2008/04/company-of-dwarfs-or-giants.html' title='A company of dwarfs, or giants?'/><author><name>Stevie Sulaiman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02685787684909090570</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_rC_LrIRDnOM/RoEiB0NXSxI/AAAAAAAAAGU/tf75ldN9ZAY/s400/Bedroom_3.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10771740.post-2983734381767846171</id><published>2008-03-19T16:53:00.001+07:00</published><updated>2008-03-19T16:55:37.352+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Meditasi'/><title type='text'>Hujan</title><content type='html'>“Masih hujan, Mas. Nunggu aja dulu,” kata si pemilik warung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siang ini Jakarta sedang diguyur hujan deras. Tapi tidak seperti hari-hari sebelumnya di mana aku menikmati rintik-rintiknya dari kaca lantai 25 gedung kantorku, hari ini aku justru masih nyantai makan siang di dekat kos–masih bercelana pendek dan kumal berdebu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa jam sebelumnya masih asik di “luar negeri”, sampai Mas Yono–pengelola kos–mengetuk pintu, mengabarkan ban mobilku kempes. Lho padahal dari Minggu nggak aku pakai itu mobil, tapi rupanya karena itulah aku nggak ngeh habis menggilas paku dan bocor halus sampai dua hari lebih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya tidur yang baru beberapa jam itu harus segera diakhiri, dan dengan segera mengganti ban kempes dengan ban serep, lalu nyetir sedikit ke tambal ban langganan. Tadinya aku pikir sudah habis riwayat itu ban, eh tapi rupanya masih bisa diselamatkan, dan kembalilah ban serep yang masih 99,9% baru itu ke tempatnya semula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehebohan selesai, ganti perut yang komplen. Tapi memang sudah sewajarnya, karena matahari sudah hampir tegak lurus. Akhirnya mampirlah aku ke warung langganan yang hanya beberapa langkah dekatnya itu, memesan makan siang, sampai langit yang sudah mendung itu menuangkan hujannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makan siang sudah selesai dilahap, begitu juga segelas Sprite dingin yang sparkling menyegarkan itu, tapi hujan tak juga berhenti. Entah kenapa saat itu aku tak juga ingin segera beranjak menerabas hujan ke kos. Aku malah duduk menunggu, melihat jalanan dari bawah atap warung itu. Entah apa capek gara-gara kurang tidur, atau memang lagi pengen menikmati datangnya hujan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terbiasa hidup bermobil sejak kecil membuatku nyaris tak pernah punya masalah dengan hujan. Dengan mobil aku tak pernah kebasahan. Kalau pandangan terhalang tinggal menggerakkan jari sedikit, dan wiper langsung membersihkan kaca. Kalau hujannya deras banget, tuasnya tinggal digeser lagi ke bawah, dan wiper akan bergerak lebih cepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kala orang lain yang kendaraannya tak beratap sibuk mencari tempat berteduh, aku dengan santai bisa meneruskan perjalanan–itu masih ditambah alunan musik dan hembusan pendingin ruangan yang menyejukkan, yang begitu nyaman dinikmati dengan sistem peredam bising mobil. Benar-benar menter sama hujan. Kebal. Puritan. Akhirnya aku malah melewatkan interaksi dengan alam, seperti yang aku nikmati dari balik atap warung itu, siang ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Interaksi dengan alam mengajarkan kita untuk bersabar, seperti halnya berinteraksi dengan sesama manusia. Ada kalanya kita mesti menunggu, mengalah, menepi sejenak dari laju kehidupan yang makin hari makin cepat ini. Di kala kita menepi itulah kita sempat merenung, mengamati, dan merasakan denyut demi denyut kehidupan kita dan sekeliling kita. Misalnya seperti beberapa anak SD yang sempat aku “bidik” dari pinggir warung tadi, yang asik bermain kejar-kejaran di tengah guyuran hujan. Ternyata buat sebagian orang hujan bisa begitu menyenangkan, tidak sepenuhnya menyebalkan seperti berita-berita banjir di media massa. Dan melihat anak-anak SD yang asik bermain itu diam-diam aku juga heran setengah iri, kok aku nggak bisa hidup sesantai itu ya. Padahal semudah itu. Nggak butuh skill, nggak pakai otak. Hanya butuh hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin memang harus terguyur hujan dulu baru bisa merasakan. “Heh, awas lo sakit ya! Pokoknya nggak boleh sakit sebelum project ini kelar,” ancam Mbah Dukun Ismet, Group Head kami, sambil njengèngès–setengah bercanda. Iyo, yo, Mbah... :p&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10771740-2983734381767846171?l=stevie18181.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://stevie18181.blogspot.com/feeds/2983734381767846171/comments/default' title='Publier les commentaires'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10771740&amp;postID=2983734381767846171&amp;isPopup=true' title='0 commentaires'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10771740/posts/default/2983734381767846171'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10771740/posts/default/2983734381767846171'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://stevie18181.blogspot.com/2008/03/hujan.html' title='Hujan'/><author><name>Stevie Sulaiman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02685787684909090570</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_rC_LrIRDnOM/RoEiB0NXSxI/AAAAAAAAAGU/tf75ldN9ZAY/s400/Bedroom_3.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10771740.post-2097189711792603921</id><published>2008-03-18T13:44:00.004+07:00</published><updated>2008-03-18T13:48:11.307+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Keluarga'/><title type='text'>Happy birthday to the Fishes</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_rC_LrIRDnOM/R99lNNFJcYI/AAAAAAAAAL4/MebSNcZ1Nl4/s1600-h/Bab%C3%A9.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://3.bp.blogspot.com/_rC_LrIRDnOM/R99lNNFJcYI/AAAAAAAAAL4/MebSNcZ1Nl4/s400/Bab%C3%A9.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5178969374023315842" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_rC_LrIRDnOM/R99lNtFJcZI/AAAAAAAAAMA/_Y3QORU7nUs/s1600-h/Gary%27s+Bday.180308.3.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://1.bp.blogspot.com/_rC_LrIRDnOM/R99lNtFJcZI/AAAAAAAAAMA/_Y3QORU7nUs/s400/Gary%27s+Bday.180308.3.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5178969382613250450" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Wish you all the best, Dad, Gary.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10771740-2097189711792603921?l=stevie18181.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://stevie18181.blogspot.com/feeds/2097189711792603921/comments/default' title='Publier les commentaires'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10771740&amp;postID=2097189711792603921&amp;isPopup=true' title='0 commentaires'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10771740/posts/default/2097189711792603921'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10771740/posts/default/2097189711792603921'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://stevie18181.blogspot.com/2008/03/happy-birthday-to-fishes.html' title='Happy birthday to the Fishes'/><author><name>Stevie Sulaiman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02685787684909090570</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_rC_LrIRDnOM/RoEiB0NXSxI/AAAAAAAAAGU/tf75ldN9ZAY/s400/Bedroom_3.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_rC_LrIRDnOM/R99lNNFJcYI/AAAAAAAAAL4/MebSNcZ1Nl4/s72-c/Bab%C3%A9.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10771740.post-4475002113367009839</id><published>2008-03-18T10:39:00.001+07:00</published><updated>2008-03-18T10:41:32.821+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kutipan'/><title type='text'>One of the most brilliant colleagues I ever had...</title><content type='html'>... was blackballed by three clients in one year.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;David Ogilvy&lt;br /&gt;Confessions of an Advertising Man&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10771740-4475002113367009839?l=stevie18181.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://stevie18181.blogspot.com/feeds/4475002113367009839/comments/default' title='Publier les commentaires'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10771740&amp;postID=4475002113367009839&amp;isPopup=true' title='0 commentaires'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10771740/posts/default/4475002113367009839'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10771740/posts/default/4475002113367009839'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://stevie18181.blogspot.com/2008/03/one-of-most-brilliant-colleagues-i-ever.html' title='One of the most brilliant colleagues I ever had...'/><author><name>Stevie Sulaiman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02685787684909090570</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_rC_LrIRDnOM/RoEiB0NXSxI/AAAAAAAAAGU/tf75ldN9ZAY/s400/Bedroom_3.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10771740.post-918735827891670734</id><published>2008-03-17T08:27:00.000+07:00</published><updated>2008-03-18T10:44:24.057+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kesehatan'/><title type='text'>Belum setengah sembilan malam...</title><content type='html'>... tapi kerjaan sudah selesai, sudah nomat, dan sudah makan malam–masih sempat main game atau nonton junk movies di TV, atau nulis-nulis nggak penting. Hari seperti ini memang harus dirayakan :p&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10771740-918735827891670734?l=stevie18181.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://stevie18181.blogspot.com/feeds/918735827891670734/comments/default' title='Publier les commentaires'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10771740&amp;postID=918735827891670734&amp;isPopup=true' title='0 commentaires'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10771740/posts/default/918735827891670734'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10771740/posts/default/918735827891670734'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://stevie18181.blogspot.com/2008/03/belum-setengah-sembilan-malam.html' title='Belum setengah sembilan malam...'/><author><name>Stevie Sulaiman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02685787684909090570</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_rC_LrIRDnOM/RoEiB0NXSxI/AAAAAAAAAGU/tf75ldN9ZAY/s400/Bedroom_3.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10771740.post-8360341490140216235</id><published>2008-03-14T10:17:00.002+07:00</published><updated>2008-03-14T10:20:00.383+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kutipan'/><title type='text'>"The best way to get new accounts...</title><content type='html'>... is to create for our present client the kind of advertising that will attract prospective clients. We do not have new business departments in our office. No first class man will take the job."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;David Ogilvy&lt;br /&gt;Principles of Management&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10771740-8360341490140216235?l=stevie18181.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://stevie18181.blogspot.com/feeds/8360341490140216235/comments/default' title='Publier les commentaires'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10771740&amp;postID=8360341490140216235&amp;isPopup=true' title='0 commentaires'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10771740/posts/default/8360341490140216235'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10771740/posts/default/8360341490140216235'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://stevie18181.blogspot.com/2008/03/best-way-to-get-new-accounts.html' title='&quot;The best way to get new accounts...'/><author><name>Stevie Sulaiman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02685787684909090570</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_rC_LrIRDnOM/RoEiB0NXSxI/AAAAAAAAAGU/tf75ldN9ZAY/s400/Bedroom_3.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10771740.post-8779056499963693126</id><published>2008-03-04T20:52:00.007+07:00</published><updated>2008-03-04T20:59:12.814+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kongkow'/><title type='text'>Nampang dulu ah...</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_rC_LrIRDnOM/R81UV1NnB3I/AAAAAAAAALw/VevUKz8NQSI/s1600-h/Tim+Ismet.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://2.bp.blogspot.com/_rC_LrIRDnOM/R81UV1NnB3I/AAAAAAAAALw/VevUKz8NQSI/s400/Tim+Ismet.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5173884280956716914" /&gt;&lt;/a&gt;Kenalin... ini tim barunya Ismet. Dari kiri ke kanan:&lt;br /&gt;aku, Dhany (copywriter), Ismet (group head), Thira (copywriter), Wirga (graphic designer), dan Tania (art director).&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10771740-8779056499963693126?l=stevie18181.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://stevie18181.blogspot.com/feeds/8779056499963693126/comments/default' title='Publier les commentaires'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10771740&amp;postID=8779056499963693126&amp;isPopup=true' title='0 commentaires'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10771740/posts/default/8779056499963693126'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10771740/posts/default/8779056499963693126'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://stevie18181.blogspot.com/2008/03/nampang-dulu-ah.html' title='Nampang dulu ah...'/><author><name>Stevie Sulaiman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02685787684909090570</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_rC_LrIRDnOM/RoEiB0NXSxI/AAAAAAAAAGU/tf75ldN9ZAY/s400/Bedroom_3.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_rC_LrIRDnOM/R81UV1NnB3I/AAAAAAAAALw/VevUKz8NQSI/s72-c/Tim+Ismet.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10771740.post-9020552622351137880</id><published>2008-03-03T13:11:00.003+07:00</published><updated>2008-03-03T13:12:29.339+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Nonton'/><title type='text'>Cinta tak harus memiliki</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_rC_LrIRDnOM/R8uWufcqiDI/AAAAAAAAALo/MfLUKPIULxo/s1600-h/27dresses.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://1.bp.blogspot.com/_rC_LrIRDnOM/R8uWufcqiDI/AAAAAAAAALo/MfLUKPIULxo/s200/27dresses.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5173394322425022514" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;27 DRESSES&lt;br /&gt;USA | 2007 | Sutradara: Anne Fletcher&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada salah satu lagu Sting yang berjudul, “If you love somebody set them free.” Rupanya budaya sejenis juga ditemukan di masyarakat kita, dengan adanya ungkapan: cinta tak harus memiliki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi kata-kata memang lebih mudah diucapkan daripada dilakukan, apalagi ketika kita harus menonton langsung orang yang kita cintai menikahi orang lain. Di 27 Dresses, Jane (Katherine Heigl) bahkan tak hanya menonton, tapi ia yang harus mengorganisir pernikahan pria idamannya, George, dengan perempuan lain, yang tak lain adalah adiknya sendiri, Tess. Untuk menambah berat beban perasaan, Tess akan menikah menggunakan gaun pengantin mendiang ibu mereka, dan melangsungkan pestanya di sebuah vila di pinggir danau–sebuah setting pesta pernikahan yang sejak lama diimpikan Jane.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jane sendiri adalah seorang wedding organizer yang sudah berpengalaman mempersiapkan pesta pernikahan hingga 27 kali, yang mana kedua puluh tujuh kostumnya ia kumpulkan hingga penuh sesak lemari di apartemennya yang kecil itu. Selama menjalankan tugasnya sebagai wedding organizer, Jane menjalani saat-saat yang sangat stres. Harus mempersiapkan ini-itu, hadir, mendampingi, membetulkan kostum bila ada yang lepas atau sobek–dan karenanya ia mempersenjatai lengkap dirinya dengan segala pernak-pernik cadangan sebagai backup–sampai menemani mempelai perempuan pipis dan memegangi rok pengantinnya supaya tidak basah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Singkatnya, nggak ikut jadi pengantin malah lebih stres daripada pengantinnya. Tapi memang itulah tanggung jawab profesinya, dan Jane menjalani semuanya dengan senang hati. Itulah sebabnya ia masih sempat memikirkan untuk memberi kado khusus buat pengantin, dan menyimpan kostum-kostum pengiring pengantin yang segitu banyaknya sebagai kenang-kenangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat tokoh Jane di film ini aku jadi teringat pada dua hal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, pada adik perempuanku yang pernah mengalami peristiwa yang nyaris sama, menjadi wedding organizer bagi pesta pernikahan pria yang diidamkannya dengan perempuan lain. Itulah sebabnya saat bertemu di YM sesudah nonton, aku bilang padanya bahwa film itu bagus tapi sebaiknya ia tidak usah menontonnya, daripada nanti teringat lagi pada luka lama. Eh, ternyata dia sudah menontonnya beberapa hari sebelumnya, dan entah apakah luka itu sudah sembuh atau belum, tapi ia terlihat santai saja. Well, susah dikatakan hanya dari membaca tulisan di mesin chatting–tapi mudah-mudahan ia baik-baik saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, pada profesiku sendiri, agensi periklanan. Kebetulan beberapa saat lalu aku juga sempat membuka-buka kitab merah pemberian Satucitra, agensi tempatku bekerja beberapa waktu lalu, yang mana salah satu artikel di dalamnya adalah “Susah Payah Menjaga ‘Iman’: Tugas agency memikirkan problem yang dihadapi klien. Bukan sekedar membuat iklan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di salah satu paragrafnya, ada kalimat yang tertulis begini, “Kalau dipikir-pikir kita gila juga. Dia yang punya produk, kita yang ngotot. Tapi itulah memang tugas agency.” Dia di sini maksudnya klien.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengalaman yang sama akhirnya aku alami juga beberapa waktu lalu. Makin hari tampaknya makin banyak personil klien yang “bermental batur” (kebetulan memang bukan brand owners langsung), tidak punya rasa memiliki terhadap brand, akhirnya kalau bikin apa-apa, baik produk baru atau program promo dan sebagainya, sering ngasal. Asal ada, asal beres, asal cepat, asal murah, asal urusannya cepat selesai, dan asal-asal yang lain yang berisiko terhadap brand yang dipercayakan padanya. Tapi mungkin di sinilah peran (atau mungkin, peluang?) sebuah agensi, untuk memastikan semuanya berjalan dengan “genah”, semampu yang kita bisa–seperti halnya Jane yang harus tunggang-langgang karena hanya punya waktu 3 minggu untuk memastikan pernikahan adiknya berjalan dengan proper.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ngotot di sini juga berarti siap menanggung risiko bila terjadi perbedaan prinsip, seperti dalam film ini digambarkan dengan tidak jujurnya Tess terhadap George tentang dirinya sendiri. Jane, yang juga mencintai George, akhirnya membeberkan semua kebohongan sang adik di sebuah acara makan malam menjelang pernikahan mereka. Bisa ditebak, pernikahan pun dibatalkan dan Jane menjadi public enemy number one, terutama oleh Tess. Dalam bisnis, situasi perbedaan prinsip serupa–walaupun tidak dengan pembeberan di depan publik seperti Jane terhadap Tess–bisa berakhir dengan hilangnya bisnis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi kalaupun sampai hal seperti itu terjadi ya sudah lah, toh cuma bisnis (duit), bagaimanapun masih lebih ringan daripada kasus Jane yang menyangkut keluarganya sendiri. Lagipula kehilangan bisnis dengan cara demikian juga tidak perlu disesali. Yang lebih penting di bisnis ini (core value-nya) adalah mulut kita yang bisa dipegang, dan bisnis-bisnis baru akan datang lagi, mungkin malah lebih baik daripada yang hilang. Sebaliknya, kalau pendapat kita sudah mulai tidak jujur, goes where the money flows, siapa yang mau percaya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau kita memberi usulan yang kurang baik, itu seharusnya karena memang kita sedang tidak mampu. Bukan karena dengan sengaja memberi yang kurang baik demi memenangkan bisnis.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Thanks, Jane!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10771740-9020552622351137880?l=stevie18181.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://stevie18181.blogspot.com/feeds/9020552622351137880/comments/default' title='Publier les commentaires'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10771740&amp;postID=9020552622351137880&amp;isPopup=true' title='0 commentaires'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10771740/posts/default/9020552622351137880'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10771740/posts/default/9020552622351137880'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://stevie18181.blogspot.com/2008/03/cinta-tak-harus-memiliki.html' title='Cinta tak harus memiliki'/><author><name>Stevie Sulaiman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02685787684909090570</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_rC_LrIRDnOM/RoEiB0NXSxI/AAAAAAAAAGU/tf75ldN9ZAY/s400/Bedroom_3.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_rC_LrIRDnOM/R8uWufcqiDI/AAAAAAAAALo/MfLUKPIULxo/s72-c/27dresses.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10771740.post-6840459315830583650</id><published>2008-03-03T11:35:00.001+07:00</published><updated>2008-03-03T13:11:12.405+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Meditasi'/><title type='text'>Hijaunya rumput tetangga</title><content type='html'>Basic-nya pedagang, pengen jadi seniman. Terlahir jadi seniman, pengen jadi pengusaha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak juragan pengen jadi profesional, anak karyawan pengen jadi bos. Miskin pengen kaya, yang kaya malah pengen hidup sederhana, seperti Warren Buffet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Punya bojo cantik dan pintar kepincut sama sekretaris seksi, punya pacar seksi selingkuh sama cewek eksekutif yang smart dan independen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lahir di Indonesia pengen tinggal di New York, lahir di Amerika pengen tinggal di Bali. Lahir di desa pengen ke kota, lahir di kota pengen balik ke desa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Punyanya gubuk pengen mansion, punya mansion pengen apartemen atau rumah pantai sederhana saja, biar bisa bikin istana pasir sama anak-anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang nggak punya handphone ngebet beli handphone sampai kredit. Yang punya smartphone BlackBerry malah nggak dipakai handphone-nya, cuman buat email dan chatting di becak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Beautiful Boxer, ada Thai-boxer cowok yang suka dandan, akhirnya operasi kelamin jadi cewek—sekarang berprofesi sebagai model. Di Boys Don’t Cry, Hillary Swank memerankan tokoh perempuan yang lesbian dan terobsesi ingin jadi laki-laki–berdandan dan berkelakuan sepertinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Forrest Gump dan I Am Sam, kita iba melihat orang dewasa yang mentalnya tidak berkembang, tetap seperti anak-anak. Di Vitus, ada seorang anak jenius yang punya kemampuan berpikir melebihi orang dewasa, tapi malah pengen jadi anak normal dan biasa-biasa saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang kulit putih berjemur supaya kulitnya jadi coklat, orang kulit coklat pakai Pond’s biar kulitnya jadi putih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang rambutnya lurus dirol biar keriting, yang rambutnya ikal direbonding biar lurus kayak Tau Mingse. Yang berambut pirang dicat warna gelap, yang berambut hitam dibleach supaya jadi pirang. Yang pendek pakai hak sampai 12 sentimeter biar kelihatan tinggi, yang tinggi sampai bingung kalau beli pakaian susah cari ukurannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang nggak bisa punya anak sampai bela-belain pakai penyubur, bayi tabung, atau adopsi anak orang lain. Yang bisa punya anak malah nggak pengen punya anak, lebih suka memelihara anjing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di salah satu majalah Reader’s Digest ada kutipan dari seorang penyanyi country terkenal, Garth Brooks, “It’s not getting what you want, but wanting what you get.” Tulisan itu seperti sedang bernyanyi—dengan logat Southern-nya yang kental–diselingi petikan gitar akustik, tiupan harmonika, dan gesekan biola. Lalu kita pun terbawa ke pedalaman Texas, sambil melihat bintang-bintang di langit gurun dan mengunyah popcorn.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba kita terbangun, dan bukan popcorn yang sedang kita kunyah melainkan jagung bakar, yang hangat dan lebih lezat, diselimuti angin pegunungan segar di lereng Bromo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“What if we get what we want, but we no longer want it?”&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10771740-6840459315830583650?l=stevie18181.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://stevie18181.blogspot.com/feeds/6840459315830583650/comments/default' title='Publier les commentaires'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10771740&amp;postID=6840459315830583650&amp;isPopup=true' title='0 commentaires'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10771740/posts/default/6840459315830583650'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10771740/posts/default/6840459315830583650'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://stevie18181.blogspot.com/2008/03/hijaunya-rumput-tetangga.html' title='Hijaunya rumput tetangga'/><author><name>Stevie Sulaiman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02685787684909090570</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_rC_LrIRDnOM/RoEiB0NXSxI/AAAAAAAAAGU/tf75ldN9ZAY/s400/Bedroom_3.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10771740.post-4172865577411227690</id><published>2008-03-03T11:04:00.002+07:00</published><updated>2008-03-03T11:11:39.932+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Nonton'/><title type='text'>Dokumenter kelas dunia</title><content type='html'>Cinta makin terasa ketika kita jauh. Dan &lt;a href="http://andibachtiaryusuf.blogspot.com"&gt;Andibachtiar Yusuf&lt;/a&gt; pun makin cinta terhadap Aremania dan Indonesia, justru ketika dia tinggal di luar negeri. Ini buktinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_rC_LrIRDnOM/R8t5CPcqiCI/AAAAAAAAALg/5eJ90WzTLTI/s1600-h/The+Conductors.wallpaper.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://4.bp.blogspot.com/_rC_LrIRDnOM/R8t5CPcqiCI/AAAAAAAAALg/5eJ90WzTLTI/s400/The+Conductors.wallpaper.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5173361676378605602" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“All you need is love&lt;br /&gt;All you need is love&lt;br /&gt;All you need is love, love,&lt;br /&gt;Love is all you need.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(The Beatles)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10771740-4172865577411227690?l=stevie18181.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://stevie18181.blogspot.com/feeds/4172865577411227690/comments/default' title='Publier les commentaires'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10771740&amp;postID=4172865577411227690&amp;isPopup=true' title='1 commentaires'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10771740/posts/default/4172865577411227690'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10771740/posts/default/4172865577411227690'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://stevie18181.blogspot.com/2008/03/dokumenter-kelas-dunia.html' title='Dokumenter kelas dunia'/><author><name>Stevie Sulaiman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02685787684909090570</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_rC_LrIRDnOM/RoEiB0NXSxI/AAAAAAAAAGU/tf75ldN9ZAY/s400/Bedroom_3.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_rC_LrIRDnOM/R8t5CPcqiCI/AAAAAAAAALg/5eJ90WzTLTI/s72-c/The+Conductors.wallpaper.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10771740.post-6249950688309308787</id><published>2008-03-01T20:19:00.000+07:00</published><updated>2008-03-01T20:22:51.476+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kongkow'/><title type='text'>Tidur nyenyak</title><content type='html'>Saat ngobrol santai selepas latihan, salah satu sparing partner di gym yang lebih senior bercerita bagaimana ia sering mengalami susah tidur. Sehari-hari ia baru bisa tidur jam 2 pagi, dan itu pun kadang-kadang harus dibantu sedikit alkohol. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku membayangkan, susah banget ya hidup seperti itu. Sementara saat dia bertanya balik kepadaku, dia mungkin iri mendengar jawabanku, “Nggak kok, nggak pernah susah tidur. Malah pernah dikatai, ‘Kamu itu kalo tidur kayak orang mati saja. Besok-besok kalo rumahmu kemasukan maling, barang sudah habis semua kamu masih tidur’. Hahaha…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi memang benar, pada saat sekolah dan kuliah dulu sepertinya tidur adalah hal yang paling mudah dilakukan. Satu-satunya aku pernah mengalami susah tidur adalah saat SD, habis pertama kali nonton film G30S di TV. Eh, dan satu lagi sih, saat masa kuliah, kalau tidak salah. Habis nonton The Others—film horor yang dibintangi Nicole Kidman. Selain dua itu nggak pernah susah tidur. Yang ada lagunya malah susah bangun :p&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi itu dulu, pada saat sekolah dan kuliah. Itulah sebabnya aku sekarang mulai mengerti kenapa masa sekolah sering disebut sebagai masa-masa yang paling menyenangkan. Seberat-beratnya beban pikiran kalau mau ujian, kita masih sempat sambil nonton TV, main game, dan keluyuran sama teman. Terakhir, kalau lagi kepepet, masih ada Dewi Fortuna yang kadang memberi petunjuk saat kita ngawur pake feeling milih multiple-choice, hehehe…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara saat bekerja, wah yang namanya deadline itu sadis dan tidak kenal ampun. Itu belum ditambah tuntutan dari diri sendiri dan lingkungan, seperti eh kapan gue nikah ya, kapan gue mesti beli rumah, kapan gue mulai bikin usaha, dan seterusnya dan seterusnya. Sepertinya seisi dunia sedang mengejar-ngejar kita dengan deadline. Sebagian orang—yang menurut Domino (Harvey) sebagai kalangan ketiga, selain orang kaya dan orang miskin, yaitu golongan “in between”—memang disuratkan untuk menjalani hidup yang seperti ini, dan sepertinya aku memang masuk ke golongan ini. Semuanya harus dilalui dengan kerja keras, hard earning life (nggak ada terjemahan yang pas ya buat kata “earn”?). Dewi Fortuna sudah capek membantu saat mengerjakan soal-soal ujian dulu, lalu memutuskan pensiun lebih dini. I’m on my own now.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beban yang berat inilah yang akhirnya membuatku mengalami apa yang pernah dialami teman satu gymku itu: susah tidur. Kepikiran, stres yang terbawa sampai ke alam bawah sadar, besok gimana ya, minggu depan gimana, bulan depan, tahun depan, dan seterusnya. Bedanya memang aku tidak sampai butuh bantuan alkohol, atau obat tidur dan obat penenang. Belum, mungkin, tapi kalau boleh memilih tidak ingin mengarah ke sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beban pikiran pun bertambah lagi, bagaimana caranya mengusir susah tidur ini. Bahkan susah tidurnya Steven Gerrard selepas gagal mengeksekusi penalti di Piala Dunia saja hanya bertahan beberapa hari, tidak sampai berhari-hari dan berminggu-minggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Olahraga kadang membantu, tapi seiring bertambahnya kesibukan porsi olahraga pun berkurang—tidak serutin dulu. Ini kemudian menjadi efek domino, karena olahraga berkurang, tidur nyenyak juga berkurang, akhirnya fisik kurang prima dan olahraga dikurangi lagi karena takut kecapekan. Begitu seterusnya. Perlu cara tambahan lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku kemudian bereksperimen dengan kembali ke bangku sekolah: ikut les Perancis. Well, ini tidak sepenuhnya eksperimen, karena memang dari dulu sudah berminat belajar. Jadi memenuhi keinginan sekaligus membantu mengusir stres. And… it worked. Bertemu dengan lingkungan baru, memulai hal baru dari nol, dan kegiatan belajar itu sendiri menjadi refreshing. Walaupun harus “membuang” 4 jam tiap minggu—yang mestinya bisa juga buat nonton atau olahraga—ternyata tidak sia-sia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memasuki awal Maret ini aku sudah lebih setengah tahun ikut kursus Perancis, dan sudah masuk pertengahan level 1B (tingkat kedua dari dasar). Menariknya, guru baru kita, Madame Maya, menggunakan metode pengajaran yang lebih lisan, akhirnya kita sekelas lebih mudah memulai percakapan daripada saat masih di 1A dulu. Catatan lebih sedikit, tapi lebih ingat, sementara dulu di 1A catatan sampai habis dua buku tulis, tapi banyak yang blank.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Les ini sendiri akhirnya jadi penyemangatku dalam menjalani minggu demi minggu. Hidup juga bertambah semangat dengan pindah kantor. Walaupun awalnya tidak terlalu tertarik berkantor di gedung perkantoran—terlalu banyak regulasi ini-itu, biaya besar, dan lebih tidak fleksibel—toh aku tidak bisa menyangkal aku mulai menikmatinya, walaupun baru seminggu sudah dapet oleh-oleh imbas gempa dari Bengkulu (di lantai 25 euy… lampu pada goyang).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Punya banyak tetangga sekomplek perkantoran; pergi-pulang kantor tidak perlu macet nyetir dan susah cari parkir, bisa pakai bus(way); pilihan makanan yang banyak di food court (cobain masakan Manado “Woku di Woka” deh); dan coffee machine di Kafe Kino (bahkan pantry-nya kantor saja di-branding, weleh :p) yang menyajikan MILO hangat di pagi hari, plus kacanya yang memperlihatkan pemandangan komplek Gelora Bung Karno; semuanya sejauh ini seperti menghembuskan angin segar kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin juga karena masih baru. Mungkin nanti kalau sudah lama juga bisa bosan, yah who knows… Tapi setidaknya belum susah tidur lagi sejak setengah tahun yang lalu. Padahal minggu pertama di kantor baru sudah sempat begadang sampai pagi dan tidur cuman beberapa jam lalu balik ngantor lagi, tapi tidurnya terasa nyenyaaak sekali. Melupakan hari esok, menikmati hari ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dream as you’ll live forever. Live as you’ll die today.” (James Dean)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10771740-6249950688309308787?l=stevie18181.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://stevie18181.blogspot.com/feeds/6249950688309308787/comments/default' title='Publier les commentaires'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10771740&amp;postID=6249950688309308787&amp;isPopup=true' title='0 commentaires'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10771740/posts/default/6249950688309308787'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10771740/posts/default/6249950688309308787'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://stevie18181.blogspot.com/2008/03/tidur-nyenyak.html' title='Tidur nyenyak'/><author><name>Stevie Sulaiman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02685787684909090570</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_rC_LrIRDnOM/RoEiB0NXSxI/AAAAAAAAAGU/tf75ldN9ZAY/s400/Bedroom_3.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10771740.post-2138566651788115662</id><published>2008-02-28T21:01:00.003+07:00</published><updated>2008-02-28T21:02:45.579+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jalan-jalan'/><title type='text'>Bazaar di Assembly Hall</title><content type='html'>Setelah dipikir-pikir, ternyata Assembly Hall itu artinya aula yang bisa dibongkar-pasang. Pantesan banyak gedung punya Assembly Hall. Yang paling terkenal tentunya Assembly Hall di JCC (Jakarta Convention Center), buat pameran furniture lah, pameran mobil, wedding, kerajinan, sampai buat menggelar konser macam Java Jazz.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di komplek perkantoran Plaza Bapindo, tempat bekerjaku yang baru, juga punya Assembly Hall. Tepatnya di bagian belakang, di bagian atas gedung parkiran. Sesuai sifatnya yang bisa dibongkar-pasang, Assembly Hall di lantai 8 dan 9 ini juga serba guna. Misalnya di bulan Prapaskah ini yang lantai 9 pernah dipakai untuk menggelar Misa Rabu Abu, membuat para tenant (pekerja di gedung yang bersangkutan) tidak perlu repot keluar gedung, tinggal antre lift saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siang tadi, saat lagi mati gaya di depan komputer dan butuh udara segar, aku iseng-iseng ke Assembly Hall lantai 8—kabarnya sering ada obral pakaian. Tapi tadi siang bukan obral pakaian branded seperti yang dulu sering dikirim kabarnya lewat email itu, melainkan bazaar reguler. Rupanya memang tempat ini sudah “ditetapkan” jadi semacam pasarnya komplek perkantoran, dan mungkin orang-orang kantoran memang butuh pasar seperti ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah keliling dan muter-muter sepintas (kebetulan memang lahannya tidak luas), ternyata isinya nggak cuman pakaian, tapi ada juga aksesoris, mainan, dan kantin yang jual cemilan. Pakaiannya pun beberapa relatif lumayan: ada T-shirt bermotif sablon Rp 35 ribuan, kemeja dan celana pantalon (wah ini bukan kostum gue banget deh :p), sandal, sampai celana jeans bertuliskan Replay yang dijual Rp 350 ribuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi yang paling menarik di antara semua justru stan asesoris laptop yang menjual produk Laptopper, yaitu semacam bantal yang ada papan tatakannya di bagian atas, buat memangku laptop kalau lagi menulis di ranjang atau sofa. Laptopper untuk 12 inch dipatok Rp 195 ribu, relatif tidak mahal menimbang fungsi dan perbandingan harganya dengan saku laptop biasa. Sudah begitu, desain motif dan bentuk papannya cukup beraneka. Kreatif…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_rC_LrIRDnOM/R8a-5GR29eI/AAAAAAAAALY/WomeP8BY3Hk/s1600-h/Stempel+mobil-mobilan.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://3.bp.blogspot.com/_rC_LrIRDnOM/R8a-5GR29eI/AAAAAAAAALY/WomeP8BY3Hk/s400/Stempel+mobil-mobilan.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5172031110228932066" /&gt;&lt;/a&gt;Tak jauh dari situ ada juga stan mainan anak yang menjual stempel berbentuk mobil-mobilan, yang jejak-jejak stempelnya menggambarkan aktivitas yang berhubungan dengan mobilnya. Mobil polisi capnya borgol, lencana, sirene, dan pistol. Mobil pemadam kebakaran capnya pompa air dan kapak, sedangkan mobil ambulans capnya gambar palang merah, icon tetesan darah, dan suntikan. Membantu banget anak kecil belajar benda-benda baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rupanya mainan lebih menarik di hati, dan aku beli lah stempel seharga Rp 15 ribu itu—walau masih belum tau untuk apa. Paling ya buat lucu-lucuan dan menghias meja kantor yang masih kosong, belum banyak kerjaan ini. Ah, leganya otak udah refresh lagi.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10771740-2138566651788115662?l=stevie18181.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://stevie18181.blogspot.com/feeds/2138566651788115662/comments/default' title='Publier les commentaires'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10771740&amp;postID=2138566651788115662&amp;isPopup=true' title='0 commentaires'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10771740/posts/default/2138566651788115662'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10771740/posts/default/2138566651788115662'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://stevie18181.blogspot.com/2008/02/bazaar-di-assembly-hall.html' title='Bazaar di Assembly Hall'/><author><name>Stevie Sulaiman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02685787684909090570</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_rC_LrIRDnOM/RoEiB0NXSxI/AAAAAAAAAGU/tf75ldN9ZAY/s400/Bedroom_3.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_rC_LrIRDnOM/R8a-5GR29eI/AAAAAAAAALY/WomeP8BY3Hk/s72-c/Stempel+mobil-mobilan.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10771740.post-356975837478814863</id><published>2008-02-28T20:59:00.000+07:00</published><updated>2008-02-28T21:00:52.575+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Makan-makan'/><title type='text'>Menikmati Nasi Uduk Gondangdia</title><content type='html'>Sudah cukup lama kenal sama warung Sunda di pojok Gondangdia (Jl. Cik Di Tiro) bawah rel sepur… eh, kereta api, nggak nyadar juga kalau di sebelahnya ada tempat makan yang nggak kalah dahsyat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, Nasi Uduk Gondangdia, yang ternyata seramai dan sepopuler Nasi Uduk Kebon Kacang. Sama-sama pakai bumbu kacang, sama-sama nasi uduknya disajikan langsung di meja, sembari dibungkus daun pisang biar harum—bedanya Nasi Uduk Gondangdia bungkusan nasi uduknya lebih gede, dan dibentuk menyerupai kerucut. Satu lagi, ada menu lauk yang dahsyat, yaitu ayam kampung panggang, yang tersaji dengan bumbu berwarna oranye kemerahan. Pedas pedas mantap! (hati-hati kebablasan imbuh nasi, nanti porsi treadmill-nya nambah setengah jam :p)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rupanya musim rintik hujan begini memang cocok makan malam anget-anget di warung kaki lima. Mampir yuk, kapan-kapan…&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10771740-356975837478814863?l=stevie18181.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://stevie18181.blogspot.com/feeds/356975837478814863/comments/default' title='Publier les commentaires'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10771740&amp;postID=356975837478814863&amp;isPopup=true' title='1 commentaires'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10771740/posts/default/356975837478814863'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10771740/posts/default/356975837478814863'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://stevie18181.blogspot.com/2008/02/menikmati-nasi-uduk-gondangdia.html' title='Menikmati Nasi Uduk Gondangdia'/><author><name>Stevie Sulaiman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02685787684909090570</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_rC_LrIRDnOM/RoEiB0NXSxI/AAAAAAAAAGU/tf75ldN9ZAY/s400/Bedroom_3.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10771740.post-8302881391673487070</id><published>2008-02-18T17:05:00.003+07:00</published><updated>2008-03-12T12:31:21.127+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cita-cita'/><title type='text'>Ngambil S-2</title><content type='html'>Kadang-kadang kangen juga suasana sekolah. Tapi sejauh ini belum kepikiran untuk melanjutkan studi lagi ke jenjang S-2. Apalagi ke luar negeri, waduh… sudah nggak ada waktunya, biayanya juga nggak ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mencicipi keliling dunia biar jadi “takdir” adikku saja, yang baru-baru ini melanjutkan petualangannya ke Dubai—bekerja di Burj Al-Arab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin jalanku memang beda, seperti halnya karakter kami berdua yang sangat bertolak belakang. Adikku lebih people person; temannya banyak dan ia mudah sekali berdagang—nurun Papa—makanya ia menikmati pekerjaannya di bidang hotel banquet and sales management. Sementara aku lebih individual, small-grouper. Bergaul dengan macam-macam orang, tapi yang benar-benar temen sebenarnya nggak banyak, walaupun rata-rata akrab (nurun Mama). Mungkin itu sebabnya aku cukup menikmati kerja “di belakang layar”, seperti yang sedang aku jalani ini. Cita-citaku juga tidak ingin menjalani hidup yang high-profile.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi yang namanya rencana tidak selalu berjalan sesuai ekspektasi. Dalam hal ini, melebihi ekspektasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nggak berencana mengambil S-2, eh malah dapat tawaran bekerja di salah satu hottest agency in town. Mungkin kalau ukuran sepakbola, ini Manchester United atau Real Madrid-nya advertising Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum-belum beban begitu besar langsung membebani pundak. Banyak orang yang pengen—dan tentunya mengincar—posisi yang aku dapet ini. Jadi sebenarnya “sampai di tempat ini” baru jeda paruh waktu, sementara masih ada setengah babak lainnya, yaitu gimana bisa perform, dan itu yang belum dijalani sama sekali. Seperti halnya sepakbola, bola itu bundar… eh, bulat :p jadi second-half tetap punya potensi untuk memutarbalikkan keadaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yah… tapi apa pun itu, di tahun Tikus ini aku layak untuk tetap optimis. Belum lagi Creative Director dan bakal Creative Group Head-nya asik. The future is bright, I think. Semoga setahun ke depan dapat menjadi tahun yang menyenangkan, dan portfolio di steviesulaiman.viewbook.com dapat bertambah lagi dengan koleksi yang lebih appetizing—buat modal “hari tua”, hehehe…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalaupun tidak, yaa masih ada “gelar S-2” yang bisa dibuat jualan :p&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PS: Thx buat employer dan klien-klienku sebelumnya, yang karenanya aku jadi punya gelar “S-1” dan bisa meneruskan ke “S-2” ini. Thx juga buat Cici Hoki, sang pembuka jalan—I owe you twice.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10771740-8302881391673487070?l=stevie18181.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://stevie18181.blogspot.com/feeds/8302881391673487070/comments/default' title='Publier les commentaires'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10771740&amp;postID=8302881391673487070&amp;isPopup=true' title='0 commentaires'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10771740/posts/default/8302881391673487070'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10771740/posts/default/8302881391673487070'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://stevie18181.blogspot.com/2008/02/ngambil-s-2.html' title='Ngambil S-2'/><author><name>Stevie Sulaiman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02685787684909090570</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_rC_LrIRDnOM/RoEiB0NXSxI/AAAAAAAAAGU/tf75ldN9ZAY/s400/Bedroom_3.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10771740.post-315321284510834193</id><published>2008-02-16T21:52:00.001+07:00</published><updated>2008-02-16T21:56:02.856+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jalan-jalan'/><title type='text'>Sandwich enak, teh peppermint hangat, dan Nu Jazz di Anomali</title><content type='html'>Setelah tersengat panas di Kelapa Gading dan Kemayoran beberapa jam sebelumnya, sore ini akhirnya aku neduh ke daerah Senopati, nyobain kafe yang pernah diceritakan Inge pernah jadi tempat brainstorming bersama teman-teman sekantornya: Anomali (www.anomalicoffee.com).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari luar suasana cozy itu sudah tampak samar-samar dari penampilan balkonnya. Begitu masuk, atmosfer teduh dan nyaman dari desain interiornya, yang diwarnai alunan musik Nu Jazz yang sepoi-sepoi membuat suasana rumahan makin kental. “Untungnya” aku lupa makan siang, jadi sempat nyobain menu “makanan berat”-nya, yaitu Club Sandwich. Dipadu dengan teh rasa peppermint hangat, lengkaplah cita rasa home-made cooking itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum puas dengan sandwich dan teh sepoci, aku lanjut dengan French Fries. Sayangnya memang pesanan kedua ini tak seindah yang pertama. Seperti halnya beberapa hari lalu di Oh La La, aku juga kurang puas dengan French Fries-nya. Sejauh ini rekor masih dipegang French Fries di Blitz Megaplex, hehehe… (French Fries aja diributin).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan setelah tenggorokan panas kena daging dan gorengan, alangkah baiknya kalau minum air putih. Sialnya memang, sesuai nama kafenya, Anomali—yang berarti sesuatu yang beda dari biasanya, bukan kebanyakan—di sini juga tidak mengenal Aqua. Ononé Equil, sparkling water yang nggak sparkling itu. Walah, jadilah kaum proletar ini terpaksa minum air minumnya para bangsa(t)wan. Untung menyajikannya pakai gelas kaca, nggak kayak di Starbucks yang menyajikan Equil pakai gelas kertas (I regard this as a crime, if I may :p), jadi secara visual masih yo wes lah… acceptable.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suasana nikmat dan sofa empuk di pinggir kaca mengantarku keliling dunia maya lewat jalur Wi-Fi gratis sampai berjam-jam lamanya. Sempat terlintas satu dua inspirasi; ada yang jadi tulisan, ada yang jadi sesuatu yang belum tau buat apa. Tapi itu tidak terlalu penting, wong objective-nya melepas kangen suasana brainstorming di luar kantor.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10771740-315321284510834193?l=stevie18181.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://stevie18181.blogspot.com/feeds/315321284510834193/comments/default' title='Publier les commentaires'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10771740&amp;postID=315321284510834193&amp;isPopup=true' title='0 commentaires'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10771740/posts/default/315321284510834193'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10771740/posts/default/315321284510834193'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://stevie18181.blogspot.com/2008/02/sandwich-enak-teh-peppermint-hangat-dan.html' title='Sandwich enak, teh peppermint hangat, dan Nu Jazz di Anomali'/><author><name>Stevie Sulaiman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02685787684909090570</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_rC_LrIRDnOM/RoEiB0NXSxI/AAAAAAAAAGU/tf75ldN9ZAY/s400/Bedroom_3.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10771740.post-192950521270442424</id><published>2008-02-11T22:17:00.000+07:00</published><updated>2008-02-11T22:55:00.839+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kutipan'/><title type='text'>Memento Mori</title><content type='html'>By Jonathan Nolan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align:center;"&gt;&lt;strong&gt;“What like a bullet can undeceive!”&lt;/strong&gt;&lt;/td&gt;&lt;br /&gt;&lt;td style="text-align:center;"&gt;—Herman Melville—&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Your wife always used to say you’d be late for your own funeral. Remember that? Her little joke because you were such a slob—always late, always forgetting stuff, even before the incident.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Right about now you’re probably wondering if you were late for hers.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;You were there, you can be sure of that. That’s what the picture’s for—the one tacked to the wall by the door. It’s not customary to take pictures at a funeral, but somebody, your doctors, I guess, knew you wouldn’t remember. They had it blown up nice and big and stuck it right there, next to the door, so you couldn’t help but see it every time you got up to find where she was.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The guy in the picture, the one with the flowers? That’s you. And what are you doing? You’re reading the headstone, trying to figure out who’s funeral you’re at, same as you’re reading itnow, trying to figure why someone stuck that picture next to your door. But why bother reading something that you won’t remember?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;She’s gone, gone for good, and you must be hurting right now, hearing the news. Believe me, I know how you feel. You’re probably a wreck. But give it five minutes, maybe ten. Maybe you can even go a whole half hour before you forget.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;But you will forget—I guarantee it. A few more minutes and you’ll be heading for the door, looking for her all over again, breaking down when you find the picture. How many times do you have to hear the news before some other part of your body, other than that busted brain of yours, starts to remember?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Never-ending greif, never-ending anger. Useless without direction. Maybe you can’t understand, either. Backwards amnesia. That’s what the sign says. CRS disease. Your guess is as good as mine.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maybe you can’t understand what happened to you. But you do remember what happened to HER, don’t you? The doctors don’t want to talk about it. They won’t answer my questions. They don’t think it’s right for a man in your condition to hear about those things. But you remember enough, don’t you? You remember his face.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;This is why I’m writing to you. Futile, maybe. I don’t know how many times you’ll have to read this before you listen to me. I don’t even know how long you’ve been locked up in this room already. Neither do you. But your advantage in forgetting is that you’ll forget to write yourself off as a lost cause.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sooner or later you’ll want to do something about it. And when you do, you’ll just have to trust me, because I’m the only one who can help you.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Earl opens one eye after another to a stretch of white ceiling titles interrupted by a hand-printed sign taped right above his head, large enough for him to read from the bed. An alarm clock is ringing somewhere. He reads the sign, blinks, reads it again, then takes a look at the room.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;It’s a white room, overwhelmingly white, from the walls and the curtains to the institutional furniture and the bedspread. The alarm clock is ringing from the white desk under the window with the white curtains. At this point, Earl probably notices that he is lying on top of his white comforter. He is already wearing a dressing gown and slippers.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;He lies back and reads the sign taped to the ceiling again. It says, in crude block capitals, “THIS IS YOUR ROOM. THIS IS A ROOM IN A HOSPITAL. THIS IS WHERE YOU LIVE NOW.