lundi, octobre 29, 2007

[lfc.tv] Steven Gerrard 400 up

by Paul Hassall, 28 October 2007

He's a Champions League winner, an FA Cup hero and one of the greatest players of the modern era. But it doesn't stop there for Steven Gerrard. Sunday will mark his 400th appearance for the Reds - yet another milestone in his glittering career.


---

Cast your mind back to November 29, 1998.

It is the dying embers of a routine 2-0 win over Blackburn Rovers and a fresh-faced youngster from Huyton has just thundered into a challenge on the right-hand touchline in front of the Kop.

It inspires a huge cheer and brings a smile to the faces of the followers in the stand, as one of 'their own' achieves the reality of what thousands dream of - to play for Liverpool Football Club.

But what those supporters would not have realised at the time, was that it was the moment when one of the Reds' greatest ever players began his rise to the pinnacle of the world game.

It may have only been a cameo appearance when he came on as a 90th minute substitute for Vegard Heggem, but in that period of injury-time he showed the kind of commitment and drive that would become a feature of his Reds career.

Fast forward to the present and Steven Gerrard is on the verge of making his 400th appearance for Liverpool when Rafael Benitez's side welcome Arsenal to Anfield on Sunday.

It is a significant landmark for a man who has become recognised as the heartbeat of the side during a decade of magnificent highs.

Since that first appearance in a Reds shirt he has gone on to score 77 goals for Liverpool and boasts a repertoire of strikes to match anyone in the world.

From the moment he opened his account against Sheffield Wednesday in his 25th game for his hometown club through to the inspirational header in Istanbul that sparked a Reds revival, and a sensational double in the 2006 FA Cup final - he has developed into a man for the big occasion.


As he leads the side onto the hallowed Anfield turf on Sunday, he will become only the 26th player in Liverpool history to reach that milestone figure for the Reds.

It is a proud moment and fitting that it comes in a top-of-the-table clash, against a side of Arsenal's calibre.

The skipper has enjoyed a rollercoaster ride against the Gunners over the years and in 20 appearances he has felt the full range of emotions, from the high of the 2001 FA Cup final victory to the low of the 6-3 Carling Cup defeat last season.

In that time he has struck three goals against Arsene Wenger's side, the best of which came at the Kop end during a magnificent 4-0 triumph back in December 2000.

A similar goal on Sunday would go some way to ensuring he rounds off his 400th appearance for the Reds in typical Gerrard-style.

THE STORY IN NUMBERS

League: 275 appearances, 45 goals

FA Cup: 20 appearances, 5 goals

League Cup: 18 appearances, 6 goals

Europe: 82 appearances, 20 goals

FA Community Shield: 2 appearances, 0 goals

World Club Championship: 2 appearances, 1 goal

Total: 399 77

*****

Most Appearances

Chelsea 22

Arsenal 20

Manchester United 17

Aston Villa 16
Everton
Newcastle United

Middlesbrough 15
Tottenham Hotspur

Bolton Wanderers 13
Manchester City

*****

Most Goals

Aston Villa 7

Total Network Solutions 5

Birmingham City 4
Bolton Wanderers
West Ham United

Arsenal 3
Everton
Manchester City
Middlesbrough

*****

Landmark Matches

1st: November 29, 1998 v (H) Blackburn Rovers (sub)(League) W2-0

100th: September 11, 2001 (H) v Boavista (Champions League) D1-1

200th: September 28, 2003 at Charlton Athletic (League) L2-3

300th: November 5, 2005 at Aston Villa (League) W2-0

Stipi anak Jakarté—Happy 4th Anniversary

(7 Oktober 2003-29 Oktober 2007)

x/x: Wah udah berapa taun di Jakarta?
o/o: Empat.
x/x: Waduh, kerasan ya kena macetnya… Kalo aku kok nggak kerasan. Macetnya itu lho. Duh!!!
o/o: (redundant)

