lundi, août 27, 2007

Cin Lok

Jadi inget nama seorang teman Papaku, Ui Cin Hok.

Seperti halnya Chinese Hokkian yang lain, nama yang terdiri dari tiga kata itu artinya kata pertama adalah marga keluarga besar, kata kedua adalah marga generasi, dan kata ketiga baru nama orang itu sebenarnya. Dalam pergaulan sehari-hari kadang-kadang sering dijumpai orang memanggil dengan A Cong, A Lung, A Guan, dan sebagainya. Itu adalah “A” plus nama belakang. Semacam Bill untuk William, Jim untuk James, atau Tom untuk Thomas di masyarakat Amerika-Inggris.

Nah ceritanya temennya Papaku ini punya empat saudara laki-laki semua, jadi total ada lima Ui Cin, salah satunya Ui Cin Lok. Tapi cerita selanjutnya ini nggak ada hubungannya dengan sodaranya temennya Papaku itu.

Ini tentang Cin Lok yang versi Indonesia, cinta lokasi. Bukan juga maksudnya cinta sama sebuah lokasi atau tempat, tapi cinta yang terbentuk di suatu tempat karena kebetulan. Eh… bukan kebetulan juga sih, cuman ya lagi tempat dan suasananya pas saja, dan “setruman” itu tiba-tiba mampir dan ZZZTT!!! Tak lama kemudian terjadilah. Bisa sekedar tersipu-sipu aneh, salah tingkah, sampai… macem-macem :p

Macem-macemnya juga macem-macem, artinya ya beraneka ragam gitu deh. Bisa cuman selingkuh mata, selingkuh perasaan, selingkuh belaian, selingkuh bibir, sampai selingkuh macem-macem :p Tapi itu kalo udah punya pasangan. Kalo jomblo kayak aku gini ya bukan selingkuh dong, namanya. Tapi ya tetep Cin Lok juga sih. Jadi… eeh… memang susah ya mendefinisikannya.

Daripada mbulet terus, mending ngobrol tentang bagaimana rasanya saja. Mungkin ini lebih bisa terdefinisikan dengan bener.

Sebagian besar orang tentunya sependapat bahwa Cin Lok itu rasanya enak. Entah apakah karena sifatnya yang cuman sesaat, pelarian dan pembuang rasa bosen? Karena tidak terikat dan tidak ada tanggungan (memangnya kredit?), cuman jawaban aja sih kalau sampai terjadi hal-hal yang di luar batas kewajaran… Ya bukan di atas batas kewajaran juga sih, wong secara biologis cukup ilmiah dan lumrah.

Anyway, di dunia kerja yang dinamis dan melibatkan banyak pihak, salah satunya showbiz dan salah duanya advertising, Cin Lok ini sangat mudah terjadi dan oleh karenanya sangat banyak dijumpai. Sampai-sampai ada ungkapan kuno dan a la kaum “de haev” (bener ga nulisnya ini?) yang suka wanti-wanti anaknya jangan sampai dapet kalangan artis, karena anggapannya artis pasti sangat berpeluang Cin Lok dan akibatnya sangat berpeluang gonta-ganti pasangan. Mungkin kalau suatu hari masyarakat juga sudah fasih dengan profesi advertising—saat di mana mereka tidak lagi mengartikan art director sebagai direktur dan copywriter sebagai tukang ngurus hak cipta—kalangan ini jangan-jangan juga akan dicap sebagai calon mantu yang nggak baik pula.

Padahal… padahal neh… yang namanya buaya itu amphibi, nggak pilih-pilih medan. Di air buas, di darat juga buas. Mau profesinya artis ato orang iklan, kalau setia ya setia. Mau profesinya ulama ato menteri, kalo sensor kelaminnya seperti si leher beton (lebih dominan daripada sensor otaknya) ya nggak akan cukup dengan satu perempuan.

Lha abis enak seh… piye terus?

Lho siapa yang bilang selingkuh itu nggak enak? Siapa yang bilang Cin Lok itu tidak enak? Cin Lok itu enak kok… Secara visual terpuaskan, secara emosional juga terekspresikan, nggak perlu pura-pura nggak suka kalau suka. Selanjutnya tinggal terserah kita masing-masing, apakah mau sebatas selingkuh mata saja, atau sampai selingkuh belaian dan pipi, atau selingkuh bibir, atau… selingkuh yang lebih dalam lagi.

Yah tentunya makin dalam selingkuhnya makin dalam juga risikonya. Kalau selingkuh mata paling-paling cuman dilabrak pasangan atau kaki kita diinjak dengan hak sepatunya yang lancip dan bertekanan sekian Pascal itu. Kalau selingkuh belaian dan pipi mungkin kita akan “disetrap” dan labrakan itu meningkat jadi makian. Kalau selingkuh bibir atau lebih dalam… ya mungkin bisa diajak bubaran.

Jadi sebetulnya komitmen itu relatif. Manusia pada dasarnya bebas, tidak bisa benar-benar memiliki atau dimiliki manusia yang lain. Manusia pada dasarnya suka dengan hal baru. Baju baru, sepatu baru, mobil baru, film baru, mal baru, restoran baru, ide baru. Cin Lok itu juga mostly sama, ia seperti sesuatu yang kita suka karena baru, karena fresh dan refreshing, karena membuat kita lari sesaat dari kenyataan yang mungkin menjenuhkan, dan oleh karena semua itu ia sifatnya temporary, sementara, atau di dalam dunia advertising disebut dengan istilah tactical campaign.

Cin Lok itu seperti travelling, bertemu dengan teman-teman baru atau teman-teman lama tapi dengan suasana baru—yang oleh karenanya muncul hal-hal baru darinya. Cin Lok itu seperti clubbing dan alkohol, yang membuat kita mabuk sesaat dan melupakan segala masalah kehidupan kita. Cin Lok itu seperti clubbing dan alkohol, yang enak dan bikin kecanduan, yang kalau kelewat batas tidak lagi membuat kita melupakan masalah kehidupan kita, tapi malah mendatangkan masalah baru dan menambah beban hidup.

Jadi… mau Cin Lok ya Cin Lok aja, nikmati kenikmatan duniawi, tapi jangan lupa daratan sampai tak bisa membedakannya dengan lautan. Ntar jadi buaya lo.

mercredi, août 22, 2007

[lfc.tv] A letter from Luís García

Dear Reds,

First of all I'd like to apologise for not having been back in touch sooner, but I needed to take some time to take on board all the recent changes and then to put down these words for you.