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Earl rises and takes a look around. The room is large for a hospital—empty linoleum stretches out from the bed in three directions. Two doors and a window. The view isn’t very helpful, either—a close of trees in the center of a carefully manicured piece of turf that terminates in a sliver of two-lane blacktop. The trees, except for the evergreens, are bare—early spring or late fall, one or the other.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Every inch of the desk is covered with Post-it notes, legal pads, neatly printed lists, psychological textbooks, framed pictures. On top of the mess is a half-completed crossword puzzle. The alarm clock is riding a pile of folded newspapers. Earl slaps the snooze button and takes a cigarette from the pack taped to the sleeve of his dressing gown. He pats the empty pockets of his pajamas for a ligh. He rifles the papers on the desk, looks quickly through the drawers.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eventually he finds a box of kitchen matches taped to the wall next to the window. Another sign is taped just above the box. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;It says in loud yellow letters, “Cigarette? Check for lit ones first, stupid.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Earl laughs at the sign, lights his cigarette, and takes a long draw. Taped to the window in front of him is another piece of looseleaf paper headed your schedule.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;It charts off the hours, every hour, in blocks 10:00 p.m. to 8:00 a.m., is labeled “go back to sleep.” Earl consults the alarm clock: 8:15. Given the light outside, it must be morning. He checks his watch: 10:30. He pressed the watch to his ear and listens. He gives the watch a wind or two and sets it to match the alarm clock.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;According to the schedule, the entire block from 8:00 to 8:30 has been labeled “brush you teeth.” Earl laughs again and walks over to the bathroom.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The bathroom window is open. As he flaps his arms to keep warm, he notices the ashtray on the windowsill. A cigarette is perched on the ashtray, burning steadily through a long finger of ash. He frowns, extinguishes the old butt, and replaces it with the new one.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The toothbrush has laready been treated to a smudge of white paste. The tap is of the push-button variety—a dose of water with each nudge. Earl pushes the brush into his cheek and fiddles it back and forth while he opens the medicine cabinet. The shelves are stocked with single-serving packages of vitamins, aspirin, antidiuretics. The mouthwash is also single-serving, about a shot-glass-worth of blue liquid in a sealed plastic bottle.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;As the car is swallowed into traffic, Earl’s eyes continue to shine out into the night, watching the body untill it disappears into a circle of concerned pedestrians. He chuckles to himself as the car continues to make distance between him and the growing crowd.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Earl’s smile fades a little. Something has accured to him. He begins to pat down his pockets; leisurely at first, like a man looking for his keys, then a little more desperately. Maybe his progress is impeded by a set of handcuffs. He begins to empty the contents of his pockets out onto the seat next to him. Some money. A bunch of keys. Scraps of paper.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A round metal lump rolls out of his pocket and slides across the vinyl seat. Earl is frantic now. He hammers at the plastic divider between him and the driver,begging the man for a pen. Perhaps the cabbie doesn’t speak much English. Perhaps the cop isn’t in the habit of talking to suspects. Either way, the divider between the man in front and the man behind remains closed. A pen is not forthcoming.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The car hits a pothole, and Earl blinks at his reflection in the rearview mirror. He is calm now. The driver makes another corner, and the metal lump slides back over to rest against Earl’s leg with a little jingle. He picks it up and looks at it, curious now. It is a little bell. A litlle metal bell, inscribed on it are his name and a set of dates, He recognizes the first one: the year which he was born. But the second date means nothing to him. Nothing at all.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;As he turns the bell over his hands, he notices the empty space on his wrist where his watch used to sit. There is a little arrow there, pointing up his arm. Earl looks at the arrow, then begins to roll up his sleeve.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“You’d be late for your own funeral,” she’d say. Remember? The more I think about it, the more trite that seems. What kind of idiot, after all, is in any kind of rush to get to the end of his own story? And hwo would I know if I were late, anyway? I don’t have a watch anymore. I don’t know what we did with it.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;What the hell do you need a watch for, anyway? It was an antique. Deadweight tugging at your wrist. Symbol of the old you. The you that believed in time.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;No. Scratch that. It’s not so much that you’ve lost your faith in time as that time has lost its faith in you. And who needs it, anyway? Who wants to be one of those saps living in the safety of the future, in the safety of the moment after the moment in which they left something powerful? Living in the next moment, in which they feel nothing. Crawling down the hands of the clock, away from the people who did unspeakable things to them. Believing the lie that time will heal all wounds—which is just a nice way of saying that time deadens us.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;But you’re different. You’re more perfect. Time is three things for most peopple, but for you, just one. A singularity. One moment. This moment. Like you’re the center of the clock, the axis on which the hands turn. Time moves about you but never moves you. It has lost its ability to affect you. What is it they say? That time is theft? But not for you. Close your eyes and you can start all over again. Conjure up that necessary emotion, fresh as roses.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Time is an absurdity. An abstraction. The only thing that matters is this moment. This moment is a million times over. You have to trust me. If this moment is repeated enough, if you keep trying—and you have to keep trying—eventually you will come across the next time on your list.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10771740-192950521270442424?l=stevie18181.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://stevie18181.blogspot.com/feeds/192950521270442424/comments/default' title='Publier les commentaires'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10771740&amp;postID=192950521270442424&amp;isPopup=true' title='0 commentaires'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10771740/posts/default/192950521270442424'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10771740/posts/default/192950521270442424'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://stevie18181.blogspot.com/2008/02/memento-mori.html' title='Memento Mori'/><author><name>Stevie Sulaiman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02685787684909090570</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_rC_LrIRDnOM/RoEiB0NXSxI/AAAAAAAAAGU/tf75ldN9ZAY/s400/Bedroom_3.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10771740.post-5081132964252322328</id><published>2008-02-11T22:13:00.000+07:00</published><updated>2008-02-11T22:17:32.428+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Budaya'/><title type='text'>Memasak dengan tungku</title><content type='html'>Karena makin hari makin ketinggalan acara TV—pernah ditegur oleh salah satu teman yang berada di client-side, katanya wong orang iklan kok malah nggak pernah mengamati TV (dan iklan TV yang lagi tayang)—aku baru tau tentang acara reality show bertema konversi minyak tanah ke gas elpiji dari Kompas Minggu (10/2) kemarin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi kembali teringat pada suatu pembicaraan di lobby Hotel Melia, Jogja, beberapa waktu lalu. Ketika itu salah satu petinggi PPPI di perbincangan di mana aku sempat ikut nimbrung itu bercerita tentang mi godog Jogja terkenal, yang dimasak menggunakan tungku areng (arang, batu bara). Antrenya sampai lamaa banget, katanya, karena ya… namanya juga masak pakai areng, mana mungkin cepat. Tapi rasanya sudah pasti top, kalau tidak logikanya mana mungkin tetap dicari (dan dibicarakan) orang. Walaupun saat di Jogja waktu itu belum sempat mencicipi, tapi ya aku anggap mitos itu benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Topik masak pakai areng ini kembali segar di kepala ketika asik andhok makan siang di Tongseng Mbak Sri, di belakang kantor Lowe di Hasanuddin, seberang Pasaraya Grande. Waktu itu aku juga melihat bapaknya masak tongseng pakai areng. Tongsengnya memang mantap banget, sedapnya merasuk ke seluruh elemen masakan, dan karena itulah aku kembali untuk kedua, ketiga, dan kesekian kalinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pikiran lalu kembali melayang ke akhir 2006, saat sedang mendengarkan ceramah singkat tentang batik yang dibawakan oleh pebatik Iwan Tirta. Mas Iwan—begitu ia biasa dipanggil, walaupun aku lebih cocok memanggilnya Opa Iwan—yang kebetulan penganut batik tulis a la Solo bercerita tentang perbedaan mendasar batik pedalaman (Solo, Jogja) dan batik Pesisir (Pekalongan, Cirebon). Ia kemudian bercerita bahwa batik pedalaman umumnya lebih rajin daripada batik pesisir, terlihat dari sisi dalamnya (bila kain batik itu kita balik). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ke toko-toko batik di Jogja dan mengamati batik Solo di pameran Batik Nusantara di JCC beberapa waktu lalu aku kemudian membuktikan sendiri ucapan Mas Iwan itu, bahwa batik tulis pedalaman ini memang benar-benar rajin dan berkualitas. Plus harganya juga bagus :p (waktu itu sempat naksir sebuah kain batik berbahan sutera bermotif “Beras Kecer” berwarna kemerahan, tapi harganya Rp 1,1 juta, hehehe… yang di toko-toko batik di Jogja juga ada kain yang harganya Rp 2 juta hingga Rp 6 juta)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain cerita tentang batiknya, Mas Iwan juga sempat bercerita sedikit tentang suka-duka seniman batiknya—yang rata-rata sengaja ia datangkan dari pedalaman, karena seniman batik pesisir mustahil bisa mendapatkan tingkat kerajinan yang sama. Ia bercerita, sebagian seniman batiknya ini nggak kerasan tinggal di Jakarta yang pace hidupnya demikian cepat. Asumsiku, mungkin ini wajar karena mereka memang terbiasa hidup dengan “telaten”, sebagaimana tergambar dari cara mereka membatik. Mungkin ini memang karakter khas pedalaman Jawa Tengah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila ini kemudian kita kaitkan dengan kompor tungku tadi, kesimpulannya cocok. Alon-alon asal kelakon, begitu pepatah populernya. Dari sini kemudian aku jadi berpikir, jangan-jangan memang kurang tepat memaksakan “pembaruan” teknik memasak seperti yang berusaha dilakukan oleh acara reality show tadi. Orang-orang pedalaman Jawa Tengah ini memasak menggunakan tungku, apakah itu areng atau kayu bakar, bukan semata-mata ndeso kayak Mas Tukul atau sekadar takut kompor gas bisa meleduk, tapi memang mereka memilih untuk tetap memakai tungku. Demi kualitas hasil masakan mereka. Demi alon-alon. Demi mempertahankan karakter asli mereka dari usaha penyeragaman dengan paksa oleh westernisasi.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10771740-5081132964252322328?l=stevie18181.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://stevie18181.blogspot.com/feeds/5081132964252322328/comments/default' title='Publier les commentaires'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10771740&amp;postID=5081132964252322328&amp;isPopup=true' title='0 commentaires'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10771740/posts/default/5081132964252322328'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10771740/posts/default/5081132964252322328'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://stevie18181.blogspot.com/2008/02/memasak-dengan-tungku.html' title='Memasak dengan tungku'/><author><name>Stevie Sulaiman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02685787684909090570</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_rC_LrIRDnOM/RoEiB0NXSxI/AAAAAAAAAGU/tf75ldN9ZAY/s400/Bedroom_3.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10771740.post-1920616714653212628</id><published>2008-02-11T21:56:00.000+07:00</published><updated>2008-02-11T21:58:17.331+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sepakbola'/><title type='text'>Premier League goes to Asia?</title><content type='html'>Warga Hongkong bukan satu-satunya di Asia yang ingin nonton pertandingan Liga Premier Inggris secara langsung di negerinya. Orang kere seperti aku juga pengen. Bahkan bisa dikata kalau rencana menggelar salah satu fixture liga terpopuler dunia itu benar terjadi, mungkin sebagian besar yang terpenuhi aspirasinya adalah golongan kere seperti aku ini—selain juga industri sepakbola setempat yang mestinya bisa belajar banyak dari nonton pertandingan langsung yang kompetisi beneran, bukan eksebisi (baca: main-main) seperti tahun-tahun sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi dalam hal ini aku sependapat dengan Sir Alex, walaupun dia seorang Manchested United dan aku fans Liverpool, bahwa rencana “mulia” ini tidak bisa diputuskan gegabah dan sepihak tanpa berkonsultasi dengan para pelatih dan pemain. Walaupun hanya satu dari total 38 pertandingan yang harus dijalani sebuah klub dalam semusim, tapi jarak antara Eropa dan Asia yang demikian jauh layak menjadi pertimbangan. Itu belum lagi ditambah faktor perbedaan iklim yang pasti sedikit banyak akan mempengaruhi kebugaran para pemain (kerugian tak terduga) saat dan sesudah kembali dari Asia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi sebelum muluk-muluk bicara soal yang belum terduga, kita berhitung yang konkret-konkret saja dulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan dari Inggris ke negara Asia Timur dan Tenggara—Hongkong, China, Singapura, Malaysia, Thailand, dan Indonesia, untuk menyebut 6 negara di mana Liga Premier Inggris sangat populer dan digandrungi banyak fans—rata-rata 12 jam dengan pesawat. Itu sama atau lebih panjang daripada stamina seseorang untuk bekerja sehari, apalagi dibandingkan dengan bertanding 2 x 45 menit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesampainya di lokasi, supaya bisa tampil maksimal, biasanya butuh latihan di lapangan yang akan digunakan untuk bertanding. Itu berarti tim harus tiba setidaknya 2 hari sebelum pertandingan. Minimal. Tentunya tidak mungkin baru mendarat langsung berlatih, butuh istirahat 12-24 jam. Itu berarti tim harus tiba di lokasi 3 hari sebelum pertandingan digelar, dan harus berangkat dari Inggris 12-15 jam sebelumnya. Itu berarti mereka harus standby minimal 4 hari sebelum pertandingan. Bila itu ditambah dengan istirahat sehari sesudah pertandingan sebelumnya, berarti mereka minimal harus bertanding terakhir 6-7 hari sebelum pertandingan, dan itu berarti pertandingan yang digelar di Asia tidak bisa yang midweek ataupun yang berdempetan dengan Liga Champions, FA Cup, maupun Piala Carling dan pertandingan internasional. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu juga berlaku sesudah pertandingan di Asia, karena saat kembali para pemain juga akan membutuhkan rentang waktu yang relatif sama sebelum bersiap menghadapi pertandingan berikutnya di Inggris. Dari sini sudah terlihat betapa sulitnya mengatur fixture Asia ini nantinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau mau aman, dan sebaiknya memang demikian, berarti harus dihitung kemungkinan terburuk—yaitu jumlah hari yang dibutuhkan, sebelum plus saat plus sesudah fixture di Asia, dikompensasikan ke jumlah pertandingan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu artinya, anggap saja fixture itu ditaruh di minggu mana saja, termasuk minggu sibuk yang mengharuskan kompetisi lain di midweek atau sebaliknya Liga Premier yang midweek dan fixture lain di weekend, butuh kompensasi berapa pertandingan. Sejauh ini hitunganku mengorbankan 3 pertandingan. Kalau ketiganya dibebankan ke Liga Premier semua (karena memang ini buat “kepentingan” mereka), maka itu berarti Liga Premier harus mengurangi jumlah pertandingannya menjadi 35 semusim, atau bila dibulatkan ke bawah (karena harus genap) berarti menjadi 34 pertandingan saja, atau berarti jumlah timnya harus dirampingkan menjadi 18 tim saja, seperti Liga Italia Serie-A sebelum musim 2004/2005.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hitungan seperti ini baru mungkin terdengar adil secara matematis, dan itu baru mempertimbangkan faktor kebugaran fisik para pemain. Faktor lain yang perlu dipikirkan adalah akan kacaunya jadwal kompetisi lain (Eropa, dan FA Cup-Piala Carling yang melibatkan klub-klub divisi bawah). Bila ingin lagi-lagi aman, dan sebaiknya memang demikian, berarti harus cari minggu-minggu yang bebas dari “faktor luar” ini, supaya “kepentingan” Liga Premier ini tetap menjadi urusan dalam negeri Liga Premier.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu artinya, kemungkinan besar antara liburan Natal dan Tahun Baru. Minggu-minggu ini biasanya adalah minggu-minggu pertandingan full Liga Inggris, baik Premier maupun divisi-divisi yang lebih bawah, karena pasti bebas dari kompetisi Eropa dan pertandingan internasional. Tapi di sini pula ada yang bisa jadi korban, jadi Boxing Day—pertandingan tiap 26 Desember—yang sudah menjadi tradisi di masyarakat Inggris. Bila minggu-minggu ini dihilangkan demi Asia sepertinya akan jadi pengorbanan yang terlalu besar bagi Inggris, selain juga bagi individu para pemain dan ofisial yang pastinya mayoritas merayakan Natal. Dengan bepergian jauh mereka pasti akan melewatkan Natal bersama keluarganya, dan bila ini dijadikan agenda tahunan maka para pemain dan ofisial Liga Inggris tidak akan pernah merayakan Natal dengan keluarganya :p&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila tidak di minggu-minggu ini, itu artinya Liga Inggris akan sangat bikin repot kompetisi Eropa dan internasional demi kepentingan golongannya. Dan betapa egoisnya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih tentang matematika, memutuskan merampingkan pertandingan dari 38 menjadi 34 juga tidak semudah itu. Pendapatan tiket dan hak siar dari stasiun TV pastinya juga menurun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau tiap minggu ada 10 pertandingan dan rata-rata tiap pertandingannya ditonton oleh 25.000, lalu tiap penonton membayar tiket rata-rata senilai misalnya £ 60, mengurangi 4 pertandingan per musim berarti menyusutkan pendapatan senilai kurang lebih £ 15 juta. Bila itu ditambah dengan hak siar yang berkurang (misalnya 5 grup stasiun TV, masing-masing 4/38 x £ 10 juta), katakanlah sekitar £ 5 juta, berarti dalam setahun ada sekitar £ 20 juta pendapatan Liga Premier yang susut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu artinya, unless program “roadshow” ini dapat menghasilkan lebih, atau sebaiknya jauh lebih, daripada £ 40 juta (dengan asumsi tiap klub mendapat bonus £ 1 juta, sementara sisanya buat range keuntungan untuk effort yang luar biasa ngoyo ini), maka program ini tidak akan sukses.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah bila £ 40 juta ini kita bagi menjadi 10 fixtures, maka masing-masing fixture akan bernilai £ 4 juta. Bila ini dibagi dengan rata-rata kapasitas stadion Asia (karena hanya Indonesia yang punya stadion berkapasitas hingga 80.000-100.000 orang, di Gelora Bung Karno Senayan) dan penonton yang bayar tiket, katakanlah, 40.000, maka rata-rata penonton ini harus merogoh koceknya sekitar £ 100 atau hampir Rp 2 juta. Mungkin untuk sebuah big match, katakanlah Man Utd vs Liverpool atau Arsenal vs Chelsea, mungkin nilai segitu masih dibelain. Tapi coba kalau misalnya (maaf, bukan bermaksud merendahkan), Fulham vs Wigan Athletic. Apa iya akan datang 40.000 penonton dan semuanya mau bayar Rp 2 juta?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimanapun, kalau tiap klub dibagi rata semua dapat giliran, tentunya klub-klub yang tidak sebesar Big Four (Man Utd, Liverpool, Chelsea, Arsenal) pasti akan tampil juga di Asia. Bila di luar Big Four ini tidak bisa menghasilkan sama, berarti kekurangan mereka akan dibebankan kepada The Big Four ini. Bila kekurangan itu sampai hanya setengahnya, berarti The Big Four harus menghasilkan dua kali lipat dari perhitungan normal. Itu artinya, either harus minimal 80.000 orang hadir di stadion membayar tiket rata-rata Rp 2 juta (£ 100), atau sebaliknya bisa hanya 40.000 orang saja tapi harus bayar tiket rata-rata Rp 4 juta (£ 200).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hitungan matematis ini saja sudah melelahkan, apalagi mau ditambah pengorbanan psikologis lain, seperti misalnya pengorbanan fans di Inggris yang kehilangan salah satu pertandingan kandang klub kesayangannya, dan mereka harus menonton liga negerinya sendiri lewat TV (dan bayar), dan mungkin nontonnya siang hari pula, kalau pertandingannya dimainkan sore hari waktu Asia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu juga belum ditambah dengan kemungkinan penurunan kebugaran fisik pemain karena faktor iklim, plus peluang cedera karena rata-rata stadion sepakbola di Asia pasti kualitas rumputnya di bawah lapangan rumput yang biasa dipakai di sana. Untuk meminimalisir faktor cedera ini, plus mengimbangi “permintaan” penonton yang ingin menyaksikan pemain bintangnya berlaga, manajer pasti akan mencampur tim intinya dengan tim lapis kedua. Beruntung bagi Liverpool dan Chelsea, misalnya, yang punya tim lapis kedua segemerlap tim intinya. Tapi bagi Man Utd, Arsenal, dan klub-klub lain, sepertinya ini akan menjadi dilema tersendiri bagi manajernya. Dan manajer yang pragmatis macam Sir Alex dan Arsene Wenger, seperti sudah biasa dilakukannya di Piala Carling dan FA Cup, pasti akan mengorbankan selera penonton demi kepentingan marathon timnya: tetap memainkan pemain lapis keduanya. Ini tidak akan jadi pertama kalinya mereka mengorbankan satu pertandingan demi tiga puluh sekian sisanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila itu terjadi—apalagi bila tanpa pengurangan jumlah pertandingan oleh FA, dipastikan akan demikian jadinya—maka walaupun sifatnya masih kompetisi, tapi penonton di Asia akan menonton pertandingan yang mungkin sama saja dengan pertandingan eksebisi seperti di musim panas tahun-tahun sebelumnya, dengan harga yang mungkin berlipat-lipat lebih mahal. Dan bila ini yang terjadi, sepertinya effort ini akan sia-sia buat Asia. Selain urung belajar dari pertandingan yang kompetitif, dari segi tontonan pasti juga tidak segreget yang diharapkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi kita lihat saja, apakah pejabat-pejabat FA itu akan tetap menggali lubang untuk menjebak golongan mereka sendiri. Untuk mereka ketahui, China is the new Middle-East; mereka mungkin tidak punya sepakbola hebat tapi mereka punya uang yang begitu banyak—seperti halnya Timur Tengah punya minyak banyak—dan mereka akan menggunakan uang itu untuk membeli segalanya, if you tell them everything is for sale.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10771740-1920616714653212628?l=stevie18181.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://stevie18181.blogspot.com/feeds/1920616714653212628/comments/default' title='Publier les commentaires'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10771740&amp;postID=1920616714653212628&amp;isPopup=true' title='0 commentaires'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10771740/posts/default/1920616714653212628'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10771740/posts/default/1920616714653212628'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://stevie18181.blogspot.com/2008/02/premier-league-goes-to-asia.html' title='Premier League goes to Asia?'/><author><name>Stevie Sulaiman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02685787684909090570</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_rC_LrIRDnOM/RoEiB0NXSxI/AAAAAAAAAGU/tf75ldN9ZAY/s400/Bedroom_3.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10771740.post-8858840141847342514</id><published>2008-02-08T22:55:00.000+07:00</published><updated>2008-02-08T22:56:05.767+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>Pinocchio</title><content type='html'>lelah&lt;br /&gt;menjadi boneka aku &lt;br /&gt;menjatuhkan &lt;br /&gt;diri merasakan &lt;br /&gt;gravitasi merasakan &lt;br /&gt;benturan merasakan &lt;br /&gt;sakit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kan kunikmati segar&lt;br /&gt;nafas kebebasan ini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;lepas… &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dari tali Stromboli&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;walau hanya untuk beberapa hari&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sebelum &lt;br /&gt;nanti kewarasanku kembali sirna &lt;br /&gt;kujual demi &lt;br /&gt;segenggam harta &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;di panggung boneka&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10771740-8858840141847342514?l=stevie18181.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://stevie18181.blogspot.com/feeds/8858840141847342514/comments/default' title='Publier les commentaires'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10771740&amp;postID=8858840141847342514&amp;isPopup=true' title='0 commentaires'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10771740/posts/default/8858840141847342514'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10771740/posts/default/8858840141847342514'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://stevie18181.blogspot.com/2008/02/pinocchio.html' title='Pinocchio'/><author><name>Stevie Sulaiman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02685787684909090570</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_rC_LrIRDnOM/RoEiB0NXSxI/AAAAAAAAAGU/tf75ldN9ZAY/s400/Bedroom_3.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10771740.post-4136835021887224634</id><published>2008-02-08T21:28:00.001+07:00</published><updated>2008-02-08T21:28:51.473+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kado'/><title type='text'>Bonne Rat-a-touille année</title><content type='html'>May this year brings us lots of cheese to eat. Gong Xi, Gong Xi!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10771740-4136835021887224634?l=stevie18181.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://stevie18181.blogspot.com/feeds/4136835021887224634/comments/default' title='Publier les commentaires'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10771740&amp;postID=4136835021887224634&amp;isPopup=true' title='0 commentaires'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10771740/posts/default/4136835021887224634'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10771740/posts/default/4136835021887224634'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://stevie18181.blogspot.com/2008/02/bonne-rat-touille-anne.html' title='Bonne Rat-a-touille année'/><author><name>Stevie Sulaiman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02685787684909090570</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_rC_LrIRDnOM/RoEiB0NXSxI/AAAAAAAAAGU/tf75ldN9ZAY/s400/Bedroom_3.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10771740.post-1781321056339535775</id><published>2008-02-08T21:25:00.000+07:00</published><updated>2008-02-08T21:27:35.916+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerpen'/><title type='text'>Onde-onde</title><content type='html'>Matahari perlahan mulai merekah di langit timur. Udara pagi itu sejuk dan bersih. Jalan masih senyap, hanya dihiasi beberapa orang setengah baya berkaos putih yang asik senam dan satu-dua motor yang melintas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu dari motor itu melintas pelan sambil sesekali membunyikan terompet kecil di dekat tuas kemudinya, “Tret… tet… teeet…” Di sadel belakangnya terpangku sebuah lemari kecil, dan dari sedikit uap yang menempel di kaca perlahan tampak jajan yang masih hangat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ndeee,” teriak seorang ibu dari salah satu pagar rumah yang terbuka, sambil melambaikan tangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama kemudian si pengendara motor tadi berhenti di depan pagar rumah itu, menyangga motornya, dan mematikan mesinnya. Lalu ia mulai membuka lemari kecilnya yang berisi jajan sambil mengambil kotak kecil dan penjepit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sepuluh ya, Mas,” ucap si ibu, yang masih berpakaian daster dan rambutnya penuh rol rambut itu. Ia pun membuka ritsleting dari dompet kecilnya, dan mengeluarkan tiga lembar pecahan lima ribu rupiah. Tak lama kemudian ia mengganti dua di antaranya dengan selembar sepuluh ribu yang tampak agak kucel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tumben, Bu, agak banyak. Biasanya cuma enam,” tanya si penjual jajan, sambil asik membungkus rapi onde-onde tadi dalam sebuah kotak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya, pona’anku lagi dateng dari Surabaya. Lha dia itu muakannya buanyak eh, jadi ya mending ta’ sediain lebih.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hehehe, ini Bu, onde-ondenya. Karena ibu beli banyak saya tambahi satu deh, jadi sebelas. Lumayan kan, bisa buat temen minum teh nanti siang…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wuaduh, repot-repot, Mas. Makasih ya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sama-sama. Besok saya mampir lagi, Bu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya jangan besok toh, Mas. Lusa ato tiga hari lagi gitu lah… Mosok saya tiap hari makan onde-onde, hehehe.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hehehe, iya sih. Kalau begitu saya permisi dulu, Bu. Mari…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan ia pun melepas penyangga motornya, menghidupkan mesin lalu berjalan lagi sambil membunyikan terompetnya, “Tret… tet… teeet…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tu’ wa… tu’ wa… tu’ wa…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tampak orang setengah baya terengah lari pagi. Jalan kali ini tidak sesepi sebelumnya. Motor lalu-lalang jadi lebih banyak, begitu juga mobil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara rumah-rumah tampak sebuah petak yang tengah dipugar. Di sekitarnya berserakan pasir dan kayu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penjual onde-onde kembali melintas sambil membunyikan terompetnya, “Tret… tet… teeet…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ndeee,” panggil seorang ibu dari salah satu rumah. Si penjual onde-onde kemudian berhenti di depan rumah dan melayani si ibu. Ia membeli empat butir. Tak lama kemudian di rumah sebelah, keluarlah ibu yang sebelumnya beli sepuluh butir tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Eeh… Mbak Sri. Beli onde-onde juga toh?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lha ya iya toh. Wong sudah langganan, ya nggak Mas?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya,” sahut penjual onde-onde, “Ibu pake berapa hari ini?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Biasa lah… Enam. Buat suamiku, anak-anakku sama mertuaku. Eh, Mas, ini aku sama Mbak Retno kalo dijumlah kan sepuluh, dapet gratis satu nggak kayak tempo hari?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh, beli onde-onde sepuluh gratis satu juga toh? Kayak DVD bajakan aja, hehehe…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Eh, maaf, Bu, karena belakangan untungnya menipis, jadi gratisannya sudah nggak ada lagi. Maaf ya, Bu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh ndak papa. Wong cuma nanya aja kok. Yo wes nih, Mas. Kembali seribu,” kata Ibu Sri sambil memberikan sepuluh ribu rupiah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah mobil berhenti di depan toko. Ternyata itu adalah bangunan yang tadi tengah dipugar, sudah jadi sebuah toko jajan kecil. Tampak juga beberapa motor parkir di dekat mobil. Pagi-pagi toko itu sudah laris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kue lapis yang tepung berasnya dua, kue lumpurnya dua, risol rogut ayam tiga… sama tahu isinya satu ya, Mbak,” pinta salah satu pembeli kepada Mbak pelayan toko.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nggak sekalian onde-ondenya, Bu? Ini sepesialnya kita,” kata si Mbak pelayan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh gitu ya? Kalo gitu… risolnya dua saja, ganti onde-onde dua,” jawab si ibu. “Eh ngomong-ngomong onde-ondenya berapaan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Seribu tujuh ratus lima puluh, Bu. Kalau yang lain sama semua, seribu lima ratusan satu bijinya,” sahut si Mbak pelayan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Seh… minta satu, Mbak. Saya mau coba,” dan si ibu pun mengambil satu dari dua onde-onde yang dibelinya tadi, lalu memakannya. “Hmm… memang spesial nih. Tambah dua lagi deh, Mbak!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembeli yang lain di sebelahnya menoleh sambil tak lama kemudian memesan onde-onde juga. Makin hari toko jajan tadi makin laris. Rata-rata jam setengah sembilan pagi jajan sudah banyak yang habis, terutama onde-onde.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agak siang, si penjaja onde-onde keliling melintasi jalan itu tapi dari arah sebaliknya. Ia kembali mendengar sapaan akrab yang biasa memanggilnya, Ibu Sri. “Ndeee…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wah untung sampeyan masih lewat, Mas. Saya pikir sudah habis juga pagi-pagi kayak toko yang di sana itu. Lho, kok tumben sudah jam segini masih sisa banyak?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya, Bu, belakangan ini jualan saya nggak selaris dulu. Makanya sekarang sampai siang masih keliling, kadang ya ngulangin jalan yang paginya. Kali aja masih ada yang beli,” sahut si penjaja onde-onde, pasrah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh gitu… Ya sudah sini saya dikasih sepuluh,” pinta Ibu Sri, sambil mengeluarkan lima belas ribu rupiah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah ruang makan di rumah yang sederhana. Tampak seorang ibu menyiapkan nasi yang baru ditanak dan sepanci sayur di atas meja, dan tak lama kemudian muncul si penjaja onde-onde keliling, yang tak lain adalah suaminya, membawa sisa jajaannya di atas baki dan meletakkannya di atas meja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hehhh…” Ia pun menghela nafas dan duduk di kursi meja makan, begitu pula si istri yang menemani makan. Matanya melirik ke arah baki, dan air mukanya tampak sedikit layu melihat sisa dagangan onde-onde yang masih banyak itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bukan hari bagus lagi ya, Bang?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yahhh… Nggak tau ya. Belakangan kok tambah sedikit yang laku. Kalau nggak kembali untung, mungkin harus dikurangi kacang hijaunya, ditambahin tepungnya. Biar modalnya tambah kecil… Kan tepung lebih murah,” sahut si suami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lho, tapi kan rasanya jadi kurang enak nanti, Bang. Apa nggak justru dicari resepnya gimana biar lebih enak lagi, biar orang kembali beli onde-onde kita?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Terus tambah rugi? Waduh, ya nggak lah, Neng… Yang penting kita segera untung lagi, biar modalnya nggak susut.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi, Bang…” Belum selesai si istri berbicara, si suami memotong, “Ahhh… sudahlah, selesaikan makan siangmu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tret… tet… teeet…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si penjaja onde-onde kembali berkeliling dengan motornya, dan seperti biasa sapaan akrab itu kembali memanggil, “Ndeee…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu Sri lagi, kali ini ia bersama seorang anak laki-laki, kira-kira umurnya 13 tahun, agak gembul dan berkaca mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pagi, Bu. Ponakannya ya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya, ini nih yang suka banget sama onde-onde. Tuh, Tom, milih sendiri sana.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seketika itu juga si ponakan mendekati lemari jajan yang dibuka. “Kok onde-ondenya mengkeret? Ini bukan yang biasanya ya, Tante?” tanyanya curiga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Masak sih? Ah, hampir sama kok. Namanya juga buatan tangan, nggak bisa kan sama semua,” sahut Ibu Sri. Tapi ponakannya tetap tidak yakin, “Tapi bener kok, biasanya segini,” sambil berusaha menggambarkannya dengan tangannya, “sekarang segini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi kemudian tanpa berdebat lebih jauh, ia langsung memakannya dengan lahap. Melihat si ponakan, Ibu Sri ikut tergugah untuk makan saat itu juga. Tapi tak lama kemudian ia mendapati sesuatu yang aneh di onde-onde kali itu. Belum sempat menjelaskan apa yang tidak biasanya itu, si ponakan lebih dulu berkomentar, “Kok alot gini ya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya sejenak kemudian suami Ibu Sri keluar dari rumah, “Hey, makan sendirian. Ajak-ajak dong…” sapanya santai, sambil segera menghampiri mereka dan ikut makan onde-onde. Tapi reaksinya serupa, ia merasa ada yang aneh dengan onde-ondenya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wuaduh, mbok ya beli yang biasanya aja toh, Sri.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ini yang biasanya, Mas, tapi…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“… tapi kayak Swallow,” sambung sang suami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Swallow?” tanya si penjaja onde-onde.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya, Swallow. Kayak yang saya pakai ini,” sahut sang suami sambil menunjuk ke arah kakinya. Ternyata itu adalah merek sandal jepit. Belum sempat si penjaja onde-onde menjawab, si suami menyahut lagi, “Ini artinya juga dobel. Maksudnya, just swallow it, nggak usah dikunyah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si penjaja onde-onde yang tidak mengerti bahasa Inggris tadi lalu terbingung-bingung, sementara Ibu Sri berusaha menenangkan suami dan ponakannya sambil mengajaknya masuk ke dalam rumah. Tak lupa ia memberikan selembar lima ribu rupiah untuk membayar tiga butir onde-onde tadi. “Kembaliannya diambil saja, Mas. Maaf ya…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh ya, nggak papa, Bu. Terima kasih ya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu adalah terakhir kali Ibu Sri membeli onde-ondenya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi-pagi berikutnya, pemandangan jalan kembali tersorot ke arah toko onde-onde yang tidak pernah tidak laris. Sementara si penjaja onde-onde keliling melintas dengan motornya, menoleh ke kanan ke kiri, juga ke arah rumah Ibu Sri, tapi tidak ada yang memanggil. Pandangannya kemudian terarah ke toko onde-onde yang begitu laris tadi, di mana pembeli sampai berjubel antre, takut tidak kebagian onde-onde spesial. Pelayan-pelayan toko kewalahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia kemudian membunyikan terompet kecil di tuas kemudi motornya, “Tret… tet… teeet…” sambil berharap ada di antara pembeli-pembeli itu yang menoleh ke arahnya. Tapi…&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10771740-1781321056339535775?l=stevie18181.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://stevie18181.blogspot.com/feeds/1781321056339535775/comments/default' title='Publier les commentaires'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10771740&amp;postID=1781321056339535775&amp;isPopup=true' title='0 commentaires'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10771740/posts/default/1781321056339535775'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10771740/posts/default/1781321056339535775'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://stevie18181.blogspot.com/2008/02/onde-onde.html' title='Onde-onde'/><author><name>Stevie Sulaiman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02685787684909090570</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_rC_LrIRDnOM/RoEiB0NXSxI/AAAAAAAAAGU/tf75ldN9ZAY/s400/Bedroom_3.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10771740.post-6978597730646341159</id><published>2008-01-24T00:49:00.000+07:00</published><updated>2008-01-24T00:50:36.454+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='a la Stevie'/><title type='text'>Head or tail?</title><content type='html'>“It’s business. Never give your head—they’ll chop it, and you’ll be tail.”&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10771740-6978597730646341159?l=stevie18181.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://stevie18181.blogspot.com/feeds/6978597730646341159/comments/default' title='Publier les commentaires'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10771740&amp;postID=6978597730646341159&amp;isPopup=true' title='0 commentaires'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10771740/posts/default/6978597730646341159'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10771740/posts/default/6978597730646341159'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://stevie18181.blogspot.com/2008/01/head-or-tail.html' title='Head or tail?'/><author><name>Stevie Sulaiman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02685787684909090570</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_rC_LrIRDnOM/RoEiB0NXSxI/AAAAAAAAAGU/tf75ldN9ZAY/s400/Bedroom_3.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10771740.post-6457338815373836119</id><published>2008-01-24T00:46:00.000+07:00</published><updated>2008-01-24T00:49:00.266+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Meditasi'/><title type='text'>Getting what you want, or wanting what you get?</title><content type='html'>A battle between idealistic vs pragmatic. A search of the real meaning of happiness.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10771740-6457338815373836119?l=stevie18181.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://stevie18181.blogspot.com/feeds/6457338815373836119/comments/default' title='Publier les commentaires'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10771740&amp;postID=6457338815373836119&amp;isPopup=true' title='0 commentaires'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10771740/posts/default/6457338815373836119'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10771740/posts/default/6457338815373836119'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://stevie18181.blogspot.com/2008/01/getting-what-you-want-or-wanting-what.html' title='Getting what you want, or wanting what you get?'/><author><name>Stevie Sulaiman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02685787684909090570</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_rC_LrIRDnOM/RoEiB0NXSxI/AAAAAAAAAGU/tf75ldN9ZAY/s400/Bedroom_3.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10771740.post-1838538438957560339</id><published>2008-01-07T12:10:00.001+07:00</published><updated>2008-01-07T12:10:33.663+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='a la Stevie'/><title type='text'>Sunset at Six</title><content type='html'>Kenangan lima setengah tahun lalu pun kembali. Saat itu aku tinggal berempat dengan tiga orang teman kuliah yang sama-sama kerja praktek di Jakarta, di rumah salah satu nenek dari kami di daerah Tanjung Duren.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami berempat magang di perusahaan yang beda-beda. Wuli di daerah Tanjung Duren, tak jauh dari tempat tinggal kami, sehingga sehari-hari bisa jalan kaki dan sorenya selalu sampai rumah duluan. Nico dan Budi magang bareng di sebuah perkantoran di Thamrin, sementara aku di daerah Guntur, Menteng selatan. Eh… selatan Menteng, maksudnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena relatif tidak terlalu berjauhan, sekaligus butuh penggenep… eh, pengganjil, agar bisa menembus 3-in-1 di pagi dan sore hari, kami bertiga nebeng Nico yang bawa mobil. Demi lolos dari parkir jam-jaman di gedung perkantoran, akhirnya mobil Nico dibawakan ke aku. Dan minggu-minggu awal itu aku selalu pulang sekitar jam 6 sore, menjemput mereka berdua, baru barengan balik ke rumah. Selebihnya, karena selewat sebulan jadi sering overtime sampai jam 7 sementara mereka selalu tango, akhirnya aku relatif sering pulang sendiri dan mobil aku kembalikan ke mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama perjalanan pendek dari Guntur ke Jalan Sunda di belakang Thamrin itulah aku sering mengamati langit, sambil menikmati keindahan matahari terbenam—yang kalau di Surabaya berlangsung sekitar 45 menit hingga sejam lebih awal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun hanya beda sedikit dan beda angka, tapi entah kenapa di hatiku sunset jam 6 terasa lebih “bener”, sehingga selalu merasa yang di Surabaya (yang lebih timur beberapa derajat Bujur Timur, tapi tidak ada beda waktu) terlalu cepat untuk tenggelam dan jadi gelap. Dari dulu sampai sekarang fenomena alam di Surabaya tetap seperti itu, tak pernah berubah, jadi kalau jam 6 ya sudah gelap dan kalau berkendara pakai mobil sudah pakai lampu besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu berjalan, dan sekitar dua setengah tahun lalu tiba-tiba fenomena alam di Jakarta ini berubah menjadi sama seperti di Surabaya, jam 6 sudah gelap. Entah apa sebabnya. Agak aneh, tapi kejadian serupa terjadi tiap tahun di Eropa di mana jam harus dimajukan atau dimundurkan sejam saat musim dingin atau musim panas (lupa-lupa inget gimana; maklum, cuma denger dari adik yang sempat hampir setahun tinggal di Belanda, nggak mengalami sendiri).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hari terakhir tiba-tiba fenomena alam lima setengah tahun lalu itu kembali. Bedanya, kali ini aku menyaksikannya dari daerah yang lebih selatan. Dan bedanya lagi, kali ini menatap dari jendela kantor, bukan jendela mobil—karena sudah relatif jarang pulang jam enam. Tapi pemandangan itu tetap indah menawan, sama indahnya seperti ketika dipandang dari jendela pesawat saat baru lepas landas dari bandara Juanda jam lima sore, beberapa bulan lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang membuat suasana kali ini lebih sempurna adalah hawa sejuk yang lebih sering berhembus, sampai terasa seperti sedang di daerah sub-tropis dan bisa asik pakai jaket—salah satu asesoris kesukaanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mudah-mudahan rejeki tahun ini juga sama sejuknya. Biar bisa belanja jaket lagi; ada jaket putih keren di ZARA, hehehe… &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wong nduwe duit kok didadekno (dijadikan) gombal thok,” kata babé tiap liat ada baju baru. Nggak kok, Pah, dibelanjain makanan enak juga. Ga dadi gombal, malah dadi tai :p&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10771740-1838538438957560339?l=stevie18181.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://stevie18181.blogspot.com/feeds/1838538438957560339/comments/default' title='Publier les commentaires'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10771740&amp;postID=1838538438957560339&amp;isPopup=true' title='0 commentaires'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10771740/posts/default/1838538438957560339'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10771740/posts/default/1838538438957560339'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://stevie18181.blogspot.com/2008/01/sunset-at-six.html' title='Sunset at Six'/><author><name>Stevie Sulaiman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02685787684909090570</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_rC_LrIRDnOM/RoEiB0NXSxI/AAAAAAAAAGU/tf75ldN9ZAY/s400/Bedroom_3.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10771740.post-3752799370281695297</id><published>2008-01-07T12:09:00.001+07:00</published><updated>2008-01-07T12:42:50.326+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Nonton'/><title type='text'>Mereka bilang, saya mon…</title><content type='html'>… pet! Dan layar pun padam, berikut pendingin ruangan, dan lampu darurat menyala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siang… eh, sore, itu memang cerah dan tampak menyenangkan, namun gelagatnya aneh. Tak lama, saat akan berangkat ke bioskop, turun hujan, sehingga sepanjang terowongan Tanah Abang pun separuh jalannya penuh dengan pengendara motor yang berteduh. Untung tidak sampai tersendat, jadi hanya 10 menit sudah sampai Grand Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Spot parkir favorit pun lengang, jadi sampai ke lantai 8 tepat waktu. Well, telat dikit sih karena lupa isi top-up jadi harus ikut antrean yang non-member. Tapi ternyata filmnya belum mulai, masih kebagian trailer film-film horor Thailand.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teknologi digital yang tidak se-advanced seluloid ternyata tidak terlalu mengganggu kualitas gambar film “Mereka Bilang, Saya Monyet!” Begitu pula akting beberapa bintang barunya, yang terbilang lumayan. Aku pun mulai menikmati cerita itu, sambil menyelami jiwa si karakter utama, Adjeng, yang terasa begitu kompleks campur-aduk (tampak dari alur maju-mundur yang diacak, a la Alejandro Gonzalez Inàrritu), sampai tiba-tiba… pet! Layar padam, berikut pendingin ruangan, dan lampu darurat menyala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sempat ke toilet sebentar, plus mendengar serempetan bunyi-bunyian suara penonton bioskop lain yang mengeluh dan mengumpat sepanjang gang menuju toilet. Karena belum tampak tanda-tanda listrik akan menyala kembali, aku mampir ke kafetaria untuk beli French Fries sebentar. Lucunya, mesin kasir di kafetaria menyala, berikut mesin debitnya. Kesempatan untuk skip antrean umum dan masuk ke counter member-only yang kebetulan kosong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata French Fries-nya juga kosong :p Nggak ding… maksudnya ga bisa manasin French Fries, kali. Jadilah hot dog yang tidak terdengar menarik itu kupesan buat ganjal sementara, gara-gara lupa sarapan dan makan siang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat pesanan selesai, saat itulah listrik menyala—plus serempetan bunyi-bunyian lagi, kali ini suara lega hadirin (lama-lama gue ikutan latah neh… S**t!).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi lega itu kembali menjadi keluhan dan umpatan, karena hanya sedetik dua detik kemudian, saat hot dog sudah di tangan dan siap ngibrit masuk auditorium listrik kembali mati. Sesampai di tempat duduk dan menghabiskan seluruh hot dog yang rasanya ternyata tidak semenarik French Fries itu, listrik tak kunjung menyala kembali. Tak lama, serempetan bunyi-bunyian kembali datang dari kegelapan. Kali ini suara walkie-talkie staf pengelola yang mengabarkan listrik seisi Grand Indonesia padam, dan entah kapan menyala kembali. Tak lupa, mereka menyampaikan maaf kepada satu per satu penonton yang memang jumlahnya tidak banyak itu, sambil membagikan complimentary voucher, yang bisa digunakan untuk nonton film apa saja di hari apa saja, sebagai ganti uang tiket kami yang tidak bisa dikembalikan. Fair enough.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan… begitulah acara nonton sore itu. Menggantung, seperti salah satu adegan di film itu saat tokoh Ray Sahetapy belum orgasme tapi Adjeng tiba-tiba berhenti. Nyett!!!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10771740-3752799370281695297?l=stevie18181.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://stevie18181.blogspot.com/feeds/3752799370281695297/comments/default' title='Publier les commentaires'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10771740&amp;postID=3752799370281695297&amp;isPopup=true' title='0 commentaires'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10771740/posts/default/3752799370281695297'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10771740/posts/default/3752799370281695297'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://stevie18181.blogspot.com/2008/01/mereka-bilang-saya-mon.html' title='Mereka bilang, saya mon…'/><author><name>Stevie Sulaiman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02685787684909090570</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_rC_LrIRDnOM/RoEiB0NXSxI/AAAAAAAAAGU/tf75ldN9ZAY/s400/Bedroom_3.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10771740.post-7820385747570017525</id><published>2008-01-07T12:07:00.000+07:00</published><updated>2008-01-07T12:08:53.641+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Budaya'/><title type='text'>Counter Culture part 2: Menikmati lalu-lintas Jakarta</title><content type='html'>Lalu lintas Jakarta kok dinikmati? Begitu sepertinya orang akan mengira. Tapi jujur saja, 4 tahun lebih berkendara di ibukota, relatif jarang aku harus berhadapan dengan kemacetan yang sampai bikin stres.