Hujan
“Masih hujan, Mas. Nunggu aja dulu,” kata si pemilik warung.
Siang ini Jakarta sedang diguyur hujan deras. Tapi tidak seperti hari-hari sebelumnya di mana aku menikmati rintik-rintiknya dari kaca lantai 25 gedung kantorku, hari ini aku justru masih nyantai makan siang di dekat kos–masih bercelana pendek dan kumal berdebu.
Beberapa jam sebelumnya masih asik di “luar negeri”, sampai Mas Yono–pengelola kos–mengetuk pintu, mengabarkan ban mobilku kempes. Lho padahal dari Minggu nggak aku pakai itu mobil, tapi rupanya karena itulah aku nggak ngeh habis menggilas paku dan bocor halus sampai dua hari lebih.
Akhirnya tidur yang baru beberapa jam itu harus segera diakhiri, dan dengan segera mengganti ban kempes dengan ban serep, lalu nyetir sedikit ke tambal ban langganan. Tadinya aku pikir sudah habis riwayat itu ban, eh tapi rupanya masih bisa diselamatkan, dan kembalilah ban serep yang masih 99,9% baru itu ke tempatnya semula.
Kehebohan selesai, ganti perut yang komplen. Tapi memang sudah sewajarnya, karena matahari sudah hampir tegak lurus. Akhirnya mampirlah aku ke warung langganan yang hanya beberapa langkah dekatnya itu, memesan makan siang, sampai langit yang sudah mendung itu menuangkan hujannya.
---
Makan siang sudah selesai dilahap, begitu juga segelas Sprite dingin yang sparkling menyegarkan itu, tapi hujan tak juga berhenti. Entah kenapa saat itu aku tak juga ingin segera beranjak menerabas hujan ke kos. Aku malah duduk menunggu, melihat jalanan dari bawah atap warung itu. Entah apa capek gara-gara kurang tidur, atau memang lagi pengen menikmati datangnya hujan.
Terbiasa hidup bermobil sejak kecil membuatku nyaris tak pernah punya masalah dengan hujan. Dengan mobil aku tak pernah kebasahan. Kalau pandangan terhalang tinggal menggerakkan jari sedikit, dan wiper langsung membersihkan kaca. Kalau hujannya deras banget, tuasnya tinggal digeser lagi ke bawah, dan wiper akan bergerak lebih cepat.
Di kala orang lain yang kendaraannya tak beratap sibuk mencari tempat berteduh, aku dengan santai bisa meneruskan perjalanan–itu masih ditambah alunan musik dan hembusan pendingin ruangan yang menyejukkan, yang begitu nyaman dinikmati dengan sistem peredam bising mobil. Benar-benar menter sama hujan. Kebal. Puritan. Akhirnya aku malah melewatkan interaksi dengan alam, seperti yang aku nikmati dari balik atap warung itu, siang ini.
Interaksi dengan alam mengajarkan kita untuk bersabar, seperti halnya berinteraksi dengan sesama manusia. Ada kalanya kita mesti menunggu, mengalah, menepi sejenak dari laju kehidupan yang makin hari makin cepat ini. Di kala kita menepi itulah kita sempat merenung, mengamati, dan merasakan denyut demi denyut kehidupan kita dan sekeliling kita. Misalnya seperti beberapa anak SD yang sempat aku “bidik” dari pinggir warung tadi, yang asik bermain kejar-kejaran di tengah guyuran hujan. Ternyata buat sebagian orang hujan bisa begitu menyenangkan, tidak sepenuhnya menyebalkan seperti berita-berita banjir di media massa. Dan melihat anak-anak SD yang asik bermain itu diam-diam aku juga heran setengah iri, kok aku nggak bisa hidup sesantai itu ya. Padahal semudah itu. Nggak butuh skill, nggak pakai otak. Hanya butuh hati.
Mungkin memang harus terguyur hujan dulu baru bisa merasakan. “Heh, awas lo sakit ya! Pokoknya nggak boleh sakit sebelum project ini kelar,” ancam Mbah Dukun Ismet, Group Head kami, sambil njengèngès–setengah bercanda. Iyo, yo, Mbah... :p