I'm sure you will understand.

I would rather this be a letter of thanks and gratitude, not simply a goodbye.

Yes, that's right, gratitude, because that is the word that best sums up my feelings for you all.

Taking the decision to change clubs hasn't been easy. Not easy at all.

I've experienced three fantastic years at the club and in the city. Three years in which together, the fans and the team, we have accomplished some fantastic achievements, and I'm sure that these successes will continue to be repeated in the near future.

You know that I like a challenge and that I don't just settle for second best.

Back then Liverpool Football Club gave me the opportunity to be part of an ambitious plan to put the Reds back at the summit of the game.

I think that together we managed to achieve that.

As I said, I do like challenges and in spite of the fact that at that time I was playing for my home town club, one of the biggest in the world, I wanted to be a part of that project that was being presented to me by Liverpool, and so I accepted the challenge.

Now, after three seasons in the Premier League and having won some major trophies, the chance came up for me to return to La Liga and be part of a new project at a club I already knew.

The idea of enjoying things in a Spanish club like we experienced together at Liverpool over these last three years appealed to me, and that's why I accepted the offer.

I want to thank everyone working at Liverpool Football Club for how well they have treated both my family and I, making us feel at home from the very first day to the last.

I also want to thank the management, coaching staff and directors for the opportunity they gave me back then to be part of such an important and well-loved club as Liverpool. A club which has helped me to grow as a footballer and where to date I have enjoyed the biggest success of my career.

Without a doubt, this success has been possible thanks to the outstanding group of players with whom I've been able to share a dressing room over the last three seasons.

I'm not going to mention anyone specifically, because I think that the secret of this team's success has been exactly that: nobody wanted to stand out above the rest and there has always been a great togetherness in the squad, which made it into something more than a group of players, it was a group of friends.

Thanks to all of you for your help and your friendship.

I've left until last the thank you which for me is the most important: Thank you to the supporters.

Your support allowed me to settle quickly at both the club and in the city, and you made me feel really at ease with you all right from the word go; that's the kind of help that you notice most of all during the difficult times, of which there have been a few during my time here.

I'd like to especially thank you for making up a song for me and you should know that every time I heard you singing it, it was like an extra injection of strength and motivation, even helping me to overcome pain occasionally during a game.

Your unconditional support is the thing that ensures that this team manages to pull through in the most difficult circumstances; and I can assure you that the whole squad is aware of this and thanks you for it.

A football club isn't just made up of players, coaches and directors. More than anything else it's the supporters who make a club, and that perhaps is the ingredient which best distinguishes Liverpool Football Club from every other team. The supporters.

Because if one thing has remained obvious to me after these few years, it's that with supporters like you, Liverpool Football Club will never walk alone.

I really hope that the club wins lots of major trophies in the future; I'll be following it all from a distance, with the pride that you can only get from having been a Red and played for the home team at Anfield – a ground that every football fan must visit at least once in their life.

Thank you for everything. Yours most sincerely,

Your friend, Luís García

lundi, août 13, 2007

Prinsip kebugaran

Mengamati perilaku di industri sepakbola Eropa sepuluh tahun terakhir, kita sebagai orang awam mungkin terheran-heran dengan investasi sekian banyak pemain yang sampai membuat pemain inti dan cadangan nyaris tak berbeda kualitas.

Beberapa klub besar seperti Real Madrid dan Inter Milan memang sudah menjadikan tradisi pemain bintang sebagai keharusan, karena dalam perkembangan kapitalisme memiliki pemain bintang berarti duit, duit, dan duit. Merchandise laku, stadion pasti penuh dan harga hak siar bisa dinaikkan—seperti yang terjadi dalam skala liga di pertelevisian nasional sekarang, di mana Liga Inggris yang hari ini paling bertabur bintang makin melambung nilai hak siarnya. Karena serakah, namanya juga businessmen, mana ada yang nggak serakah, akhirnya makin banyak pemain bintang yang dibeli, bahkan yang akhirnya tidak terlalu banyak bermain sekali pun. Ya iya lah… slotnya cuma 11, stoknya 25, separuhnya bintang, bisa dipastikan berebut.

Tapi di atas semua itu, yang terjadi di sebagian besar lainnya, pembentukan tim inti dan cadangan yang sama kuat sebenarnya punya alasan lain di samping sekedar mesin pencetak uang. Pelatih-pelatih dan para pengelola klub yang waras berinvestasi sekian banyak lebih karena sadar bahwa kompetisi sepakbola Eropa hari ini sudah sedemikian ketatnya, sedemikian kerasnya. Jadwal turnamen yang padat dipadu dengan standar permainan yang makin tinggi, mengakibatkan risiko kelelahan makin mudah terjadi. Akhirnya demi menjaga kebugaran pemain, disediakanlah pemain cadangan yang setara kualitasnya dengan pemain inti, agar permainan tim tetap sesolid semestinya, tidak kendor atau drop.

Sekilas bagi orang awam mungkin terasa absurd, pemain yang gajinya rata-rata di atas 50 ribu Euro kok manja, masalah kelelahan saja dibesar-besarkan.

Ternyata kelelahan bukan masalah sepele. Hanya dari kelelahan atau stamina yang kurang bugar, seorang pemain jadi lebih mudah cedera. Dan itu sudah terbukti pada beberapa pemain yang terlalu banyak bermain, misalnya dulu Gabriel Batistuta di Fiorentina pada musim 1998/1999, Alessandro Del Piero di Juventus pada musim 1998/1999, Ronaldo di Inter Milan pada musim 1999/2000 dan 2000/2001, Robbie Fowler di Liverpool musim 1999/2000, dan entah masih berapa banyak lagi nama lain yang pernah cedera karena kelelahan.

---

Mengikuti pertandingan futsal kedua bulan ini bersama teman-teman sekantor, aku akhirnya mengalami masalah serupa. Tampil dengan separuh kekuatan, tim kami kekurangan pelapis. Ditambah dengan durasi pertandingan yang dua kali lebih panjang daripada yang pertama, setiap pemain akhirnya bermain terlalu banyak.

Senangnya senang, tapi sayangnya kesenangan bermain panjang itu membawa pulang “oleh-oleh” cedera. Tampaknya bukan cedera serius, kebetulan juga cuma skala latihan saja, bukan pertandingan yang ngotot-ngototan gimana, tapi karena otak dan perasaan kurang sensitif terhadap fisik yang sudah lelah akhirnya stretching menahan bola saja sudah tertarik salah satu otot, bertabrakan ringan kesakitan, dan terakhir saat menggantikan kiper yang kelelahan ibu jariku keseleo. Entah apakah teman-teman yang lain juga bawa pulang “oleh-oleh” serupa, mungkin ada juga tapi nggak merasa.