---

x/x: Wah, ini nih… anak Jakarté…
o/o: E… (apa siy???)
x/x: … udah berapa lama di sana?
o/o: Empat taun.
x/x: Kerasan?
o/o: Lumayan.
x/x: Kerja apa?
o/o: Advertising.
x/x: Ooo… bikin-bikin billboard itu ya?
o/o: E… ya… salah satunya, tapi lebih ke desainnya.
x/x: O jadi masangnya nggak?
o/o: (???) E… nggak, itu biasanya ke supplier. Beda lagi bidangnya.
x/x: Lha terus kamu ngerjain apanya?
o/o: Desainnya. Umm… isi pesannya, gitu… iklannya.
x/x: Ooo… desainnya ya… (???)
o/o: E… iya, desainnya. (???)

---

x/x: Udah piro taun nang Jakarta?
o/o: Empat.
x/x: Masih di perusahaan yang sama?
o/o: Eh, iya. Di perusahaan yang terakhir ini udah 2 taun ini.
x/x: Sebelumnya?
o/o: Udah pernah di perusahaan lain.
x/x: Ooo… enak ya bisa sering pindah-pindah.
o/o: (emang virus pindah-pindah?)

---

x/x: Wes piro suwe ndek perusahaan seng ini?
o/o: Dua taunan, sekitar itu lah.
x/x: Sek betah tah? Udah naek pangkat berapa kali? Udah naek gaji berapa kali?
o/o: Eh… biasa aja sih. Promosi belum lah, masih butuh waktu lagi.
x/x: Lha kok ndak pindah (w)ae ke tempat lain? Sapa tau langsung naek pangkat, naek gaji. Rugi kelamaan nunggu, selak tuwek (=keburu tua), blablabla, blablabla, blablabla…
o/o: Oh ya, oh ya, oh ya… (bye!)

---

x/x: Enak kerja ndek Jakarta?
o/o: Asik sih.
x/x: Jabatanmu apa sekarang?
o/o: Art Director.
x/x: Wah… wes direktur! Enak ya… Dapet mobil dari perusahaan?
o/o: Eh, enggak sih. Bukan direktur kok, itu maksudnya pengarah seni.
x/x: Ooo… pengarah seni… (???) terus kalo pengarah seni gitu dapeté apa?
o/o: Komputer.
x/x: Laptop gitu?
o/o: Oh, nggak. Komputernya di kantor.
x/x: Ooo… komputernya di kantor… (??? Apa asiknya????)
o/o: (interogasi)

---

x/x: Wah, kerja di Jakarta ya… Wah, wah, wah… enak dong. Kalo cap tiauw (10 juta) aja pasti lebih.
o/o: E…. hehehe… (mau bilang iya kok bo’ong, mau bilang nggak kok malu, jadi hehehe aja lah :p)

---

x/x: Udah berapa lama kamu di Jakarta, Steve?
o/o: Empat taun, Om.
x/x: Udah dapet cewek belom?
o/o: Eh, belom… Baru temenan-temenan aja sih, hehehe…
x/x: Ya, nyari toh. Lha ga nyari-nyari kapan kawinnya?
o/o: Eh, iya. Belum settle sih, jadi ya sabar dulu lah.
x/x: Lha bukannya sebentar lagi kamu 30?
o/o: Eh, iya. Masih 3 taun lagi. Lebih, sih… (itu sebentar lagi, ya?)
x/x: Lha iya, udah sana cepet ndhang nyari…
o/o: Eh iya… (lho, kok???)
x/x: … daripada nanti telat lho kawinnya.
o/o: Eh iya… (??????)
x/x: Tambah tua nanti tambah uangel (=sulit) lho cari bojo.
o/o: Eh iya… (???????????)
x/x: Udah gitu nanti jarak umurnya sama anakmu kejauhan.
o/o: Eh iya… (??????????????)
x/x: Blablabla, blablabla, blablabla…
o/o: (Dhuarrr!!!) Eh, iya, aku permisi bentar ya, Om… (sayonara, bébé!)