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi ini sama sekali bukan bermaksud menganggap kemacetan itu bukan masalah. Itu masalah besar dan mendesak, kalau tidak segera diselesaikan akan mengganggu kehidupan kita yang lain (dan mungkin sudah). Hanya saja kalau lebih banyak orang yang mau sehari-harinya menyikapinya dengan cara berbeda barangkali bisa sedikit berperan mengantisipasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu caranya adalah membuat jam kerja yang berbeda. Ini bisa dilakukan secara individual atau kelompok, misalnya sekantor. Kalau kebanyakan orang masuk kerja antara jam 8-9, yang kemudian salah satunya disikapi Pemda DKI dengan kebijakan 3-in-1, ya mungkin kita cari jam sebelumnya atau sesudahnya—apakah jam 6.30-7.30, atau justru jam 9.30-10. Tentunya jadwal pekerjaan atau pertemuan juga diatur menyesuaikan jadwal availability kita di kantor, dan tentunya juga tidak bisa tiap hari kita praktekkan. Pasti ada saat-saat tertentu di mana kita harus available jam 8-9, ya sudah diterima saja, tapi kan setidaknya sudah berkurang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau dari 22 hari kerja dalam sebulan kita hanya terikat jadwal jam padat itu 4-5 kali, misalnya, sementara sisanya kita bisa ambil sebelum atau sesudahnya, yang lebih tidak macet, kita sudah teringankan 75-80%. Secara makro, kalau sebagian orang melakukan ini, kepadatan lalu lintas jam 8-9 itu juga akan berkurang, dan secara tidak langsung terbentuk sistem giliran (shift). Secara tidak langsung juga akan mengurangi tilang, uang damai, penggunaan jasa joki, dan tentunya yang paling penting: stres.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara lain untuk meningkatkan kenikmatan berlalu-lintas adalah dengan mempunyai beberapa alternatif akses dari tempat tinggal ke tempat kerja. Artinya, tidak hanya rute itu saja yang bisa kita pilih. Misalnya aku dari Cideng ke Panglima Polim, ada setidaknya 4 rute utama yang bisa aku gonta-ganti setiap saat. Pertama, lewat Museum Nasional-Thamrin-Sudirman-Sisingamangaraja; kedua, lewat Tanah Abang-Karet-Sudirman-Sisingamangaraja; ketiga, lewat Tanah Abang-Pejompongan-Senayan-Hang Tuah-Sisingamangaraja; keempat, lewat Tanah Abang-Pejompongan-Senayan-Hang Tuah-Bulungan-Mahakam-Melawai. Ini pun masih bisa divariasi lagi dengan, misalnya, mampir Sambas sebentar beli jajan pasar, jadi dari Bulungan-Mahakam bablas ke Sambas, lalu lewat Barito menuju Panglima Polim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempatnya tidak segala jam bisa, ada daerah yang terikat 3-in-1 seperti rute pertama dan kedua, tapi ini juga bukan handicap—malah membantu mengatur variasi—karena di satu sisi jadi semacam “guide-line”, hari ini mau lewat rute yang mana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Praktis waktu yang sering aku pakai untuk menempuh perjalanan 11-14 kilometer sekali jalan itu sekitar 20-40 menit. Kalau bisa rute pertama dan kedua hanya 20-25 menit dan 11 kilometer, pilihan jamnya 6.40 atau 9.45, sementara rute ketiga dan keempat karena lebih panjang jadi 35-40 menit. Pernah sih sesekali kena macet, ya itu tadi, kalau harus berangkat jam padat, jadinya antara minimal 40 menit untuk sampai di tujuan, dan pernah sekali waktu yang paling parah 1 jam 15 menit, kalau lalu-lalang pas jam 8 (jadi berangkat jam 8, sampai 9.15). Sayang kan, setengah jam terbuang percuma, bisa buat “sarapan” satu porsi Call Of Duty tuh, hehehe…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena relatif jarang terjebak macet dan tidak bosan menempuh rute yang sama, akhirnya perjalanan itu tidak jadi beban, malah cukup menyenangkan. Pertama, tentunya betis tidak kekar sebelah karena menahan kopling, dan sebaliknya, kopling dan remnya juga lebih awet. Pemakaian bahan bakar juga relatif lebih efisien, dan terakhir, bisa menikmati “pemandangan” gedung bertingkat di Thamrin-Sudirman (dasar kapitalis :p), selain juga mengamati kejadian-kejadian di jalan, misalnya di lampu merah, yang kadang-kadang bisa jadi inspirasi. Sesuatu yang mungkin langka terjadi kalau perjalanan tadi sudah jadi beban, stres kena macet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau pun masih tetap harus berhadapan dengan macet—namanya juga baru rencana, pasti sesekali tidak berjalan mulus—masih ada musik yang selalu bisa menemani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara tidak langsung, memilih untuk “menanggalkan” mainstream ini berarti juga membuat counter culture. Dan ini bisa berlanjut ke banyak hal lain, tidak cuma soal berlalu lintas. Misalnya soal nonton film, dengerin musik, dan acara-acara hiburan lain. Buat perantau macam aku, bisa juga dengan nggak mudik pada saat orang lain mudik, dan baru mudik di saat orang lain nggak mudik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi menjadi penganut counter culture juga tidak lantas tanpa risiko. Risikonya tentunya jadi “aneh”, melakukan yang tidak (atau mungkin, belum?) dilakukan banyak orang lain dan tidak melakukan yang sudah dilakukan banyak orang lain. Menjadi bagian dari kaum marginal—walaupun bukan serta-merta berarti asosial atau tidak gaul—dan small-grouper, tapi sekaligus juga lebih independen. Bahasa dagangnya: Limited Edition.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang tinggal kita lebih suka yang mana, jadi mainstreamer atau kaum independen. Tidak ada benar-salah, hanya masalah pilihan jalan hidup masing-masing. Yang pasti, eksistensi keduanya dibutuhkan untuk terus menggerakkan konsep besar bernama peradaban. Tanpa didorong kejenuhan terhadap mainstream, takkan muncul semangat independensi. Sesuatu yang tadinya independen, suatu saat ketika banyak penganutnya juga akan jadi mainstream, dan dibutuhkan independensi baru untuk meng-counter-nya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10771740-7820385747570017525?l=stevie18181.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://stevie18181.blogspot.com/feeds/7820385747570017525/comments/default' title='Publier les commentaires'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10771740&amp;postID=7820385747570017525&amp;isPopup=true' title='0 commentaires'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10771740/posts/default/7820385747570017525'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10771740/posts/default/7820385747570017525'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://stevie18181.blogspot.com/2008/01/counter-culture-part-2-menikmati-lalu.html' title='Counter Culture part 2: Menikmati lalu-lintas Jakarta'/><author><name>Stevie Sulaiman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02685787684909090570</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_rC_LrIRDnOM/RoEiB0NXSxI/AAAAAAAAAGU/tf75ldN9ZAY/s400/Bedroom_3.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10771740.post-4557346403961721043</id><published>2008-01-07T12:06:00.001+07:00</published><updated>2008-01-07T12:07:27.935+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Advertising'/><title type='text'>Marketing dan memahami manusia</title><content type='html'>Sejak pertama kali mendengarnya sampai hari ini, aku belum bisa menerima kalimat “advertising adalah antek kapitalisme”. Bahkan marketing, kalau kita telaah lagi lebih jauh, seharusnya juga bukan antek kapitalisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahwa kemudian ada suatu kondisi di mana di antara keduanya bisa terjadi simbiosis mutualisme—seperti burung yang hinggap dan memakani kutu di punggung kerbau—itu suatu kebetulan. Tapi marketing sebenarnya bukan menjadi sekadar tools untuk jualan. Makanya kalau ada orang marketing yang nge-brief bikin iklan lalu objektifnya sekadar pengen jualan dan produknya laku itu lucu. Ngapain bikin divisi tambahan bernama marketing kalau fungsinya sama dengan sales? :p&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marketing, sesuai namanya, adalah ilmu pemasaran. Pasar adalah konsumen, dan konsumen adalah manusia. Pasar itu ada sebelum sebuah produk atau jasa ada, dan pasar ini yang kemudian mendasari diciptakannya sebuah produk atau jasa massal—itu paradigma marketing sesungguhnya. Misalnya Apple membuat iPod karena membaca kebutuhan individualis kalangan urban yang terdera kebisingan sekitar; atau produk-produk komputernya yang tidak melupakan faktor emosi di balik kecanggihan fungsionalnya, sesuatu yang ternyata diidamkan konsumen dari sebuah gadget (mesin) dan sudah terjadi di otomotif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu kenapa bisa jadi salah tafsir menjadi sekadar mesin jualan? Bisa dua macam. Pertama, karena kondisi, yaitu perusahaannya salah atau asal bikin produk sehingga nggak laku. Marketing kemudian di-hire untuk menjebak konsumen dengan segala muka manis dan janji surganya. Kedua, simply karena nggak ngerti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marketing “sesat” ini yang kemudian, sengaja atau tidak, jadi kanibal. Memangsa bangsanya sendiri, yaitu pasar, dan sebagian di antaranya ikut andil dalam menciptakan perilaku konsumen yang salah. Salah satunya adalah produk pemutih yang membuat pasar bermayoritas kulit tidak putih merasa salah dengan kulitnya, atau obat nyamuk semprot yang ternyata berbahaya bagi kesehatan. Marketing, berikut advertising, seperti inilah yang kemudian diartikan sebagai “antek kapitalisme”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi lain halnya dengan kutub lain yang “tidak sesat”. Salah satunya adalah marketing salah satu operator seluler yang menawarkan solusi komunikasi ekonomis terpadu—di mana dengan hanya dua ratusan ribu rupiah konsumen bisa dapat handset plus paket perdana dengan bonus waktu bicara. Di sini kebutuhan konsumen dipikirkan, dan membuat teknologi yang tadinya terasa canggih dan susah (dan jauh) menjadi user-friendly (dekat).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sini, marketing benar-benar berfungsi, dan akhirnya memberi dasar produk atau layanannya harus dirancang seperti apa. Beginilah idealnya marketing—dan tentunya, advertising—yang “speak for the market”, and nonetheless, people, layaknya jurnalistik. Ia justru menjadi “antek konsumen” di dalam badan produsen, dan bukan sebaliknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“It’s not easy to find a great client, but it’s easier, than to lose one.”&lt;br /&gt;(BP &amp; STS, Dec 2006)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10771740-4557346403961721043?l=stevie18181.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://stevie18181.blogspot.com/feeds/4557346403961721043/comments/default' title='Publier les commentaires'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10771740&amp;postID=4557346403961721043&amp;isPopup=true' title='0 commentaires'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10771740/posts/default/4557346403961721043'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10771740/posts/default/4557346403961721043'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://stevie18181.blogspot.com/2008/01/marketing-dan-memahami-manusia-sejak.html' title='Marketing dan memahami manusia'/><author><name>Stevie Sulaiman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02685787684909090570</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_rC_LrIRDnOM/RoEiB0NXSxI/AAAAAAAAAGU/tf75ldN9ZAY/s400/Bedroom_3.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10771740.post-3867452387652570378</id><published>2008-01-07T11:58:00.000+07:00</published><updated>2008-01-07T12:05:51.781+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kongkow'/><title type='text'>Bisnis jaringan</title><content type='html'>Di sela-sela mempersiapkan sebuah pitching, ponselku berdering. Ternyata seorang teman yang baru aku kenal saat makan siang di Soto Madura Lazarus di Jalan Juanda. Karena sedang sibuk, aku pun menjanjikan baru akan menemuinya setelah delivery date pekerjaanku itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pembicaraan di telepon itu, ia menawarkan sebuah peluang kerja sama dengan temannya. Ini wajar, karena saat pertemuan pertama saling bertukar kartu nama—aku kerja di advertising sementara dia usaha interior gedung perkantoran. Tapi gelagat ini juga sekaligus membingungkan, antara ada tawaran side job atau mau ngasih kantorku job, atau justru mau nawarin multi-level marketing. Karena tak jelas, aku tetap saja bawa laptop beserta CD kosong, siap-siap memberi copy portfolio yang memang sudah aku kompilasi menjelang tutup tahun kemarin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Firasatku benar, kemungkinan yang terakhir. Bagaimanapun, karena dari awal si bapak memang orang yang tampak polos dan santun, walau tahu akan ditawari hal yang serupa, aku tetap saja datang memenuhi ajakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Layaknya sebuah presentasi multi-level marketing, tahap demi tahap dijelaskan oleh si bapak mengenai karakter bisnisnya, peluangnya secara finansial—soal passive-income, atau bahasa keuangannya, “uang yang mendatangi kita”—sampai ke bagaimana membangun jaringan multi-level itu. Tapi somehow si bapak tetap keukeuh bilang bisnisnya beda dengan multi-level marketing, walaupun aku tidak menemukan bedanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata pertemuanku dengan seorang multi-level marketer kali ini tidak sehambar biasanya. Tetap tidak menjadikan aku tertarik untuk bergabung sih… tapi membuatku tertarik mempelajari bagaimana orang membangun sebuah sistem yang seperti itu, serta bagaimana membuat banyak orang tergerak untuk mengikutinya. Ini kelihatan dari penjelasan si bapak, misalnya tentang bagaimana dasar-dasar perubahan pribadi dalam memulai bisnis ini juga bisa menjadi dasar perubahan pribadi dalam aspek kehidupan yang lain, mulai hal berkomunikasi dengan sesama maupun kelangsungan rumah tangga seseorang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Intinya, aku berasumsi, dan maaf, mungkin banyak di antara orang yang merasa “tercerahkan” atau “terselamatkan” oleh bisnis ini adalah orang yang memang nggak punya kehidupan sosial—terbukti dari informasi bahwa banyak di antara praktisi bisnis jaringan ini tadinya adalah profesional (a.k.a. orang kantoran) yang punya mimpi ingin punya bisnis sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prinsip-prinsip networking dan mencari teman sambil berbisnis ini sebenarnya, disengaja atau tidak, adalah sebuah media untuk membuat seseorang yang tadinya “terjebak” di urusan kantor dan rumah tangga jadi kembali termotivasi dan punya kehidupan sosial. Bertemu orang baru, liburan ke luar negeri bersama komunitasnya (kalau sudah sampai jenjang level tertentu), dan sebagainya. Ya… serupa lah dengan fenomena orang yang gandrung milis dan “kemaruk” ngopi darat, atau budaya mudik saat Lebaran. Sama-sama merasa punya kebutuhan silaturahmi, bedanya di sini bentuknya usaha (komersial), bukan sekadar konsumsi atau non-komersial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentunya ada sebagian lagi yang murni bermotif bisnis (cari penghasilan tambahan, atau bisnisnya tak lagi menarik dan butuh alternatif), tapi bagi mereka yang punya motif kehidupan sosial dan menemukan kembali kehidupan sosialnya yang hilang, aku ucapkan selamat. Semoga itu selalu menjadi alasan yang lebih penting dalam melakukan bisnis ini, selain karya “pewartaan” Anda. Nggak cuma mengintimidasi teman semata demi memperkaya diri—itu namanya egois, dan jadinya malah Anda kehilangan teman. Dengan kembalinya kehidupan sosial, sekaligus bertambahnya fulus, tentunya, mudah-mudahan kalian makin bijak dan makin mensyukuri kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salut juga bagi mereka yang punya mimpi semulia bapak ini, yang ingin memberikan jaminan masa depan anak dari passive-income yang bisa diwariskan bisnis jaringan ini. Semoga mimpinya tercapai ya, Pak… Senang ngobrol dengan Anda, dan terima kasih traktiran makan malamnya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10771740-3867452387652570378?l=stevie18181.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://stevie18181.blogspot.com/feeds/3867452387652570378/comments/default' title='Publier les commentaires'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10771740&amp;postID=3867452387652570378&amp;isPopup=true' title='0 commentaires'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10771740/posts/default/3867452387652570378'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10771740/posts/default/3867452387652570378'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://stevie18181.blogspot.com/2008/01/bisnis-jaringan.html' title='Bisnis jaringan'/><author><name>Stevie Sulaiman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02685787684909090570</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_rC_LrIRDnOM/RoEiB0NXSxI/AAAAAAAAAGU/tf75ldN9ZAY/s400/Bedroom_3.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10771740.post-2078564177828194524</id><published>2008-01-02T11:32:00.000+07:00</published><updated>2008-01-02T11:29:05.950+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='a la Stevie'/><title type='text'>My new year resolution…</title><content type='html'>… is to not celebrate New Year’s Eve in public party again.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A counter culture, a solidarity, a support for a governing dynamics. A better understanding, hopefully. Vive le 2008!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10771740-2078564177828194524?l=stevie18181.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://stevie18181.blogspot.com/feeds/2078564177828194524/comments/default' title='Publier les commentaires'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10771740&amp;postID=2078564177828194524&amp;isPopup=true' title='0 commentaires'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10771740/posts/default/2078564177828194524'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10771740/posts/default/2078564177828194524'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://stevie18181.blogspot.com/2008/01/my-new-year-resolution.html' title='My new year resolution…'/><author><name>Stevie Sulaiman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02685787684909090570</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_rC_LrIRDnOM/RoEiB0NXSxI/AAAAAAAAAGU/tf75ldN9ZAY/s400/Bedroom_3.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10771740.post-7870780604269946881</id><published>2008-01-02T11:28:00.001+07:00</published><updated>2008-01-02T11:28:41.109+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>Waktu</title><content type='html'>tak seorang pun tahu kapan&lt;br /&gt;ia mulai bergerak dan entah&lt;br /&gt;kapan&lt;br /&gt;ia berhenti&lt;br /&gt;bergerak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;waktu&lt;br /&gt;kita bisa&lt;br /&gt;menghargainya&lt;br /&gt;atau kita bisa&lt;br /&gt;menyia-nyiakannya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;waktu&lt;br /&gt;tetap&lt;br /&gt;diam&lt;br /&gt;terus&lt;br /&gt;berjalan&lt;br /&gt;tak memihak siapa pun&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;waktu&lt;br /&gt;tak pernah kalah&lt;br /&gt;tak pernah&lt;br /&gt;usang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;waktu selalu&lt;br /&gt;baru selalu&lt;br /&gt;segar selalu&lt;br /&gt;tegar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;waktu&lt;br /&gt;tak seorang pun tahu kapan&lt;br /&gt;ia mulai bergerak dan entah&lt;br /&gt;kapan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ia berhenti&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adaptasi dari tulisan Andrie Wongso di hiasan dinding ruang meeting Dexa Medica, 9 November 2007.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10771740-7870780604269946881?l=stevie18181.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://stevie18181.blogspot.com/feeds/7870780604269946881/comments/default' title='Publier les commentaires'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10771740&amp;postID=7870780604269946881&amp;isPopup=true' title='0 commentaires'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10771740/posts/default/7870780604269946881'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10771740/posts/default/7870780604269946881'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://stevie18181.blogspot.com/2008/01/waktu.html' title='Waktu'/><author><name>Stevie Sulaiman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02685787684909090570</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_rC_LrIRDnOM/RoEiB0NXSxI/AAAAAAAAAGU/tf75ldN9ZAY/s400/Bedroom_3.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10771740.post-4747981939030883797</id><published>2008-01-02T11:27:00.000+07:00</published><updated>2008-01-02T16:11:05.097+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Nonton'/><title type='text'>A beautiful story</title><content type='html'>Mungkin sudah basi sharing cerita tentang film ini, tapi sebagai bagian dari mereka yang kurang beruntung dan baru menikmatinya 6 tahun kemudian, aku hanya ingin menunjukkan rasa syukur lolos dari kalangan yang tidak beruntung—karena akhirnya menonton film ini, dan menjadikannya film “pembuka” untuk agendaku tahun 2008.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_rC_LrIRDnOM/R3tN2JUjJXI/AAAAAAAAALA/YWordGSTJ24/s1600-h/A+Beautiful+Mind.1.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://1.bp.blogspot.com/_rC_LrIRDnOM/R3tN2JUjJXI/AAAAAAAAALA/YWordGSTJ24/s200/A+Beautiful+Mind.1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5150796191438677362" /&gt;&lt;/a&gt;A BEAUTIFUL MIND&lt;br /&gt;USA | 2001 | Sutradara: Ron Howard | Produser: Ron Howard &amp; Brian Grazer | Penulis: Akiva Goldsmith, adaptasi dari buku karya Syvia Nasar tentang kisah hidup John Forbes Nash, Jr.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah apakah banyak yang noticed, dan entah disengaja atau kebetulan, tapi buatku A Beautiful Mind adalah sebuah terobosan di industri film Amerika, khususnya Hollywood. Trendsetter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sini dunia seperti “dicerahkan” dengan menghadirkan tokoh protagonis hebat yang ternyata tidak bahagia dengan kehebatannya. Ini yang kemudian diistilahkan sebagai “sisi manusiawi” di perbendaharaan kata Hollywood, dan menjadi ideologi baru sekaligus obat penawar dalam perfilman sejak 2002 hingga sekarang. Paling tampak jelas tentunya di kasus film-film genre superhero, mulai Spiderman, Batman Begins, lalu Superman, X-Men, dan sekuel-sekuel Spiderman—di mana tokoh-tokoh superhero ini ditampilkan mengalami tekanan batin dengan kesuperheroannya, dan tidak bisa menjalani hidup sebagai manusia normal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di A Beautiful Mind, tokoh superheronya adalah tokoh nyata, seorang profesor matematika jenius bernama John Forbes Nash, Jr. dari Princeton University, New Jersey, yang sebagian besar masa hidupnya menderita schizophrenia atau kepribadian ganda, atau multi-kepribadian (kasus serupa juga dapat diamati di beberapa film seperti Identity, 2003, dan Belahan Jiwa, 2005, tentunya dengan perspektif yang beda). Pemicunya adalah ketidakseimbangan antara aspek individual dan sosial, di mana individualnya terlampau dominan dan mematikan aspek sosialnya. Menjadikannya asosial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjadi orang yang asosial membuat pribadi Nash merasa hanya dirinya yang paling benar dan paling hebat. Konsekuensi dari ini adalah sulit menerima kekurangan diri sendiri, padahal setiap manusia punya kekurangan, dan akhirnya sulit menerima kekalahan. Kekalahan ini bisa terjadi di kedua bagian penting, yaitu sisi otaknya (kalah pintar, kalah sukses) dan sisi batin (kalah bersaing mendapatkan pasangan hidup, atau bisa juga kalah dalam arti tidak mendapatkan pasangan hidup sama sekali; hmm… kayaknya mulai gue banget neh :p).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah kekalahan batin ini kemudian dirasanya bisa dipecahkannya—secara sudah ada karakter merasa diri paling hebat dalam diri Nash—dan akhirnya dipecahkannya saat terinspirasi mengamati seorang cewek pirang di kafe, berupa teori “governing dynamics”, sebuah terobosan teori yang mementahkan logika berpikir saat itu tentang sistem kompetisi dalam masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya, teori temuannya itu, yang selain mempesona dosennya juga memberikannya pekerjaan penting di Departemen Pertahanan MIT serta menjadi dasar pemikiran banyak teori kompetisi bisnis di kemudian hari (akhirnya membuat Nash dianugerahi penghargaan Nobel ekonomi tahun 1994), tidak mampu dipraktekkannya dalam kehidupannya. Ia tidak mampu melepaskan egonya, “the blonde factor”-nya, menyebabkan ego itu bertransformasi menjadi karakter-karakter alter-ego yang memecah kepribadiannya, dan kemudian merusak elemen-elemen kehidupannya, satu demi satu, mulai dari karirnya sebagai ilmuwan hingga rumah tangganya bersama sang istri, Alicia (Jennifer Connelly). Gara-gara terlalu bernafsu dan egois mengejar kesempurnaan, dari seorang prodigy akhirnya Nash menjadi seorang sakit, dan loser. Perlahan ia kehilangan harga diri demi harga dirinya, hingga harga dirinya sebagai suami dan kepala rumah tangga, ketika istrinya harus bekerja overtime demi tambahan uang—sementara ia menganggur dan sehari-hari berhalusinasi. Tinggal mengurus anak di rumah juga tidak bisa, sampai mereka harus menitipkannya di rumah orang tua Alicia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di saat hampir semua harapan punah, adalah kesabaran dan cinta Alicia yang kemudian memberinya harapan untuk berusaha terakhir kali untuk sembuh. Langkah pertamanya adalah dengan mengakui “kekalahan lamanya”, mendatangi Hansen, mantan saingan utamanya saat masih kuliah, yang sekarang menjabat kepala kampus di Princeton. Setelahnya, mulai bergaul dengan orang, walau awalnya susah karena masih sering didatangi halusinasi. Tapi sejak itu perlahan ia mulai sembuh, terutama ketika 24 tahun kemudian, tahun 1978, mulai ada siswa yang dapat menjadi sparing partner-nya berteori dan teman ngobrol. Puncaknya adalah penghargaan Nobel ekonomi tahun 1994—simbol pengakuan sosial yang dinantinya sekian lama dan tak pernah dibayangkannya akan suatu hari didapatkannya, justru ketika ia sudah tidak lagi mengejarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan dari sekadar motivasi ingin melihat beautiful Jewish eyes milik Jennifer Connelly aku malah membawa pulang a beautiful story, yang jauh lebih besar daripadanya, justru di saat aku sudah lupa tadinya pengen itu. Selamat kepada para filmmakers, penulis Sylvia Nasar, dan tentunya John Nash yang sudah menjadi inspirasi banyak orang. A heartfelt cheers to Governing Dynamics!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10771740-4747981939030883797?l=stevie18181.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://stevie18181.blogspot.com/feeds/4747981939030883797/comments/default' title='Publier les commentaires'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10771740&amp;postID=4747981939030883797&amp;isPopup=true' title='0 commentaires'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10771740/posts/default/4747981939030883797'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10771740/posts/default/4747981939030883797'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://stevie18181.blogspot.com/2008/01/beautiful-story.html' title='A beautiful story'/><author><name>Stevie Sulaiman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02685787684909090570</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_rC_LrIRDnOM/RoEiB0NXSxI/AAAAAAAAAGU/tf75ldN9ZAY/s400/Bedroom_3.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_rC_LrIRDnOM/R3tN2JUjJXI/AAAAAAAAALA/YWordGSTJ24/s72-c/A+Beautiful+Mind.1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10771740.post-7874101478261169145</id><published>2008-01-02T11:21:00.000+07:00</published><updated>2008-01-02T11:22:01.857+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kutipan'/><title type='text'>[rd] Kembali pulang</title><content type='html'>Oleh Alanna Nash&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mary Ellen Geist sedang membuat tuna sandwich di rumah orang tuanya di Washington, Michigan. Dia meminta Woody, ayahnya, memanggang roti tawar. “Baiklah,” ujar Woody, 80 tahun. Dia mengambil dua lembar roti lalu terdiam menatap alat panggang elektronik di depannya. Akhirnya lelaki mantan insinyur yang turut mendesain suku cadang untuk industri otomotif di Detroit itu menyerah. “Bagaimana cara memasukkan roti ini ke panggangan?” tanyanya dengan sedih kepada putrinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Woody Geist menderita Alzheimer. Putrinya, Mary Ellen, 51, pulang untuk merawat ayahnya. Dia adalah pembaca berita radio ternama di Amerika. Dia meniti karier mulai dari stasiun radio kecil di Michigan sampai akhirnya mendapatkan tempat terpandang di Los Angeles dan San Franscisco. Pada 2004, dia menduduki posisi puncak di WCBS, stasiun radio utama jaringan CBS di New York City. Dia memiliki gaji dengan enam digit, sebuah Mercedes Benz dan sebuah koper yang siap dibawanya berburu berita besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada Februari 2005, Mary meningglakan New York, pekerjaannya dan pacarnya untuk membantu sang ibu, Rosemary, mengurusi Woody yang divonis Alzheimer tahun 1992.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sebuah malam bersalju, Mary Ellen tiba di Washingtopn, pinggiran Detroit, tempat dia dibesarkan. “Hal yang pertama melintas di kepala adalah kemungkinan saya akan berubah menjadi anak gendut aneh yang tinggal di lantai dasar rumah orang tuanya,” ujarnya. Mary mengisi hari-hari berikutnya mengikuti kelas latihan untuk orang tua, mengatur waktu pengobatan, mengurusi rumah dan menemani ayahnya yang tak lagi bisa membaca dan menulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebingunan dan sifat pelupa ayahnya menimbulkan rasa sedih, namun kadang juga mengharukan. Pernah satu malam Mary dan kedua orang tuanya menghadiri pameran seni karya Rodin di Detroit Institute of Art. Saat semua orang sedang mengagumi karya pematung itu, Woody hanya terpaku pada tembok kosong. “Lalu dia bilang bahwa dia lelah,” ujar Mary. Dan kejadian selanjutnya adalah Woody mencoba duduk di patung The Thinker. Melihat itu, penjaga langsung menghalaunya. “No, Dad. Itu patung The Thinker! Ayah tak boleh mendudukinya!” ujar Mary panik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Woody juga sering mengulang ucapannya. “Saya beruntung bisa berada di sini. Ini menyenangkan sekali,” salah satu ucapan Woody yang diulang-ulang. Dia juga sering bersiul tanpa henti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rosemary pernah marah-marah pada Mary Ellen, “Ayahmu bersiul lagu Jingle Bell, lalu berteriak ‘Merry Christmas’ semalaman!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi hal ini tidak selalu berarti kesedihan. “Saya baru sadar, telah diberi kesempatan untuk memperlambat ritme hidup. Saat menjadi reporter, saya tak lagi dapat menangis atau merasakan apa-apa. Kini, saya bisa merasakannya lagi,” ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang membuatnya sedih adalah bahwa Woody lupa namanya dan hanya memanggilnya Daughter saja. Mary Ellen takut ibunya yang dulu adalah pelukis dan guru seni dengan kehidupan sosial yang aktif, ikut berubah juga. Jadi dia mendorong ibunya tetap menjalani hidup seperti dulu dan membiarkannya menjaga Woody.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah Mary Ellen membeli tiket pertandingan Detroit Pistons—tim basket ternama di Amerika—seharga $100 agar Woody bisa melihat tim favoritnya berlaga. Tapi yang terjadi, dia malah jadi bingung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di luar stadium, tepatnya di kamar mandi pria, Woody menyalami semua orang yang sedang mengantre. “Woody Geist, Woody Geist, Woody Geist,” ujarnya dengan pikiran bahwa semua orang itu berbaris untuk menyalaminya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat pulang, dia berpaling kepada Mary Ellen dan bertanya, “Siapa yang menang?” $200 hilang sia-sia! Begitu pikir Mary Ellen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Woody bisa memakai baju sendiri, walau kadang tak sempurna. Dia pernah memakai kaos kaki di tangan dan sering bingung saat memakai sepatu. Woody pernah keluar dari kamar dengan memakai sweater merah jambu Rosemary.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mary Ellen berupaya agar ayahnya tak merasa rendah diri. “Mari kita bereskan tempat tidur sambil menyanyi,” ajak Mary Ellen. “Saya membereskan, Ayah menyanyi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhir-akhir ini, Woody terlihat hilang pegangan, dan dilanda panik. Dia merasa akan meninggal sebentar lagi, bahkan mulai berpikir tentang bunuh diri. “Padahal dokter bilang bahwa seharusnya dia merasa tenang dan bahagia,” ujar Rosemary.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kadang Mary Ellen dan Rosemary merasa bahwa mereka berdua tidak dapat terus menjaga Woody. Mary Ellen, yang kini sedang menulis buku mengenai pengalamannya ini, ragu apakah sebaiknya Woody dimasukkan ke panti wreda saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi setahun kemudian Woody membawa berkah tersendiri. “Ada rasa bahagia saat Anda berhasil mendahulukan kepentingan orang lain di atas kepentingan sendiri,” kata Mary Ellen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai sekarang Woody masih menjadi anggota The Grunyans—kelompok jazz a capella—dan tetap rajin berlatih. Tampaknya musik tidak musnah ditelan penyakit itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu kali, saat pulang latihan, Woody, Mary Ellen dan Rosemary bernyanyi bersama. Tiba-tiba Woody menyentuh lengan Mary Ellen. “Saya bersyukur kamu ada di sini, Daughter,” ujarnya. Mary Ellen membalas usapan tangan Woody sambil berkata, “Saya juga bersyukur, Dad.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Reader’s Digest Indonesia, Januari 2008.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10771740-7874101478261169145?l=stevie18181.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://stevie18181.blogspot.com/feeds/7874101478261169145/comments/default' title='Publier les commentaires'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10771740&amp;postID=7874101478261169145&amp;isPopup=true' title='0 commentaires'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10771740/posts/default/7874101478261169145'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10771740/posts/default/7874101478261169145'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://stevie18181.blogspot.com/2008/01/rd-kembali-pulang.html' title='[rd] Kembali pulang'/><author><name>Stevie Sulaiman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02685787684909090570</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_rC_LrIRDnOM/RoEiB0NXSxI/AAAAAAAAAGU/tf75ldN9ZAY/s400/Bedroom_3.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10771740.post-8183880928838871196</id><published>2008-01-02T11:20:00.000+07:00</published><updated>2008-01-22T13:30:19.703+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Inspirasi'/><title type='text'>[kompas] Counter culture</title><content type='html'>Oleh Bre Redana&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi teman saya yang pernah kuliah filsafat itu, pergantian tahun hanyalah buah pekerjaan orang yang berhasil mengategorisasikan waktu, yang ini disebut old, yang itu disebut new, lalu mendagangkannya. Waktu sebenarnya tidak mengenal perbedaan rupa dan bentuk. Kalau toh ada perbedaan, paling cuma mood, disebabkan proses pendagangan tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah sebabnya ia selalu mengatakan, tidak pernah terlalu punya urusan dengan Tahun Baru. Begitu pula orang-orang sekampungnya dulu di kota kecilnya yang selalu dia ceritakan bak menceritakan Paris, yaitu Salatiga. Di kota itu waktu itu, tidak semua orang sadar, oh, sekarang sudah Tahun Baru (apalagi sambil mengucapkan resolusi, misalnya, tahun ini aku mau lebih sering mandi, ah…).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang diingatnya, tahun 1970-an, TVRI selalu membikin acara khusus untuk menyambut apa yang disebut Tahun Baru. Bersama sejumlah tetangga, dia bersarung menggelesot di ruang tamu menonton acara khusus TVRI itu, yang biasanya diisi oleh artis-artis Papiko pimpinan Titiek Puspa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perkembangannya, stasiun-stasiun televisi swasta bermunculan. Televisi-televisi itu memperlihatkan bagaimana pada pergantian tahun semua orang sibuk menyiapkan acara khusus. Para artis dan tokoh-tokoh terkenal muncul di televisi dengan kesegaran orang habis mandi: pakaiannya bagus, rambutnya klimis, semua perempuan segar seperti penampilan pramugari Singapore Airlines.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada istilah sending the wrong messages. Dengan adanya manusia-manusia indah di layar televisi tadi, orang bukan lagi menggelesot di depan televisi dan menonton, tapi malah bubar: mereka tak mau kalah membikin acara-acara sendiri. Semua orang bergegas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin cuman teman satu ini yang tetap bersarung dan bermalas-malasan. Hanya saja, kini kemalasannya itu dia beri argumen baru: counter culture alias budaya tanding. Bahkan, katanya, ini bukan bentuk kemalasan. Mengutip Jean-Claude Carriere, praksis hidupnya ini adalah “memuja perlambatan”—in praise of slowness—sebagai tandingan masyarakat yang serba bergegas dan sia-sia menemukan kemuliaan hidup gara-gara dikejar target. Ia mempraktikkan antara lain taichi sebagai praksis perlambatan hidup dan upaya menghayati waktu secara berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada masa-masa libur seperti sekarang, saya sering mengunjunginya di Banjarsari untuk ikut bermalas-malasan, eh, memuja perlambatan. Bagi saya, counter culture menarik juga sebagai ideologi. Meski gagal mengubah dunia, setidaknya dia mampu memberi kami justifikasi untuk tetap seperti ini, sementara semua orang sibuk berpesta menyambut Tahun Baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Kompas, Minggu, 30 Desember 2007.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10771740-8183880928838871196?l=stevie18181.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://stevie18181.blogspot.com/feeds/8183880928838871196/comments/default' title='Publier les commentaires'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10771740&amp;postID=8183880928838871196&amp;isPopup=true' title='0 commentaires'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10771740/posts/default/8183880928838871196'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10771740/posts/default/8183880928838871196'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://stevie18181.blogspot.com/2008/01/kompas-counter-culture.html' title='[kompas] Counter culture'/><author><name>Stevie Sulaiman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02685787684909090570</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_rC_LrIRDnOM/RoEiB0NXSxI/AAAAAAAAAGU/tf75ldN9ZAY/s400/Bedroom_3.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10771740.post-8893259057516085238</id><published>2008-01-02T11:19:00.000+07:00</published><updated>2008-01-02T11:20:38.781+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kutipan'/><title type='text'>[thejakartapost] The Warlords</title><content type='html'>China | 2007 | Directed by: Peter Ho Sun Chan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;By Lisabona Rahman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I must admit that I somehow expected a Chinese adaptation of 300 when I saw the posters. No, it’s not because of fleshy male bodies that was so much the selling point in 300, but more its air of sentimentality about patriotism. But I’m so damn happy to find out I was wrong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The Warlords is an opinionated work about war, it doesn’t matter if you win or lose, you’ll end up losing something. General Pang (Li) ties up brotherhood with bandits Zhao Er-Hu (Lau) and Zhang Wen-Xiang (Kaneshiro). They put together an army and offer a service to Empire politicians and promise that they will sweep off Taiping rebels that occupy Nanjing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Li, Lau and Kaneshiro presents a well-balanced ensemble of three comrades torn by political interests of war. Both Pang and Zhao’s liaison with Lian (Xu)—that could potentially grow out of proportion as dramatic love-triangle—is well kept at bay.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The Warlords is definitely a worthwile treat that keeps your attention anchored to the screen from start to finish.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;**** (out of *****)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;From The Jakarta Post, Sunday, December 30, 2007.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10771740-8893259057516085238?l=stevie18181.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://stevie18181.blogspot.com/feeds/8893259057516085238/comments/default' title='Publier les commentaires'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10771740&amp;postID=8893259057516085238&amp;isPopup=true' title='0 commentaires'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10771740/posts/default/8893259057516085238'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10771740/posts/default/8893259057516085238'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://stevie18181.blogspot.com/2008/01/thejakartapost-warlords.html' title='[thejakartapost] The Warlords'/><author><name>Stevie Sulaiman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02685787684909090570</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_rC_LrIRDnOM/RoEiB0NXSxI/AAAAAAAAAGU/tf75ldN9ZAY/s400/Bedroom_3.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10771740.post-614138065395933676</id><published>2007-12-31T15:57:00.000+07:00</published><updated>2007-12-31T16:06:06.202+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kutipan'/><title type='text'>Walk On</title><content type='html'>(U2)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;And love is not the easy thing &lt;br /&gt;The only baggage that you can bring...&lt;br /&gt;And love is not the easy thing...&lt;br /&gt;The only baggage you can bring &lt;br /&gt;Is all that you can't leave behind &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;And if the darkness is to keep us apart &lt;br /&gt;And if the daylight feels like it's a long way off &lt;br /&gt;And if your glass heart should crack &lt;br /&gt;And for a second you turn back &lt;br /&gt;Oh no, be strong&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walk on, walk on &lt;br /&gt;What you got they can't steal it &lt;br /&gt;No they can't even feel it &lt;br /&gt;Walk on, walk on...&lt;br /&gt;Stay safe tonight &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;You're packing a suitcase for a place none of us has been &lt;br /&gt;A place that has to be believed to be seen &lt;br /&gt;You could have flown away &lt;br /&gt;A singing bird in an open cage &lt;br /&gt;Who will only fly, only fly for freedom &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walk on, walk on &lt;br /&gt;What you've got they can't deny it &lt;br /&gt;Can't sell it, or buy it &lt;br /&gt;Walk on, walk on &lt;br /&gt;Stay safe tonight &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;And I know it aches &lt;br /&gt;And your heart it breaks&lt;br /&gt;And you can only take so much &lt;br /&gt;Walk on, walk on&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Home... hard to know what it is if you've never had one &lt;br /&gt;Home... I can't say where it is but I know I'm going home &lt;br /&gt;That's where the hurt is&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I know it aches &lt;br /&gt;How your heart it breaks &lt;br /&gt;And you can only take so much &lt;br /&gt;Walk on, walk on&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Leave it behind &lt;br /&gt;You got to leave it behind &lt;br /&gt;All that you fashion &lt;br /&gt;All that you make &lt;br /&gt;All that you build &lt;br /&gt;All that you break &lt;br /&gt;All that you measure &lt;br /&gt;All that you feel &lt;br /&gt;All this you can leave behind &lt;br /&gt;All that you reason&lt;br /&gt;All that you sense &lt;br /&gt;All that you speak&lt;br /&gt;All you dress-up &lt;br /&gt;All that you scheme...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bring on 2008!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10771740-614138065395933676?l=stevie18181.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://stevie18181.blogspot.com/feeds/614138065395933676/comments/default' title='Publier les commentaires'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10771740&amp;postID=614138065395933676&amp;isPopup=true' title='0 commentaires'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10771740/posts/default/614138065395933676'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10771740/posts/default/614138065395933676'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://stevie18181.blogspot.com/2007/12/walk-on.html' title='Walk On'/><author><name>Stevie Sulaiman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02685787684909090570</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_rC_LrIRDnOM/RoEiB0NXSxI/AAAAAAAAAGU/tf75ldN9ZAY/s400/Bedroom_3.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10771740.post-7484962758419673269</id><published>2007-12-31T14:10:00.000+07:00</published><updated>2007-12-31T16:44:42.745+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Nonton'/><title type='text'>Voila, ma expression écrite…</title><content type='html'>(à 14 décembre 2007, 19h00)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Je m’appelle Stevie. Je suis dirécteur artistique qui aime beaucoup les films.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Le week-end je regarde des films—où cinéma ou chez moi. Mes cinémas préférés sont théâtre Djakarta à l’avenue Thamrin et Blitz Mégaplex dans Grand Indonésie.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Récement il y a JIFFest, le festival annuel des films. J’ai regardé 13 films en 8 jours—4 films de l’Asie, 3 films l’Amérique du Sud et 6 films américain et européen. Le film Suisse, “Vitus”, c’est très bon. C’est au sujet d’enfant qui s’appelle Vitus, un étudiant très intelligent et un musicien magnifique mais sa vie est triste.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_rC_LrIRDnOM/R3i5b5UjJWI/AAAAAAAAAK4/lytXDCXmqmI/s1600-h/hulagirls5.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://1.bp.blogspot.com/_rC_LrIRDnOM/R3i5b5UjJWI/AAAAAAAAAK4/lytXDCXmqmI/s200/hulagirls5.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5150070062792779106" /&gt;&lt;/a&gt;Mais, mon film préféré est “Hula Girls”, au sujet des danseuses d’Hula au Japon en 1965.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Décembre est toujours le mois où je regarde de très nombreux films. Le deuxième mois est Avril ou Mai, quand il y a le festival des films français. En ce moment-là vous ne peuvez pas me déranger, hahaha…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Regardez, le français ce n’est pas difficile, oui? Je pense vous avez certainement aime là aussi.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10771740-7484962758419673269?l=stevie18181.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://stevie18181.blogspot.com/feeds/7484962758419673269/comments/default' title='Publier les commentaires'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10771740&amp;postID=7484962758419673269&amp;isPopup=true' title='0 commentaires'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10771740/posts/default/7484962758419673269'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10771740/posts/default/7484962758419673269'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://stevie18181.blogspot.com/2007/12/voila-mexpression-crite.html' title='Voila, ma expression écrite…'/><author><name>Stevie Sulaiman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02685787684909090570</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_rC_LrIRDnOM/RoEiB0NXSxI/AAAAAAAAAGU/tf75ldN9ZAY/s400/Bedroom_3.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_rC_LrIRDnOM/R3i5b5UjJWI/AAAAAAAAAK4/lytXDCXmqmI/s72-c/hulagirls5.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10771740.post-4829432177330721666</id><published>2007-12-31T13:56:00.000+07:00</published><updated>2007-12-31T14:32:27.259+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Nonton'/><title type='text'>Karya terbaik John Lennon</title><content type='html'>Banyak orang mengenal John Lennon sebagai pilar The Beatles. Sebagian lainnya, termasuk aku, juga mengenalnya lewat karir solonya. Aku masih ingat dulu punya sebuah kaset album kompilasi, direkam di pita Chrome-dioxide (CrO2), dan di dalamnya ada lagu “Woman”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai sekarang aku belum bosan dengan lagu itu, dan beberapa kali kalau pas karaokean bareng teman-teman aku menyanyikannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“I love… you. Yeah, yeah, now and forever…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lirik yang sederhana ini jadi bermakna ketika dipadu dengan alunan musik dan vokal John Lennon—menjadi terdengar sangat tulus dan humble.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi banyak orang lain tentu lebih setuju menobatkan Imagine sebagai masterpiece-nya. Sebuah lagu bertema perdamaian, paham dan idealisme yang diperjuangkan John Lennon bersama Yoko Ono, istrinya yang juga seniman. Dokumenter The US vs John Lennon (2006, David Leaf &amp; John Scheinfeld), yang diputar di JIFFest lalu, menceritakan perjalanan memperjuangkan perdamaian ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk memperjelas, dokumenter ini sengaja fokus pada paruh kedua kehidupannya, yaitu sedikit bagian ketika ia masih di The Beatles—saat menggubah lagu Revolution, yang dianggap sebagai titik perubahan John Lennon—hingga kemudian menjalani hidupnya bersama Yoko Ono di Amerika Serikat, dideportasi, kembali lagi, dan tewas ditembak tahun 1980.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_rC_LrIRDnOM/R3ian5UjJUI/AAAAAAAAAKo/WsXvDmVMTFY/s1600-h/The+US+vs+John+Lennon.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://1.bp.blogspot.com/_rC_LrIRDnOM/R3ian5UjJUI/AAAAAAAAAKo/WsXvDmVMTFY/s400/The+US+vs+John+Lennon.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5150036184090748226" /&gt;&lt;/a&gt;Pada masa itu, Amerika Serikat dan dunia sedang dalam masa resesi di tengah bergejolaknya perang Vietnam, di masa pemerintahan Presiden Nixon (1968-1972, 1972-1973). Banyak anak muda di-draft (semacam wajib militer; populer dilakukan penguasa di game perang saat perang dan kekurangan tentara) dan dikirim ke Vietnam, di mana puluhan ribu di antaranya tewas di medan perang dan ratusan ribu sisanya pulang dengan cacat maupun trauma seumur hidup. Inilah yang berusaha dilawan oleh John Lennon melalui jalur seni, salah satunya melalui musik Imagine.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada juga musik Give Peace A Chance yang kemudian menjadi semacam “anthem” bagi para demonstran, begitu pula slogan “Make Love, Not War”. Slogan ini salah satunya didemonstrasikannya bersama sang istri, Yoko, dalam sebuah peliputan berita di kamar tidurnya, di mana mereka saling bermesraan hingga bercinta sambil ditutupi selimut—sebuah perpaduan seni instalasi dan teater. Liputan ini lalu ditayangkan di televisi di banyak negara, dan menginspirasi banyak orang melancarkan protes terhadap perang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Momen Natal pun tak disia-siakannya dengan memasang billboard bertuliskan “WAR IS OVER” dengan sub-headline “If you want it. Merry Christmas from John and Yoko”. Billboard ini diterjemahkan dan disebarkan ke banyak negara, dan gaung perdamaian pun menggema di seluruh dunia. John Lennon menjadi ikon perdamaian, sekaligus ancaman bagi politik perang pemerintah Amerika Serikat saat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Babak hidup selanjutnya kemudian lebih berkisar tentang konflik head-to-head dengan pemerintah Amerika Serikat (dan FBI-nya), yang membuahkan deportasi John dan Yoko pada 1972.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi “angin” rupanya berpihak kepada John Lennon, karena hanya setahun setelah ia diusir dari negara itu, pemerintahan Nixon terlibat kasus korupsi dan Nixon dipaksa mundur. Hari mundurnya Nixon, yang dikabarkan lewat telepon oleh pengacara kasus deportasinya, rupanya juga bertepatan dengan saat Yoko melahirkan putra pertama mereka, Sean. Hari itu seakan hari kemenangan besar Lennon, dan seperti dikisahkan oleh Yoko Ono dalam cuplikan dokumenter itu, “I’ve never seen him so happy like that”. Ceria bagaikan anak kecil, lanjutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benar-benar seperti kisah fiksi—kemudian dilengkapi dengan dianugerahinya mereka permanent residence di Amerika Serikat pada 1976. Negara yang ditinggalinya kembali bersama sang istri dan anak, yang sekaligus juga merenggut nyawanya empat tahun kemudian. Harga sangat mahal yang harus dibayar oleh John Lennon untuk sebuah karya perdamaian, seperti pernah diucapkannya ketika diwawancarai wartawan tentang billboard ucapan Natalnya, “If you wonder if it’s expensive, it’s definitely cheaper than the price of a human’s life”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah pengorbanan tak ternilai seorang seniman yang memberikan hidupnya sebagai kanvas bagi karya seninya, sekaligus menjadikannya seorang seniman besar yang layak dikenang dan dihormati sepanjang masa. Inilah masterpiece John Lennon yang sesungguhnya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10771740-4829432177330721666?l=stevie18181.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://stevie18181.blogspot.com/feeds/4829432177330721666/comments/default' title='Publier les commentaires'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10771740&amp;postID=4829432177330721666&amp;isPopup=true' title='0 commentaires'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10771740/posts/default/4829432177330721666'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10771740/posts/default/4829432177330721666'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://stevie18181.blogspot.com/2007/12/karya-terbaik-john-lennon.html' title='Karya terbaik John Lennon'/><author><name>Stevie Sulaiman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02685787684909090570</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_rC_LrIRDnOM/RoEiB0NXSxI/AAAAAAAAAGU/tf75ldN9ZAY/s400/Bedroom_3.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_rC_LrIRDnOM/R3ian5UjJUI/AAAAAAAAAKo/WsXvDmVMTFY/s72-c/The+US+vs+John+Lennon.