mercredi, juin 20, 2007

Manis-manis gula Jawa

“Sambelnya enak juga… rada-rada manis gitu. Enak…” begitu komentar seorang teman kantor saat kita makan siang bersama di sebuah rumah makan khas Jawa. Seperti halnya aku, dia juga asli Jawa Timur.

Lidah Jawa (di daerah asal kami biasa disebut “ilat Jowo”) memang akrab dengan rasa manis. Hampir semua masakan khas Jawa mengandung rasa manis, baik masakannya sendiri maupun bumbu pelengkapnya—sambal, kecap manis, bumbu kacang.

Jajan, minuman, dan menu dessert-nya juga rata-rata berasa manis atau dipadu dengan bumbu manis, misalnya kue putu yang dimakan dengan parutan kelapa dan gula merah. Bumbu kelapa dan gula merah ini sendiri banyak menjadi padanan jajan lain seperti kue mendut (sebagian menyebutnya koci-koci), kue lupis, dan kelanting. Dulu saat kecil di Surabaya, aku sering mampir ke Pasar Pakis malam-malam buat beli kue lapis, kelanting, dan putu ini.

Jajan khas Jawa lain yang populer pakai gula merah adalah kue klepon, bahan dasar dan warnanya hijau seperti kue mendut tapi bentuknya bulat, dan berisi gula merah cair yang kalau makannya nggak sambil menutup mulut akan muncrat keluar, seperti yang pernah kulakukan :p

Gula merah sendiri di budaya Jawa sering disebut gula Jawa, dan konon lebih aman bagi metabolisme daripada gula pasir, seperti halnya gula buah (fruktosa).

Entah apakah karena rata-rata hidup di Jawa hawanya lebih terik, atau mungkin kultur orangnya yang lebih nyantai, sampai muncul budaya suka rasa manis ini. Di budaya Jawa, kalau kita ke rumah makan atau warung pesan es teh atau teh hangat, tanpa bilang manis atau tawar, rata-rata yang disajikan pasti teh manis—hal yang sebaliknya terjadi kalau kita makan di rumah makan Sunda atau daerah lain yang akan menyajikan teh tawar.

---

Saat sedang giat-giatnya diet beberapa waktu lalu aku sempat menjalani fase di mana tiap makan minumnya selalu tawar—air putih, teh tawar—dan tanpa es. Konon, menurut para pakar diet dan bina raga es itulah yang mengembang di dalam tubuh dan, bersama gula yang menimbun glukosa, mempermudah badan menjadi gendut, terutama karena gula yang .

Awalnya memang susah sekali menjalani diet seperti ini, walaupun akhirnya bisa juga. Tapi toh tak bisa dipungkiri, sekali ilat Jowo tetap ilat Jowo, dan akhirnya melanggar juga. Apalagi kalau lagi gerah di siang hari, lalu makan siangnya goreng-gorengan atau serba pedas, paling melegakan memang minum es teh manis atau minuman manis lainnya, dan dingin.

Mungkin itu juga yang terjadi dalam lembar-lembar kehidupanku yang lain, misalnya soal bacaan dan nonton. Setelah sibuk belajar dan membaca bacaan berat di hari-hari kerja, paling enak weekend baca yang ringan-ringan dan manis, misalnya Kompas Minggu yang komplet ada artikel hobinya, ada karikatur Benny & Mice dan Sukribo-nya, ada profil yang kadang mengulas kisah hidup model, bahkan halaman fashion dan kolom parodi di bawahnya.

Kebiasaan nonton film berat juga ada batasnya. Di satu sisi suka dan perlu buat menambah referensi seni dan budaya, tapi nggak balanced juga kalau tidak diimbangi hiburan—setidaknya sedikit bisa “membenarkan” teori film Hollywood dalam konteks ini.

Kejenuhan urusan kerjaan sebulan terakhir membuatku lebih banyak mengonsumsi “film manis” ini, mulai Arthur and The Minimoys, Pirates of The Caribbean: At World’s End, Pan’s Labyrinth, Ocean’s 13, The Illusionist, Hors de Prix, dan terakhir Fantastic Four: Rise of The Silver Surfer. Weekend ini atau minggu depan mungkin lanjut terus ke Shrek The Third, dan mungkin Ratatouille, kalau sudah diputar. Bener-bener jadi anak kecil hari-hari ini, seperti ikut merayakan masa liburan sekolah saja, hehehe…

By the way, kadang-kadang kangen juga sama masa kecil. Santai, makan tinggal makan, nggak perlu mikirin harganya, nggak perlu mikirin risikonya; sempat ngerasain libur sebulan; bisa tidur siang dan main tiap hari; dan polos, nggak mudah negative-thinking, nggak mudah pissed-off kalau liat ketololan orang lain—malah ketawa.

dimanche, juin 17, 2007

Travelling and discovering

Belum genap dua bulan seorang teman memulai kerja di tempat barunya, dia langsung dikirim ke Singapore untuk training. Sepertinya dia mendapatkan pekerjaan yang diidamkannya, yang memungkinkannya untuk jalan-jalan ke mancanegara.

Travelling ke luar negeri memang aktivitas yang disukai banyak orang. Bagaimana tidak, di negara yang miskin ini lahir sebuah kultur yang membuat seseorang merasa begitu bangga kalau bisa pamer dia kaya—yang selain ditunjukkan dari mobil, pakaian, dan ponsel, juga bisa dipamerkan lewat destinasi liburannya. Di samping itu, yang miskin negaranya kok, orangnya banyak yang kaya. Kalaupun mereka yang tidak kaya tapi beruntung seperti temanku itu masih bisa menikmati travelling ke luar negeri dengan biaya perusahaan. Untuk training, ngurusin kerjaan, dan serangkaian keperluan bisnis lainnya.