---

x/x: Kerja ndek Jakarta, ya?
o/o: Iya.
x/x: Ndek bidang apa?
o/o: Periklanan.
x/x: Wah uenak dong, ketemu artis terus.
o/o: Eh, ya. Nggak selalu, kok…
x/x: Nama perusahaané apa?
o/o: MACS909.
x/x: Ooo… Mac.
o/o: MACS. Pake “s”.
x/x: Perusahaan asing?
o/o: Bukan. Lokal.
x/x: Ooo… lokal. Opo’o kok ndak ndek perusahaan asing ae? Enak toh, gajiné gedhé, dapet fasilitas ini-itu?
o/o: (intimidasi)

---

x/x: Kerja ndek Jakarta, ya?
o/o: Oh iya, Om.
x/x: Kerja dhewek apa melok orang?
o/o: Sik melok orang dulu, Om.
x/x: Mosok enak melok orang? Opo’o ndak kerja dhewek (w)ae? Gajiné gedhé, tah? Dapet fasilitas apa (w)ae?
o/o: (not again…)

---

x/x: Udah berapa lama di Jakarta?
o/o: Empat taun.
x/x: Gak pengen balik Surabaya, tah?
o/o: Sementara belom ada rencana sih.
x/x: Enakan sana, tah?
o/o: Lebih menarik sih, di sini.
x/x: Tapi lak macet ndek mana-mana.
o/o: Yah… tiap tempat ada kelebihan dan kekurangannya masing-masing.
x/x: Udah gitu biaya hidupnya mahal…
o/o: Iya sih.
x/x: Udah gitu banjir…
o/o: Iya sih.
x/x: Udah gitu ke mana-mana jauh…
o/o: Eh, kuenya enak, Tante? Itu namanya Fruitcake. Belinya di deket kantorku, ada toko roti uenak namanya Maison Bogerijen. Yang enak lagi di Okky & Paul di Jalan Guntur, deket tempatku kerja praktek dulu. Blablabla, blablabla, blablabla…

---

Happy Anniversary. Semoga melewati empat tahun berikutnya dengan “selamat”.

samedi, octobre 27, 2007

Sebuah undangan

Terlalu sering kecewa kadang menyisakan luka batin yang membuat perasaan seseorang menjadi mudah keruh.

Contohnya beberapa waktu terakhir ini, saat ditelepon oleh seorang teman lama—yang sama-sama merantau ke Jakarta, namun lama tak saling kontak karena sibuk dengan urusan masing-masing dan berjauhan sudut Jakarta—yang mengajak bertemu.

Curiga karena dia seakan insist untuk bertemu langsung di tempat tinggalku, ujug-ujug dan tidak seperti biasanya, pikiran pun terbawa ke praduga: jangan-jangan ngajak ikutan MLM (multi-level marketing). Yang seperti ini sudah berulang kali terjadi sejak masih SMA hingga beberapa waktu lalu saat sudah bekerja. Tanpa bermaksud merendahkan profesi itu—yang sebenarnya sebuah konsep marketing yang kreatif dan menarik—aku selalu bilang kepada teman-temanku itu bahwa door-to-door sales dan “khotbah” di seminar tentang sales bukan bakat dan minatku, apalagi dengan cara yang—mungkin karena salah pembawaan oleh sebagian orang—menjadi terkesan kurang fair dan memaksa.

Papaku juga tidak luput dari beberapa orang temannya yang berprofesi serupa, mulai dari diam-diam didolani di rumah hingga diajak ke sana kemari, dikirimi kartu pos dari Eropa saat mereka sedang menikmati jalan-jalannya, hingga kembali didolani lagi—dan kali ini bisa berjam-jam, dan diulang terus berkali-kali sampai penghuni rumah yang lain (terutama aku) merasa terusik dengan kehadirannya, yang selalu tak kunjung pulang itu. Mana rumah kami tidak besar lagi, jadi sebagian gelombang suara—sekaligus tawa yang entah tulus atau tidak itu—sering tembus ke ruang-ruang sebelah.

