Cin Lok
Jadi inget nama seorang teman Papaku, Ui Cin Hok.
Seperti halnya Chinese Hokkian yang lain, nama yang terdiri dari tiga kata itu artinya kata pertama adalah marga keluarga besar, kata kedua adalah marga generasi, dan kata ketiga baru nama orang itu sebenarnya. Dalam pergaulan sehari-hari kadang-kadang sering dijumpai orang memanggil dengan A Cong, A Lung, A Guan, dan sebagainya. Itu adalah “A” plus nama belakang. Semacam Bill untuk William, Jim untuk James, atau Tom untuk Thomas di masyarakat Amerika-Inggris.
Nah ceritanya temennya Papaku ini punya empat saudara laki-laki semua, jadi total ada lima Ui Cin, salah satunya Ui Cin Lok. Tapi cerita selanjutnya ini nggak ada hubungannya dengan sodaranya temennya Papaku itu.
Ini tentang Cin Lok yang versi Indonesia, cinta lokasi. Bukan juga maksudnya cinta sama sebuah lokasi atau tempat, tapi cinta yang terbentuk di suatu tempat karena kebetulan. Eh… bukan kebetulan juga sih, cuman ya lagi tempat dan suasananya pas saja, dan “setruman” itu tiba-tiba mampir dan ZZZTT!!! Tak lama kemudian terjadilah. Bisa sekedar tersipu-sipu aneh, salah tingkah, sampai… macem-macem :p
Macem-macemnya juga macem-macem, artinya ya beraneka ragam gitu deh. Bisa cuman selingkuh mata, selingkuh perasaan, selingkuh belaian, selingkuh bibir, sampai selingkuh macem-macem :p Tapi itu kalo udah punya pasangan. Kalo jomblo kayak aku gini ya bukan selingkuh dong, namanya. Tapi ya tetep Cin Lok juga sih. Jadi… eeh… memang susah ya mendefinisikannya.
Daripada mbulet terus, mending ngobrol tentang bagaimana rasanya saja. Mungkin ini lebih bisa terdefinisikan dengan bener.
Sebagian besar orang tentunya sependapat bahwa Cin Lok itu rasanya enak. Entah apakah karena sifatnya yang cuman sesaat, pelarian dan pembuang rasa bosen? Karena tidak terikat dan tidak ada tanggungan (memangnya kredit?), cuman jawaban aja sih kalau sampai terjadi hal-hal yang di luar batas kewajaran… Ya bukan di atas batas kewajaran juga sih, wong secara biologis cukup ilmiah dan lumrah.
Anyway, di dunia kerja yang dinamis dan melibatkan banyak pihak, salah satunya showbiz dan salah duanya advertising, Cin Lok ini sangat mudah terjadi dan oleh karenanya sangat banyak dijumpai. Sampai-sampai ada ungkapan kuno dan a la kaum “de haev” (bener ga nulisnya ini?) yang suka wanti-wanti anaknya jangan sampai dapet kalangan artis, karena anggapannya artis pasti sangat berpeluang Cin Lok dan akibatnya sangat berpeluang gonta-ganti pasangan. Mungkin kalau suatu hari masyarakat juga sudah fasih dengan profesi advertising—saat di mana mereka tidak lagi mengartikan art director sebagai direktur dan copywriter sebagai tukang ngurus hak cipta—kalangan ini jangan-jangan juga akan dicap sebagai calon mantu yang nggak baik pula.
Padahal… padahal neh… yang namanya buaya itu amphibi, nggak pilih-pilih medan. Di air buas, di darat juga buas. Mau profesinya artis ato orang iklan, kalau setia ya setia. Mau profesinya ulama ato menteri, kalo sensor kelaminnya seperti si leher beton (lebih dominan daripada sensor otaknya) ya nggak akan cukup dengan satu perempuan.
Lha abis enak seh… piye terus?
Lho siapa yang bilang selingkuh itu nggak enak? Siapa yang bilang Cin Lok itu tidak enak? Cin Lok itu enak kok… Secara visual terpuaskan, secara emosional juga terekspresikan, nggak perlu pura-pura nggak suka kalau suka. Selanjutnya tinggal terserah kita masing-masing, apakah mau sebatas selingkuh mata saja, atau sampai selingkuh belaian dan pipi, atau selingkuh bibir, atau… selingkuh yang lebih dalam lagi.
Yah tentunya makin dalam selingkuhnya makin dalam juga risikonya. Kalau selingkuh mata paling-paling cuman dilabrak pasangan atau kaki kita diinjak dengan hak sepatunya yang lancip dan bertekanan sekian Pascal itu. Kalau selingkuh belaian dan pipi mungkin kita akan “disetrap” dan labrakan itu meningkat jadi makian. Kalau selingkuh bibir atau lebih dalam… ya mungkin bisa diajak bubaran.
Jadi sebetulnya komitmen itu relatif. Manusia pada dasarnya bebas, tidak bisa benar-benar memiliki atau dimiliki manusia yang lain. Manusia pada dasarnya suka dengan hal baru. Baju baru, sepatu baru, mobil baru, film baru, mal baru, restoran baru, ide baru. Cin Lok itu juga mostly sama, ia seperti sesuatu yang kita suka karena baru, karena fresh dan refreshing, karena membuat kita lari sesaat dari kenyataan yang mungkin menjenuhkan, dan oleh karena semua itu ia sifatnya temporary, sementara, atau di dalam dunia advertising disebut dengan istilah tactical campaign.
Cin Lok itu seperti travelling, bertemu dengan teman-teman baru atau teman-teman lama tapi dengan suasana baru—yang oleh karenanya muncul hal-hal baru darinya. Cin Lok itu seperti clubbing dan alkohol, yang membuat kita mabuk sesaat dan melupakan segala masalah kehidupan kita. Cin Lok itu seperti clubbing dan alkohol, yang enak dan bikin kecanduan, yang kalau kelewat batas tidak lagi membuat kita melupakan masalah kehidupan kita, tapi malah mendatangkan masalah baru dan menambah beban hidup.
Jadi… mau Cin Lok ya Cin Lok aja, nikmati kenikmatan duniawi, tapi jangan lupa daratan sampai tak bisa membedakannya dengan lautan. Ntar jadi buaya lo.




