mercredi, mars 19, 2008

Hujan

“Masih hujan, Mas. Nunggu aja dulu,” kata si pemilik warung.

Siang ini Jakarta sedang diguyur hujan deras. Tapi tidak seperti hari-hari sebelumnya di mana aku menikmati rintik-rintiknya dari kaca lantai 25 gedung kantorku, hari ini aku justru masih nyantai makan siang di dekat kos–masih bercelana pendek dan kumal berdebu.

Beberapa jam sebelumnya masih asik di “luar negeri”, sampai Mas Yono–pengelola kos–mengetuk pintu, mengabarkan ban mobilku kempes. Lho padahal dari Minggu nggak aku pakai itu mobil, tapi rupanya karena itulah aku nggak ngeh habis menggilas paku dan bocor halus sampai dua hari lebih.

Akhirnya tidur yang baru beberapa jam itu harus segera diakhiri, dan dengan segera mengganti ban kempes dengan ban serep, lalu nyetir sedikit ke tambal ban langganan. Tadinya aku pikir sudah habis riwayat itu ban, eh tapi rupanya masih bisa diselamatkan, dan kembalilah ban serep yang masih 99,9% baru itu ke tempatnya semula.

Kehebohan selesai, ganti perut yang komplen. Tapi memang sudah sewajarnya, karena matahari sudah hampir tegak lurus. Akhirnya mampirlah aku ke warung langganan yang hanya beberapa langkah dekatnya itu, memesan makan siang, sampai langit yang sudah mendung itu menuangkan hujannya.

---

Makan siang sudah selesai dilahap, begitu juga segelas Sprite dingin yang sparkling menyegarkan itu, tapi hujan tak juga berhenti. Entah kenapa saat itu aku tak juga ingin segera beranjak menerabas hujan ke kos. Aku malah duduk menunggu, melihat jalanan dari bawah atap warung itu. Entah apa capek gara-gara kurang tidur, atau memang lagi pengen menikmati datangnya hujan.

Terbiasa hidup bermobil sejak kecil membuatku nyaris tak pernah punya masalah dengan hujan. Dengan mobil aku tak pernah kebasahan. Kalau pandangan terhalang tinggal menggerakkan jari sedikit, dan wiper langsung membersihkan kaca. Kalau hujannya deras banget, tuasnya tinggal digeser lagi ke bawah, dan wiper akan bergerak lebih cepat.

Di kala orang lain yang kendaraannya tak beratap sibuk mencari tempat berteduh, aku dengan santai bisa meneruskan perjalanan–itu masih ditambah alunan musik dan hembusan pendingin ruangan yang menyejukkan, yang begitu nyaman dinikmati dengan sistem peredam bising mobil. Benar-benar menter sama hujan. Kebal. Puritan. Akhirnya aku malah melewatkan interaksi dengan alam, seperti yang aku nikmati dari balik atap warung itu, siang ini.

Interaksi dengan alam mengajarkan kita untuk bersabar, seperti halnya berinteraksi dengan sesama manusia. Ada kalanya kita mesti menunggu, mengalah, menepi sejenak dari laju kehidupan yang makin hari makin cepat ini. Di kala kita menepi itulah kita sempat merenung, mengamati, dan merasakan denyut demi denyut kehidupan kita dan sekeliling kita. Misalnya seperti beberapa anak SD yang sempat aku “bidik” dari pinggir warung tadi, yang asik bermain kejar-kejaran di tengah guyuran hujan. Ternyata buat sebagian orang hujan bisa begitu menyenangkan, tidak sepenuhnya menyebalkan seperti berita-berita banjir di media massa. Dan melihat anak-anak SD yang asik bermain itu diam-diam aku juga heran setengah iri, kok aku nggak bisa hidup sesantai itu ya. Padahal semudah itu. Nggak butuh skill, nggak pakai otak. Hanya butuh hati.

Mungkin memang harus terguyur hujan dulu baru bisa merasakan. “Heh, awas lo sakit ya! Pokoknya nggak boleh sakit sebelum project ini kelar,” ancam Mbah Dukun Ismet, Group Head kami, sambil njengèngès–setengah bercanda. Iyo, yo, Mbah... :p

mardi, mars 18, 2008

Happy birthday to the Fishes



Wish you all the best, Dad, Gary.