---

Lalu bagaimana nasib pemain-pemain sepakbola itu setelah cedera? Tergantung. Kalau cederanya ringan pemulihannya juga lebih cepat, karena selama cedera masih diperbolehkan latihan ringan. Kalau berat, bahkan sampai perlu operasi, tentunya akan lebih lama karena harus istirahat total dan vakum latihan beberapa waktu.

Itu artinya mereka harus berlatih keras dari awal lagi untuk sampai ke tahap bugar, sampai mereka bisa dimainkan kembali. Itu artinya kalau cederanya sembuh dalam 2 minggu, berarti butuh minimal seminggu ekstra—atau bahkan lebih—untuk pemain itu berlatih hingga mencapai kebugaran dan bentuk permainan terbaiknya, sampai bisa dipakai bertanding lagi. Itu artinya rugi, rugi, dan rugi, dan tidak baik juga bagi performa tim dan masa depan pemain yang bersangkutan. Lebih baik berinvestasi beberapa juta Euro atau poundsterling lebih tapi pemain intinya tidak cedera, daripada investasi pas-pasan lalu pemain intinya cedera.

Strategi investasi lebih ini juga membawa imbas positif lain dalam hal kompetisi itu sendiri, di mana tidak ada pemain yang punya jaminan akan dimainkan di setiap pertandingan. Bahwa 11 slot itu harus tiap minggu mereka perebutkan dengan selalu menunjukkan performa maksimal selama latihan. Dengan begini, 11 pemain inti yang dimainkan, beserta 5-7 cadangannya, adalah selalu mereka yang berada dalam kondisi terbaik minggu itu, baik fisik, teknik, maupun moral bertanding. Hasilnya, bisa dilihat sendiri kualitas liga-liga Eropa sepuluh tahun terakhir ini yang meningkat pesat, meninggalkan liga-liga lain di seluruh dunia.

Tapi langkah investasi ini juga bukan berarti tanpa risiko dan tanpa korban. Salah satu, atau beberapa, di antara pemain pelapis dalam suatu tim juga berisiko menjadi investasi sia-sia bila pemain intinya selalu bugar dan selalu memenangkan kompetisi menjadi pemain inti. Mereka dapat menjadi kalangan makan gaji buta, yang statusnya pemain tapi kenyataannya lebih banyak berfungsi sebagai sparing latihan saja. Bagaimanapun, sebaik apa pun latihan dalam sebuah tim, sebanyak apa pun ilmu yang bisa didapat selama latihan, pengalaman bertanding tetap mempengaruhi performa seorang pemain secara keseluruhan. Bila tidak diperhatikan dan lebih sering duduk di bangku cadangan, seorang pemain tiba-tiba bisa jadi tumpul dan kurang bugar untuk bertanding (lack of match-fitness).

Akhirnya aku bisa mengerti perilaku para pelatih dan pengelola klub yang berinvestasi sekian banyak untuk beli pemain pelapis berkualitas itu. Akhirnya aku bisa paham, menjaga endurance dan life-span pemain-pemain bagus tak kalah penting daripada mendapatkan, melatih, dan memainkannya. Seni sepakbola tidak berhenti hanya di lapangan dan saat pertandingan, tapi juga di luar lapangan.

Kebesaran hati para pedagang kecil

Seorang teman sempat terheran-heran saat diceritain masih ada bakul di dekat kosku yang jualan bubur ayam seharga Rp 2.500. “Masih ada toh makanan Rp 2.500 di Jakarta?”

Aku belum melanjutkan ceritaku bahwa selain harganya yang amat sangat mufakat banget itu, rasanya juga lebih enak daripada bubur-bubur ayam sejenis di Menteng atau Kebayoran yang pernah aku coba (yang harganya antara dua sampai empat kali lipat itu).

Termasuk salah satu penjelajah makanan kaki lima, aku beruntung banyak menemukan makanan-makanan murah-meriah. Bubur ayam itu salah satunya, selain nasi goreng di depan Takigawa dekat kantor, nasi goreng di depan RSAL Benhil, bakmi Wewe Ketapang, kuotie Shantung di Gajah Mada, dan banyak lagi tempat lainnya.

Yang membuat bubur ayam di dekat kos ini lebih enak adalah cara meracik dan menata ingredients-nya. Walaupun sesaat setelah disajikan pasti diaduk dulu oleh para penikmat, tapi racikan dan tatanan yang pas itu menghasilkan rasa yang lebih padat dan mantap. Tidak “anyep” atau sekedar asin, seperti kebanyakan bubur ayam lain.

“Keberanian”-nya menyuwir daging ayamnya panjang-panjang, dan sering kali pakai dada yang padat serat daging itu, membuat dalam volume saji yang hampir sama terasa lebih banyak. Mungkin juga memang jadinya sedikit lebih banyak. Taburan kedelai-kedelai panggang melengkapi kekayaan rasa bubur ini, walaupun tetap tidak sedahsyat bubur a la Chinese A Guan di Mangga Besar. Tapi bubur ini tetap bubur ayam Jakarta kaki lima terbaik yang pernah aku coba sejauh ini.

---

Kadang suka rada heran melihat para pedagang kecil yang hebat-hebat ini. Tidak hanya hebat dalam meramu masakannya, tapi juga hebat dalam mengelola harganya, sehingga tetap murah.

Sempat absen beberapa saat, aku pun kembali bertanya kepada si penjual harganya berapa, kali-kali aja naik (dan kadang setengah berharap demikian, seperti ingin memberi rejeki lebih). “Sama kayak biasanya aja,” jawabnya dengan nada pasrah.

Dulu pernah sesekali aku pura-pura lupa minta kembalian dan melipir setelah memberi tiga ribu—karena aku pikir layak dapat sekian, bahkan mungkin lebih—tapi si bapak memanggil sambil memberikan kembalian lima ratus perak. Ini kontras dengan misalnya kebanyakan anak muda yang ngamen di daerah Menteng, yang pada suatu kesempatan aku makan di sana bersama temanku dan temanku itu memberi beberapa ratus perak dan dikembalikan dengan wajah masam, seakan ngeledek bahwa di situ pasarannya minimal seribu. Padahal temanku tadi orang Surabaya yang nggak ngerti pasaran dan bermaksud baik memberi. Masih lebih murah hati daripada aku yang tidak memberi sama sekali waktu itu.

