Premier League goes to Asia?
Warga Hongkong bukan satu-satunya di Asia yang ingin nonton pertandingan Liga Premier Inggris secara langsung di negerinya. Orang kere seperti aku juga pengen. Bahkan bisa dikata kalau rencana menggelar salah satu fixture liga terpopuler dunia itu benar terjadi, mungkin sebagian besar yang terpenuhi aspirasinya adalah golongan kere seperti aku ini—selain juga industri sepakbola setempat yang mestinya bisa belajar banyak dari nonton pertandingan langsung yang kompetisi beneran, bukan eksebisi (baca: main-main) seperti tahun-tahun sebelumnya.
Tapi dalam hal ini aku sependapat dengan Sir Alex, walaupun dia seorang Manchested United dan aku fans Liverpool, bahwa rencana “mulia” ini tidak bisa diputuskan gegabah dan sepihak tanpa berkonsultasi dengan para pelatih dan pemain. Walaupun hanya satu dari total 38 pertandingan yang harus dijalani sebuah klub dalam semusim, tapi jarak antara Eropa dan Asia yang demikian jauh layak menjadi pertimbangan. Itu belum lagi ditambah faktor perbedaan iklim yang pasti sedikit banyak akan mempengaruhi kebugaran para pemain (kerugian tak terduga) saat dan sesudah kembali dari Asia.
---
Tapi sebelum muluk-muluk bicara soal yang belum terduga, kita berhitung yang konkret-konkret saja dulu.
Perjalanan dari Inggris ke negara Asia Timur dan Tenggara—Hongkong, China, Singapura, Malaysia, Thailand, dan Indonesia, untuk menyebut 6 negara di mana Liga Premier Inggris sangat populer dan digandrungi banyak fans—rata-rata 12 jam dengan pesawat. Itu sama atau lebih panjang daripada stamina seseorang untuk bekerja sehari, apalagi dibandingkan dengan bertanding 2 x 45 menit.
Sesampainya di lokasi, supaya bisa tampil maksimal, biasanya butuh latihan di lapangan yang akan digunakan untuk bertanding. Itu berarti tim harus tiba setidaknya 2 hari sebelum pertandingan. Minimal. Tentunya tidak mungkin baru mendarat langsung berlatih, butuh istirahat 12-24 jam. Itu berarti tim harus tiba di lokasi 3 hari sebelum pertandingan digelar, dan harus berangkat dari Inggris 12-15 jam sebelumnya. Itu berarti mereka harus standby minimal 4 hari sebelum pertandingan. Bila itu ditambah dengan istirahat sehari sesudah pertandingan sebelumnya, berarti mereka minimal harus bertanding terakhir 6-7 hari sebelum pertandingan, dan itu berarti pertandingan yang digelar di Asia tidak bisa yang midweek ataupun yang berdempetan dengan Liga Champions, FA Cup, maupun Piala Carling dan pertandingan internasional.
Itu juga berlaku sesudah pertandingan di Asia, karena saat kembali para pemain juga akan membutuhkan rentang waktu yang relatif sama sebelum bersiap menghadapi pertandingan berikutnya di Inggris. Dari sini sudah terlihat betapa sulitnya mengatur fixture Asia ini nantinya.
---
Kalau mau aman, dan sebaiknya memang demikian, berarti harus dihitung kemungkinan terburuk—yaitu jumlah hari yang dibutuhkan, sebelum plus saat plus sesudah fixture di Asia, dikompensasikan ke jumlah pertandingan.
