Salah satu ilmu penting yang bisa dipetik dari advertising modern adalah positioning. Di belahan lain dunia positioning sudah dikenal sejak setengah abad yang lalu, sebuah era setelah product-feature.
Di dalam teori positioning sudah ada brand, sudah memasuki era produk “me-too” di mana faktor pembeda produk satu dan yang lain tidak lagi semata-mata berdasarkan fitur dan ingredients-nya, tapi sudah menyangkut branding-nya: bagaimana produk A memposisikan dirinya di antara produk-produk yang lain, atau dengan kata lain bagaimana konsumen harus mengenali produk A.
Tanpa disadari teori positioning ini juga berlaku bagi kehidupan manusia sehari-hari. Misalnya bagaimana kita memosisikan diri kita di antara teman-teman kita, di sekolah atau di tempat bekerja, di dalam tim. Semakin kuat positioning kita, misalnya di lingkungan kerja, semakin susah kita tergantikan oleh orang lain. Sebaliknya semakin lemah positioning kita, semakin mudah kita tergantikan.
Positioning di dalam kehidupan individual dan kelompok kecil ini juga sama dengan brand, punya perjalanan. Artinya selalu bergerak, dan tiap kurun waktu tertentu harus terus dievaluasi apakah masih valid atau tidak. Kalau tidak (misalnya sudah out-of-date atau sudah disamai oleh orang lain) berarti harus dicari positioning baru. Alasannya sederhana, agar positioning tetap kuat.
---
Kelebihan positioning adalah kita tidak selalu harus jadi yang “ter-“. Ini sudah bukan lagi perang kecap nomor satu, nomor dua atau nomor tiga, bahkan nomor tiga puluh bisa tetap eksis dan dipilih. Salah satu contoh klasik yang terang-terangan menyebut peringkat yaitu Avis Rent-A-Car, yang merasa dirinya nomor dua dan dengan pe-de memperkenalkan dirinya sebagai nomor dua (setelah Hertz) dengan “We’re number two, so we try harder”.
Apple Computers dan BMW juga bukan nomor satu di kategorinya—Apple masih di bawah merek-merek PC, sementara BMW masih di bawah Mercedes-Benz. Tapi terbukti kedua merek ini tetap eksis, dipilih, dan bahkan punya penggemar fanatik seperti halnya fans sepakbola. Merek-merek ini bahkan sudah melewati fase positioning, mencapai fase yang lebih tinggi lagi, yaitu brand image.
Di tahap brand image benefitnya sudah tidak melulu diukur secara rasional, tapi sudah emosional: image apa yang didapat bila menyukai atau menggunakan brand yang bersangkutan. Orang pakai BMW X5 terbaru sudah bukan lagi sekedar ingin menggeber mesin atau menikmati 350 horsepower-nya, tapi ingin dipandang sebagai X5-er, sebuah pribadi yang smart dan sophisticated seperti yang tergambar dalam desain eksteriornya. Pengguna Apple tidak semata-mata mengejar Mac OS X dan perangkat plastik menawan berwarna putih, tapi juga ingin dikenal sebagai bagian dari komunitas Apple, sebuah cerminan pribadi yang modern dan smart-casual.
Sementara merek-merek internasional sudah bersaing di level yang sedemikian tinggi, sebagian besar merek lokal masih saja berkutat di level kecap nomor satu. Tak terkecuali pasar operator seluler yang masih harus susah-susah mengklaim dirinya “ter-“ ini, “ter-“ itu, nomor satu, pertama, dan blablabla…
Harus diakui “bermain” di bidang teknologi telekomunikasi sudah tidak bisa disebut sekedar bergerak atau mengalir, tapi berlari. Sebuah produk tidak lagi sempat diresapi nilainya sampai tahap emosional, karena tak lama kemudian muncul produk yang lebih baru lagi—lebih advanced, lebih lengkap, dengan harga yang sama. Flow-nya selalu seperti itu, nggak komputer nggak seluler, jadi tak heran sebagian pelaku bisnis ini tidak lagi merasa perlu brand building. Padahal brand building tetap perlu karena sebagian masyarakat masih pilih-pilih merek, apalagi untuk perangkat yang nilai investasinya tinggi.
Kalau kita membayangkan, misalnya, seorang direksi perusahaan memutuskan investasi IT untuk perusahaannya senilai sekian ratus juta atau sekian miliar, mana mungkin dia nggak pilih-pilih merek, atau memilih merek semata-mata berdasarkan fitur atau specs-nya. Dia pasti akan mempertimbangkan brand value dari produk itu, misalnya buatan mana, pengalaman brand-nya seperti apa soal after-sales service dan life-span produk.