Dan pengalaman-pengalaman itu, termasuk yang terakhir aku alami di gym baru-baru ini, pembicaraan yang membuatku bosan duduk di sofa empuk selama lebih dari setengah jam ngomongin duit thok thok, muncul kembali ke permukaan isi kepala saat teman lamaku itu menelepon. Lalu dengan ancang-ancang menghindar aku mencoba mengalihkan tempat pertemuan di “zona netral”, di mal atau resto/kafe, supaya saat pembicaraan mulai kurang menarik aku bisa dengan mudah kabur.

Ia lalu menutup pembicaraan kami dengan janji akan menelepon kembali sore harinya setelah urusannya di hari Sabtu itu selesai. Dan aku pun membalas dengan, “Eh tapi aku nggak bisa lama-lama ya… Mau jemput temenku yang satu lagi di bandara.” Yang ini beneran memang sudah rencana dari paginya akan menjemput ke bandara. Kebetulan.

Sore harinya, menjelang malam, selepas nonton bioskop di Plaza Senayan aku pun sudah standby di salah satu kafe, bersiap kalau dia menelepon aku akan mengajaknya bertemu di situ. Dan… dia pun menelepon. Dia sedang berada di tempat tinggal salah satu teman kami yang lain. Aku makin dekat perasaan dugaanku tadi siang benar. Tapi belum selesai perasaan itu terasakan dengan penuh, dia meminta maaf harus membatalkan pertemuan kami karena sudah terlalu malam. Dan aku pun sedikit merasa lega.

Lagi-lagi, belum selesai lega itu terasa dengan penuh, perasaanku kembali bergejolak—dan kali ini terkejut bercampur malu—ketika ia mengutarakan maksud pertemuannya, yang ternyata ingin menyampaikan (langsung) undangan pernikahannya bulan depan. Dan sekejap itulah perasaan dan kata-kata seakan buyar terpecah, berkeping-keping. Tak bisa berucap apa-apa, dan mungkin tak akan pernah memaafkan diriku sendiri karena sudah memperlakukan ketulusan dan rasa hormat seorang teman lama dengan penuh rasa curiga.

Setelah mulai bisa memungut serpihan demi serpihan kata yang tercerai-berai tadi, aku lalu mulai menjawab sepatah dua patah kata dan menutup pembicaraan kami di telepon dengan janji bahwa aku pasti datang ke pesta pernikahannya. Janji ini bukan dimaksudkan sebagai ungkapan penyesalan dan minta maaf atas negative-thinking, tapi memang benar-benar kebersamaan terhadap sesama teman. Sedangkan penyesalan dan minta maaf itu sendiri—kalau memang cukup, tapi rasanya juga tidak akan cukup—ingin coba aku ungkapkan dengan tulisan ini.

Beberapa detik setelah telepon itu ditutup, aku juga menelepon temanku itu kembali untuk mengucapkan kata “congrats!”, yang—entah apakah sudah sedemikian campur-aduknya pikiran ini—lupa terucapkan saat dia menceritakan rencana pernikahannya di pembicaraan telepon kami yang sebelumnya.