Kalau kita kembali lagi ke pedagang bubur ayam langgananku tadi, tiap porsi mungkin dia hanya untung seribu perak. Dan untuk mendapatkan seribu perak dari tiap porsi itu dia harus belanja ke pasar atau tukang sayur, merebus beras, menggoreng ayam, menggoreng kerupuk, bangun pagi dan berjalan mendorong gerobak beberapa kilometer, menyajikan buburnya, dan mencuci mangkok dan sendok bekas sajian. Oh ya, satu lagi, memasak air minum dan mencuci gelas-gelas. Air minum ini juga gratis—seperti halnya teh tawar di tempat makan Sunda dan Padang—tapi jarang aku ambil karena kosku memang hanya beberapa langkah dari bakul bubur itu. Biar air minumnya si bapak lebih nggak cepat habis, pikirku.

Pekerjaan dan sebuah usaha memang mengajarkan orang untuk menghargai sebuah tenaga, sebuah effort, dan membentuk jiwa-jiwa besar, sekecil apa pun usaha itu. Sementara pengangguran, seperti kebanyakan pengamen tadi, bisanya cuma menuntut tanpa usaha, ngomong dan teriak-teriak tanpa bekerja. Tong-tong kosong berbunyi nyaring, yang makin hari makin banyak jumlahnya di masyarakat kita, termasuk pengangguran-pengangguran terselubung lainnya: pegawai yang ngabisin pulsa telepon kantornya buat pacaran (biasanya pakai kedok datang pagi-pagi atau pulang telat), karyawan yang morot-morot fasilitas yang disediakan perusahaan atau perusahaan yang morot-morot budget yang disediakan kliennya (apalagi kalau pas syuting), sampai para wakil-wakil rakyat dan pegawai pemerintahan yang menghabiskan anggaran negara dan daerah untuk proyek-proyek yang tidak jelas.

Sementara si penjual nasi goreng di dekat kantor menunggu hampir dua tahun sebelum menaikkan lima ratus perak harga nasi gorengnya, atau bakmi Wewe Ketapang yang tidak menaikkan harganya setelah pindah dari kaki lima ke sebuah stan ruko, kalangan pengamen akan lebih dulu menaikkan “tarif” mereka—begitu juga beberapa jukir di daerah Kota dan Harmoni, yang begitu lihat mobil plat L dan pemiliknya bermata sipit langsung dimintai tiga ribu.

“Sejak kapan?”

“Setorannya sekarang mahal, bos…” Padahal hari itu kebetulan sepi aja, which is harusnya risiko dia, bukannya dibebankan kepada konsumen. Bisa juga cuma alasan buat curi-curi kesempatan dalam kesempitan.

Penjaja layanan bajaj juga sering melakukan hal-hal seperti ini, dikasih sepuluh ribu dari gereja Mahakam ke Panglima Polim pura-pura melipir dan nggak ngasih kembalian.

Mungkin disangkanya semua pengunjung gereja itu orang kaya, padahal yang kaya itu biasanya bukan orang yang mau dikibulin dan direnggut haknya macam itu. Justru mereka bisa kaya karena gigih berusaha mempertahankan setiap haknya, dan menghargai every penny they earn. Hal yang sama yang dicerminkan oleh para pedagang kecil tadi—termasuk tukang tambal ban rendah hati di dekat kos—yang mudah-mudahan banyak di antaranya suatu hari nanti bisa kaya, atau minimal berkecukupan, karena menghargai every penny we spend and every penny they earn. Karena begitu besarnya hati mereka, membuat kita yang lebih berada pun jadi tampak kecil di hadapan mereka.

Sajak musim gugur

Dan angin pun bertiup sayup-sayup
Mengiringi terbangnya kawanan merpati putih
Tinggi mewarnai langit biru

Musim berganti
Dan daun-daun menguning berguguran
Begitu pula sekuntum bunga di taman itu
Bunga yang pernah mewarnai begitu indahnya

Nyanyian merpati-merpati sebelum pergi
melukiskan begitu indahnya bunga itu

Bunga yang bersemi sepanjang hidupnya
Dan nafas kehidupannya akan terus berhembus
Menyemikan taman dan segala isinya itu
Di segala musim


(untuk almarhumah Mbak Dien, dan keluarga tercinta yang ditinggalkan)

lundi, août 06, 2007

[reader's digest] Quote of the day

“Mata dibalas mata membutakan seluruh dunia.” (Mahatma Gandhi)

It’s Autumn in New York, and I’m in love

Good looking, charming, having a nice 24th floor penthouse with a balcony at downtown New York and a fancy restaurant. And can cook. And having a girl friend as pretty as Winona Ryder. And having a walk at Central Park, with orange and yellow leaves all around. What a dream…

But it’s not the only reason I like the film. It’s the story, about an established gentlemen named Will Keane (Richard Gere) that got trapped in a steady point of life, flowless and loveless. And God… no, the writer, sent him Charlotte (Winona Ryder), a decent young woman who was both adorably pretty and had an acute heart disease that left her counting the days. You need to heal “sick” with sick—like fighting infection with antibiotics—the writer thought :p

It was the sick, Charlotte, that finally came to “heal” Will. And the cure is love. Sour and bitter, like traditional herbs, but heals. The healing power of love.

---

The contrast between the two characters (Will was 48, Charlotte was 23) seems to create an “impossible” circumstances, that finally made possible with love. The location is New York, between the skyscrappers, where you can feel the established atmosphere—a point where someone seems to reach the climax of his or her life (which is actually never will), and afraid of moving forward.

The time set is autumn, a season of “return”—there’s a South Korean film “Spring, Summer, Fall, Winter, Spring Again” (Kim Ki-duk, 2004) that displays a similar moment of “return” in its fall scene.

Was it a Buddhist symbol? Or some ancient belief among the orientals? I’m not sure yet, but the director is Joan Chen and Richard Gere is a Tibetan Buddhist. It could be just coincidence, though.

Anyway, it’s one of the films I always want to see again. Maybe I see some part of me in it, in Will’s character, though not that rich and sophisticated like him. Maybe I also like the perfect casts, and see my forever idol Winona Ryder—in her sexy spiky short hair, my favorite kind of look of her.

Maybe I just enjoy the pretty part of New York: the privacy, the park, the lake, the autumn. Maybe I also like the soundtrack, “Beautiful” by Jennifer Paige, that some of the lines say,

“The sorrows we embraced
the world belong to you and me

The ocean’s that we cross
The innocence we lost
The hurting in the end
I’d go there again

Coz it was… beautiful.”