Saat kembali ke tanah air, ada kebanggaan tersendiri kalau bisa pamer belanjaan atau oleh-oleh yang dibeli di luar negeri—walaupun bisa saja barang serupa dijual di Indonesia. Sekarang jadi bisa ngobrolin Orchard Road atau Menara Eiffel, dan mungkin ngomongnya langsung jadi sok Englais.

---

Di kehidupan masyarakat Barat, travelling adalah sebuah kultur. Lebih banyak orang yang bepergian ke luar negeri, dan sebagian memang untuk liburan. Ada yang sekedar plesiran dan foya-foya, ada juga yang memang penjelajah (petualang), yang bepergian mencari dan mengenal tempat-tempat baru, berikut budaya dan bahasanya. Rasa penasaran yang tinggi tampaknya memang sudah jadi “fitur standar” masyarakat Barat, itu mungkin sebabnya kreativitas di sana tumbuh lebih subur.

Di masyarakat kita kultur serupa mungkin juga tumbuh, tapi yang lebih subur rupanya kultur travelling yang pertama, yang hanya berdasar sok pamer dan sok sugih.

Apa pun itu, sayangnya aku lebih banyak jadi pendengar dan penonton. Travelling memang juga bagian dari kultur di keluargaku, hanya saja memang bukan “that kind of travelling”, dalam negeri saja. Jalan-jalan paling jauh ke Manado dan Kuala Lumpur, dan dua-duanya bukan atas biaya sendiri. Yang satu acara piknik kantor, yang satu lagi ngurusin kerjaan TVC. Ke Kuala Lumpur itu pun baru pertama kalinya ke luar negeri, sampai-sampai Brad—si sutradara TVC—kaget mendengarnya.

“Oh really? But you’re the most fluent speaking English of all Indonesians I’ve ever met.” Masa’ sih? But you know what, I’ll take that as a compliment.

---

Sempat ada rasa minder dalam diriku karena segala keterbatasanku tentang segala hal yang berbau luar negeri itu. Kadang muncul perasaan menjadi outsider, bukan bagian dari mainstream penghobi travelling itu. Bagaimana tidak, Singapore saja aku belum pernah menginjak, boro-boro ngomongin Aussie, Eropa, atau Amrik. Makanya sebel banget pas diledekin seseorang, “Lah… emang kamu sekolah desain grafis di mana kok nggak kenal Ken Done?” Emang sini kayak situ apa, pernah ngerasain tinggal atau sekolah di Aussie.

“Lho, Ken Done itu nggak cuman ngetop di Australia, tapi internasional. Seluruh dunia…” imbuhnya, seperti tak terima. Ah whatever lah, wong memang generasinya beda kok… Lha sampeyan ta tanyain David LaChapelle itu siapa juga pasti kagak bisa jawab.

Terus terang sebagian besar kemampuan bahasa dan wawasanku tentang negeri luar itu kebanyakan aku dapat dari kegemaran nonton film, mendengarkan musik, baca buku, dan sepakbola. Aku bisa membedakan look California dan New York itu dari banyak nonton film dan America’s Next Top Model, begitu juga mengenali aksen Southern (Texas, New Orleans) dan Bronx dari musik-musik blues dan rap.

Aku bisa membedakan aksen British-Scottish-Irish karena nonton Braveheart, mengamati gaya ngomong Sean Connery, dan tiap minggu nonton Liga Inggris. Aku akrab dengan bahasa dan kultur Jepang karena sejak SD nonton Voltus, Gaban, Goggle V, dan serangkaian film robot Jepang lainnya—plus serial TV Oshin. Aku suka Donald Duck karena sejak TK punya koleksi video kartun Walt Disney sampai belasan kaset, plus langganan komiknya selama hampir sepuluh tahun (baru berhenti saat SMA).

Aku jatuh cinta pada New York bukan karena sudah pernah ke sana, tapi karena berkali-kali melihat film bersetting New York, khususnya Autumn in New York. Kalau ke sana beneran, juga masih belum jelas apakah masih akan cinta atau nggak. Tapi walaupun film itu buatan, kalau dari sekian banyak film pasti ada beberapa hal yang riil, misalnya bagaimana kota yang sedemikian hiruk-pikuk masih bisa punya “paru-paru” kota segede Central Park, atau bagaimana kota yang sedemikian modern dan kapitalis punya nilai sejarah dan akar budaya yang kuat—bangunan klasik, museum-museum seni, broadway, Radio City Hall, sampai New York Film Festival dan New York Fashion Week. Melting pot dengan kekayaan budaya urban yang menawan. A perfect blend.

---

Tak bisa dipungkiri, pernah ada rasa kesal terhadap Papa yang tidak membentuk kultur travelling ke luar negeri di dalam keluargaku—sampai-sampai anaknya ini ndeso dan minder—padahal banyak teman yang lebih tidak berada mampu melakukannya. Padahal seharusnya aku akan suka banget jalan-jalan ke luar negeri…

Tapi lama-lama aku jadi malu sendiri punya perasaan seperti itu. Aku sendiri belum tentu akan bisa jadi ayah seperti dia, yang punya visi masa depan lebih maju daripada sekedar ngelencerin atau menyekolahkan anaknya ke luar negeri. Bahkan sampai sekarang pun aku masih susah menjawab kapan ingin menikah dan punya anak, entah belum siap mental atau belum siap modal. Atau malah keduanya. Belum bisa menjawab kapan bisa memberikan cucu buatnya…

Aku juga jadi malu karena hanya melihat kekurangannya, tanpa melihat segala kelebihannya. Hanya melihat apa yang belum sempat diberikannya, dan mengabaikan apa yang sudah pernah diberikannya. Pengalaman jalan-jalan yang lain, yang walaupun tidak kelihatan semewah ke luar negeri tapi hampir selalu didampinginya. Disupirinnya, diajak nyobain tempat-tempat makan baru, dibelanjain mainan-mainan bagus dan mahal—bahkan saat umur 3 tahun aku dioleh-olehi mobil remote control BMW M1 dari Singapore, sepulangnya dari urusan pekerjaan ke sana. Sampai saat ini aku belum pernah melihat lagi mainan mobile remote control sebagus itu, secanggih itu.

