vendredi, mai 25, 2007

Sekedar cerita

Seorang teman yang aku kenal di workshop batik tahun lalu ternyata seorang dosen seni rupa dan desain, dan beberapa bulan lalu memutuskan meneruskan karirnya di salah satu kampus swasta berkelas di Surabaya.

Pada suatu kesempatan chatting lewat YM, dia pernah menawariku untuk memberikan kuliah tamu di kampusnya tentang advertising. Aku pun bingung, nggak siap mau menjawab apa. Mau bilang nggak mau kok rasanya sombong, mau bilang oke juga bingung mau ngasih kuliah tentang apa. Mau sharing portfolio juga entah apakah cukup menarik, wong prestasi juga biasa-biasa gini.

Aku memang tidak punya cerita sukses besar apa pun buat dibagi, karena memang belum ada suatu pencapaian besar yang terjadi selama hampir 4 tahun bekerja—yang ada malah bibit-bibit paranoid, jangan-jangan bokap bener aku ga cocok kerja artistik.

Tapi sebenarnya aku punya sedikit cerita kesuksesan kecil, yang entah buat orang lain berarti atau tidak, tapi harus aku akui bahwa inilah mungkin kebahagiaan terbesarku, yang membuat aku cuek terhadap ketakutanku tadi dan keep on going.

Cerita pertama berawal dari suatu kesempatan membimbing sepasang anak kerja praktek pertengahan tahun lalu. Tidak seperti kebanyakan anak magang yang pernah aku temui beberapa waktu terakhir, sepasang anak magang saat itu punya passion dan kemauan berusaha yang tinggi, yang akhirnya hanya dengan sedikit aku berikan arahan dan clue bisa menghasilkan suatu project yang sekualitas hasil kerja sepasang junior art director dan junior copywriter beneran, bukan kualitas anak magang. Sayangnya project itu tidak di-approve klien, tapi AE-ku dan aku sangat puas dengan mereka, dan kami menikmati proses mengerjakannya—membuat perjalanan sebulan terasa begitu cepat berlalu.

Beberapa bulan berlalu setelah kebahagiaan itu, datang kebahagiaan yang lain. Menjelang akhir tahun sempat ada tawaran bekerja di tempat lain yang kelihatannya menarik, tapi karena aku masih enjoy mengerjakan pekerjaanku sekarang akhirnya aku memutuskan untuk stay. Entah karena ada kesan baik atau apa, si bos yang nawarin pekerjaan itu (yang baru saja aku kenal) malah minta tolong dibantu cari calon lain untuk mengisi lowongan itu kepadaku. Kebetulan saat itu ada seorang teman yang sedang cari tempat kerja baru dan portfolionya menarik, lalu aku coba pertemukan mereka dan akhirnya cocok. Temanku jadi pindah ke sana, dan setelah berjalan beberapa bulan si bos kembali meneleponku untuk berterima kasih karena dia sangat puas dengan kinerja temanku itu. Tidak ada telepon serupa dari temanku—yang aku asumsikan sebagai “baik-baik saja”—kecuali sebuah telepon saat dia baru pindahan, ngabarin, “Eh, akhirnya gue jadi pindah ke sana. Thanks ya.”

Well… seharusnya aku yang berterima kasih kepada mereka semua karena membuatku merasa sukses, sama seperti aku harus juga berterima kasih kepada mereka yang memberiku kesuksesan nomor tiga, membuat seorang copywriter menulis sebuah kolom fashion yang sangat indah—lebih bagus daripada copy mana pun yang pernah ia tulis. Seperti halnya cerita yang lain ini sangat subyektif, aku tak peduli apakah menurut orang lain kolom dan tulisan itu bagus atau tidak, tapi buat aku itu bagus banget dan aku sangat bahagia saat membacanya sampai aku tak bisa menahan kelopak mataku untuk tidak meneteskan air mata.

Walaupun butuh waktu yang agak lama, tapi akhirnya aku bisa mengerti dan mengalami kalimat di film Before Sunset (Richard Linklater, 2003) itu. Kebahagiaan sesungguhnya memang terletak pada kesuksesan-kesuksesan kecil. Ia begitu murni karena tidak dibungkus ketenaran dan harta.

mercredi, mai 23, 2007

Bagong

Alkisah pada tahun 1960-an ada seorang keluarga keturunan China di Kertosono, sebuah kota di Jawa Timur, dekat Kediri, sedang akan mendaftarkan ganti nama untuk anak laki-laki sulungnya.