Maybe it’s one of the film I always want to see again coz it teaches me, and reminds me of love. That love is not just about the joy, it’s the pain—that without it a love is not complete, is not real love. That no matter how painful the experience is, we will always be thankful to have loved and have been loved, and we will go back there to love again and be loved.

Sate Ayam Gokil!

Tunggu dulu, ini bukan “gokil” seperti halnya nasi gokil (nasi gila) yang berarti lauknya serba beragam dicampur jadi satu. “Gokil” di sini maksudnya gila enaknya.

Masak sate, apalagi sate ayam, memang tampaknya tidak susah—banyak kita jumpai bakul sate ayam di kaki lima atau gerobak keliling—tapi tidak mudah juga menemukan yang rasanya benar-benar mantap. Rata-rata hanya sebatas biasa atau oke, bahkan di kelas restoran sekalipun… Jarang yang gokil!

Nah, kali ini aku menemukan salah satu tempat di daerah Cideng-Harmoni yang jual sate ayam yang benar-benar gokil mantapnya. Warung Lampu Merah di pojok perempatan Suryopranoto-Kesehatan, buka malam hari, di depan bengkel Guna Ban yang buka siang harinya. Hampir tiap lewat situ selalu terlihat ramai, baik weekend maupun hari biasa. Sate ayamnya gurih sekali, dagingnya lebih besar-besar daripada sate ayam biasa dan rasanya seperti daging ayam yang dipanggang a la steak. Saat digigit, mak nyooosss mantapnya…

Tampangnya kaki lima, tapi rasanya nggak mau kalah sama yang bintang lima. Harganya? Rp 16.000 per 10 tusuk. Sebanding dengan puasnya.

Warung ini juga menyediakan menu lain seperti sate kambing, sop ayam dan sop kambing, aneka nasi goreng (ayam/kambing/pete), dan otak-otak. Di sebelahnya ada penjual martabak, dan di sekelilingnya ada beberapa pilihan penjual minuman yang menarik, dari es kelapa muda sampai liang teh dingin—teh a la Medan yang sangat populer di tempat makan daerah Kota.

Untuk menuju tempat ini, kalau dari arah perempatan Harmoni ambil arah ke Tomang dan masuk jalur lambat. Dalam beberapa ratus meter akan ada lampu merah pertama, di situlah letak warungnya, di tepi kiri jalan. Kalau dari arah Tomang letaknya di sisi kanan jalan, lampu merah pertama setelah lampu merah di perempatan besar Cideng.

---

Tempat makan lain yang juga menyediakan menu sate ayam nikmat antara lain Sate Djono di Jl. Penjernihan I, Pejompongan (di belakang kantor lamaku, Satucitra), Gado-Gado Cemara di Jl. Wahid Hasyim, Menteng, dan Soto Om Lazarus di Jl. Juanda, Harmoni. Tapi di kedua tempat yang terakhir ini aku relatif jarang pesan sate ayam, karena di Gado-Gado Cemara pasti pesan gado-gadonya yang mantap nian tiada duanya itu—plus ikan pesmol, kalau pas lagi makan rame-rame—sementara di Soto Lazarus pasti pesan rujak cingur dan soto daging, menu spesialnya.

Di Soto Om Lazarus juga lebih menarik menu sate daging kelapanya daripada sate ayam. Lebih gurih dan lebih mantap, walaupun masih kalah mantap sama sate daging kelapa bikinan Mama yang lebih gurih serundeng kelapanya dan lebih kaya rasa bumbunya.

Nulis buat majalah

Sebagai pembaca dan penikmat majalah sejak kecil, dari dulu aku selalu punya cita-cita suatu hari nanti ingin bisa menulis buat dimuat di majalah.

Menulis buat majalah tampaknya sangat menyenangkan. Artikelnya cenderung lebih ringan—setidaknya kalaupun isinya berat, tetap disampaikan dengan ringan—dan santai, tidak seperti surat kabar. Mungkin bukan majalah-majalah serius juga, macam Tempo atau majalah politik dan bisnis lainnya. Lagi pula dari dulu aku tidak tertarik untuk membahas, apalagi menulis, soal politik.

Kalaupun suatu hari nanti ada kesempatan menulis buat majalah, walaupun tidak tetap, cita-citaku adalah menulis tentang perjalanan, budaya, film-festival-dan makan-makan, otomotif, dan mungkin sedikit psikologi—karena akhir-akhir ini lagi tertarik belajar psikologi, terutama pas menjelang sesi brainstorming. Mempelajari watak konsumen, kenapa kok mikirnya begini, kenapa kok perasaannya seperti itu, dan sebagainya. Terus terang awalnya suka psikologi ini dari banyak nonton film drama berat yang kental permainan karakternya—sekaligus mempelajari kenapa kok sutradara atau penulis, atau orang-orang di negara itu sampai bikin film atau cerita yang seperti itu.

Suatu hari nanti, kalau juga punya kesempatan mendalami fashion, mungkin aku juga akan suka menulis tentang fashion—karena pada dasarnya aku juga penikmat fashion, walaupun kantongnya sering nggak kuat buat belanja barang-barang kesukaan :p

---

Beberapa waktu lalu sempat terpikir untuk istirahat sebentar dari dunia iklan dan “selingkuh” sesaat ke majalah. Tapi akhirnya niatan itu urung karena setelah ngaca akhirnya sadar nggak punya modal apa-apa—belum banyak travelling dan hunting makanan, belum banyak baca buku (dipinjemin Burat “Angels and Demons”-nya Dan Brown dan dipinjemin Cecil “A Clockwork Orange” nggak kuat nyelesaiin), dan belum banyak memahami film-musik-dan budaya. Lha nanti jadi apa tulisannya… Kan bisa irritating banget buat yang baca, hehehe.

Jadi akhirnya… balik lagi ke real world, ke hutan belantara bernama advertising ini, yang sejauh ini lumayan memberi icip-icip pengetahuan tentang bisnis klien-klien. Yah… mudah-mudahan nantinya nggak berhenti di urusan bisnis dan iklan (jualan) aja, tapi bisa dapet sesuatu yang bisa jadi bahan tulisan buat dibagi-bagi. Atau mungkin tulisan tentang bisnis dan iklan tapi dikaitkan dengan makan-makan? Cerpen tentang bisnis dan iklan? Entahlah… nggak mau janji dulu. Yang penting mimpinya tetap disimpan dan sesekali diintip biar besok-besok inget.