Sedangkan di pasar ponsel (handset) yang turnover-nya sangat tinggi sekali pun—orang beli karena alasan fun, bukan karena fungsi—terbukti mereka yang peduli brand building lebih eksis, misalnya Nokia yang user-friendly, dan terakhir Sony Ericsson yang berhasil memosisikan dirinya sebagai merek yang advanced atau high-end (bagi pribadi yang lebih sophisticated). Bandingkan dengan Motorola, Siemens, atau Samsung yang lalai brand building, apa jadinya merek-merek itu sekarang?
---
Kembali ke positioning dalam kehidupan sehari-hari, ini sebenarnya adalah membangun karakter, atau kepribadian, atau ada juga yang menyebut jati diri. Semakin jelas karakter kita, semakin jelas orang lain mengenal kita.
Misalnya positioning si A adalah orang yang jujur, dia tentu akan dipercaya oleh teman-temannya. Di perusahaan dia mungkin akan diserahi posisi penting, atau diberi jabatan dalam divisi keuangan, karena manajemen merasa rahasianya aman dan kinerjanya bersih bila berhubungan dengan si A. Sementara si B, misalnya, memiliki positioning sebagai pribadi yang ulet, dia tentu akan dipercaya menangani problem-problem yang alot dan butuh kesabaran, misalnya negosiasi dengan pihak kedua dan ketiga. Tanpa ada positioning-positioning ini, dengan mudah seseorang akan digantikan oleh orang lain, karena ada dia dan nggak ada dia sama saja, nggak ada bedanya.
Lebih sempit lagi ke ruang lingkup advertising, seharusnya pola pikir yang kritis dan peduli positioning juga diterapkan. Misalnya antara art director dan copywriter, atau antara art director-copywriter dan group head atau CD, antara tim kreatif dan tim client service, dan seterusnya. Artinya apa? Artinya, kalau sampai terjadi suatu kondisi, misalnya dalam beberapa kali project, di mana group head atau CD-nya melulu harus turun tangan sampai masalah yang sekecil-kecilnya, si pasangan art director-copywriter itu harus segera introspeksi, sebenarnya fungsi atau peran mereka seberapa penting dalam pekerjaan itu—apakah hanya sekedar asisten atau penggembira. Begitu juga sebaliknya.
Antardepartemen juga sama, seharusnya masing-masing elemen saling introspeksi, mempertanyakan keberadaan mereka di dalam sistem kerja di perusahaan itu. Misalnya, kalau tim client service-nya bisa bikin strategi, ide, sampai jualan ke klien, si tim kreatif harus bertanya kepada dirinya sendiri sebenarnya fungsi mereka di tim itu apa. Begitu juga sebaliknya.
Lebih jauh berkaitan dengan pihak ketiga, misalnya supplier. Kalau sebuah TVC dari ide sampai detil eksekusi dibikinin sama director, sebenarnya fungsi gue sebagai tim kreatif itu apa? Sebaliknya, kalau sampai gue harus bikin offline-cut sendiri, fungsi elu sebagai director itu apa? Kalau si art director yang harus pontang-panting bikin pre-production sheets, sebenarnya fungsi produser itu apa?
Begitu juga halnya hubungan agency dengan klien, kalau kliennya disuruh bikin brief yang jelas, kalau kliennya bisa cari supplier percetakan sendiri dan deal dengan vendor-vendor ini-itu sendiri, sebenarnya klien masih butuh gue sebagai agency-nya nggak ya? Kalau agency A bisa kasih service yang sama atau lebih bagus, terus apa gunanya tetap kerja sama dengan agency saya? Kalau agency saya tidak punya sesuatu yang unik yang tidak dimiliki agency lain, kenapa klien harus pilih agency saya?
Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini sebenarnya langkahnya sama seperti meneliti sebuah brand sebelum membuat campaign. Dan harus mulai diteliti dan dicari positioning-nya, atau kita akan selalu harus susah-susah jualan kecap dan banting harga—sejauh itu saja calon buyers (klien) menghargai kita, karena memang kitanya nggak berusaha menawarkan dan memosisikan diri kita lebih dari sekedar kecap dan harga yang anjiiing murahnya. Lama-lama yaa industrinya jadi menyebalkan: kerjaan anjiiing banyaknya, deadline anjiiing mepetnya, harga anjiiing ditekannya. Bisa lekas jebol kita punya jiwa raga.