Disemangati oleh si cacat
Le scaphandre et le papillon
(The Diving Bell and The Butterfly)
Perancis | 2007 | Sutradara: Julian Schnabel
Kalau kita sedang menghadapi tantangan hidup yang berat, ada baiknya kita tidak hanya mendongak ngiler melihat mereka yang lebih sukses, kaya, atau mapan, sambil terus meratapi nasib kita yang tak secemerlang mereka–melainkan sesekali melihat ke bawah, ke arah mereka yang nasibnya lebih muram daripada kita, seperti Jean-Dominique Bauby, fashion editor majalah Elle yang tampan, kaya, dan punya kehidupan duniawi yang sangat indah, namun mendadak terserang stroke.
Stroke memang tidak segera merenggut nyawa Jean-Do, panggilan Bauby, pun kewarasannya. Ingatannya juga masih utuh (walau sedang berantakan akibat koma tiga minggu), begitu pula kemampuan berpikir dan berimajinasinya. Namun kerusakan parah pada batang otaknya hanya menyisakan otot mata kirinya yang tetap mampu bekerja normal, sementara fungsi tubuh lainnya dari ujung rambut hingga ujung kaki lumpuh.
Berbeda dengan stroke yang pernah kita jumpai selama ini, yang “hanya” melumpuhkan separuh badan si penderita, stroke yang dialami Jean-Do adalah tipe langka yang diberi istilah “locked-in syndrome”, di mana penderita seperti bisa tetap hidup normal, melihat dan mendengar, tapi orang lain tak bisa mendengarnya atau mengerti gerak-geriknya. Kondisi terisolasi ini yang kemudian oleh Jean-Do (film ini diadaptasi dari memoar yang dikarang oleh Jean-Do sendiri) diibaratkan terkunci dalam sebuah kostum selam (diving bell), dan diam melayang di air, tidak kandas ke dasar (mati) ataupun terapung ke permukaan (sadar)–lalu digambarkan di film oleh sutradara Julian Schnabel seakan-akan kita (pemirsa) sedang mengalami stroke itu.
---
Karena hanya bisa berhubungan dengan dunia luar melalui mata kirinya, tim dokter kemudian memberikan metode kriptologi khusus dengan menyusun alfabet berdasarkan huruf yang paling sering digunakan. Dalam bahasa Perancis, karena “E” paling sering digunakan maka ia diletakkan paling depan, menggantikan “A”. Lalu dilanjutkan “S”, abjad paling sering digunakan kedua, menggantikan “B”, begitu seterusnya.
Setelah Jean-Do dilatih oleh dokter Henriette Durand–diperankan Marie-Josée Crozée (Ararat, 2002; The Barbarian Invasions, 2003)–hingga menguasai teknik dikte ini, barulah kemudian ia dapat sedikit menikmati kembali hidup normalnya, begitu pula mengarang memoar yang penulisannya dibantu oleh seorang narator, Claude.
Memoar itu antara lain berkisah tentang hubungannya dengan sang ayah, kehidupan pekerjaannya, mantan kekasihnya, Céline, dan ketiga anak mereka; serta tak lupa kekasihnya yang terakhir, Joséphine, lengkap beserta pengalaman mereka bercumbu di tepi pantai, dan bertengkar di sebuah kios di Lourdes gara-gara Jean-Do yang entah atheis atau agnostik itu menolak membelikan Joséphine sebuah patung Madonna (Santa Maria yang sedang diberkati, dan kepalanya diterangi oleh halo).
Setelah bertengkar hingga Joséphine mengancam putus, Jean-Do akhirnya membelikan Joséphine patung seharga 1.899 francs yang halo-nya bisa menyala itu dan mereka berdamai kembali, tapi kembali bertengkar ketika mereka sedang bercinta di sebuah motel (masih di Lourdes) dan Joséphine memaksa ingin menyalakan lampu di patung itu saat mereka tengah bercinta. Jean-Do yang be-te terus berbeda pendapat dengan Joséphine mengancam putus sepulang dari Lourdes, tapi hingga ia jatuh stroke Ines masih meneleponnya dan mengatakan ia masih menunggunya, yang kemudian dijawab senada oleh Jean-Do melalui kedipan matanya–yang diterjemahkan kepada Joséphine dengan bantuan Céline yang sedang mendampingi Jean-Do.
---
Tapi rupanya tak cukup hanya Joséphine dan Céline wanita yang mengisi hari-hari Jean-Do setelah ia terserang stroke. Fisioterapisnya yang cantik dan seksi, Marie Lopez (diperankan Olatz López Garmendia, yang tak lain adalah istri sutradara Julian Schnabel sendiri), juga ditaksirnya, apalagi ketika ia melatih Jean-Do menggerakkan lidahnya untuk bisa menelan obat. Melihat bibir dan lidah si fisioterapis yang memeragakan seperti sedang mencium dan menjilat, Jean-Do seperti terangsang secara seksual, namun apa daya ia sedang lumpuh total. “Oh, ini tidak adil. Aku sedang lumpuh,” sambil dengan kecutnya bersebal dalam hati :p
Saat berdua dengan Claude di sebuah padang rumput, matanya juga sering menatap rok yang tersapu angin dan memperlihatkan daerah pahanya. Dari situ imajinasi Jean-Do berkembang hingga membayangkan mereka sedang makan sambil berciuman mesra di sebuah resto Perancis mewah, lengkap dengan beragam menu dan pelayan yang tak henti menyajikan makanan. Tapi lagi-lagi, seandainya saja ia tidak lumpuh… Seandainya ia tidak lumpuh, mungkin ia takkan pernah bertemu dengan Claude, Marie Lopez, dan dokter Henriette, si speech therapist.
Inilah sisi manusiawi yang lucu sekaligus menyentuh yang terungkap secara jujur dari sekadar memoar seorang cacat. Bukannya sedih dan penuh ratap–seperti mungkin dugaan banyak orang yang enggan menontonnya–tapi malah mengandung tawa, sebal bercampur haru, sambil juga bersimpati dan respek terhadap semangat hidup Jean-Do. Kelumpuhan ternyata tidak mampu mengunci energi kehidupannya, dan bagai kupu-kupu dewasa ia menyeruak keluar dari kepompongnya, terbang bebas menikmati kehidupannya yang tersisa.
Semoga banyak kupu-kupu lain yang lahir dan mewarnai kehidupan ini. Merayakannya, walau di kehidupan yang singkat ini.

0 komentar:
Enregistrer un commentaire