Manis-manis gula Jawa
“Sambelnya enak juga… rada-rada manis gitu. Enak…” begitu komentar seorang teman kantor saat kita makan siang bersama di sebuah rumah makan khas Jawa. Seperti halnya aku, dia juga asli Jawa Timur.
Lidah Jawa (di daerah asal kami biasa disebut “ilat Jowo”) memang akrab dengan rasa manis. Hampir semua masakan khas Jawa mengandung rasa manis, baik masakannya sendiri maupun bumbu pelengkapnya—sambal, kecap manis, bumbu kacang.
Jajan, minuman, dan menu dessert-nya juga rata-rata berasa manis atau dipadu dengan bumbu manis, misalnya kue putu yang dimakan dengan parutan kelapa dan gula merah. Bumbu kelapa dan gula merah ini sendiri banyak menjadi padanan jajan lain seperti kue mendut (sebagian menyebutnya koci-koci), kue lupis, dan kelanting. Dulu saat kecil di Surabaya, aku sering mampir ke Pasar Pakis malam-malam buat beli kue lapis, kelanting, dan putu ini.
Jajan khas Jawa lain yang populer pakai gula merah adalah kue klepon, bahan dasar dan warnanya hijau seperti kue mendut tapi bentuknya bulat, dan berisi gula merah cair yang kalau makannya nggak sambil menutup mulut akan muncrat keluar, seperti yang pernah kulakukan :p
Gula merah sendiri di budaya Jawa sering disebut gula Jawa, dan konon lebih aman bagi metabolisme daripada gula pasir, seperti halnya gula buah (fruktosa).
Entah apakah karena rata-rata hidup di Jawa hawanya lebih terik, atau mungkin kultur orangnya yang lebih nyantai, sampai muncul budaya suka rasa manis ini. Di budaya Jawa, kalau kita ke rumah makan atau warung pesan es teh atau teh hangat, tanpa bilang manis atau tawar, rata-rata yang disajikan pasti teh manis—hal yang sebaliknya terjadi kalau kita makan di rumah makan Sunda atau daerah lain yang akan menyajikan teh tawar.
---
Saat sedang giat-giatnya diet beberapa waktu lalu aku sempat menjalani fase di mana tiap makan minumnya selalu tawar—air putih, teh tawar—dan tanpa es. Konon, menurut para pakar diet dan bina raga es itulah yang mengembang di dalam tubuh dan, bersama gula yang menimbun glukosa, mempermudah badan menjadi gendut, terutama karena gula yang .
Awalnya memang susah sekali menjalani diet seperti ini, walaupun akhirnya bisa juga. Tapi toh tak bisa dipungkiri, sekali ilat Jowo tetap ilat Jowo, dan akhirnya melanggar juga. Apalagi kalau lagi gerah di siang hari, lalu makan siangnya goreng-gorengan atau serba pedas, paling melegakan memang minum es teh manis atau minuman manis lainnya, dan dingin.
Mungkin itu juga yang terjadi dalam lembar-lembar kehidupanku yang lain, misalnya soal bacaan dan nonton. Setelah sibuk belajar dan membaca bacaan berat di hari-hari kerja, paling enak weekend baca yang ringan-ringan dan manis, misalnya Kompas Minggu yang komplet ada artikel hobinya, ada karikatur Benny & Mice dan Sukribo-nya, ada profil yang kadang mengulas kisah hidup model, bahkan halaman fashion dan kolom parodi di bawahnya.
Kebiasaan nonton film berat juga ada batasnya. Di satu sisi suka dan perlu buat menambah referensi seni dan budaya, tapi nggak balanced juga kalau tidak diimbangi hiburan—setidaknya sedikit bisa “membenarkan” teori film Hollywood dalam konteks ini.
Kejenuhan urusan kerjaan sebulan terakhir membuatku lebih banyak mengonsumsi “film manis” ini, mulai Arthur and The Minimoys, Pirates of The Caribbean: At World’s End, Pan’s Labyrinth, Ocean’s 13, The Illusionist, Hors de Prix, dan terakhir Fantastic Four: Rise of The Silver Surfer. Weekend ini atau minggu depan mungkin lanjut terus ke Shrek The Third, dan mungkin Ratatouille, kalau sudah diputar. Bener-bener jadi anak kecil hari-hari ini, seperti ikut merayakan masa liburan sekolah saja, hehehe…
By the way, kadang-kadang kangen juga sama masa kecil. Santai, makan tinggal makan, nggak perlu mikirin harganya, nggak perlu mikirin risikonya; sempat ngerasain libur sebulan; bisa tidur siang dan main tiap hari; dan polos, nggak mudah negative-thinking, nggak mudah pissed-off kalau liat ketololan orang lain—malah ketawa.



.jpg)