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10771740.post-7836429082375649996</id><published>2007-12-26T09:01:00.000+07:00</published><updated>2007-12-26T09:15:54.701+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kado'/><title type='text'>Modernitas yang tanpa bentuk</title><content type='html'>Oleh-oleh Stevie Sulaiman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_rC_LrIRDnOM/R3G33JUjJQI/AAAAAAAAAKI/Koh4iiKTQmw/s1600-h/Documenta+12"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://3.bp.blogspot.com/_rC_LrIRDnOM/R3G33JUjJQI/AAAAAAAAAKI/Koh4iiKTQmw/s200/Documenta+12" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5148098007083984130" /&gt;&lt;/a&gt;DOCUMENTA 12”&lt;br /&gt;Pameran: Kassel, Jerman, Juni-September 2007&lt;br /&gt;Diskusi: Goethe Haus, Jakarta, 4 Oktober 2007&lt;br /&gt;Pembicara: FX Harsono, seniman dan pengunjung pameran&lt;br /&gt;Moderator: Enin Supriyanto, kurator seni dan pengunjung pameran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pergerakan peradaban manusia telah sampai kepada jaman yang disebut modern. Istilah ini sangat populer dalam kehidupan masa kini, tapi sering kita jumpai pertentangan arti modern—sebagian mungkin juga tidak tahu betul, hanya sekadar ikut arus—begitu pula pandangan apakah modernitas adalah sebuah kemajuan zaman atau justru kemunduran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkembangan teknologi militer, misalnya, malah mendatangkan perang yang merusak tatanan kehidupan dunia, baik secara fisik maupun mental, dengan menyisakan trauma berkepanjangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arnold Bode, seorang Jerman, penggagas proyek seni Documenta—yang pertama kali diadakan tahun 1955 di museum yang sama di Kassel, Jerman—awalnya bermaksud berupaya merekonstruksi kerusakan dan perubahan-perubahan destruktif dalam kehidupan yang telah terjadi, terutama akibat Perang Dunia I dan II di mana di keduanya Jerman menjadi salah satu aktor utama. Caranya dengan perjalanan mundur ke belakang dan berangkat dari sebuah titik yang belum jelas bernama masa kini. Berusaha mencari petunjuk mengapa dinamika yang merupakan proses wajar dan hakiki justru mengarahkan kehidupan pada dekonstruksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena berangkat dari titik yang belum jelas, maka saat Documenta 1” digelar tahun 1955 pameran menampilkan karya-karya seni yang tanpa batas, alias bebas sama sekali. Bentuknya bisa apa saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga Documenta 12”, lebih dari lima puluh tahun kemudian, pameran tetap menampilkan karya-karya yang bebas sama sekali. Tidak dibatasi bentuk, bahkan bebas hingga tanpa bentuk, misalnya salah satu karya yang terbuat dari debu, sehingga—menurut seniman FX Harsono, yang sempat mengunjungi pameran langsung—penonton yang masuk dibatasi hanya dua orang setiap gilirannya, harus “dilucuti” dari segala jenis benda (yang memungkinkan gerakan mengibas dan membuyarkan susunan debu pada karya), dan harus mengendap. Tentunya orang seperti saya yang alergi debu tidak diijinkan masuk, secara bersin saya berpotensi menjadi bencana abad ini :p&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih jauh bercerita tentang aneka karya yang sama sekali bebas, dan kadang dipajang bersama dengan karya lain yang tidak ada hubungannya sama sekali, membuat kita semua bingung: apa maksud dari semua ini? Apakah penggambaran dari makna kebebasan? Apakah arti kebebasan itu sendiri? Apakah bebas itu asal letak, asal ada, tanpa konsep?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak karya yang menyisakan keheranan—entah kepada berapa bagian dari total sekitar 700.000 pengunjung pameran selama 3 bulan itu—termasuk beberapa karya yang dipajang tidak dalam ruangan berdinding putih (simbol netral yang sering dipakai di banyak pameran seni lain), melainkan biru, merah-oranye, dan warna-warni lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi toh ada beberapa tatanan karya yang tampak sedikit lebih jelas maknanya, misalnya sebuah lukisan kontemporer tentang pasangan kulit hitam yang digambarkan sangat legam, nyaris tanpa dimensi karena gelapnya, lalu lukisan ini diletakkan seruangan dengan lukisan-lukisan klasik bertema romantisme. Teknis peletakan dan penyajian ini menimbulkan sensasi sendiri, memunculkan kesan sinis terhadap rasisme dan borjuisme yang menindas—berusaha menutupi permasalahan hidup dengan kemewahan gaya dan harta. Tapi, lagi-lagi, belum jelas maksud sesungguhnya di balik semua ini: apa kaitan antara isu rasisme, borjuisitas yang menindas tadi, dengan modernitas?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Titik terang baru tampak setelah Enin Supriyanto (moderator, yang juga saya kenal sebagai mantan Creative Director saya; lama menekuni seni dan budaya) menjelaskan tentang sebuah permadani karya seniman Iran yang berasal dari abad XIV. Tidak seperti layaknya seni permadani Timur Tengah pada zaman itu (dan mungkin sampai sekarang) yang sarat motif dekoratif bertema religius, permadani ini bermotif lukisan perfect-birdview (top angle a la sutradara Alfred Hitchcock) dari sebuah taman terkenal di jaman Raja Nebukadnezar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karya permadani itu, menurut Enin, seraya memaparkan sedikit silsilahnya, adalah sebuah simbol modernitas karena (berusaha) memberikan pencerahan, atau dobrakan, atau gairah baru pada jamannya. Bermula dari sini, berlanjutlah pemaparan dan diskusi yang bermuara pada sebuah kesimpulan bahwa modernitas terjadi dan berpotensi terjadi di mana saja di seluruh dunia (secara presentasi digambarkan oleh karya permadani itu, dengan diletakkan di antara karya-karya Barat), bahkan di dalam diri seorang seniman yang dikelilingi oleh sedemikian ketatnya norma masyarakat dan religi seperti di Iran. Jadi modernisasi sebenarnya adalah proses yang berpangkal dari lokal, bahkan individual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya, kalau selama ini kita sering terjebak karena secara klise mengidentikkan modernisasi sebagai “westernisasi”, itu bisa jadi karena kita belum menghayati esensi modern itu sendiri. Kita terjebak pada bentuk, rupa, dan segala bungkus kemewahan (Barat) itu tadi, yang secara misionaris “menjajah” kita dan menciptakan kolonialisme modern. Kita terjerat oleh garis-garis kemapanan yang sengaja dibikin oleh kaum mapan alias borjuis (alias Barat), untuk membentengi kemapanannya—yang sebenarnya adalah naluri yang sangat wajar dalam kehidupan, mengingat prinsip kehidupan adalah kompetisi; suatu saat bila kita yang berada dalam posisi dominan juga akan punya potensi kecenderungan yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berada dalam status yang tersesat dan hilang akar hilang bentuk, satu-satunya cara adalah mengumpulkan segala informasi yang ada, membuka semua channel dan batas, dan berjalan mundur ke belakang, seperti halnya Arnold Bode saat menggagas Documenta ini. Mungkin langkah ini dapat menjadi permulaan bagi kita masing-masing, bahkan secara individu, untuk mencari awal kesalahan arah perubahan kita. Sebuah pencarian jati diri, yang setelah tertemukan juga tidak lantas kita diamkan, melainkan selalu kita challenge dan pertanyakan untuk menumbuhdewasakannya—seperti misalnya pergolakan batin dan pencerahan yang dialami seniman permadani Iran tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejauh ini, mestinya kita sudah bisa merasakan dan menerima secara nalar bahwa mengartikan modernisasi hanya secara fisik adalah dangkal, dan inilah yang kemudian (sebagai kambing hitam kedangkalan wawasannya tentang modernitas) memunculkan interpretasi modernisasi sebagai kemunduran jaman. Sebagai reaksi akhirnya golongan ini melakukan gerakan mundur yang bermaksud hidup dalam romantisme masa lalu, menolak segala peluang perubahan, dan berpotensi membentuk stagnansi peradaban—sementara kehidupan jalan terus dan selalu butuh penciptaan solusi baru, yang tidak sama dengan solusi-solusi yang sudah pernah ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Modernisasi seharusnya adalah pergerakan itu sendiri, dan gerakan (maju) itu baru terjadi kalau kita selalu berusaha terus menyangkal, mempertanyakan, memberikan challenge dan pressure terhadap diri kita sendiri. Why, why, and why?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara, modernitas adalah sebuah nafas, gairah yang akan menimbulkan gejolak arus—di dalam individu itu sendiri, kelompok sosial, maupun masyarakat dunia. Ia tidak berbentuk dan tidak akan berbentuk, karena ialah perubahan itu, seperti bagaimana proyek Documenta ini menggambarkan¬nya. Dan hasil dari modernitas adalah kebudayaan yang makin dewasa, makin spiritual. Yang makin tidak terikat bentuk, atau fisik, atau materi, atau norma (termasuk di dalamnya agama sebagai ritual, bukan sebagai budaya atau personalitas). Sebuah masyarakat global yang makin majemuk, personalized, dan kaya. Bukan malah generik dan miskin bagaikan mesin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semakin kita berusaha membakukannya (memapankannya) ke dalam sebuah bentuk, atau tatanan, atau norma, semakin kita mengaburkan maknanya, dan semakin kita tersesat.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10771740-7836429082375649996?l=stevie18181.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://stevie18181.blogspot.com/feeds/7836429082375649996/comments/default' title='Publier les commentaires'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10771740&amp;postID=7836429082375649996&amp;isPopup=true' title='0 commentaires'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10771740/posts/default/7836429082375649996'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10771740/posts/default/7836429082375649996'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://stevie18181.blogspot.com/2007/12/modernitas-yang-tanpa-bentuk.html' title='Modernitas yang tanpa bentuk'/><author><name>Stevie Sulaiman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02685787684909090570</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_rC_LrIRDnOM/RoEiB0NXSxI/AAAAAAAAAGU/tf75ldN9ZAY/s400/Bedroom_3.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_rC_LrIRDnOM/R3G33JUjJQI/AAAAAAAAAKI/Koh4iiKTQmw/s72-c/Documenta+12' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10771740.post-1890229344387569788</id><published>2007-12-24T20:52:00.000+07:00</published><updated>2007-12-24T21:06:10.978+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='a la Stevie'/><title type='text'>All I want for Christmas...</title><content type='html'>... is PAYRISE :-))&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Met Natal yah, semua. Semoga tahun mendatang perekonomian membaik, pendapatan naik.&lt;br /&gt;(Halah, apa sih... sok rhyming. Pret kepret :p)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10771740-1890229344387569788?l=stevie18181.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://stevie18181.blogspot.com/feeds/1890229344387569788/comments/default' title='Publier les commentaires'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10771740&amp;postID=1890229344387569788&amp;isPopup=true' title='0 commentaires'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10771740/posts/default/1890229344387569788'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10771740/posts/default/1890229344387569788'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://stevie18181.blogspot.com/2007/12/all-i-want-for-christmas.html' title='All I want for Christmas...'/><author><name>Stevie Sulaiman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02685787684909090570</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_rC_LrIRDnOM/RoEiB0NXSxI/AAAAAAAAAGU/tf75ldN9ZAY/s400/Bedroom_3.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10771740.post-7344458505298450007</id><published>2007-12-24T20:33:00.000+07:00</published><updated>2007-12-24T20:50:42.058+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jalan-jalan'/><title type='text'>Kembali ke Solo</title><content type='html'>Empat tahun berjalan begitu cepatnya. Rasanya belum lama ketika aku bersama para sahabat kampus jalan-jalan ke Solo, selepas pengumuman kelulusan kami tahun 2003 lalu. Ketika itu kami juga ke vila salah seorang dari kami, Lia, di Tawangmangu, luar kota Solo sebelah utara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_rC_LrIRDnOM/R2-25ZUjJNI/AAAAAAAAAJw/w_gZ9MbE9Ls/s1600-h/The+couple+and+the+gang.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://2.bp.blogspot.com/_rC_LrIRDnOM/R2-25ZUjJNI/AAAAAAAAAJw/w_gZ9MbE9Ls/s400/The+couple+and+the+gang.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5147533996273640658" /&gt;&lt;/a&gt;Kedatangan kembali kali ini juga berkaitan dengan Lia, yaitu pesta pernikahannya dengan Franky, yang saat empat tahun lalu masih berstatus pacarnya. Sebenarnya dua minggu yang lalu, 8 Desember, Wenny—salah satu dari kami juga—melangsungkan pula pernikahannya di Solo, tapi aku pas nggak bisa hadir waktu itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_rC_LrIRDnOM/R2-3rZUjJOI/AAAAAAAAAJ4/uayDLPaaJqg/s1600-h/We%27re+in+China.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://2.bp.blogspot.com/_rC_LrIRDnOM/R2-3rZUjJOI/AAAAAAAAAJ4/uayDLPaaJqg/s200/We%27re+in+China.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5147534855267099874" /&gt;&lt;/a&gt;Pesta itu digelar di Hailai International, Jalan Adi Sucipto, sebuah resto baru bernuansa Oriental, dengan interior bergaya klasik China—rumah-rumah berdaun pintu kayu, berwarna cokelat kemerahan, a la Forbidden City. Langit-langit restoran dilukis gambar langit sehingga serasa outdoor, mirip dengan lukisan di langit-langit Darmawangsa Square, sebuah mal klasik European-style di Jakarta Selatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pesta malam itu berlangsung cukup sederhana namun meriah, dengan keramaian sekitar 300-500 orang, kalau tidak salah—kebanyakan dari pihak keluarga mempelai. Formatnya mejaan, bukan standing party, a la tradisi kaum China totok, tapi uniknya perangkat makan kami tanpa sumpit, melainkan sendok dan garpu a la Indonesia. Mungkin inilah nuansa fusion Indochinese, atau lebih tepat Javachinese.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masakan-masakannya pun juga terasa demikian, tidak medok a la masakan China, tapi terasa bercampur dengan cita rasa masakan Jawa, mulai angsio hie (gurami goreng asam manis), tumis kacang cah sapi, sup asparagus, lumpia goreng dan aneka siomay-pangsit, hingga nasi gorengnya. Karena Jawa Tengah, rasa yang dominan adalah manis, seperti layaknya masakan khas Jawa Tengah lain macam gudeg dan nasi liwet yang juga didominasi rasa manis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_rC_LrIRDnOM/R2-1mZUjJMI/AAAAAAAAAJo/m14Tgp38NjE/s1600-h/Sunflower.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://2.bp.blogspot.com/_rC_LrIRDnOM/R2-1mZUjJMI/AAAAAAAAAJo/m14Tgp38NjE/s200/Sunflower.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5147532570344498370" /&gt;&lt;/a&gt;Ceweknya ternyata juga manis-manis lho, salah satunya penyanyi bergaun kuning bernama Intan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan ke Solo kali ini berawal tidak semulus itu. Mulai dari tiket pesawat yang harganya sangat mahal (lebih mahal daripada ke Surabaya, padahal dengan maskapai yang kelasnya lebih rendah daripada yang biasa aku gunakan ke Surabaya) hingga kejadian seputar mobil mogok dan kesulitan cari taksi malam dan pagi hari menjelang keberangkatannya. Itu juga ditambah dengan sedikit ketegangan melihat antrean bandara Soekarno-Hatta yang seperti ular, mirip dengan kejadian pulang menjelang Idul Fitri 2004 lalu, yang membuatku kapok bepergian domestik pas libur Lebaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi selepas check-in semuanya mulai reda, dan entah karena terbuai ketenangan atau memang akibat kejadian-kejadian yang demikian melelahkan sedari malamnya, aku tertidur cukup pulas di pesawat. Padahal pemandangan di luar lagi indah-indahnya karena cuaca cerah. Aku selalu senang terbang pagi dan menjelang sunset karena bisa melihat “lukisan” Tuhan ini, pas jam-jam puncaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekitar sejam kemudian aku mendarat di bandara Adisumarmo, tepat di sebelah pesawat Air Asia—yang tadinya aku pikir tidak ada rute Jakarta-Solo, dan ternyata memang tidak ada karena itu pesawat langsung dari Singapore.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bandaranya memang kecil, seperti yang pernah aku dengar di berita saat 3 tahun lalu terjadi insiden pesawat tergelincir di situ. Kalau di Soekarno-Hatta dan Juanda aku terbiasa melihat baggage-claim yang sampai melingkar, di Adisumarmo baggage-claimnya pendek sekali, hanya 5 meteran, dan hanya berbentuk lurus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekeluar dari bandara, taksi mengantarku ke Hotel Baron Indah di Jalan Dr. Radjiman—tempat aku dan teman-teman menginap. Hotel itu dipesankan dan dibayari oleh Lia untuk kami yang dari luar kota, Jakarta dan Surabaya, ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun si supir taksi mengemudinya seperti Kimi Raikkonen, tapi orangnya ramah dan hangat, khas Jawa Tengah. Sambil ngobrol santai di perjalanan yang hanya 15-20 menit itu, aku juga sempat menikmati pemandangan rumah-rumah klasik a la Londo di kota kelahiran pelawak Basuki ini. Ada juga rel kereta api di tengah jalan utama, dan resto dengan halaman lebar-lebar di kawasan pinggiran kota—pemandangan yang lazim di resto-resto pinggiran di banyak kota di Jawa, tapi langka di ibukota.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan ada juga mal, bangunan “penjajah” budaya asal, berikut food court dan namanya yang generik itu. Grand Mal lah, Solo Square lah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena sudah cukup puas melihat pameran di JCC beberapa bulan lalu, plus kunjungan ke Jogja di awal September, aku tidak lagi mencari batik walau sedang berada di kota batik. Kebetulan teman-teman sepertinya juga tidak tertarik dengan batik. Kami pun melakukan aktivitas yang membosankan itu, jalan-jalan ke mal dan makan di food court.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang kemudian cukup membuang bosan adalah ketika di Solo Square ada sebuah toko kerajinan mebel. Ketika mampir dan browsing, aku mendapati kriya-kriya mebel yang berbahan bagus, dari kayu jati, dan di-craft dengan sangat rajin. Bagi yang pernah mengamati batik, karakter crafting Solo yang anggun dan pernik juga terasa di karya ukir-ukiran dan pahat kayu ini. Konon, keraton Solo (dan warganya juga, mestinya) memang tipe yang menjalani hidup dengan santai, indah, dan damai. Itulah sebabnya saat masa penjajahan Belanda mereka termasuk yang “berteman”, cenderung memilih tidak berkonflik. Ini beda dengan tetangganya, Jogja, yang sangat kental “pride”-nya. Itulah yang kemudian, konon, menjadikan keduanya beda—beda prinsip, beda gaya. Itulah yang kemudian menjadikan ada penggolongan keraton Solo dan keraton Jogja, batik Solo dan batik Jogja, gudeg Solo dan gudeg Jogja, dan entah pembagian apa lagi lainnya di antara daerah yang hanya terpisah jarak sekitar 50 kilometer ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain toko kerajinan kayu, di Solo Square juga ada kios berbentuk gerobak yang menjual kerajinan tangan unik dan cantik-cantik—di mana aku mendapatkan beberapa besek mini warna-warni dan sandal anyam-anyaman untuk sekadar oleh-oleh buat beberapa orang teman. Ada juga stan motor dan bajaj BEMO, merek lokal asli Solo yang iklannya menyebar sampai ke Terminal 1B Bandara Soekarno-Hatta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_rC_LrIRDnOM/R2-4RJUjJPI/AAAAAAAAAKA/sQHPGx2ZMHU/s1600-h/A+view+from+the+window.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://1.bp.blogspot.com/_rC_LrIRDnOM/R2-4RJUjJPI/AAAAAAAAAKA/sQHPGx2ZMHU/s200/A+view+from+the+window.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5147535503807161586" /&gt;&lt;/a&gt;Entah kenapa, walaupun hanya sehari semalam, perjalanan ke Solo ini terasa begitu refreshing dan membuat biaya perjalanan yang tadinya terasa mahal menjadi tak lagi terasa mahal. Begitu menyegarkan batin, melebihi perjalanan pulang ke Surabaya, yang walau selalu lebih lama, tapi sering kali malah lebih terasa bukan sebagai liburan karena terlalu banyak yang harus dikunjungi dan ditemui—mungkin karena sudah terlalu banyak kenal sana-sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tempat-tempat yang lebih “asing” ini, sebuah liburan bisa lebih bebas dan lebih nikmat. Mungkin memang itulah makna sebuah liburan yang sebenarnya, yang tidak sama dengan mudik. Mungkin ghuwe yang ndeso sehingga tidak bisa membedakannya :p&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PS: Makasih juga buat Ding Ding yang minjemin mobilnya buat kami, dan Wenny yang udah nraktir makan siang di resto milik temannya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10771740-7344458505298450007?l=stevie18181.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://stevie18181.blogspot.com/feeds/7344458505298450007/comments/default' title='Publier les commentaires'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10771740&amp;postID=7344458505298450007&amp;isPopup=true' title='0 commentaires'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10771740/posts/default/7344458505298450007'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10771740/posts/default/7344458505298450007'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://stevie18181.blogspot.com/2007/12/kembali-ke-solo.html' title='Kembali ke Solo'/><author><name>Stevie Sulaiman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02685787684909090570</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_rC_LrIRDnOM/RoEiB0NXSxI/AAAAAAAAAGU/tf75ldN9ZAY/s400/Bedroom_3.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_rC_LrIRDnOM/R2-25ZUjJNI/AAAAAAAAAJw/w_gZ9MbE9Ls/s72-c/The+couple+and+the+gang.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10771740.post-6664716451276847460</id><published>2007-12-23T20:05:00.000+07:00</published><updated>2007-12-24T20:33:25.976+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Budaya'/><title type='text'>Taxi Driver—Jakarta version, by Stevie Scorsese</title><content type='html'>Ah sialan, si Kijang mogok tidak pada saat yang tepat. Milih waktu saja kok ya pas malam Idul Adha yang diguyur hujan tanpa henti sejak siang (alias macet-macetnya jalan dan susah-susahnya cari taksi). Untuk menambah lengkap derita, pada malam itu juga berlangsung pertandingan bola di Senayan antara Indonesia vs Borussia Dortmund—jadi makin macet dan susah saja cari taksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga nomor telepon Blue Bird tidak bisa dihubungi sejak sore hingga malam. Kebetulan keesokan harinya aku memang butuh taksi untuk ke bandara pagi-pagi, jadi ya makin panik saja deh. Hingga subuh nomor telepon itu tetap tidak bisa sambung, sementara taksi Gamya yang jadi alternatif juga tidak bisa memenuhi panggilan walau sudah dipesan berjam-jam sebelumnya. Mungkin waktunya memang sangat tidak tepat, pagi-pagi kan pada shalat Ied.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke malamnya, saat masih terpaku di kantor, untung ada Gugi dan kawan-kawan yang kebetulan sedang akan mengarah ke tengah kota, jadi aku dan Citra—teman AE yang tadinya mau menumpang mobilku ke pangkalan Blue Bird terdekat, tapi tidak jadi karena mobilku mogok—bisa nebeng sampai daerah Thamrin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi sampai di Thamrin bukan berarti masalah sudah selesai. Taksi rata-rata penuh, dan salah satu taksi merek lain yang aku coba tumpangi ternyata berusaha memanfaatkan situasi dengan menolak pakai argo. Perjalanan Sarinah ke Cideng yang umumnya pakai Blue Bird hanya sepuluh ribu lebih sedikit ia minta tiga puluh ribu. Tak perlu berpikir, aku pun langsung keluar lagi. Selain karena harganya tidak masuk akal aku juga sangat tidak suka diperlakukan semena-mena dan dibodohi seperti itu. Tapi memang risikonya aku jadi menunggu lebih lama lagi, sampai lebih dari setengah jam, padahal sudah makin mendekati tengah malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya ada juga alternatif naik bajaj, dan daerah Sarinah sampai tengah malam pun masih ramai—baik orang-orangnya maupun kendaraan umum alternatif—tapi aku sengaja mencari taksi supaya bisa sekalian untuk besok paginya, syukur-syukur kalau pas ada yang Blue Bird atau Gamya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah bertaksi-taksi Blue Bird yang lewat tanpa mau berhenti, akhirnya datang juga taksi satu ini yang mau mengangkut. Seperti biasa, sang pengemudi juga bertanya dulu akan mengarah ke mana (mungkin takut mengarah ke daerah banjir atau macet), tapi toh ia pasrah saja. Beruntung daerahku memang sedekat dan seaman itu, dan dalam lima menit aku akhirnya sampai rumah kos. Pak supir yang baik dan penyelamat ini sungkan menerima beberapa ribu lebihan yang aku berikan, padahal sejujurnya buatku itu masih tidak sebanding dengan bantuan yang ia berikan kepadaku. Sebelum berpisah, tak lupa aku bertanya apakah ia besok paginya bisa kembali menjemputku dan mengantar ke bandara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wah saya harus jemput ke Cibinong, Pak, jam setengah enam pagi,” jawabnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun kecil harapannya, aku tetap meminta nomor ponselnya, siapa tau di kesempatan yang sempit itu masih ada celah untuk lewat—apalagi sudah tidak bisa lagi mengandalkan layanan pemesanan lewat telepon dan taksi lain juga belum pasti bisa membantu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesampainya di kos, seperti biasa, kalau sedang gelisah aku tidak bisa langsung tidur. Sambil menunggu mengantuk—padahal sudah harus bangun lagi lima jam kemudian—aku tetap mencoba menelepon Blue Bird, tapi ya memang tidak kunjung tersambung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi harinya, aku bangun dulu sebelum weker berbunyi. Jam menunjukkan 5.15, dan aku iseng-iseng menelepon pak supir taksi yang tadi malam. Ternyata ia masih sedang menuju ke Cibinong, dan walaupun tujuannya Gambir sepertinya sudah tertutup kemungkinan untuk bisa cocok waktunya. Paling cepat ia mencapai Gambir setengah tujuh, sementara aku sudah harus di bandara paling lambat jam 7 lewat 15. Terlalu tipis. Gamya pun sudah memberikan konfirmasi tidak ada armada yang bisa menjemput.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Posisi kepepet, mobil mogok dan tak ada taksi, akhirnya aku terpaksa membangunkan seorang teman, Yu Han, untuk minta tolong antar—secara mau naik Damri juga susah menuju Gambir, bajaj juga pasti banyak yang tidak beroperasi karena dekat waktu shalat Ied.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika hampir selesai mengepak sisa bawaan, tiba-tiba ponselku berdering. Ada SMS dari pak supir Blue Bird tadi, sekitar jam 6, mengabarkan bahwa ia sudah hampir sampai Gambir dan bisa segera menjemputku. Aku pun segera menelepon Yu Han, dan untung dia belum berangkat. Setelah selesai bilang tidak jadi dan mengucap terima kasih, aku segera menelepon kembali pak supir untuk mengonfirmasi. Beberapa menit kemudian ia sudah di depan pagar dan kami meluncur ke bandara. Waktu menunjukkan jam 6.15. Cukup aman untuk mengantisipasi problem-problem tak terduga di jalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan pagi itu lancar sekali, dan dalam sekitar 25 menit kami sudah sampai bandara. Belum cukup waktu untuk bersyukur dan merenungi pengalaman unik 9 jam terakhir ini, tapi untung aku sempat memotret kartu si pak supir di dashboard taksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_rC_LrIRDnOM/R2-0V5UjJLI/AAAAAAAAAJg/Wwz2LLPqdoc/s1600-h/Lastari.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://4.bp.blogspot.com/_rC_LrIRDnOM/R2-0V5UjJLI/AAAAAAAAAJg/Wwz2LLPqdoc/s200/Lastari.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5147531187365029042" /&gt;&lt;/a&gt;Dan inilah pengemudi taksi yang penyelamat itu. Namanya Lastari, dan si empunya nama adalah orang yang melestarikan kebaikan melalui pelayanannya bagi kehidupan. Seandainya semua supir taksi punya perilaku yang searif itu tentu lebih banyak orang yang mengalami karya-karya pelayanan, seperti yang baru saja aku alami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terima kasih, Pak Lastari. Semoga kurban dan amal ibadah Anda berkenan di hadapanNya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10771740-6664716451276847460?l=stevie18181.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://stevie18181.blogspot.com/feeds/6664716451276847460/comments/default' title='Publier les commentaires'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10771740&amp;postID=6664716451276847460&amp;isPopup=true' title='0 commentaires'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10771740/posts/default/6664716451276847460'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10771740/posts/default/6664716451276847460'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://stevie18181.blogspot.com/2007/12/taxi-driverjakarta-version-by-stevie.html' title='Taxi Driver—Jakarta version, by Stevie Scorsese'/><author><name>Stevie Sulaiman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02685787684909090570</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_rC_LrIRDnOM/RoEiB0NXSxI/AAAAAAAAAGU/tf75ldN9ZAY/s400/Bedroom_3.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_rC_LrIRDnOM/R2-0V5UjJLI/AAAAAAAAAJg/Wwz2LLPqdoc/s72-c/Lastari.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10771740.post-4168261150916694801</id><published>2007-12-22T19:37:00.000+07:00</published><updated>2007-12-24T20:26:34.279+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jalan-jalan'/><title type='text'>Keliling dunia</title><content type='html'>Banyak orang pasti memimpikannya, termasuk juga aku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi dalam hal ini, adikku mungkin lebih unggul. Di usianya yang belum genap 23 tahun ia sudah keliling Eropa Barat—dari Belanda, Belgia, Jerman, Perancis, Spanyol, bahkan Italia dan Inggris. Itu belum ditambah Singapura, tempat ia transit dan menikmati internet gratis (plus komputernya) di bandara Changi saat berangkat dan pulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara aku? Baru sekali pasporku dapat stempel imigrasi, dan itu juga baru terjadi tahun ini, untuk sebuah urusan pekerjaan ke Kuala Lumpur. Hanya tiga hari dua malam pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang kemudian membuatku jalan-jalan lebih jauh dan beraneka ragam daripada adikku adalah ketika musim festival film tiba. Seperti akhir tahun ini, misalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di JIFFest, festival film internasional dan terbesar di Indonesia yang digelar tiap tahun saban bulan Desember, ada sesi yang disebut panorama. Ini adalah sesi favoritku, karena sesuai namanya melalui film-film yang termasuk kategori ini aku selalu merasa ikut jalan-jalan menyusuri negara asalnya—dan tidak hanya panorama alamnya, tapi lebih-lebih panorama kehidupan orang-orangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di JIFFest pertamaku, tahun 2004, misalnya, tiba-tiba aku berkenalan dengan budaya Brazil, berikut sejarahnya, melalui film Carandiru yang dibuat berdasarkan kisah nyata. Di sana aku bisa melihat betapa blaka (dibaca bloko; dari bahasa Jawa yang berarti kosong atau bersih atau polos, apa adanya, tidak ada yang ditutupi) orang-orang asli Brazil, termasuk para napi di penjara Carandiru itu. Mungkin karakter inilah salah satunya yang melahirkan budaya tari kabaret yang kabarnya bebas mengumbar tubuh telanjang para penarinya—festival yang sampai membuat pesepakbola macam Ronaldo dan Edmundo ngebet pulang tiap tahunnya, hanya untuk menontonnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Film itu juga menghadirkan aib pemerintahnya yang membantai banyak napi di penjara itu karena gagal melerai suatu insiden perkelahian. Akhirnya banyak napi yang tidak bersalah (maksudnya tidak terlibat perkelahian) ikut jadi korban. Untuk menutupi aib itu, penjara Carandiru kemudian dirobohkan agar tidak ada kenangan di masa depan terhadap sejarah yang terjadi di situ. Sebelumnya, darah yang tercecer di sepanjang lorong di tiap lantai disiram bersih dengan air—sebuah shot yang sengaja diambil dengan begitu sempurna di film itu—yang menyimpulkan bagaimana kejam dan pengecutnya pemerintah, yang cuci tangan dan tidak mau bertanggung jawab atas kelalaiannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JIFFest tahun berikutnya, 2005, lebih bagus lagi. Filmnya lebih beragam, dan banyak film Asia yang hadir. Di situ aku juga “mencicipi” budaya Korea yang sebenarnya—yang sangat berbeda dengan serial-serial dan love story di televisi dan DVD—di mana banyak keresahan tentang hilangnya pegangan spiritual masyarakatnya. Ini tergambar di film Spring, Summer, Fall, Winter, Spring Again karya sutradara Kim Ki Duk, yang menggunakan simbolisasi ajaran Buddha tentang filosofi hidup yang bagai lingkaran, siklus, yang suatu hari akan memberikan petunjuk bagi seseorang untuk kembali ke jalan yang benar. Bertobat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tema serupa dibawakan lebih realis dan ilmiah tahun sebelumnya oleh sutradara Lee Chang Dong lewat karyanya, Peppermint Candy, yang menggunakan teknik plot flashback dengan simbolisasi kereta api yang berjalan mundur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Peppermint Candy, film dibuka dengan problem, seseorang yang frustrasi dan ingin bunuh diri dengan disambar kereta api. Audiens diajak untuk ikut mempertanyakan apa sebenarnya sebab orang ini—dan mungkin sebagian orang Korea lain—begitu frustrasinya hingga punya kecenderungan suicidal. Film lalu mengajak mundur ke masa beberapa tahun sebelumnya, di mana orang itu tengah bertengkar dengan istrinya yang selingkuh dengan pria lain. Lalu mundur lagi, menyelidiki kenapa istrinya selingkuh, ternyata si suami tadi yang duluan selingkuh. Lalu mundur lagi, menyelidiki kenapa ia selingkuh, ternyata ia frustrasi dan butuh pelampiasan. Ia bekerja sebagai detektif, dan sebagai detektif sehari-hari ia berurusan dengan bajingan dan orang-orang menyebalkan. Ia terbiasa menginterogasi hingga menyiksa orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu film mengajak mundur lagi, menyelidiki kenapa ia jadi detektif dan sampai punya karakter yang demikian keras. Ternyata ia dulunya pernah jadi tentara, dan suatu hari saat latihan perang ia tak sengaja menembak dan membunuh seorang anak gadis belia. Insiden itu menyisakan pahit luka batin yang begitu mendalam dan membuat ia makin hari makin membenci dirinya sendiri, hingga akhirnya memutuskan bunuh diri. Satu-satunya hal manis dalam kehidupannya adalah sebuah permen rasa peppermint, kesukaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih ada sejarah Korea lain yang juga menyisakan luka batin hingga bertahun-tahun, yaitu konflik Korea Selatan dan Korea Utara—yang masih berlangsung hingga sekarang. Dua film, dua-duanya di JIFFest 2005, mengambil tema ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Taegukgi menggambarkannya dalam rupa drama perang, di mana dua orang saudara yang terpisah kubu dan akhirnya harus saling berhadapan di medan perang. The President’s Barber lain lagi, malah menuangkannya dalam bentuk komedi satir melalui karakter unik dan kocak, seorang tukang cukur rambut untuk presiden. Tokoh inilah yang kemudian dengan sublim dan satir meledek segala kekonyolan pemerintahnya, Korea Selatan—atau di antara mereka populer dengan sebutan kaum Republik (lawan kaum Komunis Korea Utara)—dengan segala kepolosannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehadirannya sendiri, yang hanya seorang tukang cukur tapi bisa masuk ke daerah yang paling dekat dengan orang nomor satu di negeri itu, sudah menjadi sindiran tersendiri. Bagaimanapun, walau tampak sangat menentang politik pemerintahnya yang begitu tunduk kepada Barat, tapi sebenarnya film ini menyimpan rasa cinta dan nasionalisme yang tinggi terhadap bangsa mereka. They just hate their government.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Korea, perjalanan berlanjut ke Jepang, yaitu film Vital. Bercerita tentang seorang mahasiswa kedokteran yang mengalami amnesia karena sebuah kecelakaan, si tokoh kemudian perlahan-lahan menemukan kembali dirinya melalui jasad pacarnya yang menjadi obyek latihan bedah mayat di kampusnya. Sang pacar sendiri meninggal akibat kecelakaan yang sama seperti yang dialaminya. Sebuah kisah cinta yang unik, dan mungkin absurd :p&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah Vital, masih ada Turtles Can Fly (Iran) yang mengangkat cerita anak-anak Iran yang jadi korban ranjau sisa perang Irak-Iran. Lalu ada juga Dear Frankie, film Inggris/Irlandia yang bercerita tentang anak tuli yang ingin berjumpa ayahnya yang berpisah darinya sejak ia kecil. Sang ibu (Emily Mortimer) yang tidak lagi berhubungan dengan sang ayah, namun ingin membahagiakan anaknya, kemudian menyewa seseorang untuk pura-pura menjadi ayah Frankie (Gerard Butler). Dari sekedar pura-pura, perlahan muncul rasa cinta di antara mereka bertiga. Frankie begitu senang berada bersama ayah sewaannya itu, dan gembira melihat ibunya kembali menemukan cinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang kemudian membuat makin mengharukan adalah ketika Frankie mengungkapkan bahwa ia sebenarnya sudah tahu itu bukan ayahnya. Orang cacat memang kadang punya indera keenam yang begitu kuat, tapi kemudian Frankie malah tak menggunakan kepintarannya itu dan memilih menggunakan hatinya—membuat dirinya yang cacat jadi lebih besar daripada mereka yang fisiknya lebih sempurna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Film istimewa lain dari JIFFest 2005 ini adalah Le Grand Voyage, yang menjadi pembuka festival. Ini adalah kisah perjalanan seorang Muslim Perancis dan anaknya dari Paris menuju Mekkah dengan mobil. Perjalanan Paris-Mekkah ini sebenarnya adalah metafor dari hubungan di antara mereka berdua yang begitu jauh—sang ayah yang tradisionalis dan masih memegang nilai-nilai religius, dan si anak yang modern dan sekuler, generasi muda masa kini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti filosofi yang diusung oleh film The Painted Veil (John Curran, USA, 2006, dibintangi Naomi Watts dan Ed Norton), “sometimes the greatest journey is the distance between two people”, Le Grand Voyage juga berusaha menyampaikan pesan yang serupa, namun dengan kedalaman yang lebih. Keduanya juga menggunakan simbol pamungkas yang senada, yaitu kedua tokoh baru benar-benar dekat, bahkan menyatu sama lain, justru di saat salah satunya tiada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Situasi yang mirip juga hadir di The Namesake (Mira Nair, India/USA, 2006) di JIFFest 2007 kali ini—kisah pasangan India yang merantau ke New York dan menemukan benturan budaya dengan anak-anak mereka yang sejak lahir sudah di Amerika. Jurang yang terpisah itu baru bertemu ketika salah satunya meninggal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih banyak film dari belahan dunia yang lain yang berhasil aku nikmati selama empat kali JIFFest ini, termasuk Goodbye Lenin—film pembukaan JIFFest 2004, yang undangannya dikasih sama Mas Enin, mantan CD-ku di Satucitra—film tentang benturan sosialis dan kapitalis, bersetting unifikasi Jerman Timur dan Jerman Barat tahun 1989. Setting yang sama dengan tema berbeda hadir juga di The Lives of Others (Das Leben der Anderen) di JIFFest 2006; membuatku tiba-tiba mengenal lebih jauh sejarah Jerman dan perasaan sebagian masyarakatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu juga masih ada Beautiful Boxer, Last Life in The Universe (Thailand), Chicken Rice War, I Not Stupid (Singapura), Bridal Shower (Filipina), 3-Iron (Korea Selatan), A Stranger of Mine, Hula Girls (Jepang), The Corporation (Dokumenter, Kanada), Ararat (Kanada), Eternal Sunshine of The Spotless Mind, 3 Burials of Melquiades Estrada, Marie Antoinette, The Fall, You Kill Me (USA), Deliver Us From Evil (Dokumenter, USA), Two Sons of Francisco (Brazil), Bombon El Perro, Buenos Aires 1977, Possible Lives (Argentina), Machuca (Chile), Dirty Pretty Things, Breaking and Entering, Inside I’m Dancing, Kinky Boots (Inggris), The Wind That Shakes The Barley (Irlandia), 5x2 (Perancis), 4 Months 3 Weeks 2 Days (Rumania), Gegen Die Wand (Jerman/Turki), A Perfect Day (Lebanon), Cineastes a Tout Prix (Dokumenter, Belgia), Schnitzel Paradise (Belanda), Vitus (Swiss), dan karya historis negeri sendiri From The Cabinet of Des Alwi (Dokumenter, Indonesia).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu juga masih ditambah beberapa film sisa JIFFest yang aku tonton di luar festival melalui DVD maupun pemutaran di pusat kebudayaan asing, seperti In Oranje (Belanda), Blackbook (Zwartboek, Belanda/Jerman), Volver (Spanyol), Babel (USA), Bride and Prejudice (India/USA), Nobody Knows (Jepang), Mukhsin (Malaysia), Supersize Me (Dokumenter, USA), The Constant Gardener (Inggris), dan kisah perjalanan Che Guevara, The Motorcycle Diaries (Argentina/USA).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain JIFFest, ada juga alternatif festival film lain seperti Festival Film Perancis tiap musim semi, biasanya sekitar April-Mei, atau Festival Film Belanda (baru aku ikuti sekali, tahun 2005). Atau Q! Film Festival yang memutar film bertema queer, dan Screamfest yang memutar film-film surealis/horor (baru pertama kali diselenggarakan tahun ini).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu masih ditambah dengan screening reguler di pusat-pusat kebudayaan, seperti Erasmus Huis tiap minggu ketiga atau keempat tiap bulan jam 2 dan 5 sore dan Instituto Italiano di Cultura tiap Rabu jam 7 petang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Goethe Haus juga sering memutar film-film Jerman atau sesi film tematik, seperti film dokumenter The Other Final karya Johan Kramer (co-founder salah satu biro iklan paling kreatif di Belanda, Kessels&amp;Kramer) yang berkisah tentang kegagalan timnas Belanda menembus putaran final Piala Dunia 2006 lalu—kemudian mereka mengadakan final sendiri mempertemukan timnas peringkat satu dan dua terbawah di dunia, yaitu Bhutan (letaknya di daerah pegunungan, perbatasan Tibet dan India-Nepal) versus Montserrat (negara di Karibia). Pertandingan yang dipimpin oleh wasit dari Liga Inggris, Steve Bennett, dan akhirnya dimenangkan oleh Bhutan itu akhirnya tidak hanya jadi pelipur lara Belanda, tapi juga menjadi kenangan dan perayaan berkesan bagi kedua tim yang bertanding, terutama Bhutan yang menjadi pemenang. Dari bangsa dan timnas “loser” menjadi juara dan runner-up The Other Final. Sebuah perayaan bagi kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain mengangkat kehidupan sepakbola, film itu juga mampu melukiskan kehidupan masyarakat Bhutan dan Montserrat, walau sekilas. Dari sebuah dokumenter dan cerita bola, audiens juga mendapat bonus spesial yang sekelas tayangan National Geographic atau Discovery channel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa serangkaian festival dan pusat-pusat kebudayaan asing yang memutar film-film tadi, tanpa pindah ke metropolitan Jakarta, mungkin aku tidak akan pernah mengenal sebegitu banyak budaya dan masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin mataku tidak akan pernah melek, bahwa begitu banyak dunia di luar Hollywood dan (monopoli) 21 Cineplex. Bahwa film bukan sekedar hiburan, tapi juga panorama kehidupan, seperti dilukiskan oleh nama kategori di JIFFest itu. Dan dari film kita bisa mengenal begitu banyak tentang bangsa dan negeri lain, bahkan lebih dalam daripada mereka yang mungkin pernah berkunjung tapi hanya sepintas lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi kalau di sisa perjalanan hidupku nanti aku tidak sempat travelling ke sekian banyak negara, aku tak akan menyesal, karena mimpiku keliling dunia sudah terjadi. Hari ini, tahun lalu, tahun depan, tahun-tahun yang akan datang, melalui festival film.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PS: Jadi jangan heran ya kalau di bulan-bulan macam Desember atau April-Mei tiba-tiba Stevie jadi susah diajak ngelembur ataupun ngeluyur—itu pasti karena dia sedang di “luar negeri”. Roaming :p&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10771740-4168261150916694801?l=stevie18181.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://stevie18181.blogspot.com/feeds/4168261150916694801/comments/default' title='Publier les commentaires'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10771740&amp;postID=4168261150916694801&amp;isPopup=true' title='0 commentaires'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10771740/posts/default/4168261150916694801'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10771740/posts/default/4168261150916694801'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://stevie18181.blogspot.com/2007/12/keliling-dunia.html' title='Keliling dunia'/><author><name>Stevie Sulaiman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02685787684909090570</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_rC_LrIRDnOM/RoEiB0NXSxI/AAAAAAAAAGU/tf75ldN9ZAY/s400/Bedroom_3.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10771740.post-5521350353790958696</id><published>2007-12-22T10:21:00.000+07:00</published><updated>2007-12-24T20:32:38.337+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Budaya'/><title type='text'>Warkop dan Srimulat</title><content type='html'>Walaupun oleh sebagian orang dianggap tuwir, aku selalu merasa beruntung dapat menjadi bagian dari generasi yang lebih tua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai kelahiran delapan puluhan, semestinya aku di era delapan puluhan baru nonton kesenian anak macam Si Unyil, film kartun Voltes V dan Goggle-Five, serta acara menggambar Pak Tino Sidin—dan memang aku menonton tayangan-tayangan itu. Tapi di saat bersamaan, sebelum genap sepuluh tahun aku juga sudah akrab dengan bentuk kesenian yang lebih dewasa, misalnya film komedi Warkop dan Srimulat. Dulu Papaku sering ngajak aku nonton Warkop di bioskop, sementara Srimulat sudah akrab di telingaku sejak kecil—misalnya tokoh Gepeng, yang sampai sekarang selalu dikenang sebagai tokoh paling populer di panggung lawak itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Surabaya, tempat asal Srimulat, konon mereka sering manggung di Taman Hiburan Remaja (THR) di kawasan Jalan Kusuma Bangsa, Surabaya Pusat. Sayangnya memang aku tidak pernah nonton langsung di sini, dan baru mengenal Srimulat di televisi, biasanya ketika menjelang hari raya. Wajah mendiang Gepeng sendiri aku sudah lupa, dan sejauh ini yang tersisa di ingatan adalah tayangan Srimulat sembilan puluhan yang masih mampir ke layar kaca tiap liburan Lebaran saat itu, plus tiap Kamis malam hadir sebagai serial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian orang selalu ngenyek kalau aku membicarakan tentang Warkop dan Srimulat. Dianggap ndeso lah, dianggap norak lah, tapi entah kenapa kesukaanku tak pernah luntur. Sampai sekarang, ketika sesekali TV menayangkan film-film Warkop lama, aku masih sesekali menonton—bahkan film macam “Gengsi Dong” yang entah sudah keberapa belas kalinya aku tonton kembali. Masih nggak bosen, masih ketawa, dan masih terhibur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makin lanjut mempelajari seni dan budaya di bidang kerjaku yang sekarang, aku bahkan makin mendapati bahwa dua ikon lawak ini, Warkop dan Srimulat, adalah dua keping masterpiece dunia lawak negeri kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ke-masterpiece-an Warkop dan Srimulat, menurutku, terletak pada totalitas ekspresi dan konsistensinya selama berpuluh tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Totalitas ekspresi, seperti halnya bidang kesenian lain, adalah esensi sebuah karya seni. Di sini kejujuran berekspresi, mengeluarkan isi hati, berperan utama dalam totalitas sebuah ekspresi. Kebanyakan lawak kita yang lain antara terlalu cerdas kalau bukan slap-stick, macam komedi a la Amerika (kecuali serial Friends).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau alasannya karena temanya serius, tentang politik dan kritik sosial, sehingga harus disampaikan dengan lebih cerdas, ya sesungguhnya di situlah tantangan keterampilan melawak. Sebaliknya, slap-stick yang “nggak jelas” juga sangat disayangkan, karena di sini komedi jadi semacam tayangan hiburan dan komersial belaka, dan bukan bentuk kesenian yang punya kedalaman (estetika). Ketika sebuah komedi terlalu cerdas atau slap-stick belaka, kesannya jadi artifisial. Dibikin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kita menilik Warkop, tema utama yang mereka usung (dan secara konsisten mereka bawa) adalah tentang kesenjangan dan culture-gap masyarakat ibukota dan daerah—yang mereka lambangkan dengan karakter anak kos. Di Gengsi Dong, salah satunya, problem itu dengan kuat tergambar dengan dikucilkannya Slamet (Dono) di antara pergaulan di kampus karena ndeso: dari ndeso dan seleranya ndeso, padahal anak juragan kaya di daerah asalnya. Bandingkan dengan tokoh Paijo (Indro), misalnya, yang anak metropolis dan berselera metropolis, mobilnya Mercedes-Benz dan bukan oplet sangar bermoncong cakil seperti punya Slamet. Ada juga tokoh Sanwani (Kasino), anak ibukota yang miskin tapi omongnya besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sini simbol-simbol itu muncul dan diperankan dengan sangat natural, seakan benar-benar nyata. Dan ketika mereka berensembel dan bercerita, kedalaman-kedalaman inilah yang membuat penonton seperti aku tak pernah bosan menonton dan menonton kembali, tertawa dan tertawa lagi. Sesuatu yang otak tak pernah bisa menalar kenapa tak kunjung bosan dan terus tertawa. Karena memang kesenian itu tidak hanya berhenti di otak, tapi terus menembus dan tinggal di hati. Menyublim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Srimulat yang lahir dari budaya yang sangat Jawa beda lagi. Budaya Jawa, seperti halnya budaya Timur lain macam China, Jepang, Korea, bahkan India, adalah budaya pengastaan. Di Srimulat perlambangan ini jadi gaya bercerita, yang hadir melalui setting maupun pengarakteran—selalu ada tokoh batur dan juragan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang lebih hebat lagi, karakter-karakter itu dibawakan dengan konsisten. Artinya pemeran batur ya selalu antara Nurbuat, Mamiek, dan Basuki. Sementara pemeran juragan ya selalu Tarsan, Jujuk, dan Asmuni. Yang “bunglon” cuma Timbul, tapi itu pun tidak sekadar bunglon: saat jadi batur ia bernama Timbul, dan ketika jadi juragan ia bernama Heru, biar lebih nggak ndeso.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penggantian nama ini sendiri juga pernah jadi bahan lawakan, misalnya ketika ditanya oleh salah satu kalangan batur (entah Basuki, Nurbuat, atau Mamiek), “Lho, bukannya nama sampeyan Timbul. Kok jadi Heru?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu Timbul menjawab, “Oh iya, Heru Sutimbul,” sambil cengengesan. Kalau jadi juragan ia juga sering menempeli wajahnya dengan kumis palsu—sebuah simbol lagi yang menandakan kejuraganan, dan populer di masyarakat Jawa untuk menandakan pria yang sudah sukses.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penggantian nama Timbul supaya lebih nggak ndeso (dan lebih berwibawa) ini juga simbol, di mana kaum jelata Jawa—entah lebih tepatnya disebut rendah hati atau rendah diri—rata-rata memang kurang pe-de dengan dirinya. Dengan namanya, dengan hartanya, dengan tutur kata dan perilakunya. Itulah sebabnya kalau di kata-kata sambutan atau surat selalu ada embel-embel, “bila ada tutur kata yang kurang berkenan, mohon dimaafkan yang sebesar-besarnya,” padahal nggak bikin salah sama sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Embel-embel, atau lazim juga disebut basa-basi, yang juga bisa berbentuk sikap sungkan, “nggak enak”-an, sangat khas Jawa. Beda banget dengan misalnya budaya Batak yang sangat bangga dengan ke-Batak-annya, dan membawa namanya dan marganya terus tanpa ingin mengubahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjelang penghujung 2007 ini, keluarga besar Srimulat kembali kehilangan salah satu anggotanya, Basuki, yang meninggal 12 Desember lalu. Basuki adalah tokoh Srimulat favoritku dan Papaku. Begitu favoritnya, sampai ketika sebuah episode tidak ada Basuki rasanya kurang lengkap—ibarat makan Nasi Campur Tambak Bayan (Pasar Besar Wetan, Surabaya) tanpa Sate Babi-nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buatku, Basuki adalah salah satu dari tokoh komedian yang sukses dalam evolusinya menjadi aktor serba bisa, yang mampu memerankan peran non-komedi, misalnya sebagai Mas Karyo di serial Si Doel. Banyak komedian lain susah berevolusi seperti ini karena terlalu kuatnya image komedian itu melekat. Di perfilman Hollywood, mungkin dalam sekilas ingatan baru Jim Carrey yang mulus bertransformasi serupa—dari peran-peran komedi di Ace Ventura, The Mask, Liar-Liar, The Truman Show, dan Bruce Almighty, ke peran serius di Eternal Sunshine of The Spotless Mind.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi kehilangan seorang Basuki sebenarnya tidak hanya kehilangan seorang pelawak hebat, tapi juga aktor serba bisa. Seorang bintang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat jalan, Mas Bas. Terima kasih sudah mewarnai kehidupan kami dengan kehadiranmu. Salam buat Mas As.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10771740-5521350353790958696?l=stevie18181.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://stevie18181.blogspot.com/feeds/5521350353790958696/comments/default' title='Publier les commentaires'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10771740&amp;postID=5521350353790958696&amp;isPopup=true' title='0 commentaires'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10771740/posts/default/5521350353790958696'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10771740/posts/default/5521350353790958696'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://stevie18181.blogspot.com/2007/12/warkop-dan-srimulat.html' title='Warkop dan Srimulat'/><author><name>Stevie Sulaiman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02685787684909090570</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_rC_LrIRDnOM/RoEiB0NXSxI/AAAAAAAAAGU/tf75ldN9ZAY/s400/Bedroom_3.