Mainan itu juga mungkin yang akhirnya membuat di kepalaku brand mobil nomor satu sampai sekarang tetap BMW. Begitu juga dengan video-video kartun Disney yang membuat di kepalaku tak ada yang lebih hebat dan lebih lucu daripada Donald Duck.

Papa juga yang dengan pekerjaan sampingannya berdagang mobil membuatku sangat akrab dengan mobil, mulai dari desain sampai pernak-pernik aksesorisnya—aku sampai bisa membedakan Accord Prestige tahun 1986 dan 1987 dari desain velg, warna dashboard, dan desain tape-nya. Accord 1984 dan 1985 yang nyaris sama persis pun bisa aku bedakan dari desain velg, warna lampu sein, dan ada/tidaknya electric-antenna (plus yang otomatik warnanya metalik, yang manual warnanya solid). Begitu cintanya aku jadinya sama mobil, sampai pernah bercita-cita ingin jadi desainer mobil. He made me discover a lot more than I could travel.

Sorry ya, Pa, aku selama ini buta dan nggak pernah berterima kasih. You’ve been a great father, dan menjadi anakmu adalah anugerah terindah yang pernah kumiliki.

Happy Father’s Day.

Delivery

Seorang pengantar pizza mengayuh kencang motornya. Sore itu gerimis, dan langit sudah mulai gelap—waktu menunjukkan pukul setengah tujuh.

Lampu motor tua itu tetap terang walau kacanya diliputi embun dan rintik hujan. Dan tak berapa lama kemudian tibalah ia di sebuah gedung kantoran kecil yang masih ramai parkiran motor dan mobilnya dan masih terang kaca-kacanya. Setelah sejenak memarkir motor dan melapor ke satpam, ia menuju ke pintu utama, dan dari dalamnya muncullah beberapa orang pemuda menyambut.

Setelah dibayar, ia pun pulang dan pemuda-pemuda itu masuk menghidangkan beberapa kotak pizza ke teman-temannya yang lain, lalu mereka makan rame-rame di meja bundar itu.

“Kok rotinya keras banget, ya? Ini pizza apa martabak sih?”

“Oh ya? Waduh sorry banget ya, Man. Tadi pizza langganan kita lagi tutup, jadi gue pesen resto lain.”

“Halah… it’s ok lah! Yang penting mau lembur perut gak boleh kosong, ntar masuk angin.”

---

Orang-orang di kampung itu berkumpul di dekat sungai. Hari ini akan diresmikan jembatan baru yang melalui sungai itu oleh Pak Lurah. Hadir juga di acara peresmian itu, para Lurah dari kampung sekitar dan beberapa tamu dari kantor Bupati.

Tak lama kemudian, pita merah digunting dan pengunjung bersorak, disusul beberapa tamu undangan naik sepeda dan motor secara simbolis menyeberangi jembatan, dari ujung satu ke ujung lain.

Salah satu tamu undangan yang melewati tepian jembatan bagian kiri tiba-tiba dikejutkan dengan bunyi gemeretak, yang ternyata datang dari aspal jembatan. Sejenak setelah ia berlalu, bekas jejak motornya menimbulkan retakan di aspal, dan bagian pagar yang berada di dekat titik itu lepas dari pagar yang lain, jatuh ke sungai. Hadirin pun terkejut, dan Pak Lurah yang tadi baru tersenyum bangga berubah jadi masam, sambil bermandi keringat di sekujur dahinya.

---

Sepulang dari sebuah presentasi, beberapa orang yang ternyata tim kreatif sebuah agensi iklan dan AE-nya berwajah ceria sambil membawa sekotak besar donat Krispy Kreme dan beberapa gelas grande Starbucks. Ide mereka disetujui oleh klien dan segera diproduksi.

Besoknya, mereka bersama tim produksi segera menyusun timeline produksi iklan. Di layar proyektor tampak tabel tersusun rapi, ada tulisan berwarna hitam dan merah, ada yang di-bold dan di-italic, dan ada satu kotak di kalender itu yang bertuliskan “Delivery”, tepatnya di tanggal 22.

Produksi pun segera berjalan, dan selang dua minggu kemudian mereka kembali berkumpul—kali ini di sebuah restoran bersama produser dan sutradara iklan—untuk makan malam bersama dan bersulang atas proyek yang berjalan lancar dan selesai on-time. “For delivery on-time… cheers!” Dan gelas-gelas kristal itu pun saling mengeluarkan bunyi gemerincing dengan cemerlangnya.

Di kantor si klien, 3 bulan kemudian. Kertas berserakan di mana-mana, tampak sekilas garis-garis grafik berwarna merah. Seorang manajer duduk terpekur di depan meja atasannya yang tampak muram sambil melipat telapak tangannya.

“I like you, I really do. But this… is not working. I need to cancel the next product to cover the lost from this one. I’m sorry.”

Sang manajer kembali ke mejanya tak lama kemudian, mengambil sebuah kardus dan mengepak barang-barangnya. Meja sudah bersih, dan tersisa satu lembar kertas hasil print-out tertempel di tembok—ternyata itu iklan yang gagal itu.

