Mereka bilang, saya mon…
… pet! Dan layar pun padam, berikut pendingin ruangan, dan lampu darurat menyala.
Siang… eh, sore, itu memang cerah dan tampak menyenangkan, namun gelagatnya aneh. Tak lama, saat akan berangkat ke bioskop, turun hujan, sehingga sepanjang terowongan Tanah Abang pun separuh jalannya penuh dengan pengendara motor yang berteduh. Untung tidak sampai tersendat, jadi hanya 10 menit sudah sampai Grand Indonesia.
Spot parkir favorit pun lengang, jadi sampai ke lantai 8 tepat waktu. Well, telat dikit sih karena lupa isi top-up jadi harus ikut antrean yang non-member. Tapi ternyata filmnya belum mulai, masih kebagian trailer film-film horor Thailand.
Teknologi digital yang tidak se-advanced seluloid ternyata tidak terlalu mengganggu kualitas gambar film “Mereka Bilang, Saya Monyet!” Begitu pula akting beberapa bintang barunya, yang terbilang lumayan. Aku pun mulai menikmati cerita itu, sambil menyelami jiwa si karakter utama, Adjeng, yang terasa begitu kompleks campur-aduk (tampak dari alur maju-mundur yang diacak, a la Alejandro Gonzalez Inàrritu), sampai tiba-tiba… pet! Layar padam, berikut pendingin ruangan, dan lampu darurat menyala.
Sempat ke toilet sebentar, plus mendengar serempetan bunyi-bunyian suara penonton bioskop lain yang mengeluh dan mengumpat sepanjang gang menuju toilet. Karena belum tampak tanda-tanda listrik akan menyala kembali, aku mampir ke kafetaria untuk beli French Fries sebentar. Lucunya, mesin kasir di kafetaria menyala, berikut mesin debitnya. Kesempatan untuk skip antrean umum dan masuk ke counter member-only yang kebetulan kosong.
Ternyata French Fries-nya juga kosong :p Nggak ding… maksudnya ga bisa manasin French Fries, kali. Jadilah hot dog yang tidak terdengar menarik itu kupesan buat ganjal sementara, gara-gara lupa sarapan dan makan siang.
Saat pesanan selesai, saat itulah listrik menyala—plus serempetan bunyi-bunyian lagi, kali ini suara lega hadirin (lama-lama gue ikutan latah neh… S**t!).
Tapi lega itu kembali menjadi keluhan dan umpatan, karena hanya sedetik dua detik kemudian, saat hot dog sudah di tangan dan siap ngibrit masuk auditorium listrik kembali mati. Sesampai di tempat duduk dan menghabiskan seluruh hot dog yang rasanya ternyata tidak semenarik French Fries itu, listrik tak kunjung menyala kembali. Tak lama, serempetan bunyi-bunyian kembali datang dari kegelapan. Kali ini suara walkie-talkie staf pengelola yang mengabarkan listrik seisi Grand Indonesia padam, dan entah kapan menyala kembali. Tak lupa, mereka menyampaikan maaf kepada satu per satu penonton yang memang jumlahnya tidak banyak itu, sambil membagikan complimentary voucher, yang bisa digunakan untuk nonton film apa saja di hari apa saja, sebagai ganti uang tiket kami yang tidak bisa dikembalikan. Fair enough.
Dan… begitulah acara nonton sore itu. Menggantung, seperti salah satu adegan di film itu saat tokoh Ray Sahetapy belum orgasme tapi Adjeng tiba-tiba berhenti. Nyett!!!

0 komentar:
Enregistrer un commentaire