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10771740.post-7506041362074656123</id><published>2007-12-18T19:39:00.000+07:00</published><updated>2007-12-26T11:00:29.584+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Nonton'/><title type='text'>Mengapresiasi opera</title><content type='html'>Sudah lama sejak aku mendaftar dan menerima newsletter dari Gedung Kesenian Jakarta tentang kegiatan-kegiatan seni yang digelar di sana, tapi belum sekali pun kesampaian nonton apa-apa. Hingga Rabu (5 Desember) lalu ketiban rejeki dari Pakde Totot, dua tiket gratis opera La Bohéme. Dan Mas Kendro pun aku bajak dari sebuah pameran seni rupa yang rencananya akan dihadirinya malam itu, lalu bablas ke Gedung Kesenian Jakarta di bilangan Pasar Baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_rC_LrIRDnOM/R3HIaJUjJRI/AAAAAAAAAKQ/uWUxg8TodNI/s1600-h/%5Bgkj%5D+La+Boheme.illustration.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://3.bp.blogspot.com/_rC_LrIRDnOM/R3HIaJUjJRI/AAAAAAAAAKQ/uWUxg8TodNI/s400/%5Bgkj%5D+La+Boheme.illustration.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5148116200565450002" /&gt;&lt;/a&gt;Kami tiba telat beberapa menit dari acara dimulai—karena proses pembajakan itu tadi :p—sehingga melewatkan pembukaan. Tapi tak terlalu jadi masalah, karena baru masuk babak pertama. Kebetulan kami juga dapat kursi yang oke banget (sepertinya itu tribun kelas satu), sehingga perasaan canggung karena baru pengalaman pertama pun segera sirna, dan kami hanyut menyelami pentas seni itu walaupun jujur saja masih terbata-bata mengartikan bahasa Italia yang digunakan sepanjang opera.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun secara umum ceritanya relatif tidak terlalu istimewa, tapi secara pribadi aku sangat terkesan dengan estetika pementasannya. Ada sensasi yang beda ketika melihat bagaimana kolaborasi antara para pemain opera, kru pengatur latar dan pencahayaan, dan grup orkestra yang mengiring sepanjang cerita berjalan begitu smooth—beda dengan misalnya film, yang bisa menolerir kesalahan karena bisa di-retake. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_rC_LrIRDnOM/R3HQHpUjJSI/AAAAAAAAAKY/1LN3MhXk4w8/s1600-h/Cuandro+Quattro.1.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://1.bp.blogspot.com/_rC_LrIRDnOM/R3HQHpUjJSI/AAAAAAAAAKY/1LN3MhXk4w8/s400/Cuandro+Quattro.1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5148124678830892322" /&gt;&lt;/a&gt;Kesempurnaan pementasan opera begitu mengagumkan dan menunjukkan betapa terampil dan detilnya elemen-elemen yang tergabung di dalamnya. Bahkan ada adegan yang tampaknya si aktor sedang menghapus peluh atau berbisik dengan sesama aktor lain, ternyata itu semua masih bagian dari pementasan. Beda dengan misalnya teater pada umumnya yang masih sempat “ambil nafas”, di opera celah-celah seperti itu pun sepertinya tertutup. Benar-benar zero tolerance, kalau sampai ada kesalahan pokoknya bubaaar aja deh semua…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang kemudian membuat makin kagum adalah para aktor dan aktrisnya orang Indonesia semua, tapi mampu berbahasa Italia dengan fasih—plus sambil akting dan menyanyi klasik ala sopranos dan tenors. Benar-benar penampilan teknik tinggi, padahal entah apakah secara imbalan bisa lebih tinggi daripada talent iklan yang rata-rata jual mahal tapi bego-bego itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menyempurnakan malam itu, usai pentas berakhir, kami berdua menyaksikan bagaimana sebuah penyelenggaraan opera diapresiasi. Semua pemain berbaris di depan panggung, lalu satu per satu pemain utama dipanggil—berikut cast &amp; crew lain, seperti sutradara, conductor Eric Awuy mewakili seluruh orkestra, narator, pengarah artistik yang ternyata sudah sangat senior (usianya mungkin sudah 60-70 tahun), penata pencahayaan, make-up artist, pengarah kostum, penata panggung, dan sound engineer, Addie MS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_rC_LrIRDnOM/R3HRdpUjJTI/AAAAAAAAAKg/iS9543Ney6I/s1600-h/Eric,+Jajang+and+the+casts.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://1.bp.blogspot.com/_rC_LrIRDnOM/R3HRdpUjJTI/AAAAAAAAAKg/iS9543Ney6I/s400/Eric,+Jajang+and+the+casts.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5148126156299642162" /&gt;&lt;/a&gt;Setelah memberikan penghormatan kepada audiens, mereka semua kemudian diberi karangan bunga oleh panitia dan tuan rumah pagelaran, sembari disoraki tepuk-tangan bermenit-menit. Di sinilah terasa ketulusan yang saling tercurah, antara para pementas yang serasa sedang memberikan sebuah persembahan untuk audiens dan audiens yang membalas persembahan tulus itu dengan apresiasi. Suasana yang mengharukan, sekaligus menimbulkan rasa rendah diri bila sesaat ngaca dan membandingkannya dengan profesi diri sendiri yang jauh dari ketulusan dan kesempurnaan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rintik hujan di malam hari mengiringi kepulangan kami dari sana, sambil berharap akan ada kesempatan untuk kembali lagi suatu hari—simply untuk berapresiasi, menikmati santapan rohani, dan merayakan kehidupan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10771740-7506041362074656123?l=stevie18181.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://stevie18181.blogspot.com/feeds/7506041362074656123/comments/default' title='Publier les commentaires'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10771740&amp;postID=7506041362074656123&amp;isPopup=true' title='0 commentaires'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10771740/posts/default/7506041362074656123'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10771740/posts/default/7506041362074656123'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://stevie18181.blogspot.com/2007/12/mengapresiasi-opera.html' title='Mengapresiasi opera'/><author><name>Stevie Sulaiman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02685787684909090570</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_rC_LrIRDnOM/RoEiB0NXSxI/AAAAAAAAAGU/tf75ldN9ZAY/s400/Bedroom_3.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_rC_LrIRDnOM/R3HIaJUjJRI/AAAAAAAAAKQ/uWUxg8TodNI/s72-c/%5Bgkj%5D+La+Boheme.illustration.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10771740.post-6361491643116401505</id><published>2007-12-03T17:40:00.001+07:00</published><updated>2007-12-06T19:51:44.091+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kutipan'/><title type='text'>[kompas] Warisan tradisi Maserati</title><content type='html'>Apa yang membuat orang Eropa menguasai dunia? Di antara sekian banyak faktor, salah satunya adalah keteguhan memegang tradisi masa lalu, keluwesan menjalani masa kini, dan visi jauh ke masa depan. Paling tidak, itu tercermin dari cara mereka membuat mobil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh Dahono Fitrianto&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah lama mobil-mobil buatan Eropa dipandang memiliki nilai lebih, baik dari sisi konsep, desain, hingga teknologi dibanding mobil buatan benua lain. Salah satu kelebihan itu adalah karakter kuat yang seolah mencerminkan karakter bangsa pembuatnya; anggun dan aristocrat dari Inggris, pragmatis dan kokoh gaya Jerman, eksotis cara Italia, dan keinginan tampil beda ala Perancis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karakter yang terbentuk dari landasan konsep kuat dan sejarah pergulatan panjang kemudian dijaga sebagai sebuah warisan tradisi turun-temurun. Gril horizontal sedan-sedan Mercedes Benz, bentuk body “botol coca-cola” Ferrari, hingga patung manusia bersayap di ujung kap mesin Rolls Royce bahkan sudah sampai pada tataran legenda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maserati, pabrikan mobil sport asal Modena, Italia, tak terkecuali mengikuti tradisi Eropa itu. Di ajang Geneva Motor Show, Maret silam, produsen mobil berusia 93 tahun itu memperkenalkan produk terbaru yang diberi nama GranTurismo. Hari Jumat (30/11), Kompas berkesempatan mencoba mobil berlogo trisula itu mengelilingi Singapura.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada pandangan pertama, mobil seharga 115.000 euro (sekitar Rp 1,5 miliar/harga on the road dalam kondisi standar di Eropa) ini mengingatkan pada siluet Aston Martin V8 Vantage buatan Inggris yang dirancang Henrik Fisker. Mulai dari gril besar seperti mulut menganga, moncong (bonnet) panjang, hingga desain lampu belakang (warna putih memanjang dikelilingi merah) di buritan yang pendek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, dengan ketelitian lebih lanjut baru terlihat karakter-karakter Maserati yang membedakan dengan Aston Martin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_rC_LrIRDnOM/R1PecRhtqNI/AAAAAAAAAJM/r7m-8x87uaY/s1600-R/%5Bkompas%5D+Maserati+GT.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://4.bp.blogspot.com/_rC_LrIRDnOM/R1PecRhtqNI/AAAAAAAAAJM/DIltPaq-UqM/s400/%5Bkompas%5D+Maserati+GT.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5139696177082378450" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;PININFARINA&lt;br /&gt;Melalui mobil ini, Maserati ingin mengembalikan makna mobil GT (gran turismo atau grand tourer) yang sesungguhnya. Sebuah mobil GT dirancang berkemampuan tinggi, aman, nyaman, dan menyenangkan untuk perjalanan jauh alias grand touring.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maserati GranTurismo dirancang sebagai mobil yang bisa digunakan sehari-hari, mudah dikendalikan, dan nyaman untuk perjalanan jauh tanpa menghilangkan kemampuan sport,” ujar Manajer Penjualan dan Pengembangan Bisnis Maserati SpA, Niccolai Simone.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paduan dari performa dan kenyamanan, fungsionalitas dan gaya Maserati dicoba diwujudkan pada GranTurismo. Warisan tradisi masa lalu dan visi masa depan Maserati dikompromikan secara seimbang dengan kebutuhan masa kini oleh rumah desain Pininfarina, yang dipercaya merancang GranTurismo. Asal tahu saja, Pininfarina adalah rumah desain yang merancang mobil-mobil legendaris, macam Ferrari Testarossa, Ferrari F40, Ferrari Enzo, hingga jawara rally dunia di era 1980-an, Peugeot 205.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pininfarina mengambil garis-garis desain futuristik dari mobil konsep Maserati Birdcage 75th, mobil yang khusus dibuat untuk memperingati ulang tahun ke-75 Pininfarina, 2005 lalu. Bentuk atap, fender, hingga velg berpola trisula diambil dari Birdcage.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara bentuk bonnet yang panjang dan kabin pengemudi yang menyambung dengan buritan mewakili warisan masa lalu Maserati, dan juga coretan khas Pininfarina. Desain tersebut sudah terlihat sejak seri A6 1500GT. “Maserati A6 1500GT adalah seri gran turismo pertama dari Maserati yang didesain Pininfarina dan diluncurkan di Geneva Motor Show 1947. Kini, 60 tahun kemudian, kami ingin mengulang sejarah itu,” ungkap Simone.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;FUNGSIONAL&lt;br /&gt;Tiga lubang udara di belakang sepatbor depan yang menjadi ciri khas GranTurismo diambil dari desain A6 1500GT. Warisan tradisi Maserati lainnya juga terlihat pada gril besar berbentuk oval dengan garis-garis vertical dan logo trisula tepat di tengah. Bentuk yang sama sudah bisa ditemui pada model Maserati 3500GT buatan 1957.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sini, gaya tak menihilkan fungsi. Tiga lubang udara di belakang roda depan itu berfungsi mengeluarkan udara panas dari ruang mesin. Sementara gril besar di depan berfungsi mengalirkan sebanyak mungkin udara untuk mendinginkan mesin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paduan masa lalu dan masa depan juga diterapkan pada interior. Panel-panel indikator di dasbor GranTurismo dipertahankan model analog memakai jarum, meski di antara spidometer dan takometer terdapat layar digital yang menunjukkan posisi gigi persneling, penunjuk arah perjalanan dan jarak (jika GPS diaktifkan), serta kecepatan akurat mobil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah dasbor, di antara lubang kisi-kisi AC, terpasang jam analog berbentuk oval yang merupakan ciri khas semua mobil Maserati sejak dulu. Di bawah jam yang terkesan kuno itu, terdapat layar LCD ukuran tujuh inci untuk menayangkan Maserati Multimedia System (MMS), yang terdiri atas sistem navigasi GPS, CD player, hingga komputer on-board dan bisa ditambah system telepon seluler GSM.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Spirit balap (selama 33 tahun pertama sejak didirikan 1914, Maserati adalah pembuat mobil balap; salah satu prestasinya adalah Juara Dunia Formula I pada 1957 dengan pembalap Juan Manuel Fangio dari Argentina) Maserati dihadirkan pada GranTurismo dengan mesin berkonfigurasi V8 4.244 cc yang mampu menembus kecepatan maksimum 285 kilometer per jam. Ini membuat Maserati tidak hanya anggun, tetapi juga bertenaga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pilihan&lt;br /&gt;SENTUHAN PERSONAL&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai salah satu merek mobil sport legendaris dari Italia, Maserati mempertahankan tradisi lama pembuatan mobil. Jika pabrik-pabrik mobil lain telah sejak lama menerapkan teknologi robot untuk memproduksi mobil secara massal, Maserati masih mempertahankan pembuatan mobil secara manual dengan sentuhan personal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membeli Maserati bagaikan memesan gaun malam atau setelan jas dari seorang perancang busana terkenal, butuh proses yang lama dan detail. Menurut Manajer Pemasaran dan Penjualan Ferrari-Maserati Indonesia, Arie Christopher, setiap pemesanan mobil Maserati harus dilakukan paling tidak tiga bulan sebelum mobil siap diantar ke garasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segala proses tersebut dibutuhkan karena setiap mobil akan dibuat sesuai dengan permintaan personal si pembeli sehingga satu mobil tidak akan pernah sama dengan mobil lainnya. Dalam pernyataan pers resmi Maserati, mobil Maserati GranTurismo menyediakan lebih dari empat juta pilihan kepada calon pembeli untuk memberi sentuhan personal pada mobil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mulai dari warna cat mobil, ukuran velg, perangkat suspensi tambahan, hingga warna bahan untuk setiap bagian interior bisa dipilih sejak awal. Bahkan, calon pembeli bisa memilih kombinasi warna berbeda-beda antara bahan pelapis jok dan jahitannya. “Satu mobil akan digarap oleh satu mekanik dari awal hingga selesai secara manual. Hanya perakitan mesin saja yang dilakukan komputer karena membutuhkan presisi,” papar Arie.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah mobil selesai dirakit, pembeli diberi kesempatan datang langsung ke pabrik Maserati di Modena, Italia, untuk melihat dan mencoba mobil, apakah sudah sesuai dengan kemauannya. “Seperti proses fitting saat Anda memesan jas,” imbuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak berhenti sampai di situ, Maserati bahkan menjalin kerja sama dengan merek busana Salvatore Ferragamo untuk merancang satu set tas dan koper yang sudah disesuaikan dengan bentuk dan ukuran bagasi GranTurismo. Kelengkapan tas dari kulit ini pun bisa dibuat khusus sesuai dengan pesanan pembeli mobil. Mungkin di masa depan pembeli pun bisa memesan celana khsus yang disesuaikan dengan bentuk jok mobil…&lt;br /&gt;(DHF)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikutip dari Kompas, Minggu, 2 Desember 2007.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10771740-6361491643116401505?l=stevie18181.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://stevie18181.blogspot.com/feeds/6361491643116401505/comments/default' title='Publier les commentaires'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10771740&amp;postID=6361491643116401505&amp;isPopup=true' title='0 commentaires'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10771740/posts/default/6361491643116401505'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10771740/posts/default/6361491643116401505'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://stevie18181.blogspot.com/2007/12/kompas-warisan-tradisi-maserati.html' title='[kompas] Warisan tradisi Maserati'/><author><name>Stevie Sulaiman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02685787684909090570</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_rC_LrIRDnOM/RoEiB0NXSxI/AAAAAAAAAGU/tf75ldN9ZAY/s400/Bedroom_3.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_rC_LrIRDnOM/R1PecRhtqNI/AAAAAAAAAJM/DIltPaq-UqM/s72-c/%5Bkompas%5D+Maserati+GT.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10771740.post-8499234325075165582</id><published>2007-12-03T14:09:00.000+07:00</published><updated>2007-12-03T14:54:19.072+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Nonton'/><title type='text'>Pemanasan sebelum JIFFest</title><content type='html'>Bulan Desember, seperti biasanya beberapa tahun terakhir, selalu menjadi bulan yang aku tunggu. Selain sudah dekat dengan perayaan Natal dan masa liburan, juga karena ada agenda tahunan: nonton JIFFest.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah salah satu hal yang membuat aku masih betah jadi penduduk Jakarta, karena kegiatan seni dan budaya hidup dan berkembang di sini. Sepertinya besok-besok kalau ternyata ditakdirkan untuk tidak menetap di Jakarta lagi aku masih akan mampir di bulan Desember khusus untuk nonton festival film ini, kalau masih terus ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, seperti tahun-tahun sebelumnya, sebelum “marathon” melahap belasan film sekaligus, aku melakukan “pemanasan” dengan nonton beberapa film.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimulai dengan dapet undangan gratis nonton Quickie Express, abis menang undian di website-nya (jarang-jarang euy menang undian…). Lalu weekend-nya, sehabis ikut seminar animasi di Blitz langsung sambung Lions For Lambs dan Beowulf—yang terakhir ini ternyata full-animasi; menakjubkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minggu depannya, minggu ini, “pemanasan” makin intensif dengan tiga film tambahan: The Kingdom, The Hitman, dan nonton DVD lama, The Beach (Danny Boyle, 2000). Yang terakhir ini unik banget, diangkat dari novel laris karya Alex Garland tentang sekelompok orang Barat yang menemukan pulau ganja di Thailand dan akhirnya tinggal di sana—diperbolehkan oleh penduduk setempat asalkan tidak memasuki sisi pulau yang terlarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_rC_LrIRDnOM/R1O1sBhtqMI/AAAAAAAAAJE/GMCbggplUCk/s1600-R/the-beach-movie.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://3.bp.blogspot.com/_rC_LrIRDnOM/R1O1sBhtqMI/AAAAAAAAAJE/RUtRvpyTLTw/s200/the-beach-movie.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5139651367688579266" /&gt;&lt;/a&gt;Sekilas film ini tampak mirip dengan Blue Lagoon (1980), terutama secara visual, bedanya tema dan cerita The Beach lebih dewasa—begitu juga auranya yang lebih seksi, khas Danny Boyle (Trainspotting, 1997; Millions, 2003); beda dengan Blue Lagoon yang cenderung eksotis dan sederhana. Di kedua film ini ditampilkan imajinasi tentang paradise, keindahan surga, di mana Blue Lagoon menampilkannya serupa Adam dan Hawa di Taman Eden (termasuk telanjangnya), kemudian The Beach lebih kritis mempertanyakan apakah meraih kenikmatan surgawi sepadan dengan mengorbankan nyawa seorang teman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara… di Jakarta, “kenikmatan surgawi” sesungguhnya sudah menunggu pekan depan. Sampai bertemu di JIFFest IX, 7-16 Desember 2007!&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_rC_LrIRDnOM/R1OtUhhtqLI/AAAAAAAAAI8/6OdWVzKIphI/s1600-R/%5BJIFFest2007%5D+Stevie.agenda.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://1.bp.blogspot.com/_rC_LrIRDnOM/R1OtUhhtqLI/AAAAAAAAAI8/nyjwfiDy-LM/s400/%5BJIFFest2007%5D+Stevie.agenda.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5139642167868631218" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10771740-8499234325075165582?l=stevie18181.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://stevie18181.blogspot.com/feeds/8499234325075165582/comments/default' title='Publier les commentaires'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10771740&amp;postID=8499234325075165582&amp;isPopup=true' title='0 commentaires'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10771740/posts/default/8499234325075165582'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10771740/posts/default/8499234325075165582'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://stevie18181.blogspot.com/2007/12/pemanasan-sebelum-jiffest.html' title='Pemanasan sebelum JIFFest'/><author><name>Stevie Sulaiman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02685787684909090570</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_rC_LrIRDnOM/RoEiB0NXSxI/AAAAAAAAAGU/tf75ldN9ZAY/s400/Bedroom_3.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_rC_LrIRDnOM/R1O1sBhtqMI/AAAAAAAAAJE/RUtRvpyTLTw/s72-c/the-beach-movie.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10771740.post-4554250246341793336</id><published>2007-12-03T14:07:00.000+07:00</published><updated>2007-12-03T14:09:06.218+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Budaya'/><title type='text'>Hard Disk</title><content type='html'>Tak terasa sudah hampir tiga tahun iBook 12-inch ini menemani keseharianku. Di kamar atau teras kos, di kantor, di kafe, di lounge bandara, di rumah. Entah sudah berapa tulisan yang pernah tercipta bersamanya, atau ide dan konsep-konsep yang belum laku terjual, berikut kerjaan, esje, dan berbagai macam foto yang pernah diedit dan disimpan di dalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku akhirnya ikut jadi konsumen yang membuktikan kehandalan produk Apple. Tidak pernah hang, hard disk-nya tidak pernah rusak, hanya batere saja yang sudah pernah KO beberapa bulan lalu. Itu juga lebih karena kelalaian pakai, sering lupa nge-charge sampai kosong. Maklum, lithium, seperti halnya charger ponsel, kalau sering sampai kosong jadi mudah drop.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yaa… namanya juga kuli kreatif, kebanyakan memang hidupnya amburadul, termasuk aku, keenakan ngelamun bablas ketiduran di depan komputer, lupa matiin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daya tahan iBook ini beda banget dengan komputer PC rakitan yang biasa aku pakai saat kuliah. Dari sejak pertama beli awal 2000 hingga lulus pertengahan 2003, sudah ganti hard disk sampai dua kali—bahkan yang kedua rusaknya pas tugas akhir, dan beberapa materi TA yang bagian awal ikut hangus tanpa bekas. Padahal kalau dipikir-pikir iBook-ku ini hanya “designed in California”, tapi produksinya tetap “Made in China”, makanya “hanya” 1000 dolaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ooo, mungkin Surabaya yang terlampau panas kali, man. Kan di sana puanass bangett.” Halah, redundant…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu-satunya keterbatasan iBook-ku adalah kapasitas hard disk yang “hanya” 30 GB—padahal Mac OS X sendiri (operating system Mac; semacam Windows di PC) makan sekitar 11 GB, plus berbagai macam software grafis jadi total sekitar 14 GB untuk program. Minus koleksi lagu 5 GB, akhirnya hanya sekitar 10-11 GB tersisa untuk space dan data.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Space ini pernah berkurang sampai hanya tinggal 4,5 GB karena data dan koleksi lagu bertambah, yang berakibat makin lambatnya processing dan mengoperasikan software-software secara paralel. Akhirnya sekitar setahun lalu aku beliin external hard disk 100 GB untuk menampung sebagian besar file yang sudah tidak aktif—sekaligus juga di-backup ke CD sebagian—dan processing kembali lancar. External hard disk ini juga kupakai untuk menampung file-file serupa di iMac-ku di kantor, dan lega kembalilah hard disk. Processing juga jadi jauh lebih lancar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hard disk sebuah komputer memang pada dasarnya memiliki dua fungsi utama, untuk processing dan menyimpan data. Dulu, saat masih menggunakan PC XT di akhir 1980-an (sebelum processor 286) tidak ada hard disk; sistem dan aplikasi juga menggunakan disket, seperti halnya menyimpan file. Disketnya lebar dan tipis seperti sleeve CD,  dan kapasitasnya hanya sekitar 300 KB (saat itu harganya Rp 2.000 hingga Rp 5.000; paling mahal merek Verbatim dan Sony yang berkisar Rp 4.500-5.000).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru beberapa tahun kemudian, sekitar 1989-1990, muncul disket 2HD yang berkapasitas 1 MB lebih—bisa untuk menampung sekaligus “command.com” dan beberapa games macam Digger dan Road Runner. “Command.com” inilah file utama berisi sistem DOS yang digunakan untuk mengoperasikan komputer, sumber dari segala aplikasi, dan tanpa disket ini di drive-A program-program tidak akan mau beroperasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekitar 1991-1992 barulah aku mengenal PC 286 yang menggunakan hard disk dengan kapasitas 40 MB. Desktop-nya sudah lebih kecil dan tidak terlalu makan tempat, tidak seperti PC XT yang segede bagong tapi kemampuannya sekecil unyil. Di sini program-program dan data sudah bisa disimpan di hard disk, sehingga saat start-up tidak perlu ada disket berisi “command.com” di drive-A. Saat masuk DOS pun, prompt-nya langsung menunjuk “&lt;C:\&gt;”, di mana kita bisa langsung memanggil program atau memilih program dari menu, seperti biasa dengan ketik “dir”, “dir/p” (pause per page), atau “dir/w” (wide; terbagi dalam kolom-kolom).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjelang 1993 monitor juga di-update dari CGA, peninggalan lapanpuluhan, ke SVGA (Super-VGA), sehingga bisa bebas main game perang KOEI macam Samkok (Romance of The Three Kingdom), Bandit King, Genghis Khan, dan Nobunaga’s Ambition.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komputer di rumah kemudian mengalami masa-masa kelam di paruh terakhir 1990-an dan baru mengalami upgrade lagi secara signifikan saat aku kuliah semester 2, awal 2000, menjadi Pentium III-550MHz dengan hard disk 20 GB. Games-nya pun langsung berubah drastis menjadi games sepakbola yang sudah begitu canggih: FIFA 2000 dan Championship Manager. Yang terakhir ini bahkan makan space lebih dari 1 GB sendiri untuk satu aplikasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi kemajuan memang berpeluang membuat manusia menjadi malas. Dari kebiasaan menyimpan file dalam disk terpisah jadi makin jarang dilakukan. Dan itulah yang kemudian menjadi tren sejak awal 2000: tren data hangus bersama hard disk, terutama di pengguna PC rakitan. Tren ini kemudian memunculkan istilah baru, “backup file”, aktivitas yang sebenarnya dulu tiap kali kita lakukan saat komputer kita masih sederhana (bukan barang baru) tapi lalu kita lupakan sama sekali ketika komputer kita sudah makin canggih. Kita menjadi naif dan terlalu percaya pada alat, bahkan terlalu mempercayakan hidup kita kepadanya. Pada saatnya alat itu akan berbalik memusnahkan kita sendiri, seperti digambarkan di trilogi Matrix.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke soal hard disk, kita sering tanpa sadar melupakan fungsi utamanya sebagai processor dan hanya menjadikannya gudang penyimpan file-file kita. Bahkan, banyak orang termasuk aku, pasti tak luput dari menyimpan rongsokan tak berguna di dalam hard disk. Ini sebenarnya adalah pemborosan space, dan dalam kapasitas tertentu menghambat kinerja hard disk saat processing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keputusan paling bijak sejauh ini tentu adalah menampung kembali file-file yang sudah tidak aktif ke dalam CD, DVD, external hard disk, atau website/weblog, agar hard disk bisa kembali punya banyak space kosong untuk memperlancar processing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal yang sama perlu juga kita lakukan pada otak kita sendiri, karena otak pada dasarnya juga seperti hard disk, punya dua fungsi utama: untuk processing dan menyimpan data. Memori-memori yang tidak perlu sebaiknya tidak usah ditimbun (alias dilupakan saja), sementara yang masih agak perlu dicatat dan disimpan, supaya otak kita tidak harus dipenuhi oleh ingatan-ingatan yang tidak perlu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau otak kita lebih kosong (walaupun melakukannya tak semudah mengucapkannya), tentunya berpikir bisa lebih jernih dan tangkas. Jangan sampai otak jadi terlalu penuh seperti otakku kemarin saat ikut babak final Daun Muda Awards—akhirnya hang dan nggak bisa processing. Gede tapi geblek, seperti komputer ketinggalan jaman.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10771740-4554250246341793336?l=stevie18181.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://stevie18181.blogspot.com/feeds/4554250246341793336/comments/default' title='Publier les commentaires'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10771740&amp;postID=4554250246341793336&amp;isPopup=true' title='0 commentaires'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10771740/posts/default/4554250246341793336'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10771740/posts/default/4554250246341793336'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://stevie18181.blogspot.com/2007/12/hard-disk.html' title='Hard Disk'/><author><name>Stevie Sulaiman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02685787684909090570</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_rC_LrIRDnOM/RoEiB0NXSxI/AAAAAAAAAGU/tf75ldN9ZAY/s400/Bedroom_3.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10771740.post-1182242725948911722</id><published>2007-12-03T14:00:00.000+07:00</published><updated>2007-12-03T14:05:30.970+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Inspirasi'/><title type='text'>Oleh-oleh dari Daun Muda Awards 2007</title><content type='html'>Terima kasih atas effort para pembina kegiatan Daun Muda—komponen-komponen PPPI, para pemberi materi workshop, volunteers, Inge-Nicko-Owen, Imago dan pihak sponsor lainnya—yang tidak hanya mencurahkan tenaga dan waktu berharga kalian, tapi juga harapan, baik secara langsung maupun tersirat. Harapan yang begitu tulus, yang hanya didapat di luar pekerjaan sebenarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Unfortunately not every ending is a happy ending… So, forgive us. Forgive me. I wish to return next term with a fresh spirit and something better.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Selamat buat Steve dan Burat.”&lt;br /&gt;(Om Bud, 19 Nov 2007, 5.05 pm)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu sama Burat masuk Daun Muda.”&lt;br /&gt;(Mas Djito, 19 Nov 2007)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Cakep. Terutama yang versi cerpen itu. Pastinya jadi outstanding dibandingkan entry lainnya. Bangga gue sama kalian berdua. Semoga menang deh dan Aim highernya tercapai. Amin.”&lt;br /&gt;(Om Bud, 19 Nov 2007, 7.07 pm)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Selamat ya. Lumayan, dari 83 pasang.”&lt;br /&gt;(Mas Totot)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Selamat ya Steve. Hehehe”&lt;br /&gt;(P. Ricky)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ayo, daun muda jangan sampai jadi daun tua he he…have fun and have guts…”&lt;br /&gt;(Mas Yanto, 27 Nov 2007, 6.28 pm)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Macs go go go!! Good luck bwat daun muda”&lt;br /&gt;(Juwt, 28 Nov 2007, 12.56 pm)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gutlak bsk! Met istirahat. Have a great presentation.”&lt;br /&gt;(Inge, 28 Nov 2007, 9.16 pm)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Selamat berjuang! Kalian pasti bisa! (dengan gaya takeshi castle) hehehe”&lt;br /&gt;(Cecil, 29 Nov 2007, 9.03 am)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Its ok. Pointnya diprosesnya kok. Bkn result. Result itu bonus. Gd luck.”&lt;br /&gt;(Om Bud, 29 Nov 2007, 4.35 pm)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah… Tetap SEMANGAT! Kalau lu masuk 3B gw kesana.”&lt;br /&gt;(Kendro, 29 Nov 2007, 4.52 pm)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jek gimana? Menang gak.. Kami semua pada berdoa”&lt;br /&gt;(Mas Eko, 29 Nov 2007, 6 pm)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gak apa.. Kita pada berdoa.. Kang asep lagi ke tempat kalian wakilin aku yah..”&lt;br /&gt;(Mas Eko, 29 Nov 2007, 6.14 pm)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“G’luck guys! God bless u both.”&lt;br /&gt;(Citra, 29 Nov 2007, 6.39 pm)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gpp.. Apapun itu akyu bangga kok.. Kalo kt Ali, kalian khompakk..”&lt;br /&gt;(Citra, 29 Nov 2007, 6.43 pm)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yah… sometimes we’re just too hard too ourselves.”&lt;br /&gt;(Sis, 30 Nov 2007)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gimana?”&lt;br /&gt;(Glenn, 30 Nov 2007, 1.23 pm)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Santai aja Steve. Yang penting pembelajarannya kok. Gue udah bangga banget kok lo berdua bisa masuk 10 besar.”&lt;br /&gt;(Om Bud, 30 Nov 2007, 2.36 pm)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10771740-1182242725948911722?l=stevie18181.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://stevie18181.blogspot.com/feeds/1182242725948911722/comments/default' title='Publier les commentaires'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10771740&amp;postID=1182242725948911722&amp;isPopup=true' title='0 commentaires'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10771740/posts/default/1182242725948911722'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10771740/posts/default/1182242725948911722'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://stevie18181.blogspot.com/2007/12/oleh-oleh-dari-daun-muda-awards-2007.html' title='Oleh-oleh dari Daun Muda Awards 2007'/><author><name>Stevie Sulaiman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02685787684909090570</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_rC_LrIRDnOM/RoEiB0NXSxI/AAAAAAAAAGU/tf75ldN9ZAY/s400/Bedroom_3.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10771740.post-6609803128333212708</id><published>2007-12-03T13:44:00.001+07:00</published><updated>2007-12-03T13:59:15.956+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerpen'/><title type='text'>Meraih mimpi tanpa tangan dan kaki</title><content type='html'>Ruang operasi yang lampunya bulat berpendar, dan tampak blur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak kusangka di bawah cahaya itu terakhir kalinya aku melihat kedua tangan dan kakiku, sebelum pisau bedah dan gergaji tajam para dokter mengamputasinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namaku Bara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlahir dengan fisik sempurna dan rupawan adalah berkah bagi sebagian orang, termasuk aku. Sepanjang masa kecilku hingga remaja kuhabiskan dengan bermain dan berfoya-foya, menikmati kekayaan orang tuaku yang memang pada saat itu dapat membelikan apa saja yang kuinginkan, kecuali satu hal: sepasang tangan dan sepasang kaki asli—ketika sebuah kecelakaan hebat menimpaku dan merenggutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak itu hidupku tak pernah sama lagi. Tak ada satu pun mainan dan harta kekayaan yang dapat membuatku berhenti menangis sepanjang hari. Aku pun berhenti dari sekolahku yang lama dan bersekolah di sekolah khusus anak cacat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga setengah tahun lamanya aku menghuni sekolah khusus itu, di mana aku berkenalan dengan Bayu, seorang remaja yang tangan dan kakinya sempurna namun tunanetra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perbedaan cacat inilah yang mungkin mempersatukan kami. Bayu sering menggendongku saat kami jalan-jalan, sementara aku yang bisa melihat menunjukkan jalan. Aku juga sering menyanyikan lagu dari buku lagu, sementara Bayu mendengarkan sambil kadang membetulkan intonasi dan cara membacaku yang memang sering asal itu :p&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami juga sering bertukar cerita tentang cacat kami masing-masing. Ia jadi mendengarkan kisah seorang cacat tangan dan kaki, sementara aku memperoleh pengalaman-pengalaman seorang tunanetra yang tak bisa melihat. Kami adalah sahabat yang saling melengkapi, dan begitu sempurnanya kami berdua sampai kami kadang melupakan cacat kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi saat-saat bahagia memang rupanya tak pernah berlangsung lama. Suatu hari Bayu tersandung mainan salah satu teman kami dan terjatuh, lalu kepalanya terantuk batu. Sejak itu ia tak pernah menggendongku lagi, apalagi membetulkan intonasiku saat bernyanyi. Bayu telah pergi untuk selamanya, meninggalkan aku yang tanpa tangan dan kaki ini sendirian di dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari-hari kembali penuh tangis. Dan entah kenapa kali ini rasa kehilangan itu terasa lebih berat daripada saat aku kehilangan kedua kaki dan tanganku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku pun makin menutup diri, dan berhenti dari sekolah khusus itu. Sehari-hari aku mengurung diri di rumah, sambil mungkin bertingkah gila, bercerita sendiri seakan Bayu ada di depanku untuk mendengarkan. Bernyanyi, bahkan berusaha berjalan sendiri dengan badan yang buntung ini sampai terpeleset dan jatuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itulah aku seperti disadarkan, tak ada gunanya lagi menangisi masa lalu. Tak ada gunanya menangisi yang sudah tidak ada. Bayu pernah membetulkan intonasi dan cara membacaku yang kurang bagus, dari situ aku bisa menyanyi dengan benar. Ternyata, bernyanyi membuat Bayu kembali hadir di dunia ini menemaniku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa bulan berlalu sejak itu, dan kali ini aku tidak pernah lagi berlatih sendiri—selalu terasa Bayu menemaniku. Ia mendengarkan, membetulkan kalau ada yang salah, seperti dulu biasa ia lakukan. Dan terakhir, yang paling penting, menghibur dan menyemangati aku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keluargaku yang mendengar aku sering berlatih bernyanyi berinisiatif mengikutkan aku ke dalam kursus kursus menyanyi. Bukan awal yang mudah, karena di sana aku bertemu dengan teman-teman sebaya yang serba “sempurna”, punya tangan dan kaki lengkap, tidak buntung sepertiku. Yang membuatnya lebih berat, mereka tidak menyambut baik dan mau berteman normal denganku—mereka risih dan malu—walaupun saat ujian mereka tidak pernah berhasil melampaui kemampuan suaraku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelebihan itulah yang perlahan tapi pasti semakin menyemangatiku dan menggiringku untuk bisa bergaul dengan orang normal, tanpa harus dianggap remeh karena kekuranganku. Ditambah dengan semangat Bayu, aku pun berhasil menjadi lulusan terbaik sekolah kursus itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain menjadi penyanyi, sekarang aku bekerja sebagai aktor suara—atau voice-over talent profesional, begitu biasa orang menyebutnya. Cita-citaku, ke depannya aku ingin terus bersama Bayu dengan menjadi penyanyi dan pengisi pengisi suara untuk film-film internasional. Karena dengan begitu aku dapat lebih menghibur lebih banyak orang lain yang mungkin sedang sedih atau mengalami penderitaan yang dulu kualami sehari-hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam usahanya menggapai cita-citanya yang tinggi, Bara Wardana meninggal dengan tenang di kediaman orang tuanya di Bandung, November 2006, setelah hampir setahun berjuang melawan penyakit kelainan jantung. Sebelum meninggal, ia beberapa kali menyanyi bersama kelompok orkes Melayu-Jawa di Jawa Tengah yang sering bernyanyi di ajang internasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Burat dan Stevie untuk Indonesia. Disiarkan melalui Citra Pariwara 2007.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10771740-6609803128333212708?l=stevie18181.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://stevie18181.blogspot.com/feeds/6609803128333212708/comments/default' title='Publier les commentaires'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10771740&amp;postID=6609803128333212708&amp;isPopup=true' title='0 commentaires'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10771740/posts/default/6609803128333212708'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10771740/posts/default/6609803128333212708'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://stevie18181.blogspot.com/2007/12/meraih-mimpi-tanpa-tangan-dan-kaki.html' title='Meraih mimpi tanpa tangan dan kaki'/><author><name>Stevie Sulaiman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02685787684909090570</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_rC_LrIRDnOM/RoEiB0NXSxI/AAAAAAAAAGU/tf75ldN9ZAY/s400/Bedroom_3.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10771740.post-2717348414641737752</id><published>2007-11-30T15:31:00.000+07:00</published><updated>2007-11-30T15:35:49.713+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kutipan'/><title type='text'>From John</title><content type='html'>"If you haven't reached your best yet, maybe it's because you need to fail more." (John Merrifield)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10771740-2717348414641737752?l=stevie18181.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://stevie18181.blogspot.com/feeds/2717348414641737752/comments/default' title='Publier les commentaires'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10771740&amp;postID=2717348414641737752&amp;isPopup=true' title='0 commentaires'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10771740/posts/default/2717348414641737752'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10771740/posts/default/2717348414641737752'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://stevie18181.blogspot.com/2007/11/from-john.html' title='From John'/><author><name>Stevie Sulaiman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02685787684909090570</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_rC_LrIRDnOM/RoEiB0NXSxI/AAAAAAAAAGU/tf75ldN9ZAY/s400/Bedroom_3.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10771740.post-5418607216882889059</id><published>2007-11-26T21:44:00.003+07:00</published><updated>2007-11-26T21:44:50.047+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>Busur</title><content type='html'>adalah busur&lt;br /&gt;dengan anak panah ia&lt;br /&gt;menjadi senjata ampuh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tangkai liatnya menumpu bidikan&lt;br /&gt;dan tali lesatnya melontarkan&lt;br /&gt;tembakan yang begitu&lt;br /&gt;deras&lt;br /&gt;menghujam&lt;br /&gt;menembus kepungan&lt;br /&gt;angin&lt;br /&gt;menyengat lawan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;anak panah&lt;br /&gt;adalah anak panah&lt;br /&gt;tanpa busur ia tetap&lt;br /&gt;sebuah panah tetap&lt;br /&gt;tajam&lt;br /&gt;tetap&lt;br /&gt;mematikan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tapi apalah arti&lt;br /&gt;busur tanpa anak panah&lt;br /&gt;ia hanya seutas&lt;br /&gt;tali dan sebatang&lt;br /&gt;pegangan&lt;br /&gt;diam&lt;br /&gt;membisu&lt;br /&gt;bagai pajangan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dan busur&lt;br /&gt;adalah busur&lt;br /&gt;dengan anak panah ia pernah…&lt;br /&gt;menjadi senjata ampuh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;demikianlah mereka akan selalu dikenang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;walau akan tiba saatnya nanti kemajuan&lt;br /&gt;jaman menciptakan mesin, mengusangkan busur, menimbunnya&lt;br /&gt;ke dalam kubur&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tapi sebelum detik&lt;br /&gt;itu tiba&lt;br /&gt;biarlah tangkai liat ini kembali&lt;br /&gt;menumpu dan tali lesat ini kembali&lt;br /&gt;menegang panjang hingga hampir&lt;br /&gt;putus&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bersiap&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;melontarkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tembakan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;yang paaaling jauh…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;… untuk yang terakhir kali.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10771740-5418607216882889059?l=stevie18181.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://stevie18181.blogspot.com/feeds/5418607216882889059/comments/default' title='Publier les commentaires'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10771740&amp;postID=5418607216882889059&amp;isPopup=true' title='0 commentaires'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10771740/posts/default/5418607216882889059'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10771740/posts/default/5418607216882889059'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://stevie18181.blogspot.com/2007/11/busur.html' title='Busur'/><author><name>Stevie Sulaiman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02685787684909090570</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_rC_LrIRDnOM/RoEiB0NXSxI/AAAAAAAAAGU/tf75ldN9ZAY/s400/Bedroom_3.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10771740.post-3096512971680008882</id><published>2007-11-26T21:44:00.001+07:00</published><updated>2007-11-26T21:44:24.295+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Makan-makan'/><title type='text'>Salad nikmad dan mantab di Chili’s</title><content type='html'>Minggu siang yang begitu terik. Kami berlima butuh tempat berteduh, dan segera. Lalu dipilihlah Chili’s yang hanya beberapa langkah dari gereja kami di bilangan Sarinah, Thamrin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah iced lemon tea yang kami pesan pertama untuk menyegarkan raga yang gersang ini, dan sejenak kemudian datanglah empat gelas raksasa (sebesar gelas bir) iced lemon tea plus coca cola dingin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari pertama kali masuk—ini pertama kalinya aku mengunjungi tempat makan yang hanya berjarak beberapa menit dari tempat tinggalku; where have I been?—sudah terasa atmosfer country-American dari desain interiornya yang a la diner: kursi berhadap-hadapan, pencahayaan ruangan yang serba kuning-orange, dan musik-musik khas Amerika. Felt like in a real by-the-desert diner, especially after those hot air outside.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Fajita Grill.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu salah satu hiasan grafiti bernuansa Mexico di tembok kaca itu, yang hampir saja kubaca “Fajita Girl”. I wonder how sexy it would’ve been, cewek dibalut tortilla, tomat, selada, dan dituangi saus Thousand Island :p&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ngomong-ngomong soal selada, aku akhirnya memesan buffalo chicken salad without the buffalo—karena lagi ga pengen banyak-banyak daging merah. Dan setengah jam kemudian, setelah kami menghabiskan sepiring besar fried calamari, appetizer kami, datanglah piring raksasa dengan (mungkin) puluhan lembar daun selada itu. Ow… a big lunch.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku pikir akan jadi perjuangan berat menghabiskan salad itu, karena aku sebenarnya tidak terlalu favorit sama selada mentah. Tapi ternyata aku salah, karena salad itu begitu sempurna—mungkin salad terenak yang pernah kumakan, melebihi chicken salad di Café Cartel, another American diner di gedung Djakarta Theater seberangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai terlintas di perasaan, jangan-jangan seladanya import… Ah, tapi entahlah, mana aku ngerti soal sayuran, orang sawi aja bingung yang mana :p Yang jelas, dari bukan penggemar selada, di resto… eh salah, diner, ini aku jadi jatuh cinta sama selada, sekaligus nggak keberatan di-charge sampai lebih dari lima puluh ribu untuk seporsinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang menu dan harga, Chili’s agak mirip dengan Café Cartel—sekitar Rp 100.000-an sekali makan per orang, termasuk minuman. Menunya juga sangat country-American, very traditional dan has that home-made cooking feel (not industrial or fast food), walaupun bukan berarti low calorie. Dan, kalau makan di diner a la Amerika ini siap-siap untuk batal diet karena porsinya barbar (untung aku pesennya salad; coba kalau steak atau burger, bisa mabok :p).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Porsi minumnya juga barbar—gelas lemon tea-nya sebesar gelas bir, dan bisa refill berkali-kali. Yang istimewa dari iced lemon tea di sini, lemonnya sangat terasa karena tehnya dicelupi potongan lemon sebesar seperempat buah, tidak hanya seiris tipis seperti di banyak tempat lain. Gula cairnya juga disajikan di wadah yang sangat tradisional, sejenis gelas berbibir (apa sih? :p) terbuat dari bahan stainless-steel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;So… tertarik? Mungkin kita harus makan di sini kapan-kapan… Mungkin lebih lucu lagi kalau sore atau malam, sambil ada gemerlap pemandangan seputar jalanan di sekitar Sarinah dan sepitcher bir. Cheers!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10771740-3096512971680008882?l=stevie18181.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://stevie18181.blogspot.com/feeds/3096512971680008882/comments/default' title='Publier les commentaires'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10771740&amp;postID=3096512971680008882&amp;isPopup=true' title='1 commentaires'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10771740/posts/default/3096512971680008882'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10771740/posts/default/3096512971680008882'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://stevie18181.blogspot.com/2007/11/salad-nikmad-dan-mantab-di-chilis.html' title='Salad nikmad dan mantab di Chili’s'/><author><name>Stevie Sulaiman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02685787684909090570</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_rC_LrIRDnOM/RoEiB0NXSxI/AAAAAAAAAGU/tf75ldN9ZAY/s400/Bedroom_3.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10771740.post-8761002617168093900</id><published>2007-11-26T21:43:00.001+07:00</published><updated>2007-11-26T21:43:44.406+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jalan-jalan'/><title type='text'>“Berkenalan” dengan komunitas animator</title><content type='html'>Sebenarnya ini bukan pertama kalinya aku “menyelinap” ke acara komunitas animator. Tapi entah karena sedang jenuh dengan kehidupan atau yang lain aku memutuskan menerima ajakan dari Astrid, AV producer di kantor, yang menawari undangan nonton acara CG Society yang memutar film animasi di Blitz, Sabtu kemarin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Astrid sendiri, dan dua orang teman sekantor lainnya yang berencana hadir bersama, membatalkan janji mereka sehari sebelum acara, dan jadilah aku sendirian ke sana. Makin “menyelinap” saja nih, nyaris tidak kenal siapa-siapa kecuali seorang teman ex anak magang yang kebetulan sedang nonton juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagian awal acara sangat tidak menarik, karena sudah bangun pagi jam 9 (ceile… jam 9 bangun pagi toh :p) dan menuju ke lokasi jam 10, ternyata baru registrasi dan acaranya baru mulai jam 12.45. Untung di Oh La La yang baru buka di lantai LG ada wi-fi gratis, dan jadilah aku menghabiskan jeda waktu itu di sana, sambil ditemani sepotong chicken pie dan Evian—karena sudah tidak bisa lagi menyeruput kopi, seperti biasanya, gara-gara jantung sudah mulai sensitif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, waktu yang dinanti-nanti pun tiba, tapi pengunjung kembali diuji kesabarannya karena pintu telat dibuka. Sesudah dibuka dan sampai di dalam pun acara masih belum siap, dan kami seruangan “dipersilakan” dulu nonton trailer film yang tidak ada hubungannya dengan acara talkshow hari itu. Plus bagi-bagi hadiah yang serba belepotan dan asal karena sepertinya tidak direncanakan untuk ada di bagian pembuka (ada di situ mungkin buat mengisi waktu akibat acara molor).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat semua sudah selesai pun kami masih harus melewati “ujian” terakhir, jualan sponsor sebuah sekolah animasi, sebelum akhirnya lewat jam dua menu utama disajikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menu utama dimulai dari jualan yang lain lagi, bedanya yang dijual kali ini unik, istimewa dan tidak banyak diperhitungkan orang sebelumnya, yaitu software animasi. Selama ini mungkin kalangan awam atau animator pemula sering menganggap sebuah proses pengerjaan animasi tinggal bikin pakai software yang ada, tinggal masuk-masukin ini dan itu, mengolah ini dan itu, dan that’s it. Padahal kalau konsepnya unik—dan tentunya didukung budget yang memadai—mereka bisa customize software mereka, atau bahkan memesan khusus ke pengembang software seperti Softimage ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Softimage adalah perusahaan pengembang software yang berbasis di Canada, memulai usahanya 21 tahun lalu, dan sudah meluaskan industri pengembangan software animasi tidak hanya untuk kebutuhan film-bumpers-iklan, tapi juga games. Beberapa nama besar pengembang games adalah klien tetap mereka, yaitu EA Sports dan Konami—untuk menyebut dua di antaranya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang benar bahwa semua berakar dari ide, imajinasi, dan skill SDM-nya, tapi tanpa dukungan pengembangan software sepertinya industri animasi tidak akan pernah melakukan terobosan dari waktu ke waktu. Hasil outputnya akan itu-itu saja, dan lama-lama membosankan. Jadi ini adalah cabang, atau support, atau partner yang integral dan tak terpisahkan dalam suatu upaya memajukan industri animasi. Di sinilah proses menyempurnakan, dan menciptakan fitur/filter/efek yang belum pernah ada menjadi ada, terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah menyusuri hilir, akhirnya kita sampai pada puncak acara, yaitu pemutaran film animasi “Sing to The Dawn” karya tim animasi Infinite Frameworks. Cerita film ini diadaptasi dari sebuah novel yang pernah populer sekitar 30 tahun yang lalu, tentang kehidupan di sebuah desa Melayu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keistimewaan dari film ini bukan pada kualitas visualnya—karena sejujurnya dekade lalu kita pernah menjumpai teknik animasi serupa di film-film Disney seperti Pocahontas dan Little Mermaid—tapi pada proses pengerjaannya dan siapa yang terlibat dalam pengerjaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk merender sekitar 5 juta frame yang ada hanya tersedia 20 orang animator, sangat sedikit bila dibandingkan dengan puluhan, bahkan ratusan, animator yang terlibat dalam umumnya film animasi produksi Hollywood. Kemudian, film ini juga akan menjadi catatan sejarah tersendiri bagi industri animasi Asia Tenggara, khususnya Indonesia, karena sebagian besar pekerja filmnya (animatornya) adalah orang Indonesia. Infinite Frameworks sendiri adalah perusahaan Singapore berbasis post-house, tadinya spesialisasi di film iklan, yang beberapa tahun terakhir berekspansi ke Batam dan merekrut banyak tenaga animator dari dalam negeri (Indonesia).