Karena kurang fasih dan miskin perbendaharaan kata bahasa Indonesia, akhirnya sang orang tua mengutus salah satu pembantu rumah tangganya ke kantor kelurahan untuk memilihkan nama yang pas. Teringat akan salah satu tokoh pewayangan terkenal, Punakawan, dalam cerita rakyat Jawa—dan kebetulan si anak sulung berumur delapan tahun itu badannya pendek dan subur—dengan polosnya si pembantu memilihkan nama “Bagong” untuknya. Kebetulan secara bunyi juga tidak jauh dari nama aslinya, Boen Hong. Dan jadilah Tan Boen Hong sampai seterusnya dikenal juga sebagai Bagong Kusumo Tanuwijoyo alias Koh Bagong KT, walaupun saat dewasa tidak lagi pendek dan subur badannya.

Well… tidak bermaksud merendahkan nama Bagong, itu hanya sekedar anekdot. Menjadi penting dibahas ketika kemudian menjadi cermin sikap betapa lalai dan tidak pedulinya kita pada sebuah nama. “Apalah arti sebuah nama?” begitu salah satu ungkapan yang pernah, dan mungkin masih ada sampai sekarang. Nama orang, nama toko atau perusahaan, nama rumah makan, bahkan nama daerah kadang-kadang masih diberikan dengan asal. Yang tak kalah menyebalkan tentunya bila itu terjadi dalam pemberian nama untuk sebuah produk (proses branding) dan pemberian slogan (atau dikenal juga dengan tagline).

Sebagai seorang praktisi periklanan yang berbasis art, sebenarnya urusan pemberian nama, apalagi tagline yang masih berbau strategi, bukan bagian saya. Tapi bagaimanapun, sebagai bagian dari tim yang ikut bertanggung jawab dan sebagai bagian dari disiplin profesi bernama periklanan, buat saya tindakan seperti ini tak ubahnya membual dan pada akhirnya melecehkan martabat diri sendiri di depan klien. Kita mengajak (atau mungkin lebih tepat: menyuruh) klien berinvestasi jutaan, miliaran rupiah, untuk sebuah brand dan tagline yang sembarangan. Untuk sebuah positioning yang lemah, untuk sebuah promise yang dengan mudah dimentahkan, kadang tidak hanya oleh brand lain tapi langsung oleh penerima pesan tingkat pertama (misalnya ada reaksi resisten pembaca atau penonton seperti, “Apaan sih?” atau “Norak ah!”, dan sebagainya).

Herannya, makin hari tampaknya iklan yang bermunculan makin banyak yang tidak peduli dengan penamaan brand dan tagline-nya. Entah stok CD atau strategic planner yang genah makin langka, atau agency-nya yang makin gila-gila, atau mungkin kliennya rabun marketing dan butuh diedukasi tapi agency-nya terlalu malas untuk itu. Apa pun faktornya, menurut saya adalah tugas semua orang waras di industri ini untuk melakukan sesuatu dan berusaha memperbaiki keadaan, walaupun itu berarti harus berdebat dengan klien atau bahkan bos kita yang membela klien demi bisnisnya, karena nasib bisnis dan profesi ini sebenarnya sudah tamat kalau pendapat dan usulan kita ternyata sampah. Sedangkan si pembantu keluarga Tan saja, dengan segala keterbatasan yang dimilikinya, memilihkan nama “Bagong” berdasarkan referensi (budaya) di benaknya bahwa nama itu artinya baik.

Jadi kalau masih belum lebih baik daripada pembantu, jangan bermimpi menjadi partner.

mardi, mai 22, 2007

Good luck in Athens!

YOU’LL NEVER WALK ALONE!

When you walk through a storm,
Hold your head up high,
And don't be afraid of the dark.

At the end of a storm,
There's a golden sky,

And the sweet silver song of a lark.

Walk on through the wind,
Walk on through the rain,
Though your dreams be tossed and blown..


Walk on,
walk on,
with hope in your heart,
And you'll never walk alone.......

You'll never walk alone.


Walk on,
walk on,
with hope in your heart,
And you'll never walk alone.......

You'll never walk alone!

