Tidur nyenyak
Saat ngobrol santai selepas latihan, salah satu sparing partner di gym yang lebih senior bercerita bagaimana ia sering mengalami susah tidur. Sehari-hari ia baru bisa tidur jam 2 pagi, dan itu pun kadang-kadang harus dibantu sedikit alkohol.
Aku membayangkan, susah banget ya hidup seperti itu. Sementara saat dia bertanya balik kepadaku, dia mungkin iri mendengar jawabanku, “Nggak kok, nggak pernah susah tidur. Malah pernah dikatai, ‘Kamu itu kalo tidur kayak orang mati saja. Besok-besok kalo rumahmu kemasukan maling, barang sudah habis semua kamu masih tidur’. Hahaha…”
Tapi memang benar, pada saat sekolah dan kuliah dulu sepertinya tidur adalah hal yang paling mudah dilakukan. Satu-satunya aku pernah mengalami susah tidur adalah saat SD, habis pertama kali nonton film G30S di TV. Eh, dan satu lagi sih, saat masa kuliah, kalau tidak salah. Habis nonton The Others—film horor yang dibintangi Nicole Kidman. Selain dua itu nggak pernah susah tidur. Yang ada lagunya malah susah bangun :p
Tapi itu dulu, pada saat sekolah dan kuliah. Itulah sebabnya aku sekarang mulai mengerti kenapa masa sekolah sering disebut sebagai masa-masa yang paling menyenangkan. Seberat-beratnya beban pikiran kalau mau ujian, kita masih sempat sambil nonton TV, main game, dan keluyuran sama teman. Terakhir, kalau lagi kepepet, masih ada Dewi Fortuna yang kadang memberi petunjuk saat kita ngawur pake feeling milih multiple-choice, hehehe…
Sementara saat bekerja, wah yang namanya deadline itu sadis dan tidak kenal ampun. Itu belum ditambah tuntutan dari diri sendiri dan lingkungan, seperti eh kapan gue nikah ya, kapan gue mesti beli rumah, kapan gue mulai bikin usaha, dan seterusnya dan seterusnya. Sepertinya seisi dunia sedang mengejar-ngejar kita dengan deadline. Sebagian orang—yang menurut Domino (Harvey) sebagai kalangan ketiga, selain orang kaya dan orang miskin, yaitu golongan “in between”—memang disuratkan untuk menjalani hidup yang seperti ini, dan sepertinya aku memang masuk ke golongan ini. Semuanya harus dilalui dengan kerja keras, hard earning life (nggak ada terjemahan yang pas ya buat kata “earn”?). Dewi Fortuna sudah capek membantu saat mengerjakan soal-soal ujian dulu, lalu memutuskan pensiun lebih dini. I’m on my own now.
Beban yang berat inilah yang akhirnya membuatku mengalami apa yang pernah dialami teman satu gymku itu: susah tidur. Kepikiran, stres yang terbawa sampai ke alam bawah sadar, besok gimana ya, minggu depan gimana, bulan depan, tahun depan, dan seterusnya. Bedanya memang aku tidak sampai butuh bantuan alkohol, atau obat tidur dan obat penenang. Belum, mungkin, tapi kalau boleh memilih tidak ingin mengarah ke sana.
---
Beban pikiran pun bertambah lagi, bagaimana caranya mengusir susah tidur ini. Bahkan susah tidurnya Steven Gerrard selepas gagal mengeksekusi penalti di Piala Dunia saja hanya bertahan beberapa hari, tidak sampai berhari-hari dan berminggu-minggu.
Olahraga kadang membantu, tapi seiring bertambahnya kesibukan porsi olahraga pun berkurang—tidak serutin dulu. Ini kemudian menjadi efek domino, karena olahraga berkurang, tidur nyenyak juga berkurang, akhirnya fisik kurang prima dan olahraga dikurangi lagi karena takut kecapekan. Begitu seterusnya. Perlu cara tambahan lagi.
Aku kemudian bereksperimen dengan kembali ke bangku sekolah: ikut les Perancis. Well, ini tidak sepenuhnya eksperimen, karena memang dari dulu sudah berminat belajar. Jadi memenuhi keinginan sekaligus membantu mengusir stres. And… it worked. Bertemu dengan lingkungan baru, memulai hal baru dari nol, dan kegiatan belajar itu sendiri menjadi refreshing. Walaupun harus “membuang” 4 jam tiap minggu—yang mestinya bisa juga buat nonton atau olahraga—ternyata tidak sia-sia.
Memasuki awal Maret ini aku sudah lebih setengah tahun ikut kursus Perancis, dan sudah masuk pertengahan level 1B (tingkat kedua dari dasar). Menariknya, guru baru kita, Madame Maya, menggunakan metode pengajaran yang lebih lisan, akhirnya kita sekelas lebih mudah memulai percakapan daripada saat masih di 1A dulu. Catatan lebih sedikit, tapi lebih ingat, sementara dulu di 1A catatan sampai habis dua buku tulis, tapi banyak yang blank.
Les ini sendiri akhirnya jadi penyemangatku dalam menjalani minggu demi minggu. Hidup juga bertambah semangat dengan pindah kantor. Walaupun awalnya tidak terlalu tertarik berkantor di gedung perkantoran—terlalu banyak regulasi ini-itu, biaya besar, dan lebih tidak fleksibel—toh aku tidak bisa menyangkal aku mulai menikmatinya, walaupun baru seminggu sudah dapet oleh-oleh imbas gempa dari Bengkulu (di lantai 25 euy… lampu pada goyang).
Punya banyak tetangga sekomplek perkantoran; pergi-pulang kantor tidak perlu macet nyetir dan susah cari parkir, bisa pakai bus(way); pilihan makanan yang banyak di food court (cobain masakan Manado “Woku di Woka” deh); dan coffee machine di Kafe Kino (bahkan pantry-nya kantor saja di-branding, weleh :p) yang menyajikan MILO hangat di pagi hari, plus kacanya yang memperlihatkan pemandangan komplek Gelora Bung Karno; semuanya sejauh ini seperti menghembuskan angin segar kehidupan.
Mungkin juga karena masih baru. Mungkin nanti kalau sudah lama juga bisa bosan, yah who knows… Tapi setidaknya belum susah tidur lagi sejak setengah tahun yang lalu. Padahal minggu pertama di kantor baru sudah sempat begadang sampai pagi dan tidur cuman beberapa jam lalu balik ngantor lagi, tapi tidurnya terasa nyenyaaak sekali. Melupakan hari esok, menikmati hari ini.
“Dream as you’ll live forever. Live as you’ll die today.” (James Dean)

0 komentar:
Enregistrer un commentaire