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun beberapa peran sentral masih dijalankan oleh ekspatriat, yaitu penyutradaraan-penulisan skenario-dan animation directing, dan bahasa yang digunakan dalam film adalah bahasa Inggris, tapi Indonesia boleh berbangga SDM-nya sudah mulai beraksi kembali di pentas animasi regional, bahkan dunia, dan mudah-mudahan ini menjadi bekal semangat untuk kemajuan berikutnya. Siapa tahu tenaga animator Indonesia bisa menjadi bagian dari proyek-proyek besar seperti Lord of The Rings (1997-2003), A Scanner Darkly (2006), atau Beowulf (2007) yang begitu dahsyat animasinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu hal menarik lainnya dari acara talkshow ini adalah bagaimana audiens menyimak proses kerja seorang animation director—yang kebetulan dalam proyek “Sing to The Dawn” ini diperankan oleh penulis skenarionya juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata di proyek film animasi, seorang animation director tanpa sadar merangkap juga sebagian peran seorang sutradara di proyek film live-shoot, yaitu menciptakan dan mengarahkan karakter. Hal ini disebabkan karena tahap modelling yang membangun sebuah karakter dari nol, sehingga harus merinci sekaligus mendiferensiasi satu karakter dengan yang lain, mulai dari bentuk, warna, mimik, gestur, hingga detil gerakannya—dan mengapa mereka diciptakan demikian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedikit keluar dari acara CG Society ini, di proyek film A Scanner Darkly yang berbasis motion-capture (mo-cap) dan diterjemahkan ke dalam bentuk animasi menggunakan software khusus, proses modelling memang tidak mulai dari nol, namun peran seorang animation director tetap dibutuhkan untuk merinci dan mengarahkan detil karakter demi karakter. Ini disebabkan karena sebagus-bagusnya hasil output sebuah software, ia tetap masih generik, sementara pengkarakteran itu letaknya pada detil, sehingga tetap butuh keterampilan tenaga manusia untuk menyempurnakan bagian akhirnya—seperti hasil pengkarakteran yang begitu detil di film ini. Seperti ada pada cuplikan proses pembuatannya, di bawah animation director, tim-tim animator A Scanner Darkly bahkan dibagi per karakter. Jadi ada tim Keanu Reeves, tim Winona Ryder, tim Woody Harrelson, tim Robert Downey, Jr., dan tim Roy Cochrane. Masing-masing tim terdiri dari mereka yang paling paham terhadap karakternya, dikepalai oleh sejenis group animation head.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para animator ini kemudian mengerjakan proses finishing karakter frame demi frame (ya, frame demi frame, yang dalam sistem PAL artinya 25 frame untuk menjadi 1 detik adegan film). Bila kecepatan bekerja—tentunya didukung peralatan yang memadai canggihnya—rata-rata per hari kerja adalah 1 detik film, berarti untuk menyelesaikan animasi dari sekitar dua jam adegan film butuh 120 hari kerja, atau bila dihitung 5 hari kerja per minggu sama dengan 24 minggu, atau nyaris setengah tahun! Itu hanya proses finishing (tusir) saja, bukan the whole process, karena sebelumnya live-shoot sudah terlebih dulu dibantu diterjemahkan ke animasi menggunakan software. Itu juga belum termasuk proses editing awal (offline-cutting), shooting days, dan pre-production. And who knows how much money and time is that… Terus orang-orang pada nonton DVD bajakannya :p&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untungnya ané nggak termasuk yang beli bajakan A Scanner Darkly. Silakan… bagi yang juga tertarik beli versi original-nya, “hanya” Rp 99.000, sudah termasuk bonus materials berupa wawancara dengan filmmakers dan behind-the-scene. Selain nonton filmnya, bisa juga buat belajar-belajar kalau tertarik berkecimpung di bisnis animasi juga. Dan terakhir, yang tak kalah penting, buat koleksi dong :p&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10771740-8761002617168093900?l=stevie18181.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://stevie18181.blogspot.com/feeds/8761002617168093900/comments/default' title='Publier les commentaires'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10771740&amp;postID=8761002617168093900&amp;isPopup=true' title='0 commentaires'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10771740/posts/default/8761002617168093900'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10771740/posts/default/8761002617168093900'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://stevie18181.blogspot.com/2007/11/berkenalan-dengan-komunitas-animator.html' title='“Berkenalan” dengan komunitas animator'/><author><name>Stevie Sulaiman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02685787684909090570</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_rC_LrIRDnOM/RoEiB0NXSxI/AAAAAAAAAGU/tf75ldN9ZAY/s400/Bedroom_3.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10771740.post-1925133865798501309</id><published>2007-11-26T21:42:00.001+07:00</published><updated>2007-11-26T21:42:49.290+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>Le solitaire</title><content type='html'>dan terduduklah ia di kursi itu&lt;br /&gt;di ujung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;secangkir café&lt;br /&gt;sebutir biskuit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;wanginya semerbak dari jauh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;penanya terbuka&lt;br /&gt;tinta bercecer di atas&lt;br /&gt;kertas&lt;br /&gt;yang putih&lt;br /&gt;bersih&lt;br /&gt;yang kini penuh dengan coretan lukisan guratan goresan tulisan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;jarum terus berputar&lt;br /&gt;dan mentari mulai mengantuk&lt;br /&gt;tapi ia masih di kursi itu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sendiri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;di ujung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dengan secangkir café&lt;br /&gt;dan sebutir biskuit berikutnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;yang wanginya hanya bisa disemerbak dari jauh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;karena tak&lt;br /&gt;ada yang disambut olehnya selain&lt;br /&gt;secangkir&lt;br /&gt;café&lt;br /&gt;dan&lt;br /&gt;sebutir&lt;br /&gt;biskuit&lt;br /&gt;itu&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10771740-1925133865798501309?l=stevie18181.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://stevie18181.blogspot.com/feeds/1925133865798501309/comments/default' title='Publier les commentaires'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10771740&amp;postID=1925133865798501309&amp;isPopup=true' title='0 commentaires'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10771740/posts/default/1925133865798501309'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10771740/posts/default/1925133865798501309'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://stevie18181.blogspot.com/2007/11/le-solitaire.html' title='Le solitaire'/><author><name>Stevie Sulaiman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02685787684909090570</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_rC_LrIRDnOM/RoEiB0NXSxI/AAAAAAAAAGU/tf75ldN9ZAY/s400/Bedroom_3.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10771740.post-1661873066338160120</id><published>2007-11-05T08:31:00.000+07:00</published><updated>2007-11-05T08:32:24.037+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Musik'/><title type='text'>Tidur siang</title><content type='html'>Pada hari Minggu ku tidur siang di kamar&lt;br /&gt;Naik kasur istimewa, ku tidur di atas&lt;br /&gt;Di atas kasur lebar dan ruangan yang sejuk&lt;br /&gt;Di petak kamar dengan balkon hadap ke timur&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hey…&lt;br /&gt;Tidur siang tidur siang tidur siang lagi&lt;br /&gt;Tidur siang tidur siang oh nikmat sekali&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10771740-1661873066338160120?l=stevie18181.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://stevie18181.blogspot.com/feeds/1661873066338160120/comments/default' title='Publier les commentaires'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10771740&amp;postID=1661873066338160120&amp;isPopup=true' title='1 commentaires'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10771740/posts/default/1661873066338160120'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10771740/posts/default/1661873066338160120'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://stevie18181.blogspot.com/2007/11/tidur-siang.html' title='Tidur siang'/><author><name>Stevie Sulaiman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02685787684909090570</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_rC_LrIRDnOM/RoEiB0NXSxI/AAAAAAAAAGU/tf75ldN9ZAY/s400/Bedroom_3.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10771740.post-6696180638249138363</id><published>2007-11-02T15:45:00.000+07:00</published><updated>2007-11-02T15:51:38.769+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kutipan'/><title type='text'>From Jim</title><content type='html'>"I kept a lot of notebooks through high school and college, and then when I left school, for some dumb reason—maybe it was wise—I threw them all away... I wrote in those books night after night. But maybe if I'd never thrown them away, I'd never have written anything original—because they were mainly accumulations of things I'd read or heard, like quotes from books. I think if I'd never gotten rid of them I'd never been free."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(James Douglas Morrison)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10771740-6696180638249138363?l=stevie18181.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://stevie18181.blogspot.com/feeds/6696180638249138363/comments/default' title='Publier les commentaires'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10771740&amp;postID=6696180638249138363&amp;isPopup=true' title='0 commentaires'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10771740/posts/default/6696180638249138363'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10771740/posts/default/6696180638249138363'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://stevie18181.blogspot.com/2007/11/from-jim.html' title='From Jim'/><author><name>Stevie Sulaiman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02685787684909090570</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_rC_LrIRDnOM/RoEiB0NXSxI/AAAAAAAAAGU/tf75ldN9ZAY/s400/Bedroom_3.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10771740.post-301947066399089240</id><published>2007-11-02T14:43:00.000+07:00</published><updated>2007-11-02T15:04:13.438+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kutipan'/><title type='text'>"Express yourself! It's human nature..."</title><content type='html'>"A lot of people are afraid to say what they want. That's why they don't get what they want."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Madonna in "Sex" (book), 1992)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10771740-301947066399089240?l=stevie18181.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://stevie18181.blogspot.com/feeds/301947066399089240/comments/default' title='Publier les commentaires'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10771740&amp;postID=301947066399089240&amp;isPopup=true' title='0 commentaires'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10771740/posts/default/301947066399089240'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10771740/posts/default/301947066399089240'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://stevie18181.blogspot.com/2007/11/what-i-want.html' title='&quot;Express yourself! It&apos;s human nature...&quot;'/><author><name>Stevie Sulaiman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02685787684909090570</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_rC_LrIRDnOM/RoEiB0NXSxI/AAAAAAAAAGU/tf75ldN9ZAY/s400/Bedroom_3.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10771740.post-6431960150376043645</id><published>2007-10-29T13:47:00.000+07:00</published><updated>2007-10-29T14:17:55.016+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Liverpool'/><title type='text'>[lfc.tv] Steven Gerrard 400 up</title><content type='html'>by Paul Hassall, 28 October 2007&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;He's a Champions League winner, an FA Cup hero and one of the greatest players of the modern era. But it doesn't stop there for Steven Gerrard. Sunday will mark his 400th appearance for the Reds - yet another milestone in his glittering career.&lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_rC_LrIRDnOM/RyWC0KCEslI/AAAAAAAAAIk/UNMS4KYrMQM/s1600-h/251007-stevengerrard.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://4.bp.blogspot.com/_rC_LrIRDnOM/RyWC0KCEslI/AAAAAAAAAIk/UNMS4KYrMQM/s400/251007-stevengerrard.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5126647583389037138" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Cast your mind back to November 29, 1998. &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;It is the dying embers of a routine 2-0 win over Blackburn Rovers and a fresh-faced youngster from Huyton has just thundered into a challenge on the right-hand touchline in front of the Kop. &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;It inspires a huge cheer and brings a smile to the faces of the followers in the stand, as one of 'their own' achieves the reality of what thousands dream of - to play for Liverpool Football Club. &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;But what those supporters would not have realised at the time, was that it was the moment when one of the Reds' greatest ever players began his rise to the pinnacle of the world game. &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;It may have only been a cameo appearance when he came on as a 90th minute substitute for Vegard Heggem, but in that period of injury-time he showed the kind of commitment and drive that would become a feature of his Reds career. &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Fast forward to the present and Steven Gerrard is on the verge of making his 400th appearance for Liverpool when Rafael Benitez's side welcome Arsenal to Anfield on Sunday. &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;It is a significant landmark for a man who has become recognised as the heartbeat of the side during a decade of magnificent highs. &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Since that first appearance in a Reds shirt he has gone on to score 77 goals for Liverpool and boasts a repertoire of strikes to match anyone in the world. &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;From the moment he opened his account against Sheffield Wednesday in his 25th game for his hometown club through to the inspirational header in Istanbul that sparked a Reds revival, and a sensational double in the 2006 FA Cup final - he has developed into a man for the big occasion. &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_rC_LrIRDnOM/RyWDaKCEsmI/AAAAAAAAAIs/IbXBTOFNVK4/s1600-h/14aug_gerrard_head.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://4.bp.blogspot.com/_rC_LrIRDnOM/RyWDaKCEsmI/AAAAAAAAAIs/IbXBTOFNVK4/s400/14aug_gerrard_head.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5126648236224066146" /&gt;&lt;/a&gt;  &lt;br /&gt;As he leads the side onto the hallowed Anfield turf on Sunday, he will become only the 26th player in Liverpool history to reach that milestone figure for the Reds. &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;It is a proud moment and fitting that it comes in a top-of-the-table clash, against a side of Arsenal's calibre. &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;The skipper has enjoyed a rollercoaster ride against the Gunners over the years and in 20 appearances he has felt the full range of emotions, from the high of the 2001 FA Cup final victory to the low of the 6-3 Carling Cup defeat last season. &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;In that time he has struck three goals against Arsene Wenger's side, the best of which came at the Kop end during a magnificent 4-0 triumph back in December 2000. &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;A similar goal on Sunday would go some way to ensuring he rounds off his 400th appearance for the Reds in typical Gerrard-style. &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;THE STORY IN NUMBERS &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;League: 275 appearances, 45 goals &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;FA Cup: 20 appearances, 5 goals &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;League Cup: 18 appearances, 6 goals &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Europe: 82 appearances, 20 goals &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;FA Community Shield: 2 appearances, 0 goals &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;World Club Championship: 2 appearances, 1 goal &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Total: 399 77 &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;***** &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Most Appearances &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Chelsea 22 &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Arsenal 20 &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Manchester United 17 &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Aston Villa 16 &lt;br /&gt;Everton &lt;br /&gt;Newcastle United &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Middlesbrough 15 &lt;br /&gt;Tottenham Hotspur &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Bolton Wanderers 13 &lt;br /&gt;Manchester City &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;***** &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Most Goals &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Aston Villa 7 &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Total Network Solutions 5 &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Birmingham City 4 &lt;br /&gt;Bolton Wanderers &lt;br /&gt;West Ham United &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Arsenal 3 &lt;br /&gt;Everton &lt;br /&gt;Manchester City &lt;br /&gt;Middlesbrough &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;***** &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Landmark Matches &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;1st: November 29, 1998 v (H) Blackburn Rovers (sub)(League) W2-0 &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;100th: September 11, 2001 (H) v Boavista (Champions League) D1-1 &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;200th: September 28, 2003 at Charlton Athletic (League) L2-3 &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;300th: November 5, 2005 at Aston Villa (League) W2-0&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10771740-6431960150376043645?l=stevie18181.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://stevie18181.blogspot.com/feeds/6431960150376043645/comments/default' title='Publier les commentaires'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10771740&amp;postID=6431960150376043645&amp;isPopup=true' title='0 commentaires'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10771740/posts/default/6431960150376043645'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10771740/posts/default/6431960150376043645'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://stevie18181.blogspot.com/2007/10/lfctv-steven-gerrard-400-up.html' title='[lfc.tv] Steven Gerrard 400 up'/><author><name>Stevie Sulaiman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02685787684909090570</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_rC_LrIRDnOM/RoEiB0NXSxI/AAAAAAAAAGU/tf75ldN9ZAY/s400/Bedroom_3.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_rC_LrIRDnOM/RyWC0KCEslI/AAAAAAAAAIk/UNMS4KYrMQM/s72-c/251007-stevengerrard.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10771740.post-3344897760899134443</id><published>2007-10-29T08:25:00.000+07:00</published><updated>2007-10-29T13:57:12.169+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kongkow'/><title type='text'>Stipi anak Jakarté—Happy 4th Anniversary</title><content type='html'>(7 Oktober 2003-29 Oktober 2007)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;x/x: Wah udah berapa taun di Jakarta?&lt;br /&gt;o/o: Empat.&lt;br /&gt;x/x: Waduh, kerasan ya kena macetnya… Kalo aku kok nggak kerasan. Macetnya itu lho. Duh!!!&lt;br /&gt;o/o: (redundant)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;x/x: Wah, ini nih… anak Jakarté…&lt;br /&gt;o/o: E… (apa siy???)&lt;br /&gt;x/x: … udah berapa lama di sana?&lt;br /&gt;o/o: Empat taun.&lt;br /&gt;x/x: Kerasan?&lt;br /&gt;o/o: Lumayan.&lt;br /&gt;x/x: Kerja apa?&lt;br /&gt;o/o: Advertising.&lt;br /&gt;x/x: Ooo… bikin-bikin billboard itu ya?&lt;br /&gt;o/o: E… ya… salah satunya, tapi lebih ke desainnya.&lt;br /&gt;x/x: O jadi masangnya nggak?&lt;br /&gt;o/o: (???) E… nggak, itu biasanya ke supplier. Beda lagi bidangnya.&lt;br /&gt;x/x: Lha terus kamu ngerjain apanya?&lt;br /&gt;o/o: Desainnya. Umm… isi pesannya, gitu… iklannya.&lt;br /&gt;x/x: Ooo… desainnya ya… (???)&lt;br /&gt;o/o: E… iya, desainnya. (???)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;x/x: Udah piro taun nang Jakarta?&lt;br /&gt;o/o: Empat.&lt;br /&gt;x/x: Masih di perusahaan yang sama?&lt;br /&gt;o/o: Eh, iya. Di perusahaan yang terakhir ini udah 2 taun ini.&lt;br /&gt;x/x: Sebelumnya?&lt;br /&gt;o/o: Udah pernah di perusahaan lain.&lt;br /&gt;x/x: Ooo… enak ya bisa sering pindah-pindah.&lt;br /&gt;o/o: (emang virus pindah-pindah?)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;x/x: Wes piro suwe ndek perusahaan seng ini?&lt;br /&gt;o/o: Dua taunan, sekitar itu lah.&lt;br /&gt;x/x: Sek betah tah? Udah naek pangkat berapa kali? Udah naek gaji berapa kali?&lt;br /&gt;o/o: Eh… biasa aja sih. Promosi belum lah, masih butuh waktu lagi.&lt;br /&gt;x/x: Lha kok ndak pindah (w)ae ke tempat lain? Sapa tau langsung naek pangkat, naek gaji. Rugi kelamaan nunggu, selak tuwek (=keburu tua), blablabla, blablabla, blablabla…&lt;br /&gt;o/o: Oh ya, oh ya, oh ya… (bye!)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;x/x: Enak kerja ndek Jakarta?&lt;br /&gt;o/o: Asik sih.&lt;br /&gt;x/x: Jabatanmu apa sekarang?&lt;br /&gt;o/o: Art Director.&lt;br /&gt;x/x: Wah… wes direktur! Enak ya… Dapet mobil dari perusahaan?&lt;br /&gt;o/o: Eh, enggak sih. Bukan direktur kok, itu maksudnya pengarah seni.&lt;br /&gt;x/x: Ooo… pengarah seni… (???) terus kalo pengarah seni gitu dapeté apa?&lt;br /&gt;o/o: Komputer.&lt;br /&gt;x/x: Laptop gitu?&lt;br /&gt;o/o: Oh, nggak. Komputernya di kantor.&lt;br /&gt;x/x: Ooo… komputernya di kantor… (??? Apa asiknya????)&lt;br /&gt;o/o: (interogasi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;x/x: Wah, kerja di Jakarta ya… Wah, wah, wah… enak dong. Kalo cap tiauw (10 juta) aja pasti lebih.&lt;br /&gt;o/o: E…. hehehe… (mau bilang iya kok bo’ong, mau bilang nggak kok malu, jadi hehehe aja lah :p)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;x/x: Udah berapa lama kamu di Jakarta, Steve?&lt;br /&gt;o/o: Empat taun, Om.&lt;br /&gt;x/x: Udah dapet cewek belom?&lt;br /&gt;o/o: Eh, belom… Baru temenan-temenan aja sih, hehehe…&lt;br /&gt;x/x: Ya, nyari toh. Lha ga nyari-nyari kapan kawinnya?&lt;br /&gt;o/o: Eh, iya. Belum settle sih, jadi ya sabar dulu lah.&lt;br /&gt;x/x: Lha bukannya sebentar lagi kamu 30?&lt;br /&gt;o/o: Eh, iya. Masih 3 taun lagi. Lebih, sih… (itu sebentar lagi, ya?)&lt;br /&gt;x/x: Lha iya, udah sana cepet ndhang nyari…&lt;br /&gt;o/o: Eh iya… (lho, kok???)&lt;br /&gt;x/x: … daripada nanti telat lho kawinnya.&lt;br /&gt;o/o: Eh iya… (??????)&lt;br /&gt;x/x: Tambah tua nanti tambah uangel (=sulit) lho cari bojo.&lt;br /&gt;o/o: Eh iya… (???????????)&lt;br /&gt;x/x: Udah gitu nanti jarak umurnya sama anakmu kejauhan.&lt;br /&gt;o/o: Eh iya… (??????????????)&lt;br /&gt;x/x: Blablabla, blablabla, blablabla…&lt;br /&gt;o/o: (Dhuarrr!!!) Eh, iya, aku permisi bentar ya, Om… (sayonara, bébé!)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;x/x: Kerja ndek Jakarta, ya?&lt;br /&gt;o/o: Iya.&lt;br /&gt;x/x: Ndek bidang apa?&lt;br /&gt;o/o: Periklanan.&lt;br /&gt;x/x: Wah uenak dong, ketemu artis terus.&lt;br /&gt;o/o: Eh, ya. Nggak selalu, kok…&lt;br /&gt;x/x: Nama perusahaané apa?&lt;br /&gt;o/o: MACS909.&lt;br /&gt;x/x: Ooo… Mac.&lt;br /&gt;o/o: MACS. Pake “s”.&lt;br /&gt;x/x: Perusahaan asing?&lt;br /&gt;o/o: Bukan. Lokal.&lt;br /&gt;x/x: Ooo… lokal. Opo’o kok ndak ndek perusahaan asing ae? Enak toh, gajiné gedhé, dapet fasilitas ini-itu?&lt;br /&gt;o/o: (intimidasi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;x/x: Kerja ndek Jakarta, ya?&lt;br /&gt;o/o: Oh iya, Om.&lt;br /&gt;x/x: Kerja dhewek apa melok orang?&lt;br /&gt;o/o: Sik melok orang dulu, Om.&lt;br /&gt;x/x: Mosok enak melok orang? Opo’o ndak kerja dhewek (w)ae? Gajiné gedhé, tah? Dapet fasilitas apa (w)ae?&lt;br /&gt;o/o: (not again…)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;x/x: Udah berapa lama di Jakarta?&lt;br /&gt;o/o: Empat taun.&lt;br /&gt;x/x: Gak pengen balik Surabaya, tah?&lt;br /&gt;o/o: Sementara belom ada rencana sih.&lt;br /&gt;x/x: Enakan sana, tah?&lt;br /&gt;o/o: Lebih menarik sih, di sini.&lt;br /&gt;x/x: Tapi lak macet ndek mana-mana.&lt;br /&gt;o/o: Yah… tiap tempat ada kelebihan dan kekurangannya masing-masing.&lt;br /&gt;x/x: Udah gitu biaya hidupnya mahal…&lt;br /&gt;o/o: Iya sih.&lt;br /&gt;x/x: Udah gitu banjir…&lt;br /&gt;o/o: Iya sih.&lt;br /&gt;x/x: Udah gitu ke mana-mana jauh…&lt;br /&gt;o/o: Eh, kuenya enak, Tante? Itu namanya Fruitcake. Belinya di deket kantorku, ada toko roti uenak namanya Maison Bogerijen. Yang enak lagi di Okky &amp; Paul di Jalan Guntur, deket tempatku kerja praktek dulu. Blablabla, blablabla, blablabla…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Happy Anniversary. Semoga melewati empat tahun berikutnya dengan “selamat”.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10771740-3344897760899134443?l=stevie18181.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://stevie18181.blogspot.com/feeds/3344897760899134443/comments/default' title='Publier les commentaires'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10771740&amp;postID=3344897760899134443&amp;isPopup=true' title='1 commentaires'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10771740/posts/default/3344897760899134443'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10771740/posts/default/3344897760899134443'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://stevie18181.blogspot.com/2007/10/stipi-anak-jakarthappy-4th-anniversary.html' title='Stipi anak Jakarté—Happy 4th Anniversary'/><author><name>Stevie Sulaiman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02685787684909090570</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_rC_LrIRDnOM/RoEiB0NXSxI/AAAAAAAAAGU/tf75ldN9ZAY/s400/Bedroom_3.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10771740.post-2517722297666742632</id><published>2007-10-27T15:55:00.000+07:00</published><updated>2007-10-27T16:00:47.924+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='a la Stevie'/><title type='text'>Sebuah undangan</title><content type='html'>Terlalu sering kecewa kadang menyisakan luka batin yang membuat perasaan seseorang menjadi mudah keruh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contohnya beberapa waktu terakhir ini, saat ditelepon oleh seorang teman lama—yang sama-sama merantau ke Jakarta, namun lama tak saling kontak karena sibuk dengan urusan masing-masing dan berjauhan sudut Jakarta—yang mengajak bertemu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Curiga karena dia seakan insist untuk bertemu langsung di tempat tinggalku, ujug-ujug dan tidak seperti biasanya, pikiran pun terbawa ke praduga: jangan-jangan ngajak ikutan MLM (multi-level marketing). Yang seperti ini sudah berulang kali terjadi sejak masih SMA hingga beberapa waktu lalu saat sudah bekerja. Tanpa bermaksud merendahkan profesi itu—yang sebenarnya sebuah konsep marketing yang kreatif dan menarik—aku selalu bilang kepada teman-temanku itu bahwa door-to-door sales dan “khotbah” di seminar tentang sales bukan bakat dan minatku, apalagi dengan cara yang—mungkin karena salah pembawaan oleh sebagian orang—menjadi terkesan kurang fair dan memaksa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Papaku juga tidak luput dari beberapa orang temannya yang berprofesi serupa, mulai dari diam-diam didolani di rumah hingga diajak ke sana kemari, dikirimi kartu pos dari Eropa saat mereka sedang menikmati jalan-jalannya, hingga kembali didolani lagi—dan kali ini bisa berjam-jam, dan diulang terus berkali-kali sampai penghuni rumah yang lain (terutama aku) merasa terusik dengan kehadirannya, yang selalu tak kunjung pulang itu. Mana rumah kami tidak besar lagi, jadi sebagian gelombang suara—sekaligus tawa yang entah tulus atau tidak itu—sering tembus ke ruang-ruang sebelah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan pengalaman-pengalaman itu, termasuk yang terakhir aku alami di gym baru-baru ini, pembicaraan yang membuatku bosan duduk di sofa empuk selama lebih dari setengah jam ngomongin duit thok thok, muncul kembali ke permukaan isi kepala saat teman lamaku itu menelepon. Lalu dengan ancang-ancang menghindar aku mencoba mengalihkan tempat pertemuan di “zona netral”, di mal atau resto/kafe, supaya saat pembicaraan mulai kurang menarik aku bisa dengan mudah kabur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia lalu menutup pembicaraan kami dengan janji akan menelepon kembali sore harinya setelah urusannya di hari Sabtu itu selesai. Dan aku pun membalas dengan, “Eh tapi aku nggak bisa lama-lama ya… Mau jemput temenku yang satu lagi di bandara.” Yang ini beneran memang sudah rencana dari paginya akan menjemput ke bandara. Kebetulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sore harinya, menjelang malam, selepas nonton bioskop di Plaza Senayan aku pun sudah standby di salah satu kafe, bersiap kalau dia menelepon aku akan mengajaknya bertemu di situ. Dan… dia pun menelepon. Dia sedang berada di tempat tinggal salah satu teman kami yang lain. Aku makin dekat perasaan dugaanku tadi siang benar. Tapi belum selesai perasaan itu terasakan dengan penuh, dia meminta maaf harus membatalkan pertemuan kami karena sudah terlalu malam. Dan aku pun sedikit merasa lega.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagi-lagi, belum selesai lega itu terasa dengan penuh, perasaanku kembali bergejolak—dan kali ini terkejut bercampur malu—ketika ia mengutarakan maksud pertemuannya, yang ternyata ingin menyampaikan (langsung) undangan pernikahannya bulan depan. Dan sekejap itulah perasaan dan kata-kata seakan buyar terpecah, berkeping-keping. Tak bisa berucap apa-apa, dan mungkin tak akan pernah memaafkan diriku sendiri karena sudah memperlakukan ketulusan dan rasa hormat seorang teman lama dengan penuh rasa curiga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah mulai bisa memungut serpihan demi serpihan kata yang tercerai-berai tadi, aku lalu mulai menjawab sepatah dua patah kata dan menutup pembicaraan kami di telepon dengan janji bahwa aku pasti datang ke pesta pernikahannya. Janji ini bukan dimaksudkan sebagai ungkapan penyesalan dan minta maaf atas negative-thinking, tapi memang benar-benar kebersamaan terhadap sesama teman. Sedangkan penyesalan dan minta maaf itu sendiri—kalau memang cukup, tapi rasanya juga tidak akan cukup—ingin coba aku ungkapkan dengan tulisan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa detik setelah telepon itu ditutup, aku juga menelepon temanku itu kembali untuk mengucapkan kata “congrats!”, yang—entah apakah sudah sedemikian campur-aduknya pikiran ini—lupa terucapkan saat dia menceritakan rencana pernikahannya di pembicaraan telepon kami yang sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maapin temenmu yang picik ini ya, Man… Dan doain luka batin ini cepat sembuh, biar aku juga bisa dapet jodoh dan besok-besok gantian nganterin undangan ke kamu. Ntar kamu juga boleh bales dengan nggak mau nemuin aku, dan aku janji nggak akan sakit hati :p&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10771740-2517722297666742632?l=stevie18181.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://stevie18181.blogspot.com/feeds/2517722297666742632/comments/default' title='Publier les commentaires'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10771740&amp;postID=2517722297666742632&amp;isPopup=true' title='1 commentaires'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10771740/posts/default/2517722297666742632'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10771740/posts/default/2517722297666742632'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://stevie18181.blogspot.com/2007/10/sebuah-undangan.html' title='Sebuah undangan'/><author><name>Stevie Sulaiman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02685787684909090570</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_rC_LrIRDnOM/RoEiB0NXSxI/AAAAAAAAAGU/tf75ldN9ZAY/s400/Bedroom_3.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10771740.post-4212506117519866810</id><published>2007-10-20T13:43:00.000+07:00</published><updated>2007-10-20T14:14:31.691+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Advertising'/><title type='text'>Nama dan tek-len</title><content type='html'>"STARBRUK. Bintangnya kopi tubruk."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;x/x: Well, how much do you charge for this?&lt;br /&gt;o/o: Mmm, let's see... Two minutes, some paste-up and twirls here and there... That would be, umm, a glass of a real one.&lt;br /&gt;x/x: Aah, you're kidding me...&lt;br /&gt;o/o: No, it's charging you that would be a lot more kidding.&lt;br /&gt;x/x: But other agencies charge for such thing.&lt;br /&gt;o/o: Well, I'm not like the other agencies, I guess.&lt;br /&gt;x/x: So, what are you?&lt;br /&gt;o/o: Just, umm... some agency.&lt;br /&gt;x/x: Sam? I thought your name was Steve.&lt;br /&gt;o/o: Hmpfff... That would cost you another glass.&lt;br /&gt;x/x: But you said you couldn't drink too much.&lt;br /&gt;o/o: I don't. I'll spill it to your face.&lt;br /&gt;x/x: Hey... you're insulting the client. What's that supposed to mean?&lt;br /&gt;o/o: Only the finest agency does that, pal!&lt;br /&gt;x/x: ... means?&lt;br /&gt;o/o: Well, umm... what happens if you make a mistake and we keep telling it right or good?&lt;br /&gt;x/x: Hmm... stupid?&lt;br /&gt;o/o: Smart.&lt;br /&gt;x/x: Smart?&lt;br /&gt;o/o: Smart answer, I mean.&lt;br /&gt;x/x: Oh, ok... minal aidin wal faidzin deh.&lt;br /&gt;o/o: Lha yes, ngapain dari tadi ngomong pake Englais? Minal aidin wal faidzin juga, Lé...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10771740-4212506117519866810?l=stevie18181.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://stevie18181.blogspot.com/feeds/4212506117519866810/comments/default' title='Publier les commentaires'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10771740&amp;postID=4212506117519866810&amp;isPopup=true' title='0 commentaires'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10771740/posts/default/4212506117519866810'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10771740/posts/default/4212506117519866810'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://stevie18181.blogspot.com/2007/10/nama-dan-tek-len.html' title='Nama dan tek-len'/><author><name>Stevie Sulaiman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02685787684909090570</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_rC_LrIRDnOM/RoEiB0NXSxI/AAAAAAAAAGU/tf75ldN9ZAY/s400/Bedroom_3.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10771740.post-1260226624098072309</id><published>2007-10-09T14:44:00.001+07:00</published><updated>2007-10-09T14:55:48.332+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kongkow'/><title type='text'>THR dan Shopping</title><content type='html'>Duh, enaknya... yang udah terima THR. Bisa shopping.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Giliranku masih dua bulan lagi neh :-))&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10771740-1260226624098072309?l=stevie18181.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://stevie18181.blogspot.com/feeds/1260226624098072309/comments/default' title='Publier les commentaires'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10771740&amp;postID=1260226624098072309&amp;isPopup=true' title='0 commentaires'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10771740/posts/default/1260226624098072309'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10771740/posts/default/1260226624098072309'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://stevie18181.blogspot.com/2007/10/thr-dan-shopping.html' title='THR dan Shopping'/><author><name>Stevie Sulaiman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02685787684909090570</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_rC_LrIRDnOM/RoEiB0NXSxI/AAAAAAAAAGU/tf75ldN9ZAY/s400/Bedroom_3.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10771740.post-1682664531273694399</id><published>2007-10-08T08:10:00.000+07:00</published><updated>2007-10-08T08:11:42.875+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kongkow'/><title type='text'>Clueless</title><content type='html'>x/x: “Hari ini kmn?”&lt;br /&gt;o/o: “Blm tau.”&lt;br /&gt;x/x: “Wah, gawat nih, blm libur Lebaran udah clueless.”&lt;br /&gt;o/o: “Kalo gawat ke UGD aja :p”&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10771740-1682664531273694399?l=stevie18181.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://stevie18181.blogspot.com/feeds/1682664531273694399/comments/default' title='Publier les commentaires'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10771740&amp;postID=1682664531273694399&amp;isPopup=true' title='0 commentaires'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10771740/posts/default/1682664531273694399'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10771740/posts/default/1682664531273694399'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://stevie18181.blogspot.com/2007/10/clueless.html' title='Clueless'/><author><name>Stevie Sulaiman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02685787684909090570</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_rC_LrIRDnOM/RoEiB0NXSxI/AAAAAAAAAGU/tf75ldN9ZAY/s400/Bedroom_3.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10771740.post-1378328606984432761</id><published>2007-10-02T14:42:00.000+07:00</published><updated>2007-10-04T13:59:35.834+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Makan-makan'/><title type='text'>Tongseng “Mbak Sri”</title><content type='html'>Kehabisan referensi tempat makan siang di sekitar kantor kadang-kadang justru membawa berkat: jadi pengen nyobain tempat yang lebih jauh :p&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kali ini sampailah kami ke “negeri seberang”, tepatnya di balik Gedung Victoria (kantor Lowe Advertising) di seberang Pasaraya Grande. Jalan yang tidak terlalu ramai dan pojok yang lumayan teduh karena pohon-pohon, di situ kita akan menemukan sebuah warung tenda kuning, bertuliskan “Warung Soto Solo Mbak Sri”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lucunya warung ini lebih terkenal karena tongsengnya daripada sotonya. Saat itu pengunjung-pengunjung lain di meja sekitar juga pesan tongseng semua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin faktor utama yang membuat tongseng ini menarik adalah cara memasaknya yang menggunakan tungku arang, sebuah way of cooking yang sangat khas Jawa Tengah pedalaman—populer sekali di Solo dan Jogja. Orang Jawa Tengah pedalaman yang karakternya terkenal telaten (terasa juga dari budaya batik tulis dan tutur bahasanya) rupanya juga telaten dalam hal memasak. Dan jadilah tongseng yang baru sekali dimasak itu gurih dan meresap, layaknya rawon atau sop buntut yang sempat diendapkan semalam dan dipanasi kembali. Lidah pun menari-nari…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk memberi rasa pedas, tongseng Mbak Sri tidak menggunakan sambal, melainkan cabe rawit yang dipotong kecil-kecil. Rasa pedasnya lebih murni, dan lebih dahsyat. Aku yang kurang tahan rasa pedas akhirnya harus sering menenggak es kelapa muda yang seharusnya diminum setelah makan :p&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Es kelapa muda itu sendiri, yang bisa dipesan dari gerobak seberang Warung Mbak Sri, tak kalah dahsyat. Dengan lima ribu perak kita akan mendapatkan es kelapa muda yang tersaji dalam gelas sebesar gelas bir, daging kelapanya banyak pula. Menurut Bang Ali Sadikin, teman kantor yang merekomendasikan tempat makan ini, biasanya ada es cendol yang juga dahsyat—pakai tape ketan item—tapi sayang pada kunjungan kali ini si bakul lagi nggak jualan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau lagi nggak pengen sering-sering makan kambing, di warung ini kita juga bisa pesan sate ayam yang juga lezat rasanya—setidaknya ini sate ayam paling enak dibandingkan warung-warung sate di sekitar kantor kami di Panglima Polim III. Sate ayam Mbak Sri ini disajikan tanpa bumbu kacang, hanya kecap manis, yang dihiasi potongan tomat, bawang merah, dan cabe rawit yang juga bisa kita campurkan ke dalam bumbu kecap sesuai selera.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;x/x: "Hadoohhh..." (keringatan, habis kena pedasnya masakan)&lt;br /&gt;o/o: "Panas ya, Mas? Maap lho, AC-nya lagi mati lampu nih..."&lt;br /&gt;x/x: "Hahaha" (langsung sejuk lagi)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10771740-1378328606984432761?l=stevie18181.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://stevie18181.blogspot.com/feeds/1378328606984432761/comments/default' title='Publier les commentaires'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10771740&amp;postID=1378328606984432761&amp;isPopup=true' title='0 commentaires'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10771740/posts/default/1378328606984432761'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10771740/posts/default/1378328606984432761'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://stevie18181.blogspot.com/2007/10/tongseng-mbak-sri.html' title='Tongseng “Mbak Sri”'/><author><name>Stevie Sulaiman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02685787684909090570</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_rC_LrIRDnOM/RoEiB0NXSxI/AAAAAAAAAGU/tf75ldN9ZAY/s400/Bedroom_3.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10771740.post-2207603067493517529</id><published>2007-10-01T15:16:00.000+07:00</published><updated>2007-10-01T15:43:51.911+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kutipan'/><title type='text'>The finest therapist</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_rC_LrIRDnOM/RwCzBJFgXnI/AAAAAAAAAIc/nYNKR1Y2rnY/s1600-h/No+Reservations.4a.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://3.bp.blogspot.com/_rC_LrIRDnOM/RwCzBJFgXnI/AAAAAAAAAIc/nYNKR1Y2rnY/s400/No+Reservations.4a.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5116286008893136498" /&gt;&lt;/a&gt;Kate: “So what is this, a new therapy? Insulting client?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Therapist: “Only the finest therapist does that.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(No Reservations, 2007)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10771740-2207603067493517529?l=stevie18181.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://stevie18181.blogspot.com/feeds/2207603067493517529/comments/default' title='Publier les commentaires'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10771740&amp;postID=2207603067493517529&amp;isPopup=true' title='0 commentaires'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10771740/posts/default/2207603067493517529'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10771740/posts/default/2207603067493517529'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://stevie18181.blogspot.com/2007/10/finest-therapist.html' title='The finest therapist'/><author><name>Stevie Sulaiman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02685787684909090570</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_rC_LrIRDnOM/RoEiB0NXSxI/AAAAAAAAAGU/tf75ldN9ZAY/s400/Bedroom_3.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_rC_LrIRDnOM/RwCzBJFgXnI/AAAAAAAAAIc/nYNKR1Y2rnY/s72-c/No+Reservations.4a.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10771740.post-4715252735840522536</id><published>2007-10-01T15:15:00.000+07:00</published><updated>2007-10-01T15:16:19.432+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Makan-makan'/><title type='text'>Berkat di bulan puasa</title><content type='html'>Bulan puasa tidak hanya membawa berkat bagi teman-teman yang menjalankan ibadah puasa. Yang beragama lain seperti aku pun ikut menikmati berkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti biasa, di kantor kalau bulan puasa jam pulang kantor dimajukan setengah jam menjadi jam 5. Sorenya, menjelang buka puasa, juga selalu ada sajian jajan pasar—biasanya dipadu dengan kolak, es cendol, atau es-es lain yang manis—yang selalu tersedia dalam jumlah banyak. Kalau pas ada lebih ya lumayan, kita-kita yang nggak puasa dapet cemilan gratis. Kadang kalau lagi kumat diet bisa menghemat uang makan malam, karena sepotong-dua potong jajan dan segelas es ternyata lumayan “berat” :p&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu berkat pertama. Berkat kedua, yang makin hari makin melimpah, adalah berkat diskon. Yang paling terasa adalah diskon makan di rumah makan atau resto, secara kalau bulan puasa cari tempat makan siang relatif lebih susah. Kebanyakan warung kaki lima, “langganan” setia kami, tutup, sehingga kami yang tidak ikut berpuasa pilihannya tinggal dua: bawa bekal, atau pindah ke rumah makan/resto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun-tahun sebelumnya aku selang-seling makan di resto dan bekal—itu pun bekalnya roti atau nasi kotak, bukan masakan sendiri. Tapi belakangan karena makin banyak rumah makan/resto yang memberi diskon jadi lupa bekal :p&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu paket menarik spesial bulan puasa buat aku dan beberapa teman adalah di Bakmi GM, yang sebelumnya juga sering jadi pilihan tempat makan siang. Kalau biasanya seorang makan bisa habis di atas Rp 20.000—bahkan bisa Rp 30.000-an kalau pilih menu goreng dan pakai ekstra—selama bulan puasa ini ada paket menarik makan+minum Rp 16.500 nett. Mereka menyebutnya “Paket Berkat”, yang tersedia dalam 2 pilihan yaitu bakmi dan nasi ayam. Itu sudah termasuk sebotol teh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara umum belum bisa dibilang murah, secara standar kantong kami warung kaki lima, tapi menurutku untuk sebuah rumah makan fast food—yang rasanya lumayan dan tempatnya nyaman—harga ini sangat murah. Setidaknya lebih menarik daripada makan di kafetaria gedung-gedung kantoran atau McD.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kadang-kadang saat makan sempat terlintas di pikiran, pusing juga ya kalau punya usaha kuliner di bulan puasa. Kelihatannya mungkin ramai di jam buka puasa—bahkan mungkin berebut di beberapa tempat—tapi di jam-jam sebelumnya? Biasanya jam makan siang di Bakmi GM penuh, sekitar 90-95% meja terisi, tapi di bulan puasa ini tinggal mungkin 10, maksimum 20%-nya. Dan itu pun masih diskon, yang berarti penghasilan menyusut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah penghasilan menyusut, biaya operasional tetap, masih harus bagi-bagi THR pula. Kalau tidak disubsidi penghasilan bulan sebelumnya tentu tidak akan cukup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku hanya berharap semoga para pengusaha kuliner juga mendapat berkat yang cukup, seperti halnya kami para konsumen, karena bagaimanapun tanpa mereka kami juga tak akan beroleh berkat di bulan puasa ini.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10771740-4715252735840522536?l=stevie18181.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://stevie18181.blogspot.com/feeds/4715252735840522536/comments/default' title='Publier les commentaires'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10771740&amp;postID=4715252735840522536&amp;isPopup=true' title='0 commentaires'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10771740/posts/default/4715252735840522536'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10771740/posts/default/4715252735840522536'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://stevie18181.blogspot.com/2007/10/berkat-di-bulan-puasa.html' title='Berkat di bulan puasa'/><author><name>Stevie Sulaiman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02685787684909090570</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_rC_LrIRDnOM/RoEiB0NXSxI/AAAAAAAAAGU/tf75ldN9ZAY/s400/Bedroom_3.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10771740.post-8764599107402978802</id><published>2007-10-01T15:11:00.000+07:00</published><updated>2007-10-01T15:14:47.726+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Meditasi'/><title type='text'>Antara profesi dan pekerjaan</title><content type='html'>Peradaban dunia makin maju dan spesialisasi menjadi tren, tapi sebagian besar orang bahkan tidak bisa membedakan antara profesi dan pekerjaan. Dunia memang kontras, sekontras buruh tambang di Sierra-Leone dan pemasok berlian di London. Sekontras orang yang bikin iklan untuk menjual sebuah produk, sementara di belahan dunia lain produk dibuat untuk menjual sebuah komunikasi atau paham (misalnya di Apple Inc.).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sebuah film Timur Tengah yang baru-baru ini diputar di stasiun TV swasta, ada sebuah penggalan naskah yang diucapkan oleh tokoh ayah miskin kepada anaknya, “Kalau besok ayah dapat pekerjaan, nanti ayah belikan sepatu untuk kamu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat belum lama ini berkesempatan cuti pulang kampung, adik seorang teman juga berpesan, kalau ada pekerjaan di Jakarta tolong dia dikabari, mungkin berminat. Tiap tahun kita juga sering mendengar ada bursa kerja, di mana ribuan calon tenaga kerja berkumpul untuk mencari mata pencaharian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemahaman yang ada di masyarakat, bekerja berarti mata pencaharian. Kebutuhan utamanya adalah mengumpulkan uang dari upah yang dihasilkan. Uangnya bisa buat beli makanan, baju, sampai iPod dan gonta-ganti ponsel setahun tiga kali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua orang butuh dan harus bekerja karena butuh uangnya. Semakin banyak pekerjaan, semakin banyak uang yang dikumpulkan. Selalu tentang kuantitas, dan tak bisa dipungkiri untuk menopang hidup uang memang masih dibutuhkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain hasil dan skala, proses bekerja juga diukur secara kuantitatif. Durasi bekerja, misalnya. Ini bermacam-macam, mulai dari durasi harian (dalam sekian jam bisa menyelesaikan berapa layout, misalnya), durasi bulanan (dalam sebulan bisa menyelesaikan berapa project/campaign), sampai durasi tahunan (dalam setahun gue bisa ngumpulin berapa award, atau menang berapa pitch, misalnya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena sifatnya tangible, akhirnya semua measurement sebuah pekerjaan selalu bersifat numerik, kecerdasan berpikir dan berolah otak. Termasuk urusan overtime, di luar jam kantor nggak mau ngurusin pekerjaan, misalnya. Ya iya lah… ngapain waktu di luar kantor dibuang untuk ngurusin pekerjaan? Enakan jalan-jalan ke Bandung atau ngesje, bisa nambah uang jajan. Pekerjaan memang tidak layak diperlakukan istimewa; ia tak lebih dari sekedar medium untuk cari uang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana dengan profesi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sekilas kejapan, mungkin baru dua profesi yang bisa kita ingat: dokter, dan guru. Dokter praktek di klinik dan rumah sakit, tapi di luar jam prakteknya ia juga tetap dokter. Di saat darurat, kita bisa mengetuk pintu di tengah malam dan seorang dokter akan membantu. Guru juga selalu mendidik kapan pun ia berada, bahkan di luar jam sekolah. Setidaknya ayah saya pernah mengalaminya saat SMA, saat gurunya, seorang frater Belanda, memberikan tambahan pelajaran di luar jam sekolah tanpa memungut biaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah profesi tidak bisa diukur dengan kuantitas dan angka, bahkan logika. Ia muncul dari nurani sebagai suatu bentuk solidaritas—kalau bukan passion—terhadap kehidupan. Ia lahir untuk punya peran bagi kehidupan (uploading), bukan semata-mata mengeksploitasi kehidupan untuk kepentingannya sendiri (downloading). Ia bukan kewajiban, tapi kesadaran. Ialah akar dari lingkup solidaritas yang lebih besar: di lingkungan keluarga, tempat tinggal, komunitas tempat bekerja, dan kehidupan sebagai bangsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada satu ungkapan indah yang menyebut bekerja itu ibadah, atau dalam versi lain di sebuah film, “But when love and duty are one, then grace is within you” (The Painted Veil, 2006). Rasanya keduanya sama dan benar, bahwa pekerjaan kadang bisa memiliki nilai profesi, tergantung bagaimana kita memandang dan menjalaninya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kita persempit dan kembalikan ke pekerjaan kita di bidang advertising, sebagai penyampai pesan dan pemegang peran dalam perubahan perilaku di masyarakat, sebenarnya kita juga punya nilai profesi—yang lebih dari sekedar gelimang billing dan awards yang kita kumpulkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pilihannya, apakah kita mau mempertahankan nilai profesi itu, atau semuanya kita convert menjadi pekerjaan dan nilai bisnis. Apakah kita ingin pesan kita berguna bagi konsumen dan masyarakat, atau semuanya kita lakukan demi menang award atau memenangkan hati klien? Apakah kita suka punya profesi sebagai orang iklan, ataukah kita menjadi orang iklan hanya supaya masuk majalah dan naik panggung?