lundi, janvier 07, 2008

Sunset at Six

Kenangan lima setengah tahun lalu pun kembali. Saat itu aku tinggal berempat dengan tiga orang teman kuliah yang sama-sama kerja praktek di Jakarta, di rumah salah satu nenek dari kami di daerah Tanjung Duren.

Kami berempat magang di perusahaan yang beda-beda. Wuli di daerah Tanjung Duren, tak jauh dari tempat tinggal kami, sehingga sehari-hari bisa jalan kaki dan sorenya selalu sampai rumah duluan. Nico dan Budi magang bareng di sebuah perkantoran di Thamrin, sementara aku di daerah Guntur, Menteng selatan. Eh… selatan Menteng, maksudnya.

Karena relatif tidak terlalu berjauhan, sekaligus butuh penggenep… eh, pengganjil, agar bisa menembus 3-in-1 di pagi dan sore hari, kami bertiga nebeng Nico yang bawa mobil. Demi lolos dari parkir jam-jaman di gedung perkantoran, akhirnya mobil Nico dibawakan ke aku. Dan minggu-minggu awal itu aku selalu pulang sekitar jam 6 sore, menjemput mereka berdua, baru barengan balik ke rumah. Selebihnya, karena selewat sebulan jadi sering overtime sampai jam 7 sementara mereka selalu tango, akhirnya aku relatif sering pulang sendiri dan mobil aku kembalikan ke mereka.

Selama perjalanan pendek dari Guntur ke Jalan Sunda di belakang Thamrin itulah aku sering mengamati langit, sambil menikmati keindahan matahari terbenam—yang kalau di Surabaya berlangsung sekitar 45 menit hingga sejam lebih awal.

Walaupun hanya beda sedikit dan beda angka, tapi entah kenapa di hatiku sunset jam 6 terasa lebih “bener”, sehingga selalu merasa yang di Surabaya (yang lebih timur beberapa derajat Bujur Timur, tapi tidak ada beda waktu) terlalu cepat untuk tenggelam dan jadi gelap. Dari dulu sampai sekarang fenomena alam di Surabaya tetap seperti itu, tak pernah berubah, jadi kalau jam 6 ya sudah gelap dan kalau berkendara pakai mobil sudah pakai lampu besar.

Waktu berjalan, dan sekitar dua setengah tahun lalu tiba-tiba fenomena alam di Jakarta ini berubah menjadi sama seperti di Surabaya, jam 6 sudah gelap. Entah apa sebabnya. Agak aneh, tapi kejadian serupa terjadi tiap tahun di Eropa di mana jam harus dimajukan atau dimundurkan sejam saat musim dingin atau musim panas (lupa-lupa inget gimana; maklum, cuma denger dari adik yang sempat hampir setahun tinggal di Belanda, nggak mengalami sendiri).

Beberapa hari terakhir tiba-tiba fenomena alam lima setengah tahun lalu itu kembali. Bedanya, kali ini aku menyaksikannya dari daerah yang lebih selatan. Dan bedanya lagi, kali ini menatap dari jendela kantor, bukan jendela mobil—karena sudah relatif jarang pulang jam enam. Tapi pemandangan itu tetap indah menawan, sama indahnya seperti ketika dipandang dari jendela pesawat saat baru lepas landas dari bandara Juanda jam lima sore, beberapa bulan lalu.

Yang membuat suasana kali ini lebih sempurna adalah hawa sejuk yang lebih sering berhembus, sampai terasa seperti sedang di daerah sub-tropis dan bisa asik pakai jaket—salah satu asesoris kesukaanku.

Mudah-mudahan rejeki tahun ini juga sama sejuknya. Biar bisa belanja jaket lagi; ada jaket putih keren di ZARA, hehehe…

“Wong nduwe duit kok didadekno (dijadikan) gombal thok,” kata babé tiap liat ada baju baru. Nggak kok, Pah, dibelanjain makanan enak juga. Ga dadi gombal, malah dadi tai :p