lundi, mars 03, 2008

Hijaunya rumput tetangga

Basic-nya pedagang, pengen jadi seniman. Terlahir jadi seniman, pengen jadi pengusaha.

Anak juragan pengen jadi profesional, anak karyawan pengen jadi bos. Miskin pengen kaya, yang kaya malah pengen hidup sederhana, seperti Warren Buffet.

Punya bojo cantik dan pintar kepincut sama sekretaris seksi, punya pacar seksi selingkuh sama cewek eksekutif yang smart dan independen.

Lahir di Indonesia pengen tinggal di New York, lahir di Amerika pengen tinggal di Bali. Lahir di desa pengen ke kota, lahir di kota pengen balik ke desa.

Punyanya gubuk pengen mansion, punya mansion pengen apartemen atau rumah pantai sederhana saja, biar bisa bikin istana pasir sama anak-anak.

Yang nggak punya handphone ngebet beli handphone sampai kredit. Yang punya smartphone BlackBerry malah nggak dipakai handphone-nya, cuman buat email dan chatting di becak.

Di Beautiful Boxer, ada Thai-boxer cowok yang suka dandan, akhirnya operasi kelamin jadi cewek—sekarang berprofesi sebagai model. Di Boys Don’t Cry, Hillary Swank memerankan tokoh perempuan yang lesbian dan terobsesi ingin jadi laki-laki–berdandan dan berkelakuan sepertinya.

Di Forrest Gump dan I Am Sam, kita iba melihat orang dewasa yang mentalnya tidak berkembang, tetap seperti anak-anak. Di Vitus, ada seorang anak jenius yang punya kemampuan berpikir melebihi orang dewasa, tapi malah pengen jadi anak normal dan biasa-biasa saja.

Orang kulit putih berjemur supaya kulitnya jadi coklat, orang kulit coklat pakai Pond’s biar kulitnya jadi putih.

Yang rambutnya lurus dirol biar keriting, yang rambutnya ikal direbonding biar lurus kayak Tau Mingse. Yang berambut pirang dicat warna gelap, yang berambut hitam dibleach supaya jadi pirang. Yang pendek pakai hak sampai 12 sentimeter biar kelihatan tinggi, yang tinggi sampai bingung kalau beli pakaian susah cari ukurannya.

Yang nggak bisa punya anak sampai bela-belain pakai penyubur, bayi tabung, atau adopsi anak orang lain. Yang bisa punya anak malah nggak pengen punya anak, lebih suka memelihara anjing.

Di salah satu majalah Reader’s Digest ada kutipan dari seorang penyanyi country terkenal, Garth Brooks, “It’s not getting what you want, but wanting what you get.” Tulisan itu seperti sedang bernyanyi—dengan logat Southern-nya yang kental–diselingi petikan gitar akustik, tiupan harmonika, dan gesekan biola. Lalu kita pun terbawa ke pedalaman Texas, sambil melihat bintang-bintang di langit gurun dan mengunyah popcorn.

Tiba-tiba kita terbangun, dan bukan popcorn yang sedang kita kunyah melainkan jagung bakar, yang hangat dan lebih lezat, diselimuti angin pegunungan segar di lereng Bromo.

---

“What if we get what we want, but we no longer want it?”