JOMBLO

Indonesia | 2006 | Sutradara: Hanung Brahmantyo

Ini pertama kalinya aku nonton filmnya Hanung Brahmantyo, dan komentar pertamaku: aku suka dengan gaya berceritanya yang santai dan casual. Kebetulan tema yang diangkat kali ini juga tidak jauh dengan pengalaman hidup yang sedang aku jalani sekarang: jomblo.

Keempat karakter cowok jomblo yang dihadirkan hampir mewakili semua karakter cowok jomblo: jomblo karena bloon, jomblo karena terlalu idealis, jomblo karena nggak berani-berani nembak (that’s me!), dan jomblo karena memang masih ingin bebas dan nggak pengen serius berhubungan (maybe that’s also me, setengah ngeles karena nggak dapet-dapet, waduh…).

Cerita yang sederhana dan ringan—bahkan mungkin bagi sebagian orang terasa sepele—tapi menjelaskan persoalan dengan jernih dengan berbagai contoh kejadian, dan berusaha memberikan solusi bagi tiap permasalahan. Misalnya tokoh Olip (Rizky Hanggono) yang penakut, walaupun persahabatannya dengan Doni (Christian Sugiono) harus jadi korban, tapi akhirnya tekanan dari “kompetitor” membuat rasa takut itu berangsur-angsur pudar, dan akhirnya di kemudian hari ia lebih berani berkenalan dengan cewek.

Tokoh Doni yang playboy—tergambar dari namanya yang adopsi dari Don Juan—juga diberi jalan keluar dari perjalanan hidupnya yang stagnan dan jalan di tempat melalui tokoh Asri (Rianti Cartwright) yang akhirnya menjadi tambatan hati. Begitu juga tokoh Agus (Ringgo Agus Rahman) yang ditunjukkan jalan yang benar melalui jalan yang salah dulu, supaya dia bisa tahu mana jalan yang benar dan jalan yang salah. Sementara tokoh terakhir, Bimo (Dennis Adishwara), adalah malaikatnya—cukup diberi kesabaran dan kegigihan untuk terus berusaha, karena suatu hari itu akan mengantarnya sendiri pada jalan yang benar, walaupun entah kapan.

Kemasan komedi dan comical yang menyertai perjalanan film ini juga memberikan bumbu tersendiri, membuat cerita yang tidak pendek itu mengalir dengan santai dan nikmat dari awal sampai akhir, bahkan sampai bagian paling akhir sekali pun—“Mul, Mul, rapat pemain sebentar,”—yang dimainkan singkat oleh sang sutradara sendiri dengan aksen Jawanya yang kental itu. Benar-benar film yang menyejukkan batin, memancarkan harapan. Harapan bagi orang-orang jomblo seperti aku, dan harapan bahwa masih banyak film bagus yang akan lahir dari anak-anak negeri kita.

Menemukan cinta di Paris

PARIS JE T’AIME
Perancis | 2006

Sempat tidak kebagian kesempatan nonton di Festival Film Perancis karena hanya untuk undangan, akhirnya aku berkesempatan menonton film unik ini di Blitz Megaplex hari Minggu minggu yang lalu. Ini juga kesempatan kedua mencicipi bioskop festival baru di Jakarta ini, setelah cicipan yang pertama kurang sukses karena dapat seat paling depan pojok. Hiks…

Film unik ini ternyata secantik posternya, dan lebih mirip kumpulan potongan film pendek karya beragam sutradara—dua puluh orang jumlahnya—yang hebatnya sebagian di antara karakternya berhubungan, a la film-film Alejandro Gonzalez Inarritu.

Setiap potongan cerita mengisahkan cinta, tapi masing-masing memandang dari sudut yang berbeda, mulai dari cinta antarsepasang kekasih yang baru berkenalan, cinta kepada anak, cinta kepada orang tua, cinta sepasang suami istri lanjut usia, cinta kepada orang cacat, cinta kepada orang sakit, sampai cinta antara maling dan drakula, dan tentunya cinta kepada kota Paris yang indah dan bebas. Gambarannya juga tidak selalu indah; ada yang komedi satir—diperankan dengan sangat baik oleh Steve Buscemi—ada yang kesepian, dan ada yang sedih karena kehilangan. Tapi semuanya menggambarkan passion dan cinta yang mendalam pada kehidupan, dan semuanya terasa sempurna karena berlatar kota Paris yang romantis itu.