Diambilnya lembaran itu dari tembok, ditatapnya sebentar, lalu dilumatnya dengan tangannya, dan seperti sedang melakukan lemparan 3-point ia memasukkan gumpalan kertas itu ke dalam keranjang sampah.

samedi, juin 16, 2007

Original Sin, bumbu champagne

HORS DE PRIX (PRICELESS)
Perancis | 2006 | Sutradara: Pierre Salvadori

Ini salah satu kesempatan melihat sisi menyebalkan Audrey Tautou. Ya, Audrey Tautou yang selama ini selalu kita kenal memainkan sosok “good girl”, di sini berperan sebagai Irene, seorang cewek super matre, bitchy, dan sangat menyebalkan—walaupun tetap dalam penampilan yang sangat elegan dan cantik.

Adalah Jean (Gad Elmaleh) yang kemudian menundukkan hatinya saat bertemu pertama di pub sebuah hotel larut malam. Terpesona dengan keramahan, kepolosan, dan keterampilannya mengolah cocktail—ditambah suasana kesepian karena sendirian di malam ulang tahunnya—Irene pun mabuk dan (seperti biasa) menghabiskan malamnya bersama Jean.

Saat bangun pagi Irene sudah tidak ada di tempat tidurnya, dan saat memeriksa ke resepsionis hotel ia sudah check-out bersama kekasihnya.

---

Setahun berlalu sejak kejadian itu, dan tanpa sengaja mereka bertemu lagi di hotel yang sama, pub yang sama. Dan kisah setahun lalu pun kembali terulang, di hari ulang tahun Irene lagi. Bedanya, kali ini Irene tertangkap basah oleh kekasihnya—yang di hari ulang tahunnya kali ini sudah melamarnya, dan menjadi tunangannya—dan dengan kesal dan marah sang kekasih, yang lebih pantas jadi omnya itu, mencabut cincin pertunangannya dan memutuskan hubungan mereka.

Bisa ditebak, Irene yang terdampar sendirian di hotel tanpa uang dan siapa-siapa akhirnya kembali ke Jean, mencari “tempat berteduh”. Betapa terkejutnya ia kemudian menemukan bahwa Jean bukanlah tamu hotel atau seorang hartawan seperti yang disangkanya, melainkan salah satu pelayan di hotel itu. Ia pun meninggalkan Jean dengan kesal, dan pergi ke luar kota.

Jean yang sudah terlanjur jatuh cinta itu pun mengikuti Irene, merayunya untuk makan malam, menghabiskan semua uang dan tabungannya dalam sehari demi makan malam dan belanja pakaian untuk Irene, dan kemudian ikut terdampar di kota itu, sampai akhirnya bertemu dengan seorang janda tua kaya raya yang “mengontraknya” untuk menjadi kekasihnya. Jean yang polos itu pun berubah menjadi seperti Irene.

---

Kalau Original Sin (Michael Cristoffer, 2000) bercerita bahwa obsesi adalah dosa asal yang menuntun manusia kepada dosa-dosa selanjutnya, Hors de Prix dengan bumbu champagne dan komedinya membawa pesan bahwa ada sesuatu yang lebih mahal, yang tak bisa dibeli dengan uang (priceless), yaitu cinta. Digambarkan dengan bagaimana akhirnya Irene tak tahan melihat Jean, yang tadinya ia hina karena miskin, bermesraan dengan perempuan lain, dan akhirnya Irene pun meninggalkan segala kesempatan meraih kembali kemewahannya demi Jean.

Cinta itu juga priceless bagi Jean, di mana ia rela mempertaruhkan segala sesuatu yang dimilikinya. Kehilangan pekerjaannya, kehabisan uang, kehilangan si janda kaya raya yang menyokong semua kebutuhan hidupnya dengan barang mewah, sampai rela memberikan badannya bagi si perempuan yang adalah pacar baru mantan kekasih Irene, karena diminta oleh Irene demi membuat mantan kekasihnya itu kembali ke pelukannya.

Cinta yang memabukkan. Makanya minum champagne jangan banyak-banyak :p

Gatal telinga

“Heh! Jangan digituin! Ntar telinga lu budheg kayak telinga gue tempo hari,” begitulah nasihat Tante Sashie, AE-ku yang keibu-ibuan… eh, keibuan itu, melihat aku mengusap-usap telingaku yang gatal.

Sekitar sebulan terakhir aku memang cukup terganggu dengan gatal di telinga kananku. Dalam sehari bisa beberapa kali pengen mengusap-usap dan mengorek telinga dengan cotton-butt.

“Jangan pake cotton-butt, bersihinnya ga bisa bersih banget,” tambah Tante Sashie. Dia pun memberi saran untuk periksa ke dokter THT, dan di weekend yang longgar ini akhirnya ada sedikit waktu untuk periksa sebentar. Ada benernya juga sih, jangan-jangan ada luka atau infeksi di dalam yang nggak ketahuan, ngeri juga… Ditambah lagi pagi ini saat lagi mengorek kapas cotton-buttnya lepas dan jatuh di dalam, tak bisa aku keluarkan sendiri. Tak lama kemudian kalau sedang menguap atau menyesuaikan tekanan udara sering terasa mengganjal dan agak sakit, seperti kalau sedang menyelam dalam.

Untungnya ada klinik yang buka Sabtu-Sabtu gini, deket tempat kos pula. Lebih tepatnya rumah sakit spesialis THT, dan dokternya spesialis pula. Kebetulan pas nggak terlalu banyak pasien, jadi serba cepat. Duduk sebentar di lobby, belum selesai satu artikel koran dibaca registrasi pasien baru sudah selesai, dan aku dipanggil masuk.