Doain ya biar kesampaian suatu hari nanti...

samedi, août 04, 2007

Belanja musim panas

Dan musim panas pun tiba. Musim liburan yang ditunggu banyak orang, di mana banyak keluarga Barat—dan mereka yang juga menganut Summer Holiday—akan menghabiskan waktu mereka berlibur bersama anak-anak.

Kepadatan di gereja sempat berkurang sekitar sebulan, begitu juga jalanan dan mal yang agak lengang. Seperti biasa, banyak yang rupanya lebih tertarik bepergian ke luar kota atau luar negeri. Mau perekonomian lagi sehat atau tersendat, liburan seperti tak terpengaruh. Harga tiket pesawat pun setinggi saat libur Lebaran dan Natal-Tahun Baru. Jangan-jangan Singapore penuh dengan turis Indonesia yang lebih tertarik merayakan hari jadi Singapore dengan big sale-nya daripada hari jadi negeri sendiri.

Tapi ya sudah lah, tak perlu iri kepada yang berduit dan luar negeri-minded, lebih penting mengasah dan mengasuh diri sendiri supaya masih punya sedikit rasa memiliki terhadap negeri sendiri.

---

Ngomong-ngomong soal bola, musim panas ini cukup sibuk di beberapa klub Liga Inggris. Tim promosi Sunderland dan Birmingham, West Ham United, Newcastle United, Manchester City yang baru kedatangan pemilik baru—Om Thaksin—dan tentu saja the one and only, Liverpool.

Tak kurang dari 43 juta poundsterling dibelanjakan Liverpool sepanjang musim panas ini untuk membeli pemain-pemain baru: Fernando Torres (28 juta), Ryan Babel (11 juta), dan Yossi Benayoun (4 juta). Itu belum lagi ditambah sekitar 7 juta poundsterling untuk Gabriel Heinze, kalau jadi dilepas oleh Manchester United.

Investasi yang menarik, dan pembelian pemain menjelang awal musim selalu menguntungkan karena selepas sebulan libur musim panas tim cukup waktu untuk latihan bersama dan meracik komposisi ideal bersama. Mudah-mudahan musim ini dapat menjadi musim yang menggembirakan dan berprestasi bagi Liverpool.

---

Suasana lengang di pekerjaan dua bulan terakhir (dan cenderung boring karena tidak terlalu ada proyek yang menarik) akhirnya melahirkan semangat belanja juga buat aku.

Selain buat “pelampiasan” rasa bosan, mungkin ada baiknya juga me-review diri sendiri sambil “belajar berinvestasi” di sektor lain, seperti halnya Liverpool yang bereksperimen dengan investasi pemain baru. Bedanya investasiku nggak jutaan poundsterling, hanya sejutaan rupiah.

Investasi ini bentuknya bukan barang, tapi pengetahuan, dan mudah-mudahan menambah teman-teman baru.

Kursus bahasa Perancis, bahasa yang aku kagumi akhir-akhir ini dari hasil nonton film-film Perancis. Kelas dibuka mulai awal bulan depan, dan kalau lancar tiap seminggu dua kali sepulang kantor aku akan kembali ke bangku sekolah lagi, walau hanya 4 jam seminggu. Yang pasti akan jarang sekali bisa pulang Surabaya lebih dari 4 hari, kecuali pas libur semester nanti.

---

Investasi lain yang baru pada tahap rencana adalah menyusun profil dan portfolio diri sendiri. Kalau ini terinspirasi oleh para sutradara dan fotografer iklan yang sering meng-update portfolio terbaru mereka untuk dibagikan kepada agency-agency yang ingin menggunakan jasa mereka. Yaa… kali-kali aja suatu hari nanti bisa mulai merintis job-job freelance kecil-kecilan, buat nambah-nambah tabungan kalau ada rencana masa depan. Kalau ada… Hehehe.

Tapi investasi yang ini masih tahap rencana banget, karena masih belum tau mau bikin apa dan bikinnya gimana, jadi ya entah apakah masih bisa dimasukkan belanja musim panas ini. Kalau pas lagi in the mood mungkin dalam sebulan ke depan bisa jadi, kalau nggak ya mungkin nanti akhir tahun atau entah kapan.

Jadi dipakai buat modal masa depan atau nggak juga belum dipastikan. Kalau ternyata belum cukup ideal paling-paling ya buat album portfolio saja, karena kalau mulai agak banyak harus mulai dikumpulin biar nggak tercecer dan hilang, bahkan ide-ide yang belum terjual sekali pun. Kali-kali aja besok nggak bisa mewariskan harta buat anak cucu, paling tidak ya ada album ini buat dikasih liat ke mereka bahwa pernah ada ayah atau engkong mereka yang sempat jadi orang adpertensi dan art direktur. Bahwa orang-orang di keluarga ini nggak cuman dilahirkan jadi pedagang saja, tapi juga bisa jadi orang adpertensi, orang seni, atau apa pun yang kita inginkan, walaupun belum tentu sukses dan lancar rejekinya seperti yang jadi pedagang.

Passion or serenity?

“Do you like life full of passion, or the one full of serenity?”

Pertanyaan yang sangat susah dijawab, yang ditanyakan kepada Miss Colombia oleh salah satu juri Miss Universe Pageant 1992, Luis Enrique.

Dan Miss Colombia pun memilih serenity—entah apakah benar-benar tulus menyukai ketenangan, atau hanya sekedar ingin menanamkan image kepada audiens dan juri bahwa ia akan jadi duta serenity yang baik. Kita tidak pernah tau, karena ia hanya jadi 1st runner-up. Kita juga tak pernah benar-benar tau, apakah kontes kecantikan ini hanya mengukur seorang perempuan dari kecantikan fisik dan otaknya, ataukah fisik-otak-dan hati. Yang pasti mottonya hanya “beauty with brains”, tak ada “heart” di situ.

---

Sebenarnya tidak ada satu jawaban yang lebih benar daripada yang lain. Semuanya kembali kepada diri kita, yaitu hidup seperti apa yang kita inginkan. Hidup yang bagaimana yang cocok untuk masing-masing orang. Tiap orang dengan karakternya masing-masing tentu akan memilih yang berbeda satu sama lain, dan itu sah-sah saja, selama semuanya datang dari ketulusan nurani.