Potongan cerita yang paling aku nikmati adalah karya Gerard Depardieu yang berkisah tentang sepasang suami istri lanjut usia yang memutuskan untuk bercerai dan masing-masing menikah lagi. Mereka bertemu di sebuah restoran romantis—dan tebak siapa kepala pelayannya? Gerard Depardieu sendiri!—untuk berbincang terakhir sebelum bertemu di pengadilan untuk sidang perceraian.

Lucunya, tidak seperti topik perbincangan calon cerai pada umumnya yang serius atau sedih, pembicaraan mereka malah berisi saling olok sarkas, balas-membalas seperti saling tak mau kalah, tapi bukan dengan nada temperamental. Sekilas tampak seperti adu jurus kungfu lidah, yang ditutup kemudian dengan saling bercerita mengenai rencana dengan pasangan masing-masing.

Si istri ternyata selepas bercerai dari sang suami akan menikahi seorang atlit pembalap sepeda yang umurnya jauh lebih muda—ya iya lah, pasangan ini tampak seperti sudah late 60s—sementara seperti tak mau kalah, si suami bercerita tentang calon perempuan yang akan dinikahinya yang ternyata sudah hamil 3 bulan. Wow, masih tokcer juga si tua bangka ini, pikir sang istri. Sudah kasih DP dulu di depan, hahaha…

Pembicaraan berakhir dengan ide yang aneh, tiba-tiba si istri menawari si suami untuk menjadi ayah angkat calon suaminya, si cyclist itu, karena teringat bahwa si suami selalu ingin anak laki-laki tapi ia belum pernah memberinya. Benar-benar absurd, dan makin absurd lagi saat pulang dan akan membayar pesanan wine-nya, si kepala pelayan menolak dibayar dan bilang bahwa itu traktiran dari restoran. Wow, I’d love everything for a free glass of wine, Gee…

I really should go to Paris, and really should love it. Tapi kapan ya? Bikin iklan bagus dulu, biar ntar dikirim pak bos ke Cannes. Pulangnya mampir Paris :p Dasar kere!

The sexy single-mom

QUAND J’ETAIS CHANTEUR
Perancis | 2006 | Sutradara: Xavier Giannoli

Ini kali kedua aku melihat single-mom yang seksi. Yang pertama adalah tokoh single-mom di beberapa episode serial Party Of Five (1995), yang di ceritanya pernah dikencani oleh Scott Wolf. Tapi sebenarnya ini agak nyeleneh, karena “Quand J’Etais Chanteur” itu sebenarnya artinya "When I Was A (Ball) Singer" (ketika aku menjadi penyanyi pesta).

Apa hubungannya penyanyi pesta dengan sexy single-mom? Ternyata di film ini mereka pacaran. Masalahnya, saat baru berkenalan—dan tentu saja, in a French code, they slept together afterwards—si penyanyi, Alain Moreau, yang diperankan oleh Gerard Depardieu tidak menyangka bahwa perempuan cantik itu, Marion, ternyata sudah punya anak.

Bukannya kecewa, Alain malah makin terpesona dengan Marion yang cenderung misterius itu—mungkin sama terpesonanya seperti aku yang sampai sekarang masih terbayang seksinya aktris Cecile de France yang berambut cepak itu. Masalahnya justru datang dari si cewek yang mungkin minder setengah defensif, terkesan menutup-nutupi kehidupan sebenarnya. Begitu acuhnya dia—padahal sama-sama suka—sampai-sampai si cowok (well, not exactly cowok; lebih cocok si Om kali, sudah setengah baya) yang malah tersinggung, merasa dianggap rendah karena tidak sebaya dengan si cewek.

Ini seperti menyulut kembali konflik yang pernah terjadi sebelumnya, di pertemuan pertama di mana selesai bercinta paginya Marion melipir tanpa pamit, yang kemudian disambut oleh kalimat pedas di pertemuan berikutnya, yang kurang lebih terjemahannya, “Iya, gue tau, banyak cewek tidur sama gue cuman buat sekedar pengen bikin sakit hati suaminya, atau cuman pengen pamer sama temannya, ‘Eh, gue abis tidur sama dia lho!’” Ketulusan ekspresi sakit hati khas laki-laki yang merasa dilukai harga dirinya, yang tak lama kemudian kembali luluh karena pesona si single-mom, dan kembali sakit hati lagi, dan kembali saling rindu lagi.