“Ooo… paling-paling alergi biasa ini. Nggak kok, nggak ada yang luka,” begitu jawab Bu Dokter setelah mengintip sejenak ke dalam telingaku dengan teropongnya. Leganya, dan makin nyaman setelah sekalian “isi” telingaku dibersihkan dengan alat bantu dan diolesi sejenis salep obat gatal.

Hanya sekitar 5 menit telingaku sudah selesai “diservis” dan aku bisa melanjutkan berhari Sabtu lagi. Kali ini sudah tanpa resah ada infeksi dan sejenisnya. Masashie banyak :-))


PS: Kapan ya kerja jadi art director tiap 5 menit dapat Rp 130.000? Pindah ke New York dulu kali, hehehe…

jeudi, juin 14, 2007

Let me

Let me hold you
Let me hold your hand
Let this hand feel your tender skin
and the smell of your perfume

Let this body feel your warmth
and this lip touch yours

Let this soul learn about love
and let it be yours

Let me love you

Miss you

It’s nearly two years now
This one thing reminds me of us
Reminds me of how big our dreams were
Reminds me of how passionate we were together
Reminds me of you

I’m tired working with these dreamless guys
I miss working with you
I miss dreaming with you
I miss you

You’re the one who open my heart for dreams
You’re the one who speak to me about passion
You made me understand those things I never understand before
I owe you for that
And I thank you

Marketing (bagian 3—habis)

Tren brand berumur pendek membuat makin banyak pemain yang terpaksa berubah bentuk menjadi kaum oportunis, walaupun memang ada yang dari sononya terlahir sebagai oportunis. Generasi-generasi baru yang bermunculan juga tak luput dari oportunisme ini.

Apa yang salah dengan menjadi oportunis? Sebenarnya oportunis berasal dari bahasa Inggris “opportunist” yang berarti seorang pemanfaat kesempatan, atau bisa juga berkonotasi menjadi seseorang yang pandai memanfaatkan kesempatan.

Dalam banyak aspek kehidupan sifat seperti ini sebenarnya bisa positif dan dibutuhkan, tapi kenyataannya oportunisme ini telah bergeser menjadi berpengertian kaum pendompleng, atau tukang nebeng. Di dunia marketing dan iklan, kaum inilah yang biasanya suka asal ambil jalan pintas seperti pakai artis sebagai endorser produk.

Sebenarnya tidak selalu salah pakai artis sebagai endorser—terbukti di dunia fashion internasional sering kali efektif, dan terbukti beberapa artis memang pandai akting dan mempermudah proses produksi. Yang salah adalah kemudian menjadikan itu rumus baku dalam beriklan, dan yang lebih salah lagi adalah asal pakai artis yang nggak jelas hubungan dengan brand-nya. Dalam suatu kesempatan pitching di masa lalu pernah ada calon klien yang di presentasi tidak menilai strategi dan idenya, tapi hanya bertanya, “Iklannya mau pakai artis siapa?”

Bisnis kali itu memang gagal kita dapatkan karena ide yang kita usulkan sama sekali tidak mengandung artis, benar-benar mengangkat nilai brand-nya. Tapi hasilnya, saat iklan tayang, kita harus mengelus dada melihat iklan yang strategy-less, idea-less, dan dieksekusi dengan sangat tidak bagus itu. Entah apakah brand-nya terbentuk, atau hanya semata-mata mengejar sales sesaat dan berikutnya tinggal bikin iklan baru lagi.

Secara yang jadi agensi iklannya seharusnya kerjanya lebih gampang, tinggal bikin ide sampah saja, skip the strategic-planning, dan cari artis yang lagi naik daun—yang tinggal cek hasil survei atau browsing infotainment juga langsung ketemu. Secara bisnis juga mungkin lebih untung karena iklannya pasti tidak tahan lama dan beberapa bulan kemudian akan butuh iklan baru lagi dengan pesan yang kurang lebih sama. Reason-why-nya, “Sales-nya udah jenuh lagi nih, bikin yang baru deh biar sales-nya naik lagi.” Maksudnya, biar si orang-orang marketing (atau sales???) itu dapat credits lagi, dan dapat bonus dari perusahaannya karena berhasil mendongkrak sales. Bukan karena brand-nya jadi, apalagi sukses di pasar.

Tragis memang ketika marketing selalu diidentikkan dengan sales. Angka, angka, dan hanya angka yang dipedulikan. Bukan keberhasilan membuat produk atau brand itu diterima. Efek dominonya adalah, generasi masa kini makin malas bikin produk atau brand yang inovatif. Yang banyak ada adalah produk generik dan brand-brand-an. Ya, brand-brand oportunis yang umurnya pendek karena memang di-treat untuk sekedar menjadi mesin balik modal yang cepat, tidak di-treat untuk jadi brand yang long-lasting. Akhirnya rumusnya ya itu tadi: pakai artis dan main kuantitas (frekuensi tayang, frekuensi produksi iklan baru), tak peduli konsumennya suka atau eneg sama brand-nya. Begitu eneg, brand-nya dengan mudah dibuang seperti buang nomor prabayar, dan bikin lagi yang baru. Marketing dan advertising tidak lagi dipandang sebagai investasi, tapi sekedar expense tahunan untuk mendongkrak sales sesaat (berada di bawah sales). Akhirnya tidak peduli strategi, tidak peduli brand personality, tidak peduli tagline—it’s just some line for those people. Generasi generik dan instan, ya brand-nya, ya orang-orangnya.