Dan aku memilih passion, karena aku ingin sebisa mungkin menikmati setiap momen dalam hidup, setiap harinya. Seperti masa-masa indah bulan November hingga April lalu: banyak kesibukan di kerjaan, macam-macam challenge dan deadline mepet, tapi masih sempat jalan-jalan, keluyuran, dan kegiatan-kegiatan after-office lainnya. Dan banyak yang terbereskan dengan baik. Kelebihan energi “yang” yang tersalurkan.

Mungkin serenity akan sangat cocok bagi yang “yin”.

Sepakbola dan harga diri

Banner raksasa itu masih berkibar di Senayan.

“Ini kandang kita” tertulis di headline-nya. Sebuah ekspresi batin yang mengobarkan semangat sekian puluh ribu orang untuk selalu datang memadati stadion Gelora Bung Karno, menonton tim Merah Putih bertanding langsung di turnamen Piala Asia 2007.

Dan seluruh merchandise Nike pun habis terjual, kecuali jersey yang memang harganya sangat mahal itu, sekitar enam ratus ribu perak sekepingnya.

---

Tiba-tiba rasa nasionalisme itu bangkit. Timnas Indonesia yang peringkat 143 dunia itu pun tak lagi gentar menghadapi tim-tim lawan yang jauh lebih kuat, yang di antaranya adalah semifinalis Piala Dunia, Korea Selatan, dan tim langganan juara Piala Asia, Arab Saudi.

Indonesia memang sudah kalah di babak penyisihan, tapi gelora nasionalisme itu seperti masih terasa. Apalagi mengingat cerita teman-teman yang menonton langsung di stadion, di mana mereka terharu terbawa suasana sampai dengan kemauan sendiri ikut bernyanyi Indonesia Raya—tidak seperti saat upacara bendera yang diharuskan.

Dan sepakbolalah bahasa pemersatu itu. Sepakbolalah nasionalisme itu. Sepakbolalah harga diri bangsa, seperti halnya Irak yang akhirnya menjuarai Piala Asia ini, yang dikenal sebagai negara miskin dan baru terlibat perang. Di sepakbola tiba-tiba Irak, negara miskin dan bekas perang, menjadi lebih hebat daripada Jepang dan Korea Selatan yang sudah serba berteknologi 3G dan masing-masing memproduksi mobil itu.

Di sepakbola, tiba-tiba semua punya kesempatan yang sama untuk menang.

---

Sebuah Kamis sore di bilangan Kemang, “mujizat” yang sama terjadi, saat MACS909 melakoni sebuah pertandingan futsal persahabatan dengan rekan-rekan dari media.

Tampil dengan kekuatan pas-pasan dan baru pertama kali main bareng, tim “partai humor” ini tak pernah menyangka akan pulang dengan membawa kemenangan 17-5. Mungkin teman-teman dari media itu pun, yang secara postur dan jumlah skuad lebih memadai, tak pernah menyangka akan kebobolan segitu banyak gol.

Dan bintang kami malam itu adalah Ramadhan, seorang office boy, yang sehari-harinya hanya mengurusi kebersihan kantor dan kadang-kadang disuruh-suruh anak kreatif beli gorengan. Tidak mengurusi kerjaan penting, tidak memikirkan sebuah campaign dan strategi branding, tidak pernah dapat award, tidak dibekali Macintosh, dan mungkin tak punya jenjang karir yang jelas.

Hattrick-nya di paruh pertama pertandingan, juga gol cepat dari Burat dan Mas Huda, menginspirasi terjadinya gol demi gol tambahan selanjutnya. Total akhirnya ia mengemas 5 gol, ditambah 3 gol lagi dari Mas Bakti—bos media yang sempat meleset nendang karena terganjal perut—4 gol dari Juwet, kemudian masing-masing 1 gol lagi dari Agung, Icha, dan aku.

Dan malam itu pun tidur terasa begitu nyenyak, mungkin juga sambil tersenyum tak habis-habisnya mengenang kegembiraan kami menang. Merayakan harga diri kami masing-masing—seperti halnya Irak yang menang Piala Asia dan Indonesia yang merayakan jadi tuan rumahnya—walau hanya sesaat, kemudian lewat tengah malam kembali jadi labu dan tikus seperti di dongeng Cinderella.

Si bandel dan tidak disiplin

Rasanya ini sudah jadi trademark-ku, apalagi sudah jelas tertulis di dahi bagian belakang dengan signature dua buah unyeng-unyeng.

Kalau dulu saat masih kecil bandelnya sebatas matahin penggaris di kelas dan ngecat rambut teman dengan tip-ex, bandel di usia dewasa ini lebih soal individual. Suka menunda pekerjaan, nunggu sampai dekat deadline baru dikerjain. Suka membohongi diri sendiri, yang sebenarnya sudah capek tapi masih dipaksa keluyuran, nonton film, atau main game sampai malam. Padahal sudah jelas badannya bukan tipe yang sekokoh Land Rover.

Dan lagi-lagi aku pun kena denda: terserang radang tenggorokan. Kali ini malah cukup menakutkan, karena radangnya bukan di titik biasanya di pangkal leher, tapi lebih dekat ke dagu.

Ragu gejala penyakit lain, akhirnya mampir juga ke dokter spesialis THT.

“Ooo… ini radang tenggorokannya. Kurang istirahat ya?” Ehm… iya sih, Dok. Baru nyadar kalau diingatkan oleh orang lain. Ke mana saja kesadarannya, Bung?

“Ngerokok?”

“Oh nggak kok. Eh tapi minggu lalu iya sih… Tapi rutinnya nggak kok.” Masih saja ngeles.

Rupanya inilah trigger-nya, apalagi yang diisep rokok putih. Tenggorokan yang emang sensi dan sudah tidak terbiasa oleh asap rokok ini pun langsung rewel dan bengkak, mana sebelumnya daya tahannya sudah digerogoti untuk memulihkan stamina yang loyo akibat kurang istirahat.

Dan melayanglah beberapa ratus ribu itu buat menebus obat, yang seharusnya lebih wise bila dibelanjakan wine—mumpung ada promo buy 1 get 1 free tiap Rabu di Kafe Pisa—atau buat makan enak di Satoo.

“Lho tapi kan kalau belanja obat bisa di-reimburse?” Halah… tetep aja sisi bandel ini tak bisa berhenti mengusik.

Dari Harry Potter sampai Zhuge Liang

Tak pernah menyangka suatu hari aku akan kagum pada Harry Potter, yang tadinya hanya aku tonton sebagai sekedar dongeng dan fantasi yang luar biasa. Ternyata tokoh dan cerita ini menyimpan sebuah metafor besar.