Maapin temenmu yang picik ini ya, Man… Dan doain luka batin ini cepat sembuh, biar aku juga bisa dapet jodoh dan besok-besok gantian nganterin undangan ke kamu. Ntar kamu juga boleh bales dengan nggak mau nemuin aku, dan aku janji nggak akan sakit hati :p

samedi, octobre 20, 2007

Nama dan tek-len

"STARBRUK. Bintangnya kopi tubruk."

x/x: Well, how much do you charge for this?
o/o: Mmm, let's see... Two minutes, some paste-up and twirls here and there... That would be, umm, a glass of a real one.
x/x: Aah, you're kidding me...
o/o: No, it's charging you that would be a lot more kidding.
x/x: But other agencies charge for such thing.
o/o: Well, I'm not like the other agencies, I guess.
x/x: So, what are you?
o/o: Just, umm... some agency.
x/x: Sam? I thought your name was Steve.
o/o: Hmpfff... That would cost you another glass.
x/x: But you said you couldn't drink too much.
o/o: I don't. I'll spill it to your face.
x/x: Hey... you're insulting the client. What's that supposed to mean?
o/o: Only the finest agency does that, pal!
x/x: ... means?
o/o: Well, umm... what happens if you make a mistake and we keep telling it right or good?
x/x: Hmm... stupid?
o/o: Smart.
x/x: Smart?
o/o: Smart answer, I mean.
x/x: Oh, ok... minal aidin wal faidzin deh.
o/o: Lha yes, ngapain dari tadi ngomong pake Englais? Minal aidin wal faidzin juga, Lé...

mardi, octobre 09, 2007

THR dan Shopping

Duh, enaknya... yang udah terima THR. Bisa shopping.

Giliranku masih dua bulan lagi neh :-))

lundi, octobre 08, 2007

Clueless

x/x: “Hari ini kmn?”
o/o: “Blm tau.”
x/x: “Wah, gawat nih, blm libur Lebaran udah clueless.”
o/o: “Kalo gawat ke UGD aja :p”

mardi, octobre 02, 2007

Tongseng “Mbak Sri”

Kehabisan referensi tempat makan siang di sekitar kantor kadang-kadang justru membawa berkat: jadi pengen nyobain tempat yang lebih jauh :p

Dan kali ini sampailah kami ke “negeri seberang”, tepatnya di balik Gedung Victoria (kantor Lowe Advertising) di seberang Pasaraya Grande. Jalan yang tidak terlalu ramai dan pojok yang lumayan teduh karena pohon-pohon, di situ kita akan menemukan sebuah warung tenda kuning, bertuliskan “Warung Soto Solo Mbak Sri”.

Lucunya warung ini lebih terkenal karena tongsengnya daripada sotonya. Saat itu pengunjung-pengunjung lain di meja sekitar juga pesan tongseng semua.

Mungkin faktor utama yang membuat tongseng ini menarik adalah cara memasaknya yang menggunakan tungku arang, sebuah way of cooking yang sangat khas Jawa Tengah pedalaman—populer sekali di Solo dan Jogja. Orang Jawa Tengah pedalaman yang karakternya terkenal telaten (terasa juga dari budaya batik tulis dan tutur bahasanya) rupanya juga telaten dalam hal memasak. Dan jadilah tongseng yang baru sekali dimasak itu gurih dan meresap, layaknya rawon atau sop buntut yang sempat diendapkan semalam dan dipanasi kembali. Lidah pun menari-nari…

Untuk memberi rasa pedas, tongseng Mbak Sri tidak menggunakan sambal, melainkan cabe rawit yang dipotong kecil-kecil. Rasa pedasnya lebih murni, dan lebih dahsyat. Aku yang kurang tahan rasa pedas akhirnya harus sering menenggak es kelapa muda yang seharusnya diminum setelah makan :p

Es kelapa muda itu sendiri, yang bisa dipesan dari gerobak seberang Warung Mbak Sri, tak kalah dahsyat. Dengan lima ribu perak kita akan mendapatkan es kelapa muda yang tersaji dalam gelas sebesar gelas bir, daging kelapanya banyak pula. Menurut Bang Ali Sadikin, teman kantor yang merekomendasikan tempat makan ini, biasanya ada es cendol yang juga dahsyat—pakai tape ketan item—tapi sayang pada kunjungan kali ini si bakul lagi nggak jualan.