Kisah cinta yang unik, sangat bikin penasaran sekaligus memancing emosi dan rasa terharu karena ketulusan cara berceritanya. Dua pasangan yang tampaknya tidak sebaya namun serasi, tapi akhirnya tak juga bisa bersatu. Perasaan yang bercampur aduk antara mengharapkan mereka berjodoh atau berpisah. Obrolan-obrolan tulus yang mengalir dan begitu selaras, beberapa batang rokok dan syair-syair melankolis dari alunan lagu cinta Perancis yang dibawakan Gerard Depardieu.

Waduh, undangan lagi undangan lagi…

Tak pernah aku menyangka bakal direpoti undangan pernikahan demi undangan pernikahan. Lho bukannya enak, makan enak terus? Eh… ini bukan soal malas menghadiri, tapi bingung mulai kehabisan stok baju formal itu lho.

Yah maklum lah, sebagai kaum liberalis bin casual gini, mana kerjanya nguli kreatif pula, investasinya lebih banyak terfokus di T-shirt, jeans, dan sepatu sport—maksudnya bisa sembari buat ngegym juga gitu… Kebetulan juga bukan penggemar clubbing, lebih suka menghabiskan waktu buat nonton, ngafe, dan berburu makanan kaki lima, jadi yaa serba nyantai gitu sih biasanya. Makanya kalau sering-sering dapet undangan pernikahan ini rada-rada paranoid gitu. Pertanyaannya selalu: “Mosok pake baju lengen panjang kuwi neh, toh?”

Pernah suatu kali saat ngumpulin foto dan upload di Friendster, aku mendapati pake baju yang sama sampai 3 kali di 3 pesta pernikahan yang berbeda. Yaa atasannya, yaa bawahannya. Lha lak lucu tenan iki… Mudah-mudahan yang notice cuman aku sendiri.

Bulan depan ada lagi undangan pernikahan, dan untuk membuat masalah makin teruk aku bakal dimintain tolong jadi penerima tamu, yang berarti kemungkinan nggak bisa pake jeans—celana favoritku—dan harus pake pantalon lagi, yang kayak om-om direktur gitu. Lah, bukannya memang art direktur? Itu direktur juga toch??? Ooo… Nanti ta’ shuobek-shuobek!

lundi, mai 21, 2007

P!nk season is coming

WIKIPEDIA says about Pink:

The use of the word "pink" as a color first occurred in the 17th century to describe the light red flowers of pinks, flowering plants in the genus Dianthus.

Shocking Pink, (also called neon pink) is bold and intense. Fashion designer Elsa Schiaparelli popularized this color in 1936, naming it shocking pink; it was the color of the box her perfume called Shocking Pink came in (the box was shaped like the torso of film star Mae West).

"This intense magenta was called shocking pink in the 1930s, hot pink in the 1950s, and kinky pink in the 1960s...[it] has appeared in the vanguard of more than one youth revolution...to some it sings, to others it screams" It is often used as a slang term to refer to the female genitaila.[2] This color is now again called "shocking pink" to distinguish it from the web color hot pink. Its appearance is more akin to magenta than it is to traditional pink. This color has always been popular among the avant-garde.

NHRA drag racer, Shirley Muldowney was famous for driving a shocking pink dragster.

On its way into the German language, shocking pink lost the "shocking" and is called only "Pink", while the English color "pink" is referred to as "Rosa". Meanwhile in Portuguese one of its nomenclatures arrived intact becoming "cor-de-rosa choque" ("shocking pink") used more frequently in Brazil. It's also called "çingene pembesi" (Gypsy pink) in Turkish.

Dari Puncak Perayaan 100 Affandi

Nasionalisme kerdil dan salah kaprah

Akhir-akhir ini kalangan periklanan sedang dibikin heboh Peraturan Menkominfo tentang larangan penggunaan tenaga supplier asing untuk produksi iklan TV. Sebagian kalangan iklan dan asosiasi pekerja film iklan mendukung keputusan itu dengan alasan nasionalisme, seperti kilah si menteri dan lembaganya yang mengeluarkan keputusan itu, sementara sebagian menentang keputusan itu, termasuk saya.