Sebenarnya tanda-tanda ini sudah mulai ditampakkan di seri ketiga dan keempat, The Prisoner of Azkaban dan The Goblet of Fire, di mana sudah mulai ada kematian dan monster-monsternya tampak lebih seram. Sebuah tulisan di The Jakarta Post yang dikutip dari harian The Guardian pernah mengulas bahwa Harry Potter keempat ini lebih seram—yang mungkin juga berarti “lebih dewasa”.

Mungkin ini juga ada kaitannya dengan karakter Harry Potter yang tetap diperankan oleh Daniel Radcliffe walau sekarang ia sudah 6 tahun lebih dewasa dari saat pertama kali ia memerankannya di Sorcerer’s Stone. Petualangan ini mengalami evolusi, dari petualangan-petualangan di masa kecil hingga masa remaja.

Keseluruhan cerita ini sendiri sepertinya berusaha menggambarkan suatu pesan besar tentang evolusi anak, di mana seorang anak yang begitu polos saat ia masih kecil, kemudian perlahan-lahan memasuki dunia luar dan masa dewasanya, terkena rangsangan dan pengaruh dari dunia luar yang mengubah kepolosannya. Anak kecil itu pun, yang digambarkan oleh evolusi karakter Harry Potter, mulai bisa marah, gelisah, kecewa dan sakit hati, sampai muncul pergolakan batin di dalam dirinya sendiri—seperti tampak jelas di seri kelima ini, The Order of Phoenix, di mana Harry mulai mempertanyakan pada dirinya sendiri mengapa makin hari tampaknya ia makin dekat dan makin sama jalan pikirannya seperti Voldemort. Ia mengalami pergolakan batin, ketakutan bahwa suatu hari ia akan jadi seperti Voldemort itu sendiri.

Jangan-jangan di seri terakhir nanti, yang kabarnya tokoh Harry Potter ini akan mati, adalah suatu metafor bahwa suatu saat bila pengaruh dunia luar beserta segala muslihat dan kebengisannya itu merasuki pikiran anak maka sama artinya jiwa polos anak itu sudah mati. Bisa diartikan mati secara fisik, yang artinya sisi jahat akan mengantar seseorang pada kehancurannya sendiri, bisa juga diartikan mati secara mental di mana saat pengaruh jahat itu begitu kuatnya dan berkuasa atas seseorang sama artinya kemanusiaan orang itu sudah mati. Jiwa polosnya sudah mati, walau secara fisik ia masih hidup.

Studi dan pesan filosofis serupa sebenarnya juga sudah disuarakan oleh berbagai pihak, termasuk di antaranya sesama film. Yang tentu masih segar dalam ingatan adalah Spiderman 3, yang sejak tayangan teaser trailer-nya sudah mengusung pesan, “The biggest enemy lies within”. Sayangnya pesan yang semonumental ini dikemas dengan cerita yang payah dan akhirnya hanya mengandalkan pamer bungkus visual indah dan budget produksi selangit. Filmnya sendiri akhirnya tidak semenarik janji di trailer-nya.

---

Pesan implisit Harry Potter ini mengingatkan aku akan ucapan salah satu familiku yang sesama penggemar roman klasik Sam Kok (Romance of The Three Kingdom).

Suatu hari kami berdua berbincang tentang salah satu tokoh penting Sam Kok, yaitu Kung Ming, seorang cendekiawan dan pertapa yang kemudian diundang Raja Liu Bei sebagai penasihat kerajaannya dan diberi gelar Zhuge Liang. Tidak ada penasihat yang sejenius dan seakurat Zhuge Liang—ia memang dikaruniai bakat meramal dan meramu strategi yang hebat—dan Liu Bei dan pasukan kerajaan Shu-nya selalu menang perang bila mengikuti nasihat Zhuge Liang.

Dan selain kehebatannya dalam strategi perang, Zhuge Liang juga tokoh yang sangat dikagumi karena kesetiaannya—seperti halnya para tokoh negara Shu yang lain yang rata-rata mewarisi nilai kesetiaan dari sang raja dan Guan Yu, sang dewa perang.

Tapi Zhuge Liang rupanya di kehidupan masa kini tidak sebanyak dipuja seperti Guan Yu (populer juga dengan julukan Guan Gong), yang oleh sebagian besar kalangan Chinese sering didoai dan patungnya sering dijadikan lambang pelindung di rumah, klenteng, mobil, dan beberapa tempat usaha. Apa sebab?

Ternyata Zhuge Liang pernah melakukan suatu kesalahan, yang tampaknya sepele tapi berat, dan menyebabkan kekalahan pertamanya di peperangan yang lebih besar daripada kemenangan-kemenangan yang pernah diraihnya. Tak lama sesudah itu ia pun jatuh sakit karena kelelahan bekerja, dan meninggal.

Kesalahan itu bukan disebabkan karena ada musuh yang lebih lihai daripadanya—karena memang sejarah tak pernah mencatat ada yang melebihi kecerdasan seorang Zhuge Liang—tapi justru oleh dirinya sendiri. Karena begitu hebatnya ia meramal masa depan, saat ia melihat sesuatu yang tidak sesuai keinginannya egonya pun timbul dan ia berusaha mengubah takdir dengan menggunakan keahliannya. Dan alam pun menentangnya, memihak lawannya. Angin tak bertiup sesuai arah yang diramalkannya, dan pasukannya pun kalah. Sebuah akhir yang tragis untuk seorang tokoh seperti Zhuge Liang, dan mungkin banyak di antara kita yang mengalami kejadian serupa.

“The biggest enemy lies within”. Saat kita besar, saat kita pintar, saat kita hebat, saat kita kuat, ancaman terbesar muncul dari dalam diri kita. Orang-orang terdekat, sesama teman kerja yang saling menjatuhkan, dari kalangan keluarga sendiri—seperti cerita-cerita klasik tentang sejarah perang saudara dan pergantian dinasti di China—dan tentunya: diri kita sendiri. Apakah lantas kita harus tetap kecil dan tak berkembang? Tidak begitu juga solusinya, karena bagaimanapun kita tidak bisa melawan hidup yang bergerak dan mengalir.

Solusi terbaik mungkin adalah selalu bercermin, mempertanyakan diri sendiri, tak takut mengakui kesalahan bila berbuat, dan tak takut berpisah dengan kesalahan itu—bahkan bila kesalahan itu berbungkus harta, kenikmatan, dan kemapanan duniawi.