One of the most brilliant colleagues I ever had...

... was blackballed by three clients in one year.

David Ogilvy
Confessions of an Advertising Man

lundi, mars 17, 2008

Belum setengah sembilan malam...

... tapi kerjaan sudah selesai, sudah nomat, dan sudah makan malam–masih sempat main game atau nonton junk movies di TV, atau nulis-nulis nggak penting. Hari seperti ini memang harus dirayakan :p

vendredi, mars 14, 2008

"The best way to get new accounts...

... is to create for our present client the kind of advertising that will attract prospective clients. We do not have new business departments in our office. No first class man will take the job."

David Ogilvy
Principles of Management

mardi, mars 04, 2008

Nampang dulu ah...

Kenalin... ini tim barunya Ismet. Dari kiri ke kanan:
aku, Dhany (copywriter), Ismet (group head), Thira (copywriter), Wirga (graphic designer), dan Tania (art director).

lundi, mars 03, 2008

Cinta tak harus memiliki


27 DRESSES
USA | 2007 | Sutradara: Anne Fletcher

Ada salah satu lagu Sting yang berjudul, “If you love somebody set them free.” Rupanya budaya sejenis juga ditemukan di masyarakat kita, dengan adanya ungkapan: cinta tak harus memiliki.

Tapi kata-kata memang lebih mudah diucapkan daripada dilakukan, apalagi ketika kita harus menonton langsung orang yang kita cintai menikahi orang lain. Di 27 Dresses, Jane (Katherine Heigl) bahkan tak hanya menonton, tapi ia yang harus mengorganisir pernikahan pria idamannya, George, dengan perempuan lain, yang tak lain adalah adiknya sendiri, Tess. Untuk menambah berat beban perasaan, Tess akan menikah menggunakan gaun pengantin mendiang ibu mereka, dan melangsungkan pestanya di sebuah vila di pinggir danau–sebuah setting pesta pernikahan yang sejak lama diimpikan Jane.

Jane sendiri adalah seorang wedding organizer yang sudah berpengalaman mempersiapkan pesta pernikahan hingga 27 kali, yang mana kedua puluh tujuh kostumnya ia kumpulkan hingga penuh sesak lemari di apartemennya yang kecil itu. Selama menjalankan tugasnya sebagai wedding organizer, Jane menjalani saat-saat yang sangat stres. Harus mempersiapkan ini-itu, hadir, mendampingi, membetulkan kostum bila ada yang lepas atau sobek–dan karenanya ia mempersenjatai lengkap dirinya dengan segala pernak-pernik cadangan sebagai backup–sampai menemani mempelai perempuan pipis dan memegangi rok pengantinnya supaya tidak basah.

Singkatnya, nggak ikut jadi pengantin malah lebih stres daripada pengantinnya. Tapi memang itulah tanggung jawab profesinya, dan Jane menjalani semuanya dengan senang hati. Itulah sebabnya ia masih sempat memikirkan untuk memberi kado khusus buat pengantin, dan menyimpan kostum-kostum pengiring pengantin yang segitu banyaknya sebagai kenang-kenangan.

---

Melihat tokoh Jane di film ini aku jadi teringat pada dua hal.

Pertama, pada adik perempuanku yang pernah mengalami peristiwa yang nyaris sama, menjadi wedding organizer bagi pesta pernikahan pria yang diidamkannya dengan perempuan lain. Itulah sebabnya saat bertemu di YM sesudah nonton, aku bilang padanya bahwa film itu bagus tapi sebaiknya ia tidak usah menontonnya, daripada nanti teringat lagi pada luka lama. Eh, ternyata dia sudah menontonnya beberapa hari sebelumnya, dan entah apakah luka itu sudah sembuh atau belum, tapi ia terlihat santai saja. Well, susah dikatakan hanya dari membaca tulisan di mesin chatting–tapi mudah-mudahan ia baik-baik saja.

Kedua, pada profesiku sendiri, agensi periklanan. Kebetulan beberapa saat lalu aku juga sempat membuka-buka kitab merah pemberian Satucitra, agensi tempatku bekerja beberapa waktu lalu, yang mana salah satu artikel di dalamnya adalah “Susah Payah Menjaga ‘Iman’: Tugas agency memikirkan problem yang dihadapi klien. Bukan sekedar membuat iklan.”