Kalau lagi nggak pengen sering-sering makan kambing, di warung ini kita juga bisa pesan sate ayam yang juga lezat rasanya—setidaknya ini sate ayam paling enak dibandingkan warung-warung sate di sekitar kantor kami di Panglima Polim III. Sate ayam Mbak Sri ini disajikan tanpa bumbu kacang, hanya kecap manis, yang dihiasi potongan tomat, bawang merah, dan cabe rawit yang juga bisa kita campurkan ke dalam bumbu kecap sesuai selera.

---

x/x: "Hadoohhh..." (keringatan, habis kena pedasnya masakan)
o/o: "Panas ya, Mas? Maap lho, AC-nya lagi mati lampu nih..."
x/x: "Hahaha" (langsung sejuk lagi)

lundi, octobre 01, 2007

The finest therapist

Kate: “So what is this, a new therapy? Insulting client?”

Therapist: “Only the finest therapist does that.”

(No Reservations, 2007)

Berkat di bulan puasa

Bulan puasa tidak hanya membawa berkat bagi teman-teman yang menjalankan ibadah puasa. Yang beragama lain seperti aku pun ikut menikmati berkat.

Seperti biasa, di kantor kalau bulan puasa jam pulang kantor dimajukan setengah jam menjadi jam 5. Sorenya, menjelang buka puasa, juga selalu ada sajian jajan pasar—biasanya dipadu dengan kolak, es cendol, atau es-es lain yang manis—yang selalu tersedia dalam jumlah banyak. Kalau pas ada lebih ya lumayan, kita-kita yang nggak puasa dapet cemilan gratis. Kadang kalau lagi kumat diet bisa menghemat uang makan malam, karena sepotong-dua potong jajan dan segelas es ternyata lumayan “berat” :p

Itu berkat pertama. Berkat kedua, yang makin hari makin melimpah, adalah berkat diskon. Yang paling terasa adalah diskon makan di rumah makan atau resto, secara kalau bulan puasa cari tempat makan siang relatif lebih susah. Kebanyakan warung kaki lima, “langganan” setia kami, tutup, sehingga kami yang tidak ikut berpuasa pilihannya tinggal dua: bawa bekal, atau pindah ke rumah makan/resto.

Tahun-tahun sebelumnya aku selang-seling makan di resto dan bekal—itu pun bekalnya roti atau nasi kotak, bukan masakan sendiri. Tapi belakangan karena makin banyak rumah makan/resto yang memberi diskon jadi lupa bekal :p

Salah satu paket menarik spesial bulan puasa buat aku dan beberapa teman adalah di Bakmi GM, yang sebelumnya juga sering jadi pilihan tempat makan siang. Kalau biasanya seorang makan bisa habis di atas Rp 20.000—bahkan bisa Rp 30.000-an kalau pilih menu goreng dan pakai ekstra—selama bulan puasa ini ada paket menarik makan+minum Rp 16.500 nett. Mereka menyebutnya “Paket Berkat”, yang tersedia dalam 2 pilihan yaitu bakmi dan nasi ayam. Itu sudah termasuk sebotol teh.

Secara umum belum bisa dibilang murah, secara standar kantong kami warung kaki lima, tapi menurutku untuk sebuah rumah makan fast food—yang rasanya lumayan dan tempatnya nyaman—harga ini sangat murah. Setidaknya lebih menarik daripada makan di kafetaria gedung-gedung kantoran atau McD.

Kadang-kadang saat makan sempat terlintas di pikiran, pusing juga ya kalau punya usaha kuliner di bulan puasa. Kelihatannya mungkin ramai di jam buka puasa—bahkan mungkin berebut di beberapa tempat—tapi di jam-jam sebelumnya? Biasanya jam makan siang di Bakmi GM penuh, sekitar 90-95% meja terisi, tapi di bulan puasa ini tinggal mungkin 10, maksimum 20%-nya. Dan itu pun masih diskon, yang berarti penghasilan menyusut.

