lundi, février 11, 2008

Memasak dengan tungku

Karena makin hari makin ketinggalan acara TV—pernah ditegur oleh salah satu teman yang berada di client-side, katanya wong orang iklan kok malah nggak pernah mengamati TV (dan iklan TV yang lagi tayang)—aku baru tau tentang acara reality show bertema konversi minyak tanah ke gas elpiji dari Kompas Minggu (10/2) kemarin.

Jadi kembali teringat pada suatu pembicaraan di lobby Hotel Melia, Jogja, beberapa waktu lalu. Ketika itu salah satu petinggi PPPI di perbincangan di mana aku sempat ikut nimbrung itu bercerita tentang mi godog Jogja terkenal, yang dimasak menggunakan tungku areng (arang, batu bara). Antrenya sampai lamaa banget, katanya, karena ya… namanya juga masak pakai areng, mana mungkin cepat. Tapi rasanya sudah pasti top, kalau tidak logikanya mana mungkin tetap dicari (dan dibicarakan) orang. Walaupun saat di Jogja waktu itu belum sempat mencicipi, tapi ya aku anggap mitos itu benar.

Topik masak pakai areng ini kembali segar di kepala ketika asik andhok makan siang di Tongseng Mbak Sri, di belakang kantor Lowe di Hasanuddin, seberang Pasaraya Grande. Waktu itu aku juga melihat bapaknya masak tongseng pakai areng. Tongsengnya memang mantap banget, sedapnya merasuk ke seluruh elemen masakan, dan karena itulah aku kembali untuk kedua, ketiga, dan kesekian kalinya.

Pikiran lalu kembali melayang ke akhir 2006, saat sedang mendengarkan ceramah singkat tentang batik yang dibawakan oleh pebatik Iwan Tirta. Mas Iwan—begitu ia biasa dipanggil, walaupun aku lebih cocok memanggilnya Opa Iwan—yang kebetulan penganut batik tulis a la Solo bercerita tentang perbedaan mendasar batik pedalaman (Solo, Jogja) dan batik Pesisir (Pekalongan, Cirebon). Ia kemudian bercerita bahwa batik pedalaman umumnya lebih rajin daripada batik pesisir, terlihat dari sisi dalamnya (bila kain batik itu kita balik).

Saat ke toko-toko batik di Jogja dan mengamati batik Solo di pameran Batik Nusantara di JCC beberapa waktu lalu aku kemudian membuktikan sendiri ucapan Mas Iwan itu, bahwa batik tulis pedalaman ini memang benar-benar rajin dan berkualitas. Plus harganya juga bagus :p (waktu itu sempat naksir sebuah kain batik berbahan sutera bermotif “Beras Kecer” berwarna kemerahan, tapi harganya Rp 1,1 juta, hehehe… yang di toko-toko batik di Jogja juga ada kain yang harganya Rp 2 juta hingga Rp 6 juta)

Selain cerita tentang batiknya, Mas Iwan juga sempat bercerita sedikit tentang suka-duka seniman batiknya—yang rata-rata sengaja ia datangkan dari pedalaman, karena seniman batik pesisir mustahil bisa mendapatkan tingkat kerajinan yang sama. Ia bercerita, sebagian seniman batiknya ini nggak kerasan tinggal di Jakarta yang pace hidupnya demikian cepat. Asumsiku, mungkin ini wajar karena mereka memang terbiasa hidup dengan “telaten”, sebagaimana tergambar dari cara mereka membatik. Mungkin ini memang karakter khas pedalaman Jawa Tengah.

Bila ini kemudian kita kaitkan dengan kompor tungku tadi, kesimpulannya cocok. Alon-alon asal kelakon, begitu pepatah populernya. Dari sini kemudian aku jadi berpikir, jangan-jangan memang kurang tepat memaksakan “pembaruan” teknik memasak seperti yang berusaha dilakukan oleh acara reality show tadi. Orang-orang pedalaman Jawa Tengah ini memasak menggunakan tungku, apakah itu areng atau kayu bakar, bukan semata-mata ndeso kayak Mas Tukul atau sekadar takut kompor gas bisa meleduk, tapi memang mereka memilih untuk tetap memakai tungku. Demi kualitas hasil masakan mereka. Demi alon-alon. Demi mempertahankan karakter asli mereka dari usaha penyeragaman dengan paksa oleh westernisasi.