Sekarang kembali kepada kalangan pekerja iklan sebagai brand and marketing specialist, apakah mereka mau bikin brand dan iklan yang seperti itu? Apakah mereka mau give-up dan sekedar menyenangkan klien demi dapat duit? Apakah mereka tega merusak konsumen demi angka sales dan agency-fee? Atau… apakah mereka ingin mengembalikan bisnis marketing dan advertising ini ke bentuk idealnya?

Kita selalu punya pilihan, walaupun kadang memilih yang lebih benar itu tidak mudah dan penuh pengorbanan.

---

Smith: "Why, Mr Anderson, why? Why, why do you do it? Why, why get up? Why keep fighting? Do you believe you're fighting for something, for more than your survival? Can you tell me what it is, do you even know? Is it freedom or truth, perhaps peace - could it be for love? Illusions, Mr Anderson, vagaries of perception. Temporary constructs of a feeble human intellect trying to desperately to justify an existence that is without meaning or purpose. And all of them as artificial as the Matrix itself. Although, only a human mind could invent something as insipid as love. You must be able to see it, Mr Anderson, you must know it by now! You can't win, it's pointless to keep fighting! Why, Mr Anderson, why, why do you persist?"

Neo: "Because I choose to."

(Matrix Revolutions, 2003)

lundi, juin 11, 2007

Coffee, or Tea?

I’m not a Coffee person
I’m not a Tea person
I drink them just for fun

I’m actually a Chocolat person
although Chocolat might grow me acnes

So forgive me, Father
Coz I really like Chocolate
And I’m in love.

Why 70s?

OCEAN’S THIRTEEN
USA | 2007 | Sutradara: Steven Soderberg

Di luar dugaan Ocean’s Thirteen bagus, walaupun masih dalam kategori film ringan dan menghibur. Makin lama sepertinya film-film Danny Ocean cs. ini memang diarahkan ke komedi, setelah di sekuel keduanya, Ocean’s Twelve, tiba-tiba muncul Bruce Willis memerankan dirinya sendiri sebagai cameo.

Humor-humor sejenis yang lebih segar pun hadir di film ini, di mana cameo kali ini adalah Oprah Winfrey, yang membawakan acaranya sendiri: The Oprah Winfrey Show.

Tapi rupanya itu baru sebagian dari inti trilogi Ocean’s ini. Makna sesungguhnya terletak pada kecintaan terhadap semangat Seventies, yang secara visual tergambar dari art direction, penataan setting dan musik yang kental a la era tujuh puluhan.

Ide maling-malingan ini ternyata juga salah satu simbol untuk melambangkan kehebatan manusia di atas alat atau mesin, yang mungkin mencapai klimaksnya di Ocean’s Thirteen ini. Di sini diceritakan bagaimana Danny Ocean cs. harus mengalahkan teknologi digital dengan cara analog. “You’re an analog in a digital world,” begitu salah satu kalimat di dalam film ini, yang bisa berarti melemahkan, merendahkan, tapi bisa juga berarti sebuah pertanyaan kritis: apakah benar kita manusia bisa kalah dengan barang ciptaan kita sendiri?

Setting Seventies sendiri juga bagian integral dari simbolisasi ini, di mana era ini adalah akhir dari segala sesuatu yang analog, sebelum memasuki era 80-an yang serba industrialized dan digital—musik-musik elektronika, komputer, sampai desain mobil yang serba kotak-kotak dan dashboard digital (ingat speedometer digital tanpa jarum?).

Tanpa disangka, digitalisasi selain membuat sistem lebih mudah dan canggih tapi di saat bersamaan juga berpeluang membuat manusianya lebih tolol dan kehilangan kemanusiaannya. Di film ini terlihat dari bagaimana kasino milik Willie Banks (diperankan Al Pacino) yang dilengkapi sistem keamanan tercanggih bisa dikibulin oleh gempa kamuflase yang membuat sistem komputernya reboot, yang akhirnya jeda masa reboot itu (3 menit 20 detik) menjadi celah bagi “kaum analog” yang cerdas dan manusiawi itu untuk mencuri peluang dan membalikkan keadaan.

Bandar pun langsung kalah semua dan ludes sampai 500 juta dolar dalam beberapa menit kekacauan itu, berikut berlian simpanan Willie Banks yang dicuri dengan cara yang paling primitif: bongkar paksa.

Tapi bagaimanapun, jangan mengharap ada kejutan berarti di jalan cerita maupun perwatakan tokohnya, nikmati saja hiburan dan komedinya untuk meringankan batin kita. Asli lucu, asli segar.

Marketing (bagian 2)

Perilaku masyarakat hari ini begitu mengherankan. Kemajuan teknologi komunikasi dan informasi yang seharusnya membuat peradaban makin maju, nyatanya malah menciptakan sebagian besar masyarakat generik, dan ironisnya itu terjadi di golongan muda yang seharusnya menjadi generasi penerus.

Karakter dan kepribadian tak lagi penting, semuanya hanya dinilai dari penampilan luar, dari bungkus atau kemasannya. Seorang cewek dinilai hanya dari seberapa cantik atau seksi penampilannya, seorang cowok dinilai hanya dari seberapa keren mobilnya, seorang calon pegawai dinilai kecerdasannya hanya dari sekolah mana dia berasal, seorang pekerja dinilai kemampuannya hanya dari di perusahaan mana dia bekerja, atau hanya dari klien apa saja yang pernah dia tangani. Di dalam undangan pernikahan, para orang tua sibuk menggelar titel anaknya—bahkan pernah ada yang menulis sekolahnya: apa Institute of Melbourne atau Sydney gitu deh—karena gila hormat dan ingin pamer “Eh, aku wong sugih lho! Anakku sekolah nang luar negri” kepada calon undangannya.