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua tahun lalu, ketika pertama kali suka dan menekuni blogging, saya pernah mendapat pertanyaan, “Kamu memang suka menulis, atau baru menulis kalau ingin untuk sesuatu?” Alhamdulillah sampai hari ini saya masih suka menulis, suka blogging, dan suka dengan profesi sebagai orang iklan—with or without the award.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10771740-8764599107402978802?l=stevie18181.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://stevie18181.blogspot.com/feeds/8764599107402978802/comments/default' title='Publier les commentaires'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10771740&amp;postID=8764599107402978802&amp;isPopup=true' title='0 commentaires'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10771740/posts/default/8764599107402978802'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10771740/posts/default/8764599107402978802'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://stevie18181.blogspot.com/2007/10/antara-profesi-dan-pekerjaan.html' title='Antara profesi dan pekerjaan'/><author><name>Stevie Sulaiman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02685787684909090570</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_rC_LrIRDnOM/RoEiB0NXSxI/AAAAAAAAAGU/tf75ldN9ZAY/s400/Bedroom_3.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10771740.post-4084351229420988314</id><published>2007-10-01T14:51:00.000+07:00</published><updated>2007-10-01T15:10:53.544+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Nonton'/><title type='text'>Pesanlah apa saja, kecuali cinta</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_rC_LrIRDnOM/RwCrDpFgXmI/AAAAAAAAAIU/MDUhBWb3vks/s1600-h/noreservations.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://1.bp.blogspot.com/_rC_LrIRDnOM/RwCrDpFgXmI/AAAAAAAAAIU/MDUhBWb3vks/s200/noreservations.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5116277255749787234" /&gt;&lt;/a&gt;NO RESERVATIONS&lt;br /&gt;USA | 2007 | Sutradara: Scott Hicks&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasanya lucu orang yang belum berhasil—kalau bukan gagal—dalam kehidupan percintaan seperti aku, bicara soal cinta. Tapi mungkin headline inilah ekspresi yang paling jujur yang aku rasakan saat menonton film ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku pernah mengalami masa-masa menjadi the special one, seperti karakter Kate (diperankan Catherine Zeta-Jones) di film ini. Kemahiran dalam hal yang dikerjakan, dan kesuksesan yang menyertai, membuat pandangan terhadap hidup menjadi terlalu logis dan absolut. Seakan-akan ada satu takaran atau rumus yang pas dan standar untuk menilai semua kasus, seperti salah satu adegan di mana Kate marah tenderloin-nya dibilang kurang rare—ia tidak percaya pada customized customer, bahwa preferensi tiap orang bisa unik dan mungkin butuh perlakuan beda. Seakan-akan semua bisa dipesan seperti ikan dan truffle.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah sang keponakan cilik, Zoe (diperankan Abigail Breslin, Little Miss Sunshine), dan asisten di dapur resto, Nick Palmer (diperankan Aaron Eckhart), yang kemudian berkencan dengannya, yang memberikan pelajaran kepadanya tentang hidup dan cinta. Mencairkan hatinya yang beku dikuasai nalar, dan membuat hidupnya lebih mengalir. Let it flow, let it flow… Proses serupa yang terjadi padaku saat mengenal lebih jauh tentang seni dan budaya, setelah sebelumnya hanya banyak menyerap ilmu pasti semasa sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mudah-mudahan kisah hidupku juga berlanjut seindah akhir film itu: menemukan pasangan hidup, punya anak kecil yang lucu dan kreatif, dan punya petit café di downtown New York. Nah lho… jadi reserve-minded lagi neh…&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10771740-4084351229420988314?l=stevie18181.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://stevie18181.blogspot.com/feeds/4084351229420988314/comments/default' title='Publier les commentaires'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10771740&amp;postID=4084351229420988314&amp;isPopup=true' title='0 commentaires'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10771740/posts/default/4084351229420988314'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10771740/posts/default/4084351229420988314'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://stevie18181.blogspot.com/2007/10/pesanlah-apa-saja-kecuali-cinta.html' title='Pesanlah apa saja, kecuali cinta'/><author><name>Stevie Sulaiman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02685787684909090570</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_rC_LrIRDnOM/RoEiB0NXSxI/AAAAAAAAAGU/tf75ldN9ZAY/s400/Bedroom_3.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_rC_LrIRDnOM/RwCrDpFgXmI/AAAAAAAAAIU/MDUhBWb3vks/s72-c/noreservations.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10771740.post-6335467250872655231</id><published>2007-09-29T13:41:00.000+07:00</published><updated>2007-09-29T13:51:48.124+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Makan-makan'/><title type='text'>Biskuit sepanjang masa</title><content type='html'>Aku beruntung punya masa kecil yang menyenangkan, khususnya soal makanan. Mama yang berasal dari keluarga penggemar dan terampil memasak sering menghidangkan menu-menu lezat di meja makan keluarga kami, termasuk juga kue-kue klasik khas Londo, macam kaastengels dan semprijt.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi ada satu jenis kue favorit yang tidak bisa Mama buat—yang selalu kami sekeluarga dapat dengan membeli—yaitu biskuit khas Denmark Monde Butter Cookies. Biskuit ini sudah hadir di keluarga kami sejak jaman aku masih kecil, dan biasanya baru beli kalau pas dekat hari perayaan sesuatu, seperti Natal, Tahun Baru, atau hari ulang tahun. Jadi judulnya buat sajian tamu, sisanya (karena biasanya tamunya malu-malu, dan diharapkan demikian, hehehe) kami makan sendiri. Biasanya aku yang paling “giat” menyantap sisa-sisa ini :p&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_rC_LrIRDnOM/Rv306JFgXkI/AAAAAAAAAIE/u-zzhg8I2lQ/s1600-h/ButterCookies.foil.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://4.bp.blogspot.com/_rC_LrIRDnOM/Rv306JFgXkI/AAAAAAAAAIE/u-zzhg8I2lQ/s200/ButterCookies.foil.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5115514031471353410" /&gt;&lt;/a&gt;Lama sudah meninggalkan kebiasaan menyantap biskuit ini, beberapa hari terakhir aku berjumpa kembali dengannya di salah satu supermarket langgananku di Jl. Hayam Wuruk. Kali ini si biskuit dikemas dengan lebih baru dengan aluminium foil yang dilapis laminating dof—bahan kemasan yang cukup populer sejak 3-5 tahun terakhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Versi kemasan foil ini adalah versi murahnya, bobotnya lebih ringan. Mungkin memang sengaja dibuat untuk, misalnya, orang-orang seperti aku, yang suka tapi malas beli yang gede karena nggak tinggal sekeluarga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekitar 10-15 tahun yang lalu sebenarnya mereka juga pernah mengeluarkan versi kemasan foil, hanya saja bentuknya tidak semenarik yang baru ini. Dulu bentuknya memanjang dan foilnya di dalam, luarnya dibungkus lagi dengan karton seperti yang versi kaleng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari dulu produsen biskuit ini selalu tampak peduli dan serius dengan desain kemasannya, dan terbukti kemasan itu ikut membantu melindungi penampilan dan rasa biskuit. Yang versi kaleng besar, misalnya, bahan aluminiumnya lebih tebal dari kebanyakan biskuit sejenis sehingga biskuit tidak mudah remuk dan melempem. Kalengnya pun jadi tidak mudah penyok dan secara penampilan sangat layak saji—misalnya untuk tetamu dan dihidangkan bersama saat piknik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_rC_LrIRDnOM/Rv31zJFgXlI/AAAAAAAAAIM/EVgRokMl_EA/s1600-h/ButterCookies.reminder.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://4.bp.blogspot.com/_rC_LrIRDnOM/Rv31zJFgXlI/AAAAAAAAAIM/EVgRokMl_EA/s200/ButterCookies.reminder.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5115515010723896914" /&gt;&lt;/a&gt;Di kemasan baru ini aku juga menemukan keterangan baru yang sebelumnya tidak pernah tercantum di versi kemasan kaleng, yaitu anjuran tentang cara menyimpan yang baik untuk menjaga kesegaran dan kerenyahan biskuit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepertinya tidak banyak produsen yang sampai sedemikian peduli terhadap produknya seperti ini. Anjuran ini secara tidak langsung juga mengandung niat yang baik terhadap konsumen, bahwa kalau merasa kebanyakan tidak perlu sekali makan dihabiskan, bisa juga disimpan. Kebiasaan yang sering dilupakan oleh orang jaman sekarang—apalagi yang biasa merasa bisa cari duit dan mampu beli, yang sudah lupa cara berhemat atau diet.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10771740-6335467250872655231?l=stevie18181.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://stevie18181.blogspot.com/feeds/6335467250872655231/comments/default' title='Publier les commentaires'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10771740&amp;postID=6335467250872655231&amp;isPopup=true' title='1 commentaires'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10771740/posts/default/6335467250872655231'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10771740/posts/default/6335467250872655231'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://stevie18181.blogspot.com/2007/09/biskuit-sepanjang-masa.html' title='Biskuit sepanjang masa'/><author><name>Stevie Sulaiman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02685787684909090570</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_rC_LrIRDnOM/RoEiB0NXSxI/AAAAAAAAAGU/tf75ldN9ZAY/s400/Bedroom_3.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_rC_LrIRDnOM/Rv306JFgXkI/AAAAAAAAAIE/u-zzhg8I2lQ/s72-c/ButterCookies.foil.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10771740.post-5776517642776004183</id><published>2007-09-21T01:00:00.000+07:00</published><updated>2007-09-21T01:04:20.969+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Advertising'/><title type='text'>Potensi sebuah industri ditentukan oleh faktor regenerasinya</title><content type='html'>Itulah salah satu yang membuat aku sangat kagum pada sepakbola Eropa dan Amerika Latin. Di Eropa dan Amerika Latin, sepakbola sudah bukan lagi sekedar cabang olahraga, tapi sudah menjadi industri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Industri itu menjadi bisnis, yang mendatangkan uang dan menghidupi orang-orang di dalamnya—klub, para pemain, pelatih dan staf klub, sampai usaha merchandise dan media-media olahraga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sadar bahwa industri itu penting bagi kehidupan banyak orang, pihak-pihak di dalamnya, terutama pihak klub, melakukan usaha-usaha untuk terus meregenerasi tim sepakbolanya. Pembelian pemain-pemain baru, pembinaan pemain-pemain muda, sampai membuat akademi sepakbola. Beberapa di antara klub-klub yang serius menekuni regenerasi ini adalah Ajax (Belanda), Liverpool, Arsenal, Manchester United (Inggris), Juventus, AC Milan (Italia), dan Real Madrid (Spanyol). Terbukti dari dekade ke dekade klub-klub ini mampu eksis di papan atas kompetisi domestik maupun continental, dan terus menghasilkan pemain-pemain hebat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Klub-klub Amerika Latin, terutama Argentina dan Brasil, juga produktif menghasilkan pemain-pemain muda kelas dunia. Sayangnya mereka belum berhasil mempertahankan pemain-pemain terbaiknya, sehingga begitu pemain itu menginjak matang langsung diboyong oleh klub-klub Eropa yang mampu membeli mahal dan menggaji lebih besar. Tapi toh itu tidak menghentikan mereka untuk terus produktif menghasilkan pemain-pemain berbakat, macam Carlos Tevez dan Javier Mascherano (Argentina), Robinho (Brasil), dan terakhir Alexandre Pato (Brasil) yang baru berusia 17 tahun sudah diboyong AC Milan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ajax selama dua dekade terakhir juga menjadi “supplier” utama pemain-pemain top Eropa, mulai trio Van Basten-Rijkaard-Gullit, Dennis Bergkamp, De Boer bersaudara (sudah pensiun semua, sebagian menjadi pelatih), hingga generasi Edgar Davids-Patrick Kluivert-Clarence Seedorf-Boudewijn Zenden-Edwin van der Sar, dan terakhir Wesley Sneijder (dibeli Real Madrid) dan Ryan Babel (dibeli Liverpool).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PSV, klub kedua terbesar di Liga Belanda, juga tak pernah absen menghasilkan pemain-pemain bintang seperti Jaap Stam (pernah memecahkan rekor pembelian pemain bertahan Man Utd tahun 1998) dan Arjen Robben (sekarang bermain di Real Madrid). Atau Feyenoord yang menelurkan Dirk Kuyt (Liverpool), Robin van Persie (Arsenal), dan Royston Drenthe (Real Madrid).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alumnus akademi Liverpool-Arsenal-Man Utd juga tersebar di klub-klub Liga Inggris dan Liga Skotlandia, termasuk Liga Inggris divisi Championship dan divisi dua. Sebagian di antara mereka yang “beruntung” dan tetap bertahan di klubnya adalah Steven Gerrard dan Jamie Carragher (Liverpool), Gary Neville-Paul Scholes-Ryan Giggs (Man Utd). Mantan centre-back dan kapten Arsenal, Tony Adams, yang mengawali karir profesionalnya pada 1984 dan pensiun pada 2002, adalah produk akademi Arsenal. Begitu juga Paolo Maldini adalah lulusan akademi AC Milan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa klub Eropa juga mencoba strategi lain dalam meregenerasi timnya, yaitu dengan membeli pemain-pemain muda (tidak selalu dari akademi) dan memanfaatkan pemain-pemain hebat sebagai role-model pembelajaran pemain-pemain mudanya. Intinya, ilmu dan kultur itu harus terus dilestarikan dan diturunkan kepada generasi selanjutnya. Bahkan terus disempurnakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkembangnya sebuah klub tentu akan mempengaruhi perkembangan liga itu, dan berkembangnya liga-liga dalam suatu negara atau benua akan mempengaruhi keseluruhan industri sepakbola di negara atau benua itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini juga berlaku di banyak industri lain, sebut saja industri musik, industri film, dan sektor-sektor olahraga yang lain. Indonesia pernah memiliki industri bulutangkis yang sangat bagus, begitu juga China yang sampai sekarang tak hentinya menghasilkan pemain-pemain hebat kelas dunia. Bahkan banyak pemain yang tidak bisa tampil di tiap turnamen, karena posisinya kadang tergantikan oleh pemain lain yang lebih baik. Kompetisinya sedemikian ketat, termasuk terhadap yang lebih muda, yang tentunya membuat kualitas terus terasah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Industri iklan nasional, khususnya agensi iklan lokal, seharusnya bisa belajar dari industri-industri yang sudah maju ini. Selama faktor regenerasi terlupakan, industri tak akan berkembang dengan konsisten. Generasi emas dan para founding fathers akan habis waktu tayangnya, tapi di saat yang bersamaan generasi-generasi baru belum siap meneruskan. Akhirnya kualitas harus melorot, begitu pula bargaining power, dan kelestarian industri—termasuk kesejahteraannya secara bisnis—menjadi memprihatinkan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10771740-5776517642776004183?l=stevie18181.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://stevie18181.blogspot.com/feeds/5776517642776004183/comments/default' title='Publier les commentaires'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10771740&amp;postID=5776517642776004183&amp;isPopup=true' title='0 commentaires'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10771740/posts/default/5776517642776004183'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10771740/posts/default/5776517642776004183'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://stevie18181.blogspot.com/2007/09/potensi-sebuah-industri-ditentukan-oleh.html' title='Potensi sebuah industri ditentukan oleh faktor regenerasinya'/><author><name>Stevie Sulaiman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02685787684909090570</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_rC_LrIRDnOM/RoEiB0NXSxI/AAAAAAAAAGU/tf75ldN9ZAY/s400/Bedroom_3.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10771740.post-7381653985435321061</id><published>2007-09-18T15:06:00.000+07:00</published><updated>2007-09-18T15:07:40.134+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kutipan'/><title type='text'>[rd] Hutong yang hampir sirna</title><content type='html'>Modernisasi dan globalisasi tak luput melanda Beijing. Hutong kuno pun harus menjadi korban, tergusur berbagai kondominium, mal, McDonald’s dan Starbucks.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh Mike Meyer&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Detik-detik berlalu. Jam setinggi 12 meter di Lapangan Tian’anmen, menghitung mundur hari pembukaan Olimpiade musim panas 2008 mendatang. Pesta olahraga dunia yang oleh pemerintah Cina dianggap sebagai lambang keterbukaan negara itu. Papan-papan reklame di penjuru kota menjanjikan “Beijing Baru, Olimpiade Baru.” Beijing baru yang lebih besar, lebih luas, lebih hebat, dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi saya yang orang Amerika, kondisi semacam itu sebetulnya sudah biasa, namun justru membuat saya merasa tak nyaman. Separuh dari jutaan penduduk Cina tersingkir dari perkampungan tradisional mereka, atau hutong, dan digantikan dengan berbagai kondominium, mal, McDonald’s dan Starbucks.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi di sebelah selatan Lapangan Tian’anmen, di hutong tempat saya tinggal, kehidupan berjalan sangat lambat. Tak ada penunjuk waktu, dan orang-orang di sana tidak ada yang mengenakan jam tangan. Saya bahkan kesulitan menemukan jam di sekolah dasar tempat saya mengajar bahasa Inggris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya datang ke Cina pada 1995 sebagai anggota pasukan sukarela penjaga perdamaian, dan memutuskan tetap tinggal setelah masa tugas berakhir. Saya ingin merasakan pengalaman pola hidup yang berbeda dari yang selama ini saya alami di Amerika. Namun seiring perjalanan waktu, Cina berkembang. Kota-kota di negara itu pun berubah, semakin mirip negeri yang saya tinggalkan: pengendara sepeda berkurang; jumlah lapangan golf, tempat peristirahatan ski, klub dansa dan spa makin banyak, dan topik pembicaraan orang-orang di sana didominasi real estate.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awalnya saya tinggal di apartemen. Namun setelah dua tahun, saya masih juga merasa asing dengan para tetangga. Itulah sebabnya saya pindah ke sebuah kompleks perumahan dengan sewa Rp 900.000 per bulan. Tapi tampaknya tak lama lagi saya harus pindah dari sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hutong tempat saya tinggal tak berbeda dengan ribuan blok perumahan sejenis lainnya, yang banyak terdapat di Beijing. Hutong bagi orang Cina sama seperti kanal bagi orang Venesia. Gang-gang kecil yang padat itu diapit jajaran rumah bata berwarna abu-abu dengan halaman. Kebanyakan gang ini bahkan terlalu sempit untuk dilalui mobil, dan sebagian rumah sudah mulai rusak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini, hanya tinggal sekitar 1.500 hutong di Beijing yang tersisa. Padahal dulu ada 10.000 hutong. Dan angka ini akan berkurang setengahnya saat Olimpiade mulai diselenggarakan nanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah kemenangan Partai Komunis pada 1949, rumah-rumah hutong diambil alih pemerintah. Secara hukum, para penduduk tersebut jadi tak punya hak atau rumah milik mereka sendiri. Para pengembang yang bekerja sama dengan pemerintah kota memberi ganti rugi kepada mereka yang tergusur sebesar 9,8 juta rupiah per meter persegi. Padahal, tanah di sana sebenarnya berharga tiga kali lebih tinggi dari uang ganti rugi yang diberikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uang sebanyak itu tentu saja tak cukup untuk membeli rumah baru, bahkan apartemen sekali pun, di dekat kawasan tempat tinggal mereka sebelumnya. Apalagi untuk membeli sebuah unit paviliun baru bergaya Amerika di berbagai perumahan berpagar yang punya nama, seperti Park Avenue, Upper East Side, Napa Valley dan California Town.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebanyakan pemilik hutong harus pindah ke daerah pinggiran kota. “Saat dunia datang ke sini untuk menghadiri Olimpiade, orang tak akan percaya kalau ini adalah Beijing seperti yang mereka dengar dalam dongeng,” kata seorang pria dengan mata berkaca-kaca, sambil menyaksikan rumahnya yang berusia lebih dari seabad dirobohkan para pekerja. “Mereka merasa sedang berada di kota kelas tiga di Amerika,” lanjutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang janda masuk ke kamar saya tanpa mengetuk pintu. Topi koki yang telah mengempis menutupi rambut putihnya yang kaku. Sebatang rokok terselip di bibirnya. “Kamu harus makan sebelum mengajar,” katanya sambil menggenggam ubi rebus. Janda tua berusia 78 ini sudah tinggal di kompleks kami selama 40 tahun. Dia menempati kamar seluas 15 m2 yang dilengkapi satu tempat tidur, kursi, meja dan televisi yang selalu menayangkan saluran opera Peking. Suara mendayu bernada tinggi penyanyinya bagaikan soundtrack kehidupan kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang janda berjalan melewati pengerik tua dan melangkah tertatih menuju halaman rumah. “Beginilah enaknya hidup di tempat ini. Semuanya dekat,” katanya. “Kamu dapat merebus air di kompor, kemudian pergi ke pasar. Dan saat kembali dari berbelanja, air sudah mendidih!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari jendela berteralis di tembok setinggi tiga meter, saya melihat tetangga saya yang lain, yang pindah ke Beijing dari Manchuria delapan bulan lalu. Dia menghabiskan tabungannya untuk membuka toko reparasi telepon genggam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua hari lalu, ia diberi tahu kalau tokonya menghalangi jalan ke tempat perbelanjaan baru. Kemarin pagi, dia menjual lemari-lemari pajang, dan menutup tokonya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat memasuki halaman kompleks semalam, saya mendengar orang-orang bernyanyi sambil tertawa serak. Selusin pria tengah berkumpul di rumah tetangga saya itu, mengelilingi sebuah meja yang penuh botol bir kosong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya sedang berpesta karena hari ini, paling tidak, saya bisa bilang kalau punya pekerjaan,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Besok?” tanya saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagi orang miskin,” jawabnya sambil membuka botol bir berikutnya, “tak ada hari esok.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tinggal bersama sepasang suami istri, serta si janda, dalam kompleks kuno yang terbagi menjadi 12 tempat tinggal. Pintu masuknya berupa gerbang ukiran tradisional di sisi kanan dan kiri. Setelah melewati lorong sempit panjang, sampailah kita di halaman, yang keempat sisinya dibatasi kamar-kamar satu lantai dengan teras yang dibangun dari kayu warna merah tua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suasana di tempat itu sangatlah sepi. Satu-satunya bunyi adalah meongan kucing yang sesekali terdengar, atau embusan angin di sela-sela pepohonan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun tak seperti kompleks tradisional lain, tak ada pohon kesemek di tengah kompleks kami. Malah para pengunjung harus melintasi barisan jemuran yang dicuci dengan tangan dan air dingin biasa. Jika bukan karena Internet, hidup saya di sini terasa seperti setengah abad lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hutong kami adalah bagian dari lingkungan Qianmen, yang luas dan suasananya mirip Green Village di New York. Di sana ada restoran tua yang paling terkenal di seantero kota. Para seniman dan pedagang barang antik memenuhi sepanjang jalan Liulichang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak jauh dari sana ada Dazhalan, lokasi penjual kaki lima paling tua dan ramai di kota itu. Lokasi itu selalu padat dengan turis lokal yang ingin menikmati Beijing Tua, dan turis backpacker yang tinggal di kompleks losmen yang dulunya merupakan rumah bordil dan warung teh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pejabat kota menyebut tempat itu perkampungan kumuh, namun para penduduk menganggapnya sebagai kawasan perumahan dengan harga sewa murah. Sejarah kawasan itu sudah berlangsung selama 500 tahun. Daerah itu sempat menjadi “Chinatown” Beijing, karena suku Cina Han tidak diizinkan hidup di balik tembok itu pada masa pemerintahan Manchu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kompleks perumahan di dekat Fish Junction Lane sudah dirobohkan, padahal tempat itu termasuk kawasan cagar sejarah,” kata salah seorang tetangga saya mengingatkan. Kami sedang berjongkok berdampingan di toilet umum yang sama sekali tidak memiliki privasi. “Minggu ini mereka akan merobohkan Langfang Toutiao. Kami semua dulu sering berbelanja di sana. Kawasan itu ada di sebelah timur kita. Dan tebak apa yang ada di sebelah barat kita,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawabannya: Wal-mart pertama di Beijing. Dari balik jendela kelas, saya bisa melihat toko itu dan logo McDonald’s yang tampak samar di antara atap-atap rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keluar dari toilet umum, saya berjalan-jalan di pasar dekat tempat kami tinggal di Longevity Street. Jumlah kereta bayi yang sedang didoring di jalanan, melebihi kendaraan. Suasana ramai dengan suara gesekan penggorengan, kelotakan ubin Ma jiang dan teriakan penjaja koran. Para pembeli sibuk menawar semangka segar dan kubis, sambil makan kue goreng dan susu kedelai hangat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya berdiri dan menyaksikan semuanya: toko barang-barang antik, pemangkas rambut, tukang daging, ahli akupunktur, pet store, kantor pos, museum, kantor polisi, tukang pijat, kumpulan penarik rickshaw. Kemudian saya melihat sekelompok pejabat pemerintah lewat, membawa gulungan kertas berisi rancangan masa depan hutong, sambil memandang ke atas seperti sedang melihat gedung-gedung tinggi yang nanti akan dibangun di situ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Reader’s Digest Indonesia, September 2007)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10771740-7381653985435321061?l=stevie18181.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://stevie18181.blogspot.com/feeds/7381653985435321061/comments/default' title='Publier les commentaires'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10771740&amp;postID=7381653985435321061&amp;isPopup=true' title='0 commentaires'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10771740/posts/default/7381653985435321061'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10771740/posts/default/7381653985435321061'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://stevie18181.blogspot.com/2007/09/rd-hutong-yang-hampir-sirna.html' title='[rd] Hutong yang hampir sirna'/><author><name>Stevie Sulaiman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02685787684909090570</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_rC_LrIRDnOM/RoEiB0NXSxI/AAAAAAAAAGU/tf75ldN9ZAY/s400/Bedroom_3.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10771740.post-3869381397611899267</id><published>2007-09-04T13:08:00.000+07:00</published><updated>2007-09-04T13:37:39.247+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kado'/><title type='text'>Lunas!</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_rC_LrIRDnOM/Rtz2_RIGlBI/AAAAAAAAAH8/K_M0w9Pa6Og/s1600-h/Awas+kalo+ga+dpt+gold.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://2.bp.blogspot.com/_rC_LrIRDnOM/Rtz2_RIGlBI/AAAAAAAAAH8/K_M0w9Pa6Og/s400/Awas+kalo+ga+dpt+gold.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5106227644320879634" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10771740-3869381397611899267?l=stevie18181.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://stevie18181.blogspot.com/feeds/3869381397611899267/comments/default' title='Publier les commentaires'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10771740&amp;postID=3869381397611899267&amp;isPopup=true' title='1 commentaires'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10771740/posts/default/3869381397611899267'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10771740/posts/default/3869381397611899267'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://stevie18181.blogspot.com/2007/09/lunas.html' title='Lunas!'/><author><name>Stevie Sulaiman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02685787684909090570</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_rC_LrIRDnOM/RoEiB0NXSxI/AAAAAAAAAGU/tf75ldN9ZAY/s400/Bedroom_3.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_rC_LrIRDnOM/Rtz2_RIGlBI/AAAAAAAAAH8/K_M0w9Pa6Og/s72-c/Awas+kalo+ga+dpt+gold.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10771740.post-7298066852247603775</id><published>2007-09-04T12:22:00.000+07:00</published><updated>2007-09-04T13:05:28.463+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kado'/><title type='text'>Welcome, new partnership!</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_rC_LrIRDnOM/Rtz0whIGlAI/AAAAAAAAAH0/O9HbQ0OHPQc/s1600-h/Formasi+ideal.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://3.bp.blogspot.com/_rC_LrIRDnOM/Rtz0whIGlAI/AAAAAAAAAH0/O9HbQ0OHPQc/s400/Formasi+ideal.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5106225191894553602" /&gt;&lt;/a&gt;Stevie Sulaiman, Art Director | Burat Pangeran, Copywriter&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10771740-7298066852247603775?l=stevie18181.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://stevie18181.blogspot.com/feeds/7298066852247603775/comments/default' title='Publier les commentaires'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10771740&amp;postID=7298066852247603775&amp;isPopup=true' title='0 commentaires'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10771740/posts/default/7298066852247603775'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10771740/posts/default/7298066852247603775'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://stevie18181.blogspot.com/2007/09/welcome-new-partnership.html' title='Welcome, new partnership!'/><author><name>Stevie Sulaiman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02685787684909090570</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_rC_LrIRDnOM/RoEiB0NXSxI/AAAAAAAAAGU/tf75ldN9ZAY/s400/Bedroom_3.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_rC_LrIRDnOM/Rtz0whIGlAI/AAAAAAAAAH0/O9HbQ0OHPQc/s72-c/Formasi+ideal.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10771740.post-4830681605722114047</id><published>2007-09-03T20:09:00.000+07:00</published><updated>2007-09-03T21:42:58.463+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Romance'/><title type='text'>Sampai jumpa, Wisma Mulia...</title><content type='html'>SIMPAN SAJA&lt;br /&gt;Ecoutez | 2006&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;S'lalu saja kau dapat membuatku&lt;br /&gt;maafkan salahmu&lt;br /&gt;Dan kini kau ulangi&lt;br /&gt;salahmu yang itu-itu saja&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecewa ku dibuatmu&lt;br /&gt;Terluka kar'na sifatmu&lt;br /&gt;Dan kini ku tak mampu&lt;br /&gt;bertahan lagi...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuakui dirimu pernah berarti&lt;br /&gt;Dan memang hidupku hampa tanpamu&lt;br /&gt;namun lebih baik ku sendiri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Simpan saja rasa di hatimu&lt;br /&gt;Sudah lupakan&lt;br /&gt;Hasratku tak lagi untuk saling mencinta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah sampai di sini.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10771740-4830681605722114047?l=stevie18181.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://stevie18181.blogspot.com/feeds/4830681605722114047/comments/default' title='Publier les commentaires'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10771740&amp;postID=4830681605722114047&amp;isPopup=true' title='0 commentaires'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10771740/posts/default/4830681605722114047'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10771740/posts/default/4830681605722114047'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://stevie18181.blogspot.com/2007/09/sampai-jumpa-wisma-mulia.html' title='Sampai jumpa, Wisma Mulia...'/><author><name>Stevie Sulaiman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02685787684909090570</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_rC_LrIRDnOM/RoEiB0NXSxI/AAAAAAAAAGU/tf75ldN9ZAY/s400/Bedroom_3.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10771740.post-2220484592503321620</id><published>2007-08-27T09:30:00.000+07:00</published><updated>2007-08-27T22:58:01.192+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Budaya'/><title type='text'>Cin Lok</title><content type='html'>Jadi inget nama seorang teman Papaku, Ui Cin Hok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti halnya Chinese Hokkian yang lain, nama yang terdiri dari tiga kata itu artinya kata pertama adalah marga keluarga besar, kata kedua adalah marga generasi, dan kata ketiga baru nama orang itu sebenarnya. Dalam pergaulan sehari-hari kadang-kadang sering dijumpai orang memanggil dengan A Cong, A Lung, A Guan, dan sebagainya. Itu adalah “A” plus nama belakang. Semacam Bill untuk William, Jim untuk James, atau Tom untuk Thomas di masyarakat Amerika-Inggris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah ceritanya temennya Papaku ini punya empat saudara laki-laki semua, jadi total ada lima Ui Cin, salah satunya Ui Cin Lok. Tapi cerita selanjutnya ini nggak ada hubungannya dengan sodaranya temennya Papaku itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_rC_LrIRDnOM/RtJMgRIGk_I/AAAAAAAAAHs/AfTWNV7zEsM/s1600-h/Cleopatra+(1963).jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://4.bp.blogspot.com/_rC_LrIRDnOM/RtJMgRIGk_I/AAAAAAAAAHs/AfTWNV7zEsM/s200/Cleopatra+(1963).jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5103225445001106418" /&gt;&lt;/a&gt;Ini tentang Cin Lok yang versi Indonesia, cinta lokasi. Bukan juga maksudnya cinta sama sebuah lokasi atau tempat, tapi cinta yang terbentuk di suatu tempat karena kebetulan. Eh… bukan kebetulan juga sih, cuman ya lagi tempat dan suasananya pas saja, dan “setruman” itu tiba-tiba mampir dan ZZZTT!!! Tak lama kemudian terjadilah. Bisa sekedar tersipu-sipu aneh, salah tingkah, sampai… macem-macem :p&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Macem-macemnya juga macem-macem, artinya ya beraneka ragam gitu deh. Bisa cuman selingkuh mata, selingkuh perasaan, selingkuh belaian, selingkuh bibir, sampai selingkuh macem-macem :p Tapi itu kalo udah punya pasangan. Kalo jomblo kayak aku gini ya bukan selingkuh dong, namanya. Tapi ya tetep Cin Lok juga sih. Jadi… eeh… memang susah ya mendefinisikannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daripada mbulet terus, mending ngobrol tentang bagaimana rasanya saja. Mungkin ini lebih bisa terdefinisikan dengan bener.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian besar orang tentunya sependapat bahwa Cin Lok itu rasanya enak. Entah apakah karena sifatnya yang cuman sesaat, pelarian dan pembuang rasa bosen? Karena tidak terikat dan tidak ada tanggungan (memangnya kredit?), cuman jawaban aja sih kalau sampai terjadi hal-hal yang di luar batas kewajaran… Ya bukan di atas batas kewajaran juga sih, wong secara biologis cukup ilmiah dan lumrah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anyway, di dunia kerja yang dinamis dan melibatkan banyak pihak, salah satunya showbiz dan salah duanya advertising, Cin Lok ini sangat mudah terjadi dan oleh karenanya sangat banyak dijumpai. Sampai-sampai ada ungkapan kuno dan a la kaum “de haev” (bener ga nulisnya ini?) yang suka wanti-wanti anaknya jangan sampai dapet kalangan artis, karena anggapannya artis pasti sangat berpeluang Cin Lok dan akibatnya sangat berpeluang gonta-ganti pasangan. Mungkin kalau suatu hari masyarakat juga sudah fasih dengan profesi advertising—saat di mana mereka tidak lagi mengartikan art director sebagai direktur dan copywriter sebagai tukang ngurus hak cipta—kalangan ini jangan-jangan juga akan dicap sebagai calon mantu yang nggak baik pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal… padahal neh… yang namanya buaya itu amphibi, nggak pilih-pilih medan. Di air buas, di darat juga buas. Mau profesinya artis ato orang iklan, kalau setia ya setia. Mau profesinya ulama ato menteri, kalo sensor kelaminnya seperti si leher beton (lebih dominan daripada sensor otaknya) ya nggak akan cukup dengan satu perempuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lha abis enak seh… piye terus?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lho siapa yang bilang selingkuh itu nggak enak? Siapa yang bilang Cin Lok itu tidak enak? Cin Lok itu enak kok… Secara visual terpuaskan, secara emosional juga terekspresikan, nggak perlu pura-pura nggak suka kalau suka. Selanjutnya tinggal terserah kita masing-masing, apakah mau sebatas selingkuh mata saja, atau sampai selingkuh belaian dan pipi, atau selingkuh bibir, atau… selingkuh yang lebih dalam lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yah tentunya makin dalam selingkuhnya makin dalam juga risikonya. Kalau selingkuh mata paling-paling cuman dilabrak pasangan atau kaki kita diinjak dengan hak sepatunya yang lancip dan bertekanan sekian Pascal itu. Kalau selingkuh belaian dan pipi mungkin kita akan “disetrap” dan labrakan itu meningkat jadi makian. Kalau selingkuh bibir atau lebih dalam… ya mungkin bisa diajak bubaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi sebetulnya komitmen itu relatif. Manusia pada dasarnya bebas, tidak bisa benar-benar memiliki atau dimiliki manusia yang lain. Manusia pada dasarnya suka dengan hal baru. Baju baru, sepatu baru, mobil baru, film baru, mal baru, restoran baru, ide baru. Cin Lok itu juga mostly sama, ia seperti sesuatu yang kita suka karena baru, karena fresh dan refreshing, karena membuat kita lari sesaat dari kenyataan yang mungkin menjenuhkan, dan oleh karena semua itu ia sifatnya temporary, sementara, atau di dalam dunia advertising disebut dengan istilah tactical campaign.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cin Lok itu seperti travelling, bertemu dengan teman-teman baru atau teman-teman lama tapi dengan suasana baru—yang oleh karenanya muncul hal-hal baru darinya. Cin Lok itu seperti clubbing dan alkohol, yang membuat kita mabuk sesaat dan melupakan segala masalah kehidupan kita. Cin Lok itu seperti clubbing dan alkohol, yang enak dan bikin kecanduan, yang kalau kelewat batas tidak lagi membuat kita melupakan masalah kehidupan kita, tapi malah mendatangkan masalah baru dan menambah beban hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi… mau Cin Lok ya Cin Lok aja, nikmati kenikmatan duniawi, tapi jangan lupa daratan sampai tak bisa membedakannya dengan lautan. Ntar jadi buaya lo.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10771740-2220484592503321620?l=stevie18181.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://stevie18181.blogspot.com/feeds/2220484592503321620/comments/default' title='Publier les commentaires'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10771740&amp;postID=2220484592503321620&amp;isPopup=true' title='0 commentaires'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10771740/posts/default/2220484592503321620'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10771740/posts/default/2220484592503321620'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://stevie18181.blogspot.com/2007/08/cin-lok.html' title='Cin Lok'/><author><name>Stevie Sulaiman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02685787684909090570</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_rC_LrIRDnOM/RoEiB0NXSxI/AAAAAAAAAGU/tf75ldN9ZAY/s400/Bedroom_3.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_rC_LrIRDnOM/RtJMgRIGk_I/AAAAAAAAAHs/AfTWNV7zEsM/s72-c/Cleopatra+(1963).jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10771740.post-5637899464838706179</id><published>2007-08-22T18:15:00.000+07:00</published><updated>2007-08-22T18:20:47.915+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Liverpool'/><title type='text'>[lfc.tv] A letter from Luís García</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_rC_LrIRDnOM/RswbjRIGk-I/AAAAAAAAAHk/gD88i7Gko4M/s1600-h/Lui%CC%81s+Garci%CC%81a.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://2.bp.blogspot.com/_rC_LrIRDnOM/RswbjRIGk-I/AAAAAAAAAHk/gD88i7Gko4M/s200/Lui%CC%81s+Garci%CC%81a.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5101482770610688994" /&gt;&lt;/a&gt;Dear Reds, &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;First of all I'd like to apologise for not having been back in touch sooner, but I needed to take some time to take on board all the recent changes and then to put down these words for you. &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;I'm sure you will understand. &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;I would rather this be a letter of thanks and gratitude, not simply a goodbye. &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Yes, that's right, gratitude, because that is the word that best sums up my feelings for you all. &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Taking the decision to change clubs hasn't been easy. Not easy at all. &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;I've experienced three fantastic years at the club and in the city. Three years in which together, the fans and the team, we have accomplished some fantastic achievements, and I'm sure that these successes will continue to be repeated in the near future. &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;You know that I like a challenge and that I don't just settle for second best. &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Back then Liverpool Football Club gave me the opportunity to be part of an ambitious plan to put the Reds back at the summit of the game. &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;I think that together we managed to achieve that. &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;As I said, I do like challenges and in spite of the fact that at that time I was playing for my home town club, one of the biggest in the world, I wanted to be a part of that project that was being presented to me by Liverpool, and so I accepted the challenge. &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Now, after three seasons in the Premier League and having won some major trophies, the chance came up for me to return to La Liga and be part of a new project at a club I already knew. &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;The idea of enjoying things in a Spanish club like we experienced together at Liverpool over these last three years appealed to me, and that's why I accepted the offer. &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;I want to thank everyone working at Liverpool Football Club for how well they have treated both my family and I, making us feel at home from the very first day to the last. &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;I also want to thank the management, coaching staff and directors for the opportunity they gave me back then to be part of such an important and well-loved club as Liverpool. A club which has helped me to grow as a footballer and where to date I have enjoyed the biggest success of my career. &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Without a doubt, this success has been possible thanks to the outstanding group of players with whom I've been able to share a dressing room over the last three seasons. &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;I'm not going to mention anyone specifically, because I think that the secret of this team's success has been exactly that: nobody wanted to stand out above the rest and there has always been a great togetherness in the squad, which made it into something more than a group of players, it was a group of friends. &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Thanks to all of you for your help and your friendship. &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;I've left until last the thank you which for me is the most important: Thank you to the supporters. &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Your support allowed me to settle quickly at both the club and in the city, and you made me feel really at ease with you all right from the word go; that's the kind of help that you notice most of all during the difficult times, of which there have been a few during my time here. &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;I'd like to especially thank you for making up a song for me and you should know that every time I heard you singing it, it was like an extra injection of strength and motivation, even helping me to overcome pain occasionally during a game. &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Your unconditional support is the thing that ensures that this team manages to pull through in the most difficult circumstances; and I can assure you that the whole squad is aware of this and thanks you for it. &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;A football club isn't just made up of players, coaches and directors. More than anything else it's the supporters who make a club, and that perhaps is the ingredient which best distinguishes Liverpool Football Club from every other team. The supporters. &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Because if one thing has remained obvious to me after these few years, it's that with supporters like you, Liverpool Football Club will never walk alone. &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;I really hope that the club wins lots of major trophies in the future; I'll be following it all from a distance, with the pride that you can only get from having been a Red and played for the home team at Anfield – a ground that every football fan must visit at least once in their life. &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Thank you for everything. Yours most sincerely, &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Your friend, Luís García&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10771740-5637899464838706179?l=stevie18181.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://stevie18181.blogspot.com/feeds/5637899464838706179/comments/default' title='Publier les commentaires'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10771740&amp;postID=5637899464838706179&amp;isPopup=true' title='0 commentaires'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10771740/posts/default/5637899464838706179'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10771740/posts/default/5637899464838706179'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://stevie18181.blogspot.com/2007/08/lfctv-letter-from-lus-garca.html' title='[lfc.tv] A letter from Luís García'/><author><name>Stevie Sulaiman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02685787684909090570</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_rC_LrIRDnOM/RoEiB0NXSxI/AAAAAAAAAGU/tf75ldN9ZAY/s400/Bedroom_3.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_rC_LrIRDnOM/RswbjRIGk-I/AAAAAAAAAHk/gD88i7Gko4M/s72-c/Lui%CC%81s+Garci%CC%81a.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10771740.post-1788031536651401618</id><published>2007-08-13T08:17:00.000+07:00</published><updated>2007-08-13T08:19:14.757+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kesehatan'/><title type='text'>Prinsip kebugaran</title><content type='html'>Mengamati perilaku di industri sepakbola Eropa sepuluh tahun terakhir, kita sebagai orang awam mungkin terheran-heran dengan investasi sekian banyak pemain yang sampai membuat pemain inti dan cadangan nyaris tak berbeda kualitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa klub besar seperti Real Madrid dan Inter Milan memang sudah menjadikan tradisi pemain bintang sebagai keharusan, karena dalam perkembangan kapitalisme memiliki pemain bintang berarti duit, duit, dan duit. Merchandise laku, stadion pasti penuh dan harga hak siar bisa dinaikkan—seperti yang terjadi dalam skala liga di pertelevisian nasional sekarang, di mana Liga Inggris yang hari ini paling bertabur bintang makin melambung nilai hak siarnya. Karena serakah, namanya juga businessmen, mana ada yang nggak serakah, akhirnya makin banyak pemain bintang yang dibeli, bahkan yang akhirnya tidak terlalu banyak bermain sekali pun. Ya iya lah… slotnya cuma 11, stoknya 25, separuhnya bintang, bisa dipastikan berebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi di atas semua itu, yang terjadi di sebagian besar lainnya, pembentukan tim inti dan cadangan yang sama kuat sebenarnya punya alasan lain di samping sekedar mesin pencetak uang. Pelatih-pelatih dan para pengelola klub yang waras berinvestasi sekian banyak lebih karena sadar bahwa kompetisi sepakbola Eropa hari ini sudah sedemikian ketatnya, sedemikian kerasnya. Jadwal turnamen yang padat dipadu dengan standar permainan yang makin tinggi, mengakibatkan risiko kelelahan makin mudah terjadi. Akhirnya demi menjaga kebugaran pemain, disediakanlah pemain cadangan yang setara kualitasnya dengan pemain inti, agar permainan tim tetap sesolid semestinya, tidak kendor atau drop.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekilas bagi orang awam mungkin terasa absurd, pemain yang gajinya rata-rata di atas 50 ribu Euro kok manja, masalah kelelahan saja dibesar-besarkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata kelelahan bukan masalah sepele. Hanya dari kelelahan atau stamina yang kurang bugar, seorang pemain jadi lebih mudah cedera. Dan itu sudah terbukti pada beberapa pemain yang terlalu banyak bermain, misalnya dulu Gabriel Batistuta di Fiorentina pada musim 1998/1999, Alessandro Del Piero di Juventus pada musim 1998/1999, Ronaldo di Inter Milan pada musim 1999/2000 dan 2000/2001, Robbie Fowler di Liverpool musim 1999/2000, dan entah masih berapa banyak lagi nama lain yang pernah cedera karena kelelahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengikuti pertandingan futsal kedua bulan ini bersama teman-teman sekantor, aku akhirnya mengalami masalah serupa. Tampil dengan separuh kekuatan, tim kami kekurangan pelapis. Ditambah dengan durasi pertandingan yang dua kali lebih panjang daripada yang pertama, setiap pemain akhirnya bermain terlalu banyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senangnya senang, tapi sayangnya kesenangan bermain panjang itu membawa pulang “oleh-oleh” cedera. Tampaknya bukan cedera serius, kebetulan juga cuma skala latihan saja, bukan pertandingan yang ngotot-ngototan gimana, tapi karena otak dan perasaan kurang sensitif terhadap fisik yang sudah lelah akhirnya stretching menahan bola saja sudah tertarik salah satu otot, bertabrakan ringan kesakitan, dan terakhir saat menggantikan kiper yang kelelahan ibu jariku keseleo. Entah apakah teman-teman yang lain juga bawa pulang “oleh-oleh” serupa, mungkin ada juga tapi nggak merasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu bagaimana nasib pemain-pemain sepakbola itu setelah cedera? Tergantung. Kalau cederanya ringan pemulihannya juga lebih cepat, karena selama cedera masih diperbolehkan latihan ringan. Kalau berat, bahkan sampai perlu operasi, tentunya akan lebih lama karena harus istirahat total dan vakum latihan beberapa waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu artinya mereka harus berlatih keras dari awal lagi untuk sampai ke tahap bugar, sampai mereka bisa dimainkan kembali. Itu artinya kalau cederanya sembuh dalam 2 minggu, berarti butuh minimal seminggu ekstra—atau bahkan lebih—untuk pemain itu berlatih hingga mencapai kebugaran dan bentuk permainan terbaiknya, sampai bisa dipakai bertanding lagi. Itu artinya rugi, rugi, dan rugi, dan tidak baik juga bagi performa tim dan masa depan pemain yang bersangkutan. Lebih baik berinvestasi beberapa juta Euro atau poundsterling lebih tapi pemain intinya tidak cedera, daripada investasi pas-pasan lalu pemain intinya cedera.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Strategi investasi lebih ini juga membawa imbas positif lain dalam hal kompetisi itu sendiri, di mana tidak ada pemain yang punya jaminan akan dimainkan di setiap pertandingan. Bahwa 11 slot itu harus tiap minggu mereka perebutkan dengan selalu menunjukkan performa maksimal selama latihan. Dengan begini, 11 pemain inti yang dimainkan, beserta 5-7 cadangannya, adalah selalu mereka yang berada dalam kondisi terbaik minggu itu, baik fisik, teknik, maupun moral bertanding. Hasilnya, bisa dilihat sendiri kualitas liga-liga Eropa sepuluh tahun terakhir ini yang meningkat pesat, meninggalkan liga-liga lain di seluruh dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi langkah investasi ini juga bukan berarti tanpa risiko dan tanpa korban. Salah satu, atau beberapa, di antara pemain pelapis dalam suatu tim juga berisiko menjadi investasi sia-sia bila pemain intinya selalu bugar dan selalu memenangkan kompetisi menjadi pemain inti. Mereka dapat menjadi kalangan makan gaji buta, yang statusnya pemain tapi kenyataannya lebih banyak berfungsi sebagai sparing latihan saja. Bagaimanapun, sebaik apa pun latihan dalam sebuah tim, sebanyak apa pun ilmu yang bisa didapat selama latihan, pengalaman bertanding tetap mempengaruhi performa seorang pemain secara keseluruhan. Bila tidak diperhatikan dan lebih sering duduk di bangku cadangan, seorang pemain tiba-tiba bisa jadi tumpul dan kurang bugar untuk bertanding (lack of match-fitness).