Itu artinya, anggap saja fixture itu ditaruh di minggu mana saja, termasuk minggu sibuk yang mengharuskan kompetisi lain di midweek atau sebaliknya Liga Premier yang midweek dan fixture lain di weekend, butuh kompensasi berapa pertandingan. Sejauh ini hitunganku mengorbankan 3 pertandingan. Kalau ketiganya dibebankan ke Liga Premier semua (karena memang ini buat “kepentingan” mereka), maka itu berarti Liga Premier harus mengurangi jumlah pertandingannya menjadi 35 semusim, atau bila dibulatkan ke bawah (karena harus genap) berarti menjadi 34 pertandingan saja, atau berarti jumlah timnya harus dirampingkan menjadi 18 tim saja, seperti Liga Italia Serie-A sebelum musim 2004/2005.
Hitungan seperti ini baru mungkin terdengar adil secara matematis, dan itu baru mempertimbangkan faktor kebugaran fisik para pemain. Faktor lain yang perlu dipikirkan adalah akan kacaunya jadwal kompetisi lain (Eropa, dan FA Cup-Piala Carling yang melibatkan klub-klub divisi bawah). Bila ingin lagi-lagi aman, dan sebaiknya memang demikian, berarti harus cari minggu-minggu yang bebas dari “faktor luar” ini, supaya “kepentingan” Liga Premier ini tetap menjadi urusan dalam negeri Liga Premier.
Itu artinya, kemungkinan besar antara liburan Natal dan Tahun Baru. Minggu-minggu ini biasanya adalah minggu-minggu pertandingan full Liga Inggris, baik Premier maupun divisi-divisi yang lebih bawah, karena pasti bebas dari kompetisi Eropa dan pertandingan internasional. Tapi di sini pula ada yang bisa jadi korban, jadi Boxing Day—pertandingan tiap 26 Desember—yang sudah menjadi tradisi di masyarakat Inggris. Bila minggu-minggu ini dihilangkan demi Asia sepertinya akan jadi pengorbanan yang terlalu besar bagi Inggris, selain juga bagi individu para pemain dan ofisial yang pastinya mayoritas merayakan Natal. Dengan bepergian jauh mereka pasti akan melewatkan Natal bersama keluarganya, dan bila ini dijadikan agenda tahunan maka para pemain dan ofisial Liga Inggris tidak akan pernah merayakan Natal dengan keluarganya :p
Bila tidak di minggu-minggu ini, itu artinya Liga Inggris akan sangat bikin repot kompetisi Eropa dan internasional demi kepentingan golongannya. Dan betapa egoisnya itu.
---
Masih tentang matematika, memutuskan merampingkan pertandingan dari 38 menjadi 34 juga tidak semudah itu. Pendapatan tiket dan hak siar dari stasiun TV pastinya juga menurun.
Kalau tiap minggu ada 10 pertandingan dan rata-rata tiap pertandingannya ditonton oleh 25.000, lalu tiap penonton membayar tiket rata-rata senilai misalnya £ 60, mengurangi 4 pertandingan per musim berarti menyusutkan pendapatan senilai kurang lebih £ 15 juta. Bila itu ditambah dengan hak siar yang berkurang (misalnya 5 grup stasiun TV, masing-masing 4/38 x £ 10 juta), katakanlah sekitar £ 5 juta, berarti dalam setahun ada sekitar £ 20 juta pendapatan Liga Premier yang susut.
Itu artinya, unless program “roadshow” ini dapat menghasilkan lebih, atau sebaiknya jauh lebih, daripada £ 40 juta (dengan asumsi tiap klub mendapat bonus £ 1 juta, sementara sisanya buat range keuntungan untuk effort yang luar biasa ngoyo ini), maka program ini tidak akan sukses.
Nah bila £ 40 juta ini kita bagi menjadi 10 fixtures, maka masing-masing fixture akan bernilai £ 4 juta. Bila ini dibagi dengan rata-rata kapasitas stadion Asia (karena hanya Indonesia yang punya stadion berkapasitas hingga 80.000-100.000 orang, di Gelora Bung Karno Senayan) dan penonton yang bayar tiket, katakanlah, 40.000, maka rata-rata penonton ini harus merogoh koceknya sekitar £ 100 atau hampir Rp 2 juta. Mungkin untuk sebuah big match, katakanlah Man Utd vs Liverpool atau Arsenal vs Chelsea, mungkin nilai segitu masih dibelain. Tapi coba kalau misalnya (maaf, bukan bermaksud merendahkan), Fulham vs Wigan Athletic. Apa iya akan datang 40.000 penonton dan semuanya mau bayar Rp 2 juta?
