lundi, janvier 07, 2008

Counter Culture part 2: Menikmati lalu-lintas Jakarta

Lalu lintas Jakarta kok dinikmati? Begitu sepertinya orang akan mengira. Tapi jujur saja, 4 tahun lebih berkendara di ibukota, relatif jarang aku harus berhadapan dengan kemacetan yang sampai bikin stres.

Tapi ini sama sekali bukan bermaksud menganggap kemacetan itu bukan masalah. Itu masalah besar dan mendesak, kalau tidak segera diselesaikan akan mengganggu kehidupan kita yang lain (dan mungkin sudah). Hanya saja kalau lebih banyak orang yang mau sehari-harinya menyikapinya dengan cara berbeda barangkali bisa sedikit berperan mengantisipasi.

Salah satu caranya adalah membuat jam kerja yang berbeda. Ini bisa dilakukan secara individual atau kelompok, misalnya sekantor. Kalau kebanyakan orang masuk kerja antara jam 8-9, yang kemudian salah satunya disikapi Pemda DKI dengan kebijakan 3-in-1, ya mungkin kita cari jam sebelumnya atau sesudahnya—apakah jam 6.30-7.30, atau justru jam 9.30-10. Tentunya jadwal pekerjaan atau pertemuan juga diatur menyesuaikan jadwal availability kita di kantor, dan tentunya juga tidak bisa tiap hari kita praktekkan. Pasti ada saat-saat tertentu di mana kita harus available jam 8-9, ya sudah diterima saja, tapi kan setidaknya sudah berkurang.

Kalau dari 22 hari kerja dalam sebulan kita hanya terikat jadwal jam padat itu 4-5 kali, misalnya, sementara sisanya kita bisa ambil sebelum atau sesudahnya, yang lebih tidak macet, kita sudah teringankan 75-80%. Secara makro, kalau sebagian orang melakukan ini, kepadatan lalu lintas jam 8-9 itu juga akan berkurang, dan secara tidak langsung terbentuk sistem giliran (shift). Secara tidak langsung juga akan mengurangi tilang, uang damai, penggunaan jasa joki, dan tentunya yang paling penting: stres.

---

Cara lain untuk meningkatkan kenikmatan berlalu-lintas adalah dengan mempunyai beberapa alternatif akses dari tempat tinggal ke tempat kerja. Artinya, tidak hanya rute itu saja yang bisa kita pilih. Misalnya aku dari Cideng ke Panglima Polim, ada setidaknya 4 rute utama yang bisa aku gonta-ganti setiap saat. Pertama, lewat Museum Nasional-Thamrin-Sudirman-Sisingamangaraja; kedua, lewat Tanah Abang-Karet-Sudirman-Sisingamangaraja; ketiga, lewat Tanah Abang-Pejompongan-Senayan-Hang Tuah-Sisingamangaraja; keempat, lewat Tanah Abang-Pejompongan-Senayan-Hang Tuah-Bulungan-Mahakam-Melawai. Ini pun masih bisa divariasi lagi dengan, misalnya, mampir Sambas sebentar beli jajan pasar, jadi dari Bulungan-Mahakam bablas ke Sambas, lalu lewat Barito menuju Panglima Polim.

Keempatnya tidak segala jam bisa, ada daerah yang terikat 3-in-1 seperti rute pertama dan kedua, tapi ini juga bukan handicap—malah membantu mengatur variasi—karena di satu sisi jadi semacam “guide-line”, hari ini mau lewat rute yang mana.

Praktis waktu yang sering aku pakai untuk menempuh perjalanan 11-14 kilometer sekali jalan itu sekitar 20-40 menit. Kalau bisa rute pertama dan kedua hanya 20-25 menit dan 11 kilometer, pilihan jamnya 6.40 atau 9.45, sementara rute ketiga dan keempat karena lebih panjang jadi 35-40 menit. Pernah sih sesekali kena macet, ya itu tadi, kalau harus berangkat jam padat, jadinya antara minimal 40 menit untuk sampai di tujuan, dan pernah sekali waktu yang paling parah 1 jam 15 menit, kalau lalu-lalang pas jam 8 (jadi berangkat jam 8, sampai 9.15). Sayang kan, setengah jam terbuang percuma, bisa buat “sarapan” satu porsi Call Of Duty tuh, hehehe…

Karena relatif jarang terjebak macet dan tidak bosan menempuh rute yang sama, akhirnya perjalanan itu tidak jadi beban, malah cukup menyenangkan. Pertama, tentunya betis tidak kekar sebelah karena menahan kopling, dan sebaliknya, kopling dan remnya juga lebih awet. Pemakaian bahan bakar juga relatif lebih efisien, dan terakhir, bisa menikmati “pemandangan” gedung bertingkat di Thamrin-Sudirman (dasar kapitalis :p), selain juga mengamati kejadian-kejadian di jalan, misalnya di lampu merah, yang kadang-kadang bisa jadi inspirasi. Sesuatu yang mungkin langka terjadi kalau perjalanan tadi sudah jadi beban, stres kena macet.

Kalau pun masih tetap harus berhadapan dengan macet—namanya juga baru rencana, pasti sesekali tidak berjalan mulus—masih ada musik yang selalu bisa menemani.

---

Secara tidak langsung, memilih untuk “menanggalkan” mainstream ini berarti juga membuat counter culture. Dan ini bisa berlanjut ke banyak hal lain, tidak cuma soal berlalu lintas. Misalnya soal nonton film, dengerin musik, dan acara-acara hiburan lain. Buat perantau macam aku, bisa juga dengan nggak mudik pada saat orang lain mudik, dan baru mudik di saat orang lain nggak mudik.

Tapi menjadi penganut counter culture juga tidak lantas tanpa risiko. Risikonya tentunya jadi “aneh”, melakukan yang tidak (atau mungkin, belum?) dilakukan banyak orang lain dan tidak melakukan yang sudah dilakukan banyak orang lain. Menjadi bagian dari kaum marginal—walaupun bukan serta-merta berarti asosial atau tidak gaul—dan small-grouper, tapi sekaligus juga lebih independen. Bahasa dagangnya: Limited Edition.

Sekarang tinggal kita lebih suka yang mana, jadi mainstreamer atau kaum independen. Tidak ada benar-salah, hanya masalah pilihan jalan hidup masing-masing. Yang pasti, eksistensi keduanya dibutuhkan untuk terus menggerakkan konsep besar bernama peradaban. Tanpa didorong kejenuhan terhadap mainstream, takkan muncul semangat independensi. Sesuatu yang tadinya independen, suatu saat ketika banyak penganutnya juga akan jadi mainstream, dan dibutuhkan independensi baru untuk meng-counter-nya.