Sudah penghasilan menyusut, biaya operasional tetap, masih harus bagi-bagi THR pula. Kalau tidak disubsidi penghasilan bulan sebelumnya tentu tidak akan cukup.

Aku hanya berharap semoga para pengusaha kuliner juga mendapat berkat yang cukup, seperti halnya kami para konsumen, karena bagaimanapun tanpa mereka kami juga tak akan beroleh berkat di bulan puasa ini.

Antara profesi dan pekerjaan

Peradaban dunia makin maju dan spesialisasi menjadi tren, tapi sebagian besar orang bahkan tidak bisa membedakan antara profesi dan pekerjaan. Dunia memang kontras, sekontras buruh tambang di Sierra-Leone dan pemasok berlian di London. Sekontras orang yang bikin iklan untuk menjual sebuah produk, sementara di belahan dunia lain produk dibuat untuk menjual sebuah komunikasi atau paham (misalnya di Apple Inc.).

Di sebuah film Timur Tengah yang baru-baru ini diputar di stasiun TV swasta, ada sebuah penggalan naskah yang diucapkan oleh tokoh ayah miskin kepada anaknya, “Kalau besok ayah dapat pekerjaan, nanti ayah belikan sepatu untuk kamu.”

Saat belum lama ini berkesempatan cuti pulang kampung, adik seorang teman juga berpesan, kalau ada pekerjaan di Jakarta tolong dia dikabari, mungkin berminat. Tiap tahun kita juga sering mendengar ada bursa kerja, di mana ribuan calon tenaga kerja berkumpul untuk mencari mata pencaharian.

---

Pemahaman yang ada di masyarakat, bekerja berarti mata pencaharian. Kebutuhan utamanya adalah mengumpulkan uang dari upah yang dihasilkan. Uangnya bisa buat beli makanan, baju, sampai iPod dan gonta-ganti ponsel setahun tiga kali.

Semua orang butuh dan harus bekerja karena butuh uangnya. Semakin banyak pekerjaan, semakin banyak uang yang dikumpulkan. Selalu tentang kuantitas, dan tak bisa dipungkiri untuk menopang hidup uang memang masih dibutuhkan.

Selain hasil dan skala, proses bekerja juga diukur secara kuantitatif. Durasi bekerja, misalnya. Ini bermacam-macam, mulai dari durasi harian (dalam sekian jam bisa menyelesaikan berapa layout, misalnya), durasi bulanan (dalam sebulan bisa menyelesaikan berapa project/campaign), sampai durasi tahunan (dalam setahun gue bisa ngumpulin berapa award, atau menang berapa pitch, misalnya).

Karena sifatnya tangible, akhirnya semua measurement sebuah pekerjaan selalu bersifat numerik, kecerdasan berpikir dan berolah otak. Termasuk urusan overtime, di luar jam kantor nggak mau ngurusin pekerjaan, misalnya. Ya iya lah… ngapain waktu di luar kantor dibuang untuk ngurusin pekerjaan? Enakan jalan-jalan ke Bandung atau ngesje, bisa nambah uang jajan. Pekerjaan memang tidak layak diperlakukan istimewa; ia tak lebih dari sekedar medium untuk cari uang.

---

Bagaimana dengan profesi?

Dalam sekilas kejapan, mungkin baru dua profesi yang bisa kita ingat: dokter, dan guru. Dokter praktek di klinik dan rumah sakit, tapi di luar jam prakteknya ia juga tetap dokter. Di saat darurat, kita bisa mengetuk pintu di tengah malam dan seorang dokter akan membantu. Guru juga selalu mendidik kapan pun ia berada, bahkan di luar jam sekolah. Setidaknya ayah saya pernah mengalaminya saat SMA, saat gurunya, seorang frater Belanda, memberikan tambahan pelajaran di luar jam sekolah tanpa memungut biaya.