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya aku bisa mengerti perilaku para pelatih dan pengelola klub yang berinvestasi sekian banyak untuk beli pemain pelapis berkualitas itu. Akhirnya aku bisa paham, menjaga endurance dan life-span pemain-pemain bagus tak kalah penting daripada mendapatkan, melatih, dan memainkannya. Seni sepakbola tidak berhenti hanya di lapangan dan saat pertandingan, tapi juga di luar lapangan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10771740-1788031536651401618?l=stevie18181.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://stevie18181.blogspot.com/feeds/1788031536651401618/comments/default' title='Publier les commentaires'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10771740&amp;postID=1788031536651401618&amp;isPopup=true' title='0 commentaires'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10771740/posts/default/1788031536651401618'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10771740/posts/default/1788031536651401618'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://stevie18181.blogspot.com/2007/08/prinsip-kebugaran.html' title='Prinsip kebugaran'/><author><name>Stevie Sulaiman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02685787684909090570</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_rC_LrIRDnOM/RoEiB0NXSxI/AAAAAAAAAGU/tf75ldN9ZAY/s400/Bedroom_3.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10771740.post-2376041767137514054</id><published>2007-08-13T08:16:00.001+07:00</published><updated>2007-08-13T08:17:16.168+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Inspirasi'/><title type='text'>Kebesaran hati para pedagang kecil</title><content type='html'>Seorang teman sempat terheran-heran saat diceritain masih ada bakul di dekat kosku yang jualan bubur ayam seharga Rp 2.500. “Masih ada toh makanan Rp 2.500 di Jakarta?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku belum melanjutkan ceritaku bahwa selain harganya yang amat sangat mufakat banget itu, rasanya juga lebih enak daripada bubur-bubur ayam sejenis di Menteng atau Kebayoran yang pernah aku coba (yang harganya antara dua sampai empat kali lipat itu).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Termasuk salah satu penjelajah makanan kaki lima, aku beruntung banyak menemukan makanan-makanan murah-meriah. Bubur ayam itu salah satunya, selain nasi goreng di depan Takigawa dekat kantor, nasi goreng di depan RSAL Benhil, bakmi Wewe Ketapang, kuotie Shantung di Gajah Mada, dan banyak lagi tempat lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang membuat bubur ayam di dekat kos ini lebih enak adalah cara meracik dan menata ingredients-nya. Walaupun sesaat setelah disajikan pasti diaduk dulu oleh para penikmat, tapi racikan dan tatanan yang pas itu menghasilkan rasa yang lebih padat dan mantap. Tidak “anyep” atau sekedar asin, seperti kebanyakan bubur ayam lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Keberanian”-nya menyuwir daging ayamnya panjang-panjang, dan sering kali pakai dada yang padat serat daging itu, membuat dalam volume saji yang hampir sama terasa lebih banyak. Mungkin juga memang jadinya sedikit lebih banyak. Taburan kedelai-kedelai panggang melengkapi kekayaan rasa bubur ini, walaupun tetap tidak sedahsyat bubur a la Chinese A Guan di Mangga Besar. Tapi bubur ini tetap bubur ayam Jakarta kaki lima terbaik yang pernah aku coba sejauh ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kadang suka rada heran melihat para pedagang kecil yang hebat-hebat ini. Tidak hanya hebat dalam meramu masakannya, tapi juga hebat dalam mengelola harganya, sehingga tetap murah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sempat absen beberapa saat, aku pun kembali bertanya kepada si penjual harganya berapa, kali-kali aja naik (dan kadang setengah berharap demikian, seperti ingin memberi rejeki lebih). “Sama kayak biasanya aja,” jawabnya dengan nada pasrah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu pernah sesekali aku pura-pura lupa minta kembalian dan melipir setelah memberi tiga ribu—karena aku pikir layak dapat sekian, bahkan mungkin lebih—tapi si bapak memanggil sambil memberikan kembalian lima ratus perak. Ini kontras dengan misalnya kebanyakan anak muda yang ngamen di daerah Menteng, yang pada suatu kesempatan aku makan di sana bersama temanku dan temanku itu memberi beberapa ratus perak dan dikembalikan dengan wajah masam, seakan ngeledek bahwa di situ pasarannya minimal seribu. Padahal temanku tadi orang Surabaya yang nggak ngerti pasaran dan bermaksud baik memberi. Masih lebih murah hati daripada aku yang tidak memberi sama sekali waktu itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kita kembali lagi ke pedagang bubur ayam langgananku tadi, tiap porsi mungkin dia hanya untung seribu perak. Dan untuk mendapatkan seribu perak dari tiap porsi itu dia harus belanja ke pasar atau tukang sayur, merebus beras, menggoreng ayam, menggoreng kerupuk, bangun pagi dan berjalan mendorong gerobak beberapa kilometer, menyajikan buburnya, dan mencuci mangkok dan sendok bekas sajian. Oh ya, satu lagi, memasak air minum dan mencuci gelas-gelas. Air minum ini juga gratis—seperti halnya teh tawar di tempat makan Sunda dan Padang—tapi jarang aku ambil karena kosku memang hanya beberapa langkah dari bakul bubur itu. Biar air minumnya si bapak lebih nggak cepat habis, pikirku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pekerjaan dan sebuah usaha memang mengajarkan orang untuk menghargai sebuah tenaga, sebuah effort, dan membentuk jiwa-jiwa besar, sekecil apa pun usaha itu. Sementara pengangguran, seperti kebanyakan pengamen tadi, bisanya cuma menuntut tanpa usaha, ngomong dan teriak-teriak tanpa bekerja. Tong-tong kosong berbunyi nyaring, yang makin hari makin banyak jumlahnya di masyarakat kita, termasuk pengangguran-pengangguran terselubung lainnya: pegawai yang ngabisin pulsa telepon kantornya buat pacaran (biasanya pakai kedok datang pagi-pagi atau pulang telat), karyawan yang morot-morot fasilitas yang disediakan perusahaan atau perusahaan yang morot-morot budget yang disediakan kliennya (apalagi kalau pas syuting), sampai para wakil-wakil rakyat dan pegawai pemerintahan yang menghabiskan anggaran negara dan daerah untuk proyek-proyek yang tidak jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara si penjual nasi goreng di dekat kantor menunggu hampir dua tahun sebelum menaikkan lima ratus perak harga nasi gorengnya, atau bakmi Wewe Ketapang yang tidak menaikkan harganya setelah pindah dari kaki lima ke sebuah stan ruko, kalangan pengamen akan lebih dulu menaikkan “tarif” mereka—begitu juga beberapa jukir di daerah Kota dan Harmoni, yang begitu lihat mobil plat L dan pemiliknya bermata sipit langsung dimintai tiga ribu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sejak kapan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Setorannya sekarang mahal, bos…” Padahal hari itu kebetulan sepi aja, which is harusnya risiko dia, bukannya dibebankan kepada konsumen. Bisa juga cuma alasan buat curi-curi kesempatan dalam kesempitan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penjaja layanan bajaj juga sering melakukan hal-hal seperti ini, dikasih sepuluh ribu dari gereja Mahakam ke Panglima Polim pura-pura melipir dan nggak ngasih kembalian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin disangkanya semua pengunjung gereja itu orang kaya, padahal yang kaya itu biasanya bukan orang yang mau dikibulin dan direnggut haknya macam itu. Justru mereka bisa kaya karena gigih berusaha mempertahankan setiap haknya, dan menghargai every penny they earn. Hal yang sama yang dicerminkan oleh para pedagang kecil tadi—termasuk tukang tambal ban rendah hati di dekat kos—yang mudah-mudahan banyak di antaranya suatu hari nanti bisa kaya, atau minimal berkecukupan, karena menghargai every penny we spend and every penny they earn. Karena begitu besarnya hati mereka, membuat kita yang lebih berada pun jadi tampak kecil di hadapan mereka.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10771740-2376041767137514054?l=stevie18181.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://stevie18181.blogspot.com/feeds/2376041767137514054/comments/default' title='Publier les commentaires'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10771740&amp;postID=2376041767137514054&amp;isPopup=true' title='0 commentaires'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10771740/posts/default/2376041767137514054'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10771740/posts/default/2376041767137514054'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://stevie18181.blogspot.com/2007/08/kebesaran-hati-para-pedagang-kecil_13.html' title='Kebesaran hati para pedagang kecil'/><author><name>Stevie Sulaiman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02685787684909090570</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_rC_LrIRDnOM/RoEiB0NXSxI/AAAAAAAAAGU/tf75ldN9ZAY/s400/Bedroom_3.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10771740.post-6928055918947482241</id><published>2007-08-13T08:12:00.000+07:00</published><updated>2007-08-13T08:15:45.005+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>Sajak musim gugur</title><content type='html'>Dan angin pun bertiup sayup-sayup&lt;br /&gt;Mengiringi terbangnya kawanan merpati putih&lt;br /&gt;Tinggi mewarnai langit biru&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Musim berganti&lt;br /&gt;Dan daun-daun menguning berguguran&lt;br /&gt;Begitu pula sekuntum bunga di taman itu&lt;br /&gt;Bunga yang pernah mewarnai begitu indahnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nyanyian merpati-merpati sebelum pergi&lt;br /&gt;melukiskan begitu indahnya bunga itu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bunga yang bersemi sepanjang hidupnya&lt;br /&gt;Dan nafas kehidupannya akan terus berhembus&lt;br /&gt;Menyemikan taman dan segala isinya itu&lt;br /&gt;Di segala musim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(untuk almarhumah Mbak Dien, dan keluarga tercinta yang ditinggalkan)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10771740-6928055918947482241?l=stevie18181.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://stevie18181.blogspot.com/feeds/6928055918947482241/comments/default' title='Publier les commentaires'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10771740&amp;postID=6928055918947482241&amp;isPopup=true' title='0 commentaires'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10771740/posts/default/6928055918947482241'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10771740/posts/default/6928055918947482241'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://stevie18181.blogspot.com/2007/08/sajak-musim-gugur.html' title='Sajak musim gugur'/><author><name>Stevie Sulaiman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02685787684909090570</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_rC_LrIRDnOM/RoEiB0NXSxI/AAAAAAAAAGU/tf75ldN9ZAY/s400/Bedroom_3.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10771740.post-3910890405434240658</id><published>2007-08-06T11:18:00.000+07:00</published><updated>2007-08-06T11:19:01.628+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kutipan'/><title type='text'>[reader's digest] Quote of the day</title><content type='html'>“Mata dibalas mata membutakan seluruh dunia.” (Mahatma Gandhi)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10771740-3910890405434240658?l=stevie18181.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://stevie18181.blogspot.com/feeds/3910890405434240658/comments/default' title='Publier les commentaires'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10771740&amp;postID=3910890405434240658&amp;isPopup=true' title='0 commentaires'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10771740/posts/default/3910890405434240658'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10771740/posts/default/3910890405434240658'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://stevie18181.blogspot.com/2007/08/readers-digest-quote-of-day.html' title='[reader&apos;s digest] Quote of the day'/><author><name>Stevie Sulaiman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02685787684909090570</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_rC_LrIRDnOM/RoEiB0NXSxI/AAAAAAAAAGU/tf75ldN9ZAY/s400/Bedroom_3.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10771740.post-619548269665888787</id><published>2007-08-06T11:16:00.001+07:00</published><updated>2007-08-06T11:17:55.483+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Nonton'/><title type='text'>It’s Autumn in New York, and I’m in love</title><content type='html'>Good looking, charming, having a nice 24th floor penthouse with a balcony at downtown New York and a fancy restaurant. And can cook. And having a girl friend as pretty as Winona Ryder. And having a walk at Central Park, with orange and yellow leaves all around. What a dream…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;But it’s not the only reason I like the film. It’s the story, about an established gentlemen named Will Keane (Richard Gere) that got trapped in a steady point of life, flowless and loveless. And God… no, the writer, sent him Charlotte (Winona Ryder), a decent young woman who was both adorably pretty and had an acute heart disease that left her counting the days. You need to heal “sick” with sick—like fighting infection with antibiotics—the writer thought :p&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;It was the sick, Charlotte, that finally came to “heal” Will. And the cure is love. Sour and bitter, like traditional herbs, but heals. The healing power of love.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_rC_LrIRDnOM/RragxMWJ50I/AAAAAAAAAHc/gLqwCq-eLLU/s1600-h/Autumn+in+New+York.jpeg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://2.bp.blogspot.com/_rC_LrIRDnOM/RragxMWJ50I/AAAAAAAAAHc/gLqwCq-eLLU/s200/Autumn+in+New+York.jpeg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5095436795404478274" /&gt;&lt;/a&gt;The contrast between the two characters (Will was 48, Charlotte was 23) seems to create an “impossible” circumstances, that finally made possible with love. The location is New York, between the skyscrappers, where you can feel the established atmosphere—a point where someone seems to reach the climax of his or her life (which is actually never will), and afraid of moving forward.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The time set is autumn, a season of “return”—there’s a South Korean film “Spring, Summer, Fall, Winter, Spring Again” (Kim Ki-duk, 2004) that displays a similar moment of “return” in its fall scene.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Was it a Buddhist symbol? Or some ancient belief among the orientals? I’m not sure yet, but the director is Joan Chen and Richard Gere is a Tibetan Buddhist. It could be just coincidence, though.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anyway, it’s one of the films I always want to see again. Maybe I see some part of me in it, in Will’s character, though not that rich and sophisticated like him. Maybe I also like the perfect casts, and see my forever idol Winona Ryder—in her sexy spiky short hair, my favorite kind of look of her.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maybe I just enjoy the pretty part of New York: the privacy, the park, the lake, the autumn. Maybe I also like the soundtrack, “Beautiful” by Jennifer Paige, that some of the lines say,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“The sorrows we embraced&lt;br /&gt;the world belong to you and me&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The ocean’s that we cross&lt;br /&gt;The innocence we lost&lt;br /&gt;The hurting in the end&lt;br /&gt;I’d go there again&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Coz it was… beautiful.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maybe it’s one of the film I always want to see again coz it teaches me, and reminds me of love. That love is not just about the joy, it’s the pain—that without it a love is not complete, is not real love. That no matter how painful the experience is, we will always be thankful to have loved and have been loved, and we will go back there to love again and be loved.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10771740-619548269665888787?l=stevie18181.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://stevie18181.blogspot.com/feeds/619548269665888787/comments/default' title='Publier les commentaires'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10771740&amp;postID=619548269665888787&amp;isPopup=true' title='0 commentaires'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10771740/posts/default/619548269665888787'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10771740/posts/default/619548269665888787'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://stevie18181.blogspot.com/2007/08/its-autumn-in-new-york-and-im-in-love.html' title='It’s Autumn in New York, and I’m in love'/><author><name>Stevie Sulaiman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02685787684909090570</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_rC_LrIRDnOM/RoEiB0NXSxI/AAAAAAAAAGU/tf75ldN9ZAY/s400/Bedroom_3.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_rC_LrIRDnOM/RragxMWJ50I/AAAAAAAAAHc/gLqwCq-eLLU/s72-c/Autumn+in+New+York.jpeg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10771740.post-2543355367758834297</id><published>2007-08-06T11:12:00.000+07:00</published><updated>2007-08-06T11:13:23.512+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Makan-makan'/><title type='text'>Sate Ayam Gokil!</title><content type='html'>Tunggu dulu, ini bukan “gokil” seperti halnya nasi gokil (nasi gila) yang berarti lauknya serba beragam dicampur jadi satu. “Gokil” di sini maksudnya gila enaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masak sate, apalagi sate ayam, memang tampaknya tidak susah—banyak kita jumpai bakul sate ayam di kaki lima atau gerobak keliling—tapi tidak mudah juga menemukan yang rasanya benar-benar mantap. Rata-rata hanya sebatas biasa atau oke, bahkan di kelas restoran sekalipun… Jarang yang gokil!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, kali ini aku menemukan salah satu tempat di daerah Cideng-Harmoni yang jual sate ayam yang benar-benar gokil mantapnya. Warung Lampu Merah di pojok perempatan Suryopranoto-Kesehatan, buka malam hari, di depan bengkel Guna Ban yang buka siang harinya. Hampir tiap lewat situ selalu terlihat ramai, baik weekend maupun hari biasa. Sate ayamnya gurih sekali, dagingnya lebih besar-besar daripada sate ayam biasa dan rasanya seperti daging ayam yang dipanggang a la steak. Saat digigit, mak nyooosss mantapnya…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tampangnya kaki lima, tapi rasanya nggak mau kalah sama yang bintang lima. Harganya? Rp 16.000 per 10 tusuk. Sebanding dengan puasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Warung ini juga menyediakan menu lain seperti sate kambing, sop ayam dan sop kambing, aneka nasi goreng (ayam/kambing/pete), dan otak-otak. Di sebelahnya ada penjual martabak, dan di sekelilingnya ada beberapa pilihan penjual minuman yang menarik, dari es kelapa muda sampai liang teh dingin—teh a la Medan yang sangat populer di tempat makan daerah Kota.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menuju tempat ini, kalau dari arah perempatan Harmoni ambil arah ke Tomang dan masuk jalur lambat. Dalam beberapa ratus meter akan ada lampu merah pertama, di situlah letak warungnya, di tepi kiri jalan. Kalau dari arah Tomang letaknya di sisi kanan jalan, lampu merah pertama setelah lampu merah di perempatan besar Cideng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tempat makan lain yang juga menyediakan menu sate ayam nikmat antara lain Sate Djono di Jl. Penjernihan I, Pejompongan (di belakang kantor lamaku, Satucitra), Gado-Gado Cemara di Jl. Wahid Hasyim, Menteng, dan Soto Om Lazarus di Jl. Juanda, Harmoni. Tapi di kedua tempat yang terakhir ini aku relatif jarang pesan sate ayam, karena di Gado-Gado Cemara pasti pesan gado-gadonya yang mantap nian tiada duanya itu—plus ikan pesmol, kalau pas lagi makan rame-rame—sementara di Soto Lazarus pasti pesan rujak cingur dan soto daging, menu spesialnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Soto Om Lazarus juga lebih menarik menu sate daging kelapanya daripada sate ayam. Lebih gurih dan lebih mantap, walaupun masih kalah mantap sama sate daging kelapa bikinan Mama yang lebih gurih serundeng kelapanya dan lebih kaya rasa bumbunya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10771740-2543355367758834297?l=stevie18181.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://stevie18181.blogspot.com/feeds/2543355367758834297/comments/default' title='Publier les commentaires'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10771740&amp;postID=2543355367758834297&amp;isPopup=true' title='0 commentaires'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10771740/posts/default/2543355367758834297'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10771740/posts/default/2543355367758834297'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://stevie18181.blogspot.com/2007/08/sate-ayam-gokil.html' title='Sate Ayam Gokil!'/><author><name>Stevie Sulaiman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02685787684909090570</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_rC_LrIRDnOM/RoEiB0NXSxI/AAAAAAAAAGU/tf75ldN9ZAY/s400/Bedroom_3.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10771740.post-5622343353938549227</id><published>2007-08-06T11:09:00.000+07:00</published><updated>2007-08-06T11:12:13.956+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cita-cita'/><title type='text'>Nulis buat majalah</title><content type='html'>Sebagai pembaca dan penikmat majalah sejak kecil, dari dulu aku selalu punya cita-cita suatu hari nanti ingin bisa menulis buat dimuat di majalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menulis buat majalah tampaknya sangat menyenangkan. Artikelnya cenderung lebih ringan—setidaknya kalaupun isinya berat, tetap disampaikan dengan ringan—dan santai, tidak seperti surat kabar. Mungkin bukan majalah-majalah serius juga, macam Tempo atau majalah politik dan bisnis lainnya. Lagi pula dari dulu aku tidak tertarik untuk membahas, apalagi menulis, soal politik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalaupun suatu hari nanti ada kesempatan menulis buat majalah, walaupun tidak tetap, cita-citaku adalah menulis tentang perjalanan, budaya, film-festival-dan makan-makan, otomotif, dan mungkin sedikit psikologi—karena akhir-akhir ini lagi tertarik belajar psikologi, terutama pas menjelang sesi brainstorming. Mempelajari watak konsumen, kenapa kok mikirnya begini, kenapa kok perasaannya seperti itu, dan sebagainya. Terus terang awalnya suka psikologi ini dari banyak nonton film drama berat yang kental permainan karakternya—sekaligus mempelajari kenapa kok sutradara atau penulis, atau orang-orang di negara itu sampai bikin film atau cerita yang seperti itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari nanti, kalau juga punya kesempatan mendalami fashion, mungkin aku juga akan suka menulis tentang fashion—karena pada dasarnya aku juga penikmat fashion, walaupun kantongnya sering nggak kuat buat belanja barang-barang kesukaan :p&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa waktu lalu sempat terpikir untuk istirahat sebentar dari dunia iklan dan “selingkuh” sesaat ke majalah. Tapi akhirnya niatan itu urung karena setelah ngaca akhirnya sadar nggak punya modal apa-apa—belum banyak travelling dan hunting makanan, belum banyak baca buku (dipinjemin Burat “Angels and Demons”-nya Dan Brown dan dipinjemin Cecil “A Clockwork Orange” nggak kuat nyelesaiin), dan belum banyak memahami film-musik-dan budaya. Lha nanti jadi apa tulisannya… Kan bisa irritating banget buat yang baca, hehehe.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi akhirnya… balik lagi ke real world, ke hutan belantara bernama advertising ini, yang sejauh ini lumayan memberi icip-icip pengetahuan tentang bisnis klien-klien. Yah… mudah-mudahan nantinya nggak berhenti di urusan bisnis dan iklan (jualan) aja, tapi bisa dapet sesuatu yang bisa jadi bahan tulisan buat dibagi-bagi. Atau mungkin tulisan tentang bisnis dan iklan tapi dikaitkan dengan makan-makan? Cerpen tentang bisnis dan iklan? Entahlah… nggak mau janji dulu. Yang penting mimpinya tetap disimpan dan sesekali diintip biar besok-besok inget.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Doain ya biar kesampaian suatu hari nanti...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10771740-5622343353938549227?l=stevie18181.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://stevie18181.blogspot.com/feeds/5622343353938549227/comments/default' title='Publier les commentaires'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10771740&amp;postID=5622343353938549227&amp;isPopup=true' title='0 commentaires'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10771740/posts/default/5622343353938549227'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10771740/posts/default/5622343353938549227'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://stevie18181.blogspot.com/2007/08/nulis-buat-majalah.html' title='Nulis buat majalah'/><author><name>Stevie Sulaiman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02685787684909090570</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_rC_LrIRDnOM/RoEiB0NXSxI/AAAAAAAAAGU/tf75ldN9ZAY/s400/Bedroom_3.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10771740.post-5960928654747546054</id><published>2007-08-04T13:05:00.000+07:00</published><updated>2007-08-04T15:51:39.549+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cita-cita'/><title type='text'>Belanja musim panas</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_rC_LrIRDnOM/RrQ91sWJ5yI/AAAAAAAAAHM/kyNp7jpYG0o/s1600-h/Monkey+with+sunglasses.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://2.bp.blogspot.com/_rC_LrIRDnOM/RrQ91sWJ5yI/AAAAAAAAAHM/kyNp7jpYG0o/s200/Monkey+with+sunglasses.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5094765071109318434" /&gt;&lt;/a&gt;Dan musim panas pun tiba. Musim liburan yang ditunggu banyak orang, di mana banyak keluarga Barat—dan mereka yang juga menganut Summer Holiday—akan menghabiskan waktu mereka berlibur bersama anak-anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepadatan di gereja sempat berkurang sekitar sebulan, begitu juga jalanan dan mal yang agak lengang. Seperti biasa, banyak yang rupanya lebih tertarik bepergian ke luar kota atau luar negeri. Mau perekonomian lagi sehat atau tersendat, liburan seperti tak terpengaruh. Harga tiket pesawat pun setinggi saat libur Lebaran dan Natal-Tahun Baru. Jangan-jangan Singapore penuh dengan turis Indonesia yang lebih tertarik merayakan hari jadi Singapore dengan big sale-nya daripada hari jadi negeri sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi ya sudah lah, tak perlu iri kepada yang berduit dan luar negeri-minded, lebih penting mengasah dan mengasuh diri sendiri supaya masih punya sedikit rasa memiliki terhadap negeri sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ngomong-ngomong soal bola, musim panas ini cukup sibuk di beberapa klub Liga Inggris. Tim promosi Sunderland dan Birmingham, West Ham United, Newcastle United, Manchester City yang baru kedatangan pemilik baru—Om Thaksin—dan tentu saja the one and only, Liverpool.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak kurang dari 43 juta poundsterling dibelanjakan Liverpool sepanjang musim panas ini untuk membeli pemain-pemain baru: Fernando Torres (28 juta), Ryan Babel (11 juta), dan Yossi Benayoun (4 juta). Itu belum lagi ditambah sekitar 7 juta poundsterling untuk Gabriel Heinze, kalau jadi dilepas oleh Manchester United.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Investasi yang menarik, dan pembelian pemain menjelang awal musim selalu menguntungkan karena selepas sebulan libur musim panas tim cukup waktu untuk latihan bersama dan meracik komposisi ideal bersama. Mudah-mudahan musim ini dapat menjadi musim yang menggembirakan dan berprestasi bagi Liverpool.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suasana lengang di pekerjaan dua bulan terakhir (dan cenderung boring karena tidak terlalu ada proyek yang menarik) akhirnya melahirkan semangat belanja juga buat aku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain buat “pelampiasan” rasa bosan, mungkin ada baiknya juga me-review diri sendiri sambil “belajar berinvestasi” di sektor lain, seperti halnya Liverpool yang bereksperimen dengan investasi pemain baru. Bedanya investasiku nggak jutaan poundsterling, hanya sejutaan rupiah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Investasi ini bentuknya bukan barang, tapi pengetahuan, dan mudah-mudahan menambah teman-teman baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kursus bahasa Perancis, bahasa yang aku kagumi akhir-akhir ini dari hasil nonton film-film Perancis. Kelas dibuka mulai awal bulan depan, dan kalau lancar tiap seminggu dua kali sepulang kantor aku akan kembali ke bangku sekolah lagi, walau hanya 4 jam seminggu. Yang pasti akan jarang sekali bisa pulang Surabaya lebih dari 4 hari, kecuali pas libur semester nanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Investasi lain yang baru pada tahap rencana adalah menyusun profil dan portfolio diri sendiri. Kalau ini terinspirasi oleh para sutradara dan fotografer iklan yang sering meng-update portfolio terbaru mereka untuk dibagikan kepada agency-agency yang ingin menggunakan jasa mereka. Yaa… kali-kali aja suatu hari nanti bisa mulai merintis job-job freelance kecil-kecilan, buat nambah-nambah tabungan kalau ada rencana masa depan. Kalau ada… Hehehe.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi investasi yang ini masih tahap rencana banget, karena masih belum tau mau bikin apa dan bikinnya gimana, jadi ya entah apakah masih bisa dimasukkan belanja musim panas ini. Kalau pas lagi in the mood mungkin dalam sebulan ke depan bisa jadi, kalau nggak ya mungkin nanti akhir tahun atau entah kapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi dipakai buat modal masa depan atau nggak juga belum dipastikan. Kalau ternyata belum cukup ideal paling-paling ya buat album portfolio saja, karena kalau mulai agak banyak harus mulai dikumpulin biar nggak tercecer dan hilang, bahkan ide-ide yang belum terjual sekali pun. Kali-kali aja besok nggak bisa mewariskan harta buat anak cucu, paling tidak ya ada album ini buat dikasih liat ke mereka bahwa pernah ada ayah atau engkong mereka yang sempat jadi orang adpertensi dan art direktur. Bahwa orang-orang di keluarga ini nggak cuman dilahirkan jadi pedagang saja, tapi juga bisa jadi orang adpertensi, orang seni, atau apa pun yang kita inginkan, walaupun belum tentu sukses dan lancar rejekinya seperti yang jadi pedagang.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10771740-5960928654747546054?l=stevie18181.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://stevie18181.blogspot.com/feeds/5960928654747546054/comments/default' title='Publier les commentaires'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10771740&amp;postID=5960928654747546054&amp;isPopup=true' title='0 commentaires'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10771740/posts/default/5960928654747546054'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10771740/posts/default/5960928654747546054'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://stevie18181.blogspot.com/2007/08/belanja-musim-panas.html' title='Belanja musim panas'/><author><name>Stevie Sulaiman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02685787684909090570</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_rC_LrIRDnOM/RoEiB0NXSxI/AAAAAAAAAGU/tf75ldN9ZAY/s400/Bedroom_3.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_rC_LrIRDnOM/RrQ91sWJ5yI/AAAAAAAAAHM/kyNp7jpYG0o/s72-c/Monkey+with+sunglasses.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10771740.post-6510210653942182491</id><published>2007-08-04T13:04:00.001+07:00</published><updated>2007-08-04T13:09:10.189+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='a la Stevie'/><title type='text'>Passion or serenity?</title><content type='html'>“Do you like life full of passion, or the one full of serenity?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan yang sangat susah dijawab, yang ditanyakan kepada Miss Colombia oleh salah satu juri Miss Universe Pageant 1992, Luis Enrique.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Miss Colombia pun memilih serenity—entah apakah benar-benar tulus menyukai ketenangan, atau hanya sekedar ingin menanamkan image kepada audiens dan juri bahwa ia akan jadi duta serenity yang baik. Kita tidak pernah tau, karena ia hanya jadi 1st runner-up. Kita juga tak pernah benar-benar tau, apakah kontes kecantikan ini hanya mengukur seorang perempuan dari kecantikan fisik dan otaknya, ataukah fisik-otak-dan hati. Yang pasti mottonya hanya “beauty with brains”, tak ada “heart” di situ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya tidak ada satu jawaban yang lebih benar daripada yang lain. Semuanya kembali kepada diri kita, yaitu hidup seperti apa yang kita inginkan. Hidup yang bagaimana yang cocok untuk masing-masing orang. Tiap orang dengan karakternya masing-masing tentu akan memilih yang berbeda satu sama lain, dan itu sah-sah saja, selama semuanya datang dari ketulusan nurani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan aku memilih passion, karena aku ingin sebisa mungkin menikmati setiap momen dalam hidup, setiap harinya. Seperti masa-masa indah bulan November hingga April lalu: banyak kesibukan di kerjaan, macam-macam challenge dan deadline mepet, tapi masih sempat jalan-jalan, keluyuran, dan kegiatan-kegiatan after-office lainnya. Dan banyak yang terbereskan dengan baik. Kelebihan energi “yang” yang tersalurkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin serenity akan sangat cocok bagi yang “yin”.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10771740-6510210653942182491?l=stevie18181.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://stevie18181.blogspot.com/feeds/6510210653942182491/comments/default' title='Publier les commentaires'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10771740&amp;postID=6510210653942182491&amp;isPopup=true' title='0 commentaires'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10771740/posts/default/6510210653942182491'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10771740/posts/default/6510210653942182491'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://stevie18181.blogspot.com/2007/08/passion-or-serenity.html' title='Passion or serenity?'/><author><name>Stevie Sulaiman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02685787684909090570</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_rC_LrIRDnOM/RoEiB0NXSxI/AAAAAAAAAGU/tf75ldN9ZAY/s400/Bedroom_3.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10771740.post-3813647136443242779</id><published>2007-08-04T13:04:00.000+07:00</published><updated>2007-08-04T13:05:26.228+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Inspirasi'/><title type='text'>Sepakbola dan harga diri</title><content type='html'>Banner raksasa itu masih berkibar di Senayan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ini kandang kita” tertulis di headline-nya. Sebuah ekspresi batin yang mengobarkan semangat sekian puluh ribu orang untuk selalu datang memadati stadion Gelora Bung Karno, menonton tim Merah Putih bertanding langsung di turnamen Piala Asia 2007.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan seluruh merchandise Nike pun habis terjual, kecuali jersey yang memang harganya sangat mahal itu, sekitar enam ratus ribu perak sekepingnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba rasa nasionalisme itu bangkit. Timnas Indonesia yang peringkat 143 dunia itu pun tak lagi gentar menghadapi tim-tim lawan yang jauh lebih kuat, yang di antaranya adalah semifinalis Piala Dunia, Korea Selatan, dan tim langganan juara Piala Asia, Arab Saudi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indonesia memang sudah kalah di babak penyisihan, tapi gelora nasionalisme itu seperti masih terasa. Apalagi mengingat cerita teman-teman yang menonton langsung di stadion, di mana mereka terharu terbawa suasana sampai dengan kemauan sendiri ikut bernyanyi Indonesia Raya—tidak seperti saat upacara bendera yang diharuskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan sepakbolalah bahasa pemersatu itu. Sepakbolalah nasionalisme itu. Sepakbolalah harga diri bangsa, seperti halnya Irak yang akhirnya menjuarai Piala Asia ini, yang dikenal sebagai negara miskin dan baru terlibat perang. Di sepakbola tiba-tiba Irak, negara miskin dan bekas perang, menjadi lebih hebat daripada Jepang dan Korea Selatan yang sudah serba berteknologi 3G dan masing-masing memproduksi mobil itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sepakbola, tiba-tiba semua punya kesempatan yang sama untuk menang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah Kamis sore di bilangan Kemang, “mujizat” yang sama terjadi, saat MACS909 melakoni sebuah pertandingan futsal persahabatan dengan rekan-rekan dari media.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tampil dengan kekuatan pas-pasan dan baru pertama kali main bareng, tim “partai humor” ini tak pernah menyangka akan pulang dengan membawa kemenangan 17-5. Mungkin teman-teman dari media itu pun, yang secara postur dan jumlah skuad lebih memadai, tak pernah menyangka akan kebobolan segitu banyak gol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan bintang kami malam itu adalah Ramadhan, seorang office boy, yang sehari-harinya hanya mengurusi kebersihan kantor dan kadang-kadang disuruh-suruh anak kreatif beli gorengan. Tidak mengurusi kerjaan penting, tidak memikirkan sebuah campaign dan strategi branding, tidak pernah dapat award, tidak dibekali Macintosh, dan mungkin tak punya jenjang karir yang jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hattrick-nya di paruh pertama pertandingan, juga gol cepat dari Burat dan Mas Huda, menginspirasi terjadinya gol demi gol tambahan selanjutnya. Total akhirnya ia mengemas 5 gol, ditambah 3 gol lagi dari Mas Bakti—bos media yang sempat meleset nendang karena terganjal perut—4 gol dari Juwet, kemudian masing-masing 1 gol lagi dari Agung, Icha, dan aku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan malam itu pun tidur terasa begitu nyenyak, mungkin juga sambil tersenyum tak habis-habisnya mengenang kegembiraan kami menang. Merayakan harga diri kami masing-masing—seperti halnya Irak yang menang Piala Asia dan Indonesia yang merayakan jadi tuan rumahnya—walau hanya sesaat, kemudian lewat tengah malam kembali jadi labu dan tikus seperti di dongeng Cinderella.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10771740-3813647136443242779?l=stevie18181.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://stevie18181.blogspot.com/feeds/3813647136443242779/comments/default' title='Publier les commentaires'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10771740&amp;postID=3813647136443242779&amp;isPopup=true' title='0 commentaires'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10771740/posts/default/3813647136443242779'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10771740/posts/default/3813647136443242779'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://stevie18181.blogspot.com/2007/08/sepakbola-dan-harga-diri.html' title='Sepakbola dan harga diri'/><author><name>Stevie Sulaiman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02685787684909090570</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_rC_LrIRDnOM/RoEiB0NXSxI/AAAAAAAAAGU/tf75ldN9ZAY/s400/Bedroom_3.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10771740.post-1250368002155199251</id><published>2007-08-04T13:03:00.000+07:00</published><updated>2007-08-13T08:19:55.578+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kesehatan'/><title type='text'>Si bandel dan tidak disiplin</title><content type='html'>Rasanya ini sudah jadi trademark-ku, apalagi sudah jelas tertulis di dahi bagian belakang dengan signature dua buah unyeng-unyeng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau dulu saat masih kecil bandelnya sebatas matahin penggaris di kelas dan ngecat rambut teman dengan tip-ex, bandel di usia dewasa ini lebih soal individual. Suka menunda pekerjaan, nunggu sampai dekat deadline baru dikerjain. Suka membohongi diri sendiri, yang sebenarnya sudah capek tapi masih dipaksa keluyuran, nonton film, atau main game sampai malam. Padahal sudah jelas badannya bukan tipe yang sekokoh Land Rover.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan lagi-lagi aku pun kena denda: terserang radang tenggorokan. Kali ini malah cukup menakutkan, karena radangnya bukan di titik biasanya di pangkal leher, tapi lebih dekat ke dagu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ragu gejala penyakit lain, akhirnya mampir juga ke dokter spesialis THT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ooo… ini radang tenggorokannya. Kurang istirahat ya?” Ehm… iya sih, Dok. Baru nyadar kalau diingatkan oleh orang lain. Ke mana saja kesadarannya, Bung?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ngerokok?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh nggak kok. Eh tapi minggu lalu iya sih… Tapi rutinnya nggak kok.” Masih saja ngeles.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rupanya inilah trigger-nya, apalagi yang diisep rokok putih. Tenggorokan yang emang sensi dan sudah tidak terbiasa oleh asap rokok ini pun langsung rewel dan bengkak, mana sebelumnya daya tahannya sudah digerogoti untuk memulihkan stamina yang loyo akibat kurang istirahat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan melayanglah beberapa ratus ribu itu buat menebus obat, yang seharusnya lebih wise bila dibelanjakan wine—mumpung ada promo buy 1 get 1 free tiap Rabu di Kafe Pisa—atau buat makan enak di Satoo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lho tapi kan kalau belanja obat bisa di-reimburse?” Halah… tetep aja sisi bandel ini tak bisa berhenti mengusik.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10771740-1250368002155199251?l=stevie18181.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://stevie18181.blogspot.com/feeds/1250368002155199251/comments/default' title='Publier les commentaires'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10771740&amp;postID=1250368002155199251&amp;isPopup=true' title='0 commentaires'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10771740/posts/default/1250368002155199251'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10771740/posts/default/1250368002155199251'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://stevie18181.blogspot.com/2007/08/si-bandel-dan-tidak-disiplin.html' title='Si bandel dan tidak disiplin'/><author><name>Stevie Sulaiman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02685787684909090570</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_rC_LrIRDnOM/RoEiB0NXSxI/AAAAAAAAAGU/tf75ldN9ZAY/s400/Bedroom_3.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10771740.post-2248798269922881375</id><published>2007-08-04T12:57:00.000+07:00</published><updated>2007-08-04T15:58:32.084+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Meditasi'/><title type='text'>Dari Harry Potter sampai Zhuge Liang</title><content type='html'>Tak pernah menyangka suatu hari aku akan kagum pada Harry Potter, yang tadinya hanya aku tonton sebagai sekedar dongeng dan fantasi yang luar biasa. Ternyata tokoh dan cerita ini menyimpan sebuah metafor besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya tanda-tanda ini sudah mulai ditampakkan di seri ketiga dan keempat, The Prisoner of Azkaban dan The Goblet of Fire, di mana sudah mulai ada kematian dan monster-monsternya tampak lebih seram. Sebuah tulisan di The Jakarta Post yang dikutip dari harian The Guardian pernah mengulas bahwa Harry Potter keempat ini lebih seram—yang mungkin juga berarti “lebih dewasa”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin ini juga ada kaitannya dengan karakter Harry Potter yang tetap diperankan oleh Daniel Radcliffe walau sekarang ia sudah 6 tahun lebih dewasa dari saat pertama kali ia memerankannya di Sorcerer’s Stone. Petualangan ini mengalami evolusi, dari petualangan-petualangan di masa kecil hingga masa remaja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keseluruhan cerita ini sendiri sepertinya berusaha menggambarkan suatu pesan besar tentang evolusi anak, di mana seorang anak yang begitu polos saat ia masih kecil, kemudian perlahan-lahan memasuki dunia luar dan masa dewasanya, terkena rangsangan dan pengaruh dari dunia luar yang mengubah kepolosannya. Anak kecil itu pun, yang digambarkan oleh evolusi karakter Harry Potter, mulai bisa marah, gelisah, kecewa dan sakit hati, sampai muncul pergolakan batin di dalam dirinya sendiri—seperti tampak jelas di seri kelima ini, The Order of Phoenix, di mana Harry mulai mempertanyakan pada dirinya sendiri mengapa makin hari tampaknya ia makin dekat dan makin sama jalan pikirannya seperti Voldemort. Ia mengalami pergolakan batin, ketakutan bahwa suatu hari ia akan jadi seperti Voldemort itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan-jangan di seri terakhir nanti, yang kabarnya tokoh Harry Potter ini akan mati, adalah suatu metafor bahwa suatu saat bila pengaruh dunia luar beserta segala muslihat dan kebengisannya itu merasuki pikiran anak maka sama artinya jiwa polos anak itu sudah mati. Bisa diartikan mati secara fisik, yang artinya sisi jahat akan mengantar seseorang pada kehancurannya sendiri, bisa juga diartikan mati secara mental di mana saat pengaruh jahat itu begitu kuatnya dan berkuasa atas seseorang sama artinya kemanusiaan orang itu sudah mati. Jiwa polosnya sudah mati, walau secara fisik ia masih hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Studi dan pesan filosofis serupa sebenarnya juga sudah disuarakan oleh berbagai pihak, termasuk di antaranya sesama film. Yang tentu masih segar dalam ingatan adalah Spiderman 3, yang sejak tayangan teaser trailer-nya sudah mengusung pesan, “The biggest enemy lies within”. Sayangnya pesan yang semonumental ini dikemas dengan cerita yang payah dan akhirnya hanya mengandalkan pamer bungkus visual indah dan budget produksi selangit. Filmnya sendiri akhirnya tidak semenarik janji di trailer-nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pesan implisit Harry Potter ini mengingatkan aku akan ucapan salah satu familiku yang sesama penggemar roman klasik Sam Kok (Romance of The Three Kingdom).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_rC_LrIRDnOM/RrQ_YcWJ5zI/AAAAAAAAAHU/vvtXlJw5N7s/s1600-h/Zhuge+Liang.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://1.bp.blogspot.com/_rC_LrIRDnOM/RrQ_YcWJ5zI/AAAAAAAAAHU/vvtXlJw5N7s/s200/Zhuge+Liang.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5094766767621400370" /&gt;&lt;/a&gt;Suatu hari kami berdua berbincang tentang salah satu tokoh penting Sam Kok, yaitu Kung Ming, seorang cendekiawan dan pertapa yang kemudian diundang Raja Liu Bei sebagai penasihat kerajaannya dan diberi gelar Zhuge Liang. Tidak ada penasihat yang sejenius dan seakurat Zhuge Liang—ia memang dikaruniai bakat meramal dan meramu strategi yang hebat—dan Liu Bei dan pasukan kerajaan Shu-nya selalu menang perang bila mengikuti nasihat Zhuge Liang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan selain kehebatannya dalam strategi perang, Zhuge Liang juga tokoh yang sangat dikagumi karena kesetiaannya—seperti halnya para tokoh negara Shu yang lain yang rata-rata mewarisi nilai kesetiaan dari sang raja dan Guan Yu, sang dewa perang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi Zhuge Liang rupanya di kehidupan masa kini tidak sebanyak dipuja seperti Guan Yu (populer juga dengan julukan Guan Gong), yang oleh sebagian besar kalangan Chinese sering didoai dan patungnya sering dijadikan lambang pelindung di rumah, klenteng, mobil, dan beberapa tempat usaha. Apa sebab?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata Zhuge Liang pernah melakukan suatu kesalahan, yang tampaknya sepele tapi berat, dan menyebabkan kekalahan pertamanya di peperangan yang lebih besar daripada kemenangan-kemenangan yang pernah diraihnya. Tak lama sesudah itu ia pun jatuh sakit karena kelelahan bekerja, dan meninggal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesalahan itu bukan disebabkan karena ada musuh yang lebih lihai daripadanya—karena memang sejarah tak pernah mencatat ada yang melebihi kecerdasan seorang Zhuge Liang—tapi justru oleh dirinya sendiri. Karena begitu hebatnya ia meramal masa depan, saat ia melihat sesuatu yang tidak sesuai keinginannya egonya pun timbul dan ia berusaha mengubah takdir dengan menggunakan keahliannya. Dan alam pun menentangnya, memihak lawannya. Angin tak bertiup sesuai arah yang diramalkannya, dan pasukannya pun kalah. Sebuah akhir yang tragis untuk seorang tokoh seperti Zhuge Liang, dan mungkin banyak di antara kita yang mengalami kejadian serupa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“The biggest enemy lies within”. Saat kita besar, saat kita pintar, saat kita hebat, saat kita kuat, ancaman terbesar muncul dari dalam diri kita. Orang-orang terdekat, sesama teman kerja yang saling menjatuhkan, dari kalangan keluarga sendiri—seperti cerita-cerita klasik tentang sejarah perang saudara dan pergantian dinasti di China—dan tentunya: diri kita sendiri. Apakah lantas kita harus tetap kecil dan tak berkembang? Tidak begitu juga solusinya, karena bagaimanapun kita tidak bisa melawan hidup yang bergerak dan mengalir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Solusi terbaik mungkin adalah selalu bercermin, mempertanyakan diri sendiri, tak takut mengakui kesalahan bila berbuat, dan tak takut berpisah dengan kesalahan itu—bahkan bila kesalahan itu berbungkus harta, kenikmatan, dan kemapanan duniawi.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10771740-2248798269922881375?l=stevie18181.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://stevie18181.blogspot.com/feeds/2248798269922881375/comments/default' title='Publier les commentaires'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10771740&amp;postID=2248798269922881375&amp;isPopup=true' title='1 commentaires'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10771740/posts/default/2248798269922881375'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10771740/posts/default/2248798269922881375'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://stevie18181.blogspot.com/2007/08/dari-harry-potter-sampai-zhuge-liang.html' title='Dari Harry Potter sampai Zhuge Liang'/><author><name>Stevie Sulaiman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02685787684909090570</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_rC_LrIRDnOM/RoEiB0NXSxI/AAAAAAAAAGU/tf75ldN9ZAY/s400/Bedroom_3.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_rC_LrIRDnOM/RrQ_YcWJ5zI/AAAAAAAAAHU/vvtXlJw5N7s/s72-c/Zhuge+Liang.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10771740.post-3254717025622817470</id><published>2007-07-23T11:18:00.000+07:00</published><updated>2007-07-23T11:22:14.809+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kutipan'/><title type='text'>Sparks</title><content type='html'>Röyksopp | Melody A.M., 2001&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;No matter gay or grim&lt;br /&gt;It's those tiny little sparks &lt;br /&gt;Daily life that makes me &lt;br /&gt;Forget my wounded heart &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;It doesn't matter when &lt;br /&gt;It may rain or it may shine &lt;br /&gt;Blurred memories of us &lt;br /&gt;Come back from time to time&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;No matter gay or grim&lt;br /&gt;It's those tiny little sparks &lt;br /&gt;Daily life that makes me &lt;br /&gt;Forget my wounded heart &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;It doesn't matter when &lt;br /&gt;It may rain or it may shine &lt;br /&gt;Blurred memories of us &lt;br /&gt;Come back from time to time&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;No matter gay or grim&lt;br /&gt;It's those tiny little sparks &lt;br /&gt;Daily life that makes me &lt;br /&gt;Forget my sulky heart&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;It doesn't matter when &lt;br /&gt;It may rain or it may shine &lt;br /&gt;But you will always be here &lt;br /&gt;Stored inside my mind &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Come, I'll give you all my love&lt;br /&gt;Suck some air &lt;br /&gt;Tell me what I'm dreaming of&lt;br /&gt;Oh, whoa, oh...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maybe within a thousand years&lt;br /&gt;You'll be here&lt;br /&gt;Maybe within a thousand tears&lt;br /&gt;Oh, whoa, oh...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Can I be so alone?&lt;br /&gt;Can I be so alone?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh, whoa..&lt;br /&gt;La la la la...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10771740-3254717025622817470?l=stevie18181.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://stevie18181.blogspot.com/feeds/3254717025622817470/comments/default' title='Publier les commentaires'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10771740&amp;postID=3254717025622817470&amp;isPopup=true' title='0 commentaires'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10771740/posts/default/3254717025622817470'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10771740/posts/default/3254717025622817470'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://stevie18181.blogspot.com/2007/07/sparks.html' title='Sparks'/><author><name>Stevie Sulaiman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02685787684909090570</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_rC_LrIRDnOM/RoEiB0NXSxI/AAAAAAAAAGU/tf75ldN9ZAY/s400/Bedroom_3.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