Akhirnya dalam memilih sebuah produk atau jasa juga terjadi demikian. Sebuah produk atau jasa hanya dinilai dari penampilan luarnya. Itulah sebabnya baru-baru ini sebagian orang kena kemplang ratusan juta sampai miliaran rupiah oleh sebuah perusahaan investment, karena hanya melihat nama perusahaannya yang pakai embel-embel “Swiss”.

Perilaku konsumen yang demikian ternyata diamini oleh para produsen. Produk-produk hari ini hanya sibuk mengurus kemasan daripada membangun kualitas dan nilai intrinsiknya. Bahkan tuntutan menekan harga kadang membuat mereka mengurangi kualitas itu, contohnya salah satu merek rokok kretek filter yang setelah ganti kemasan malah turun rasanya.

Beberapa merek mobil bahkan juga mengorbankan kualitas bahan dan fiturnya demi harga, mulai dari kualitas bahan dashboard dan jok, bahan setir yang kasar atau mudah aus, perlengkapan tape, ban, velg, lampu, kaca spion sampai gagang pintu yang makin tidak bagus kualitasnya. Itu belum masuk ke mesin, entah apa lagi yang dikurangi.

Ponsel hari ini lebih banyak menghabiskan investasinya untuk desain. Tak jarang kualitas komponennya dikorbankan dan life-spannya makin pendek. Tapi toh itu tidak terlalu jadi masalah, karena sebelum sampai ke batas umurnya si konsumen sudah ganti lagi ke model terbaru.

Confectionary, khususnya lokal, lebih kacau lagi. Para penyuka snack tentu prihatin dengan merek-merek snack baru yang makin tidak jelas rasanya. Sudah tidak ada lagi biskuit enak seperti Selamat atau cookies unik seperti Monde Butter Cookies.

Tapi ya itulah kenyataannya, desain dan kemasan yang seharusnya menjadi tools pelengkap marketing malah dijadikan aji mumpung dan kedok untuk mengelabui konsumen. Ibarat tim kreatif yang harusnya jadi pelengkap advertising di bagian ide dan eksekusi tapi akhirnya harus dibebani semua pekerjaan sampai menjual ide ke klien dan bikin brief sendiri. Hasilnya, kualitas strategic planning secara umum (mayoritas) menurun dan banyak brand yang hanya eksis sesaat lalu hilang, walaupun strategic planning yang bagus itu tetap ada dan brand yang eksis lama itu juga ada.

(Bersambung)

lundi, juin 04, 2007

“Revolusioner sejak muda…”

THE MOTORCYCLE DIARIES
Catatan harian Che Guevara
(terjemahan Indonesia, Banana Publisher)


Rasanya tak banyak orang tua yang mengijinkan anaknya yang sudah sampai tahap akhir sekolah kedokterannya cuti dari kuliah 8 bulan untuk berkelana keliling benua. Tapi lain halnya dengan Ernesto Guevara Lynch.

Kalau ternyata kemudian sang anak terlahir “revolusioner sejak muda”, seperti tertulis di sampul belakang buku ini, dan akhirnya menjadi tokoh revolusi paling berpengaruh sampai saat ini, itu mungkin sudah tertanam sejak di sosok sang ayah.

Ya, Ernesto Guevara atau Che—begitu sang ayah memanggilnya, yang berarti si kecil (seperti Junior, tapi dalam bahasa Spanyol)—memang berjiwa revolusioner dengan berani mengambil langkah berkelana keliling Amerika Selatan sampai Miami, Florida. Apalagi itu ditempuh dengan kendaraan seadanya, sepeda motor, seperti judul catatan harian ini.

Motor yang dipakai Che dan Alberto, sahabat seperjalanannya, juga bukan motor mewah dan turnya juga bukan tur mewah seperti grup tur moge masa kini. Justru inti dari perjalanan ini adalah berkelana dan mengenal Amerika Selatan, mulai Argentina sendiri, negeri kelahirannya, hingga ke Kolombia, Venezuela, Peru, bahkan koloni pasien lepra di San Pablo.

Selama perjalanan ini Guevara muda menemukan banyak rintangan, kesulitan, sampai kelaparan dan sakit. Ia banyak merasakan ketidaknyamanan medan perjalanan, jalan-jalan yang tidak diaspal dan cuaca dingin, nyamuk-nyamuk ganas di sekitar sungai yang dilalui. Tapi selain serangkaian kesusahan itu, ia juga sempat merasakan kebaikan penduduk lokal masing-masing daerah, mulai dari diberi makan, minum, tumpangan, tempat berteduh, sampai diberi pekerjaan sehingga Che dan Alberto, sahabatnya, bisa mengumpulkan uang untuk beli makanan sendiri.

Kebaikan-kebaikan ini yang kemudian makin memantapkan jiwa revolusi dan keberpihakan Che Guevara kepada rakyat Amerika Selatan, yang sebagian adalah rakyat miskin dunia ketiga yang butuh dibela. “Aku tahu, bahwa ketika ada penguasa yang memisahkan manusia-manusia menjadi dua kelompok yang berlawanan, aku akan tetap bersama rakyat.”

Catatan perjalanan yang inspiratif sekaligus menghibur karena diwarnai serangkaian kekonyolan, dari yang se-slapstick Che dan Alberto terjungkir dari motor sampai mereka nonton pawai yang menyanyikan lagu kebangsaan “Republik” Spanyol. Ditulis sendiri oleh Che Guevara sebelum usianya 24 tahun.

Jawa Timuran di Warung Sekartaji

Rumah makan sederhana di Panglima Polim V ini akhirnya jadi salah satu tempat makan siang favorit anak-anak kreatif. Beragam menu Jawa Timuran tersedia, mulai dari ayam bakar dan ayam goreng, empal goreng, aneka soto, sampai nasi pecel.