Di salah satu paragrafnya, ada kalimat yang tertulis begini, “Kalau dipikir-pikir kita gila juga. Dia yang punya produk, kita yang ngotot. Tapi itulah memang tugas agency.” Dia di sini maksudnya klien.

Pengalaman yang sama akhirnya aku alami juga beberapa waktu lalu. Makin hari tampaknya makin banyak personil klien yang “bermental batur” (kebetulan memang bukan brand owners langsung), tidak punya rasa memiliki terhadap brand, akhirnya kalau bikin apa-apa, baik produk baru atau program promo dan sebagainya, sering ngasal. Asal ada, asal beres, asal cepat, asal murah, asal urusannya cepat selesai, dan asal-asal yang lain yang berisiko terhadap brand yang dipercayakan padanya. Tapi mungkin di sinilah peran (atau mungkin, peluang?) sebuah agensi, untuk memastikan semuanya berjalan dengan “genah”, semampu yang kita bisa–seperti halnya Jane yang harus tunggang-langgang karena hanya punya waktu 3 minggu untuk memastikan pernikahan adiknya berjalan dengan proper.

Ngotot di sini juga berarti siap menanggung risiko bila terjadi perbedaan prinsip, seperti dalam film ini digambarkan dengan tidak jujurnya Tess terhadap George tentang dirinya sendiri. Jane, yang juga mencintai George, akhirnya membeberkan semua kebohongan sang adik di sebuah acara makan malam menjelang pernikahan mereka. Bisa ditebak, pernikahan pun dibatalkan dan Jane menjadi public enemy number one, terutama oleh Tess. Dalam bisnis, situasi perbedaan prinsip serupa–walaupun tidak dengan pembeberan di depan publik seperti Jane terhadap Tess–bisa berakhir dengan hilangnya bisnis.

Tapi kalaupun sampai hal seperti itu terjadi ya sudah lah, toh cuma bisnis (duit), bagaimanapun masih lebih ringan daripada kasus Jane yang menyangkut keluarganya sendiri. Lagipula kehilangan bisnis dengan cara demikian juga tidak perlu disesali. Yang lebih penting di bisnis ini (core value-nya) adalah mulut kita yang bisa dipegang, dan bisnis-bisnis baru akan datang lagi, mungkin malah lebih baik daripada yang hilang. Sebaliknya, kalau pendapat kita sudah mulai tidak jujur, goes where the money flows, siapa yang mau percaya?

“Kalau kita memberi usulan yang kurang baik, itu seharusnya karena memang kita sedang tidak mampu. Bukan karena dengan sengaja memberi yang kurang baik demi memenangkan bisnis.”

Thanks, Jane!

Hijaunya rumput tetangga

Basic-nya pedagang, pengen jadi seniman. Terlahir jadi seniman, pengen jadi pengusaha.

Anak juragan pengen jadi profesional, anak karyawan pengen jadi bos. Miskin pengen kaya, yang kaya malah pengen hidup sederhana, seperti Warren Buffet.

Punya bojo cantik dan pintar kepincut sama sekretaris seksi, punya pacar seksi selingkuh sama cewek eksekutif yang smart dan independen.

Lahir di Indonesia pengen tinggal di New York, lahir di Amerika pengen tinggal di Bali. Lahir di desa pengen ke kota, lahir di kota pengen balik ke desa.

Punyanya gubuk pengen mansion, punya mansion pengen apartemen atau rumah pantai sederhana saja, biar bisa bikin istana pasir sama anak-anak.

Yang nggak punya handphone ngebet beli handphone sampai kredit. Yang punya smartphone BlackBerry malah nggak dipakai handphone-nya, cuman buat email dan chatting di becak.

Di Beautiful Boxer, ada Thai-boxer cowok yang suka dandan, akhirnya operasi kelamin jadi cewek—sekarang berprofesi sebagai model. Di Boys Don’t Cry, Hillary Swank memerankan tokoh perempuan yang lesbian dan terobsesi ingin jadi laki-laki–berdandan dan berkelakuan sepertinya.

Di Forrest Gump dan I Am Sam, kita iba melihat orang dewasa yang mentalnya tidak berkembang, tetap seperti anak-anak. Di Vitus, ada seorang anak jenius yang punya kemampuan berpikir melebihi orang dewasa, tapi malah pengen jadi anak normal dan biasa-biasa saja.