Saya, dan mungkin sebagian kelompok kontra ini, adalah golongan yang sangat percaya pada budaya kompetisi. Kami sangat percaya bahwa kehadiran “pemain asing” membawa dampak positif pada industri, baik bagi kalangan agency dan pengiklan (klien) yang lebih punya banyak pilihan supplier, maupun industri perfilman iklan nasional sendiri yang bisa banyak belajar dan terus berpacu meng-update diri demi tetap eksis dalam persaingan. Dan terbukti, dalam kurun tiga sampai dengan lima tahun terakhir, banyak film director muda bermunculan dengan kualitas yang bagus-bagus. Beberapa di antaranya bahkan sudah dipercaya menangani brand-brand besar, bahkan salah satunya sempat mendapat pekerjaan TVC di Vietnam beberapa waktu terakhir ini. Sementara satu di antara yang lainnya berhasil memenangi kategori best directing di Citra Pariwara tahun lalu.

Silakan tebak sendiri strategi mereka, apakah menutup diri hanya bekerja sama dengan production house lokal saja atau membuka diri kepada production house mana saja (termasuk asing).

---

Anak kecil yang baru belajar naik sepeda butuh dua roda tambahan di samping kanan dan kiri. Bahwa kemudian dia tidak bisa lepas dari dua roda pembantu itu adalah salah dia sendiri, bukan salah roda pembantunya. Yang pasti, tanpa dua roda pembantu itu, sampai mampus dia akan selalu jatuh dan jatuh lagi, tak kunjung berjalan dengan benar.

Sama halnya kita memandang kehadiran para “pemain asing” di industri perfilman iklan. Daripada kita memusuhi mereka, alangkah lebih bergunanya kalau kita bisa belajar dan menyerap ilmu dari mereka—mulai attitude, sistem kerja, sampai teknis. Harus kita akui, bangsa kita bukan ibu dari perfilman. Bidang usaha ini asalnya dari mereka, dan terbukti pengalaman yang lebih panjang membuat mereka masih lebih unggul dalam banyak hal, yang seharusnya keunggulan-keunggulan ini bisa kita serap agar kita bisa mengejar ketertinggalan kita, bahkan suatu hari nanti dua roda pembantu itu bisa kita lepas dan kita melebihi mereka. Coba lihat misalnya bangsa China yang sangat membuka diri terhadap globalisasi, betapa majunya mereka sekarang dalam banyak hal, sampai bisa memulai usaha mandiri (memproduksi produk dan jasa buatan sendiri).

Dengan melakukan sebaliknya—melarang “pemain asing” itu eksis dalam persaingan—itu sama halnya kita menutup diri dari segala kemungkinan pengembangan diri. Tiba-tiba kita, mau-tidak mau suka-tidak suka, harus puas dengan kualitas yang apa adanya, sementara mau cari pilihan atau referensi dari yang lebih ahli sudah tidak bisa karena terkurung peraturan. Yang rugi kita sendiri, ya agency-nya, ya kliennya, ya pelaku industri perfilman iklannya karena sampai beberapa generasi ke depan akan berpotensi jalan di tempat, ya di situ-situ saja. Suatu hari beberapa tahun lagi kita akan shock melihat ketertinggalan kita, seperti halnya Pertamina yang panik saat Shell hadir di Indonesia dengan pengembangan layanan yang sedemikian mutakhir!

Apa kita nggak makin terlambat saja kalau sampai kondisi seperti itu terjadi? Paham nasionalisme macam mana pula itu?

---

Kalau memang pemerintah melalui Depkominfo ingin mendukung dan memajukan perfilman iklan nasional, kalau memang attitude luarnegeri-minded komunitas periklanan yang jadi masalah, cara yang lebih tepat dan bijak ditempuh adalah dukungan promosi dan pembibitan SDM yang baik. Kita bisa belajar dari bidang perfilmannya sendiri, misalnya bagaimana pemerintah Perancis dan Korea yang sangat peduli perfilman negerinya dan tak lelah-lelah bergerilya mempromosikannya lewat serangkaian festival film (Festival Film Perancis, Festival Film Korea). Pemerintah Belanda dan Jerman juga tak kalah semangat dengan secara rutin menggelar kegiatan promosi kebudayaan mereka, misalnya dengan pemutaran film gratis tiap bulan di pusat-pusat kebudayaan mereka. Ada juga pameran-pameran dari seniman-seniman negeri mereka, dan masih banyak lagi. (Bandingkan dengan, misalnya, pemerintah pusat dan daerah kita yang tidak merasa punya kepentingan dengan festival-festival kebudayaan seperti JIFFest dan Java Jazz. Sudah minta dana sulitnya minta ampun—Java Jazz bahkan murni disponsori swasta—