Bagaimanapun, kalau tiap klub dibagi rata semua dapat giliran, tentunya klub-klub yang tidak sebesar Big Four (Man Utd, Liverpool, Chelsea, Arsenal) pasti akan tampil juga di Asia. Bila di luar Big Four ini tidak bisa menghasilkan sama, berarti kekurangan mereka akan dibebankan kepada The Big Four ini. Bila kekurangan itu sampai hanya setengahnya, berarti The Big Four harus menghasilkan dua kali lipat dari perhitungan normal. Itu artinya, either harus minimal 80.000 orang hadir di stadion membayar tiket rata-rata Rp 2 juta (£ 100), atau sebaliknya bisa hanya 40.000 orang saja tapi harus bayar tiket rata-rata Rp 4 juta (£ 200).
---
Hitungan matematis ini saja sudah melelahkan, apalagi mau ditambah pengorbanan psikologis lain, seperti misalnya pengorbanan fans di Inggris yang kehilangan salah satu pertandingan kandang klub kesayangannya, dan mereka harus menonton liga negerinya sendiri lewat TV (dan bayar), dan mungkin nontonnya siang hari pula, kalau pertandingannya dimainkan sore hari waktu Asia.
Itu juga belum ditambah dengan kemungkinan penurunan kebugaran fisik pemain karena faktor iklim, plus peluang cedera karena rata-rata stadion sepakbola di Asia pasti kualitas rumputnya di bawah lapangan rumput yang biasa dipakai di sana. Untuk meminimalisir faktor cedera ini, plus mengimbangi “permintaan” penonton yang ingin menyaksikan pemain bintangnya berlaga, manajer pasti akan mencampur tim intinya dengan tim lapis kedua. Beruntung bagi Liverpool dan Chelsea, misalnya, yang punya tim lapis kedua segemerlap tim intinya. Tapi bagi Man Utd, Arsenal, dan klub-klub lain, sepertinya ini akan menjadi dilema tersendiri bagi manajernya. Dan manajer yang pragmatis macam Sir Alex dan Arsene Wenger, seperti sudah biasa dilakukannya di Piala Carling dan FA Cup, pasti akan mengorbankan selera penonton demi kepentingan marathon timnya: tetap memainkan pemain lapis keduanya. Ini tidak akan jadi pertama kalinya mereka mengorbankan satu pertandingan demi tiga puluh sekian sisanya.
Bila itu terjadi—apalagi bila tanpa pengurangan jumlah pertandingan oleh FA, dipastikan akan demikian jadinya—maka walaupun sifatnya masih kompetisi, tapi penonton di Asia akan menonton pertandingan yang mungkin sama saja dengan pertandingan eksebisi seperti di musim panas tahun-tahun sebelumnya, dengan harga yang mungkin berlipat-lipat lebih mahal. Dan bila ini yang terjadi, sepertinya effort ini akan sia-sia buat Asia. Selain urung belajar dari pertandingan yang kompetitif, dari segi tontonan pasti juga tidak segreget yang diharapkan.
Jadi kita lihat saja, apakah pejabat-pejabat FA itu akan tetap menggali lubang untuk menjebak golongan mereka sendiri. Untuk mereka ketahui, China is the new Middle-East; mereka mungkin tidak punya sepakbola hebat tapi mereka punya uang yang begitu banyak—seperti halnya Timur Tengah punya minyak banyak—dan mereka akan menggunakan uang itu untuk membeli segalanya, if you tell them everything is for sale.

0 komentar:
Enregistrer un commentaire