Orang kulit putih berjemur supaya kulitnya jadi coklat, orang kulit coklat pakai Pond’s biar kulitnya jadi putih.

Yang rambutnya lurus dirol biar keriting, yang rambutnya ikal direbonding biar lurus kayak Tau Mingse. Yang berambut pirang dicat warna gelap, yang berambut hitam dibleach supaya jadi pirang. Yang pendek pakai hak sampai 12 sentimeter biar kelihatan tinggi, yang tinggi sampai bingung kalau beli pakaian susah cari ukurannya.

Yang nggak bisa punya anak sampai bela-belain pakai penyubur, bayi tabung, atau adopsi anak orang lain. Yang bisa punya anak malah nggak pengen punya anak, lebih suka memelihara anjing.

Di salah satu majalah Reader’s Digest ada kutipan dari seorang penyanyi country terkenal, Garth Brooks, “It’s not getting what you want, but wanting what you get.” Tulisan itu seperti sedang bernyanyi—dengan logat Southern-nya yang kental–diselingi petikan gitar akustik, tiupan harmonika, dan gesekan biola. Lalu kita pun terbawa ke pedalaman Texas, sambil melihat bintang-bintang di langit gurun dan mengunyah popcorn.

Tiba-tiba kita terbangun, dan bukan popcorn yang sedang kita kunyah melainkan jagung bakar, yang hangat dan lebih lezat, diselimuti angin pegunungan segar di lereng Bromo.

---

“What if we get what we want, but we no longer want it?”

Dokumenter kelas dunia

Cinta makin terasa ketika kita jauh. Dan Andibachtiar Yusuf pun makin cinta terhadap Aremania dan Indonesia, justru ketika dia tinggal di luar negeri. Ini buktinya.



---

“All you need is love
All you need is love
All you need is love, love,
Love is all you need.”

(The Beatles)

samedi, mars 01, 2008

Tidur nyenyak

Saat ngobrol santai selepas latihan, salah satu sparing partner di gym yang lebih senior bercerita bagaimana ia sering mengalami susah tidur. Sehari-hari ia baru bisa tidur jam 2 pagi, dan itu pun kadang-kadang harus dibantu sedikit alkohol.

Aku membayangkan, susah banget ya hidup seperti itu. Sementara saat dia bertanya balik kepadaku, dia mungkin iri mendengar jawabanku, “Nggak kok, nggak pernah susah tidur. Malah pernah dikatai, ‘Kamu itu kalo tidur kayak orang mati saja. Besok-besok kalo rumahmu kemasukan maling, barang sudah habis semua kamu masih tidur’. Hahaha…”

Tapi memang benar, pada saat sekolah dan kuliah dulu sepertinya tidur adalah hal yang paling mudah dilakukan. Satu-satunya aku pernah mengalami susah tidur adalah saat SD, habis pertama kali nonton film G30S di TV. Eh, dan satu lagi sih, saat masa kuliah, kalau tidak salah. Habis nonton The Others—film horor yang dibintangi Nicole Kidman. Selain dua itu nggak pernah susah tidur. Yang ada lagunya malah susah bangun :p

Tapi itu dulu, pada saat sekolah dan kuliah. Itulah sebabnya aku sekarang mulai mengerti kenapa masa sekolah sering disebut sebagai masa-masa yang paling menyenangkan. Seberat-beratnya beban pikiran kalau mau ujian, kita masih sempat sambil nonton TV, main game, dan keluyuran sama teman. Terakhir, kalau lagi kepepet, masih ada Dewi Fortuna yang kadang memberi petunjuk saat kita ngawur pake feeling milih multiple-choice, hehehe…

Sementara saat bekerja, wah yang namanya deadline itu sadis dan tidak kenal ampun. Itu belum ditambah tuntutan dari diri sendiri dan lingkungan, seperti eh kapan gue nikah ya, kapan gue mesti beli rumah, kapan gue mulai bikin usaha, dan seterusnya dan seterusnya. Sepertinya seisi dunia sedang mengejar-ngejar kita dengan deadline. Sebagian orang—yang menurut Domino (Harvey) sebagai kalangan ketiga, selain orang kaya dan orang miskin, yaitu golongan “in between”—memang disuratkan untuk menjalani hidup yang seperti ini, dan sepertinya aku memang masuk ke golongan ini. Semuanya harus dilalui dengan kerja keras, hard earning life (nggak ada terjemahan yang pas ya buat kata “earn”?). Dewi Fortuna sudah capek membantu saat mengerjakan soal-soal ujian dulu, lalu memutuskan pensiun lebih dini. I’m on my own now.