Sebuah profesi tidak bisa diukur dengan kuantitas dan angka, bahkan logika. Ia muncul dari nurani sebagai suatu bentuk solidaritas—kalau bukan passion—terhadap kehidupan. Ia lahir untuk punya peran bagi kehidupan (uploading), bukan semata-mata mengeksploitasi kehidupan untuk kepentingannya sendiri (downloading). Ia bukan kewajiban, tapi kesadaran. Ialah akar dari lingkup solidaritas yang lebih besar: di lingkungan keluarga, tempat tinggal, komunitas tempat bekerja, dan kehidupan sebagai bangsa.

Ada satu ungkapan indah yang menyebut bekerja itu ibadah, atau dalam versi lain di sebuah film, “But when love and duty are one, then grace is within you” (The Painted Veil, 2006). Rasanya keduanya sama dan benar, bahwa pekerjaan kadang bisa memiliki nilai profesi, tergantung bagaimana kita memandang dan menjalaninya.

Kalau kita persempit dan kembalikan ke pekerjaan kita di bidang advertising, sebagai penyampai pesan dan pemegang peran dalam perubahan perilaku di masyarakat, sebenarnya kita juga punya nilai profesi—yang lebih dari sekedar gelimang billing dan awards yang kita kumpulkan.

Pilihannya, apakah kita mau mempertahankan nilai profesi itu, atau semuanya kita convert menjadi pekerjaan dan nilai bisnis. Apakah kita ingin pesan kita berguna bagi konsumen dan masyarakat, atau semuanya kita lakukan demi menang award atau memenangkan hati klien? Apakah kita suka punya profesi sebagai orang iklan, ataukah kita menjadi orang iklan hanya supaya masuk majalah dan naik panggung?

Dua tahun lalu, ketika pertama kali suka dan menekuni blogging, saya pernah mendapat pertanyaan, “Kamu memang suka menulis, atau baru menulis kalau ingin untuk sesuatu?” Alhamdulillah sampai hari ini saya masih suka menulis, suka blogging, dan suka dengan profesi sebagai orang iklan—with or without the award.

Pesanlah apa saja, kecuali cinta

NO RESERVATIONS
USA | 2007 | Sutradara: Scott Hicks

Rasanya lucu orang yang belum berhasil—kalau bukan gagal—dalam kehidupan percintaan seperti aku, bicara soal cinta. Tapi mungkin headline inilah ekspresi yang paling jujur yang aku rasakan saat menonton film ini.

Aku pernah mengalami masa-masa menjadi the special one, seperti karakter Kate (diperankan Catherine Zeta-Jones) di film ini. Kemahiran dalam hal yang dikerjakan, dan kesuksesan yang menyertai, membuat pandangan terhadap hidup menjadi terlalu logis dan absolut. Seakan-akan ada satu takaran atau rumus yang pas dan standar untuk menilai semua kasus, seperti salah satu adegan di mana Kate marah tenderloin-nya dibilang kurang rare—ia tidak percaya pada customized customer, bahwa preferensi tiap orang bisa unik dan mungkin butuh perlakuan beda. Seakan-akan semua bisa dipesan seperti ikan dan truffle.

Adalah sang keponakan cilik, Zoe (diperankan Abigail Breslin, Little Miss Sunshine), dan asisten di dapur resto, Nick Palmer (diperankan Aaron Eckhart), yang kemudian berkencan dengannya, yang memberikan pelajaran kepadanya tentang hidup dan cinta. Mencairkan hatinya yang beku dikuasai nalar, dan membuat hidupnya lebih mengalir. Let it flow, let it flow… Proses serupa yang terjadi padaku saat mengenal lebih jauh tentang seni dan budaya, setelah sebelumnya hanya banyak menyerap ilmu pasti semasa sekolah.

Mudah-mudahan kisah hidupku juga berlanjut seindah akhir film itu: menemukan pasangan hidup, punya anak kecil yang lucu dan kreatif, dan punya petit café di downtown New York. Nah lho… jadi reserve-minded lagi neh…