Aku belum coba ayam bakarnya sih sampai saat ini, tapi ayam gorengnya sedaap! Yang pasti baik ayam bakar maupun ayam gorengnya dibuat dari ayam kampung, empuk dan gurih. Disajikan bersama sambel yang dipadu dengan sedikit kecap manis, membuat makan siang makin berselera. Dan, yang bikin makin suka adalah rasa khas masakan rumahannya, nggak industrialized macam makan di rumah makan modern lain.

Seperti biasa, untuk menemani selalu tersaji aneka gorengan, mulai dari tahu, tempe, dadar jagung, sampai ati ampela dan aneka krupuk. Kalau pesan nasi pecel pincuk Rp 7.000 sudah langsung dapat rempeyek kacang dan krupuk puli. Makan puas biasanya tak lebih dari Rp 25.000 per orang. Cocok buat wong Jawa Timur yang kangen nasi pecel mantap. Jangan kaget kalau ada mobil plat L yang parkir deket situ yah… Tetangganya ada yang plat L, maksudnya :-))

Marketing

Begitu mudah hari ini orang mengistilahkannya. Ada yang mengartikan sebagai jualan, ada yang mengartikan bagian cari pembeli, ada juga yang mengartikan bagian meladeni klien.

Marketing berasal dari kata dasar market yang berarti pasar. Di pasar memang terjadi transaksi dan penjualan, tapi apakah benar hanya sebatas itu?

Ketika Anda beli sepatu di toko A dan kaki Anda lecet setelah sekali pakai sepatu itu, Anda tentunya tidak akan kembali ke toko A lagi, bukan? Sebaliknya jika Anda beli nasi goreng di warung B dan suka rasanya, di kesempatan berikutnya Anda akan kembali lagi.

Walaupun kedua transaksi dan penjualan di pasar yang sama, tapi yang sebenarnya disebut pasar adalah yang kedua.

Pasar tidak melulu soal produk atau jualan, pasar adalah soal konsumen dan pelanggan. Yang diartikan pelanggan, atau customer, adalah mereka yang tidak hanya datang membeli sekali lalu tak pernah kembali, tapi mereka yang kembali untuk kedua, ketiga, dan ke sekian kali. Mereka yang melakukan repeat order dan repeat purchase, mereka yang puas dengan produk atau jasa yang dijual, mereka yang bisa menerima keberadaan produk atau jasa.

Dengan demikian marketing atau pemasaran adalah bagaimana membangun kondisi agar suatu produk atau jasa bisa dikenal (being awared by) dan diterima (being accepted by) oleh konsumen. Bahkan sebuah produk atau jasa bisa diciptakan berdasarkan kebutuhan pasar, baik permintaan saat itu (current demand) maupun prediksi permintaan di masa depan (future demand). Itulah gunanya market research, itulah gunanya consumer insight.

Di iklim kompetisi dan produk paritas seperti hari ini, positioning atau brand image menjadi sangat penting bagi suatu produk untuk tetap eksis dan diterima pasar. Tidak manjur lagi hanya jual kecap nomor satu, terbaik-terbesar-terluas-tercepat-terhebat dan ter-ter yang lain. Konsumen hari ini makin beragam dan tidak selalu memilih yang paling top, tapi satu hal yang pasti: mereka akan memilih (dan membeli) yang cocok untuk mereka.

Itulah marketing, sebenarnya. Gabungan teknik dagang, psikologi pasar, dan tentunya kreativitas untuk menjawab keduanya. Tidak semata-mata jualan membabi-buta dan dapat duit, sampai kadang mengelabui pembeli seperti penjual sepatu tadi. Cara seperti itu tidak akan mendatangkan pelanggan, dan tidak akan menciptakan market.

(Bersambung)

Curse of The Long Weekends

Ini sama sekali bukan bermaksud membuat sekuel atau parodi filmnya Zhang Yimou itu, tapi sekedar ekspresi rasa sebel kena serang infeksi tenggorokan lagi sebelum genap dua minggu sembuh.

Sebenarnya aku bisa dibilang manusia paling beruntung bisa menikmati long weekend terpanjang dari siapa pun bulan ini. Setelah menikmati libur hari Jumat sampai 2 kali karena cuti seminggu lebih, aku masih ambil cuti sehari lagi Jumat berikutnya karena weekend-nya bakal begadang di LaSalle sama Burat. Minggu berikutnya loong weekend, Kamis-Jumat libur, dan minggu keempat baru pertama kali merasakan bekerja di hari Jumat di bulan ini. Lalu Jumat ini kembali libur lagi.

Jadi sakit sampai dua kali bulan ini sepertinya berlebihan kalau dibilang kecapekan fisik, karena banyak kesempatan istirahat, plus load kerja juga bisa dibilang tidak padat.

Mungkin faktornya stres, karena banyak pekerjaan bulan ini yang progress-nya amburadul dan bikin sebel. Ada yang sudah jadi FA nggak tayang-tayang lah, ada yang sudah 90% balik jadi 50%, ada yang presentasi sampai dua kali masih mental. Jadi benar, faktor stres itu memang penyebab utama orang sakit. Dan faktor stres utama bekerja di advertising itu ternyata bukan kerjaan banyak dan deadline mepet, tapi soal harus bekerja sama dengan golongan orang-orang yang nggak pernah bisa diandalkan itu, dan harus menerima segala attitude-nya yang sembrono.

Ya kalo hidup begini terus, mau long weekend terus sepanjang tahun ya teuteup akan jatuh sakit. Bukan urusan kutukan.