Beban yang berat inilah yang akhirnya membuatku mengalami apa yang pernah dialami teman satu gymku itu: susah tidur. Kepikiran, stres yang terbawa sampai ke alam bawah sadar, besok gimana ya, minggu depan gimana, bulan depan, tahun depan, dan seterusnya. Bedanya memang aku tidak sampai butuh bantuan alkohol, atau obat tidur dan obat penenang. Belum, mungkin, tapi kalau boleh memilih tidak ingin mengarah ke sana.

---

Beban pikiran pun bertambah lagi, bagaimana caranya mengusir susah tidur ini. Bahkan susah tidurnya Steven Gerrard selepas gagal mengeksekusi penalti di Piala Dunia saja hanya bertahan beberapa hari, tidak sampai berhari-hari dan berminggu-minggu.

Olahraga kadang membantu, tapi seiring bertambahnya kesibukan porsi olahraga pun berkurang—tidak serutin dulu. Ini kemudian menjadi efek domino, karena olahraga berkurang, tidur nyenyak juga berkurang, akhirnya fisik kurang prima dan olahraga dikurangi lagi karena takut kecapekan. Begitu seterusnya. Perlu cara tambahan lagi.

Aku kemudian bereksperimen dengan kembali ke bangku sekolah: ikut les Perancis. Well, ini tidak sepenuhnya eksperimen, karena memang dari dulu sudah berminat belajar. Jadi memenuhi keinginan sekaligus membantu mengusir stres. And… it worked. Bertemu dengan lingkungan baru, memulai hal baru dari nol, dan kegiatan belajar itu sendiri menjadi refreshing. Walaupun harus “membuang” 4 jam tiap minggu—yang mestinya bisa juga buat nonton atau olahraga—ternyata tidak sia-sia.

Memasuki awal Maret ini aku sudah lebih setengah tahun ikut kursus Perancis, dan sudah masuk pertengahan level 1B (tingkat kedua dari dasar). Menariknya, guru baru kita, Madame Maya, menggunakan metode pengajaran yang lebih lisan, akhirnya kita sekelas lebih mudah memulai percakapan daripada saat masih di 1A dulu. Catatan lebih sedikit, tapi lebih ingat, sementara dulu di 1A catatan sampai habis dua buku tulis, tapi banyak yang blank.

Les ini sendiri akhirnya jadi penyemangatku dalam menjalani minggu demi minggu. Hidup juga bertambah semangat dengan pindah kantor. Walaupun awalnya tidak terlalu tertarik berkantor di gedung perkantoran—terlalu banyak regulasi ini-itu, biaya besar, dan lebih tidak fleksibel—toh aku tidak bisa menyangkal aku mulai menikmatinya, walaupun baru seminggu sudah dapet oleh-oleh imbas gempa dari Bengkulu (di lantai 25 euy… lampu pada goyang).

Punya banyak tetangga sekomplek perkantoran; pergi-pulang kantor tidak perlu macet nyetir dan susah cari parkir, bisa pakai bus(way); pilihan makanan yang banyak di food court (cobain masakan Manado “Woku di Woka” deh); dan coffee machine di Kafe Kino (bahkan pantry-nya kantor saja di-branding, weleh :p) yang menyajikan MILO hangat di pagi hari, plus kacanya yang memperlihatkan pemandangan komplek Gelora Bung Karno; semuanya sejauh ini seperti menghembuskan angin segar kehidupan.

Mungkin juga karena masih baru. Mungkin nanti kalau sudah lama juga bisa bosan, yah who knows… Tapi setidaknya belum susah tidur lagi sejak setengah tahun yang lalu. Padahal minggu pertama di kantor baru sudah sempat begadang sampai pagi dan tidur cuman beberapa jam lalu balik ngantor lagi, tapi tidurnya terasa nyenyaaak sekali. Melupakan hari esok, menikmati hari ini.

“Dream as you’ll live forever. Live as you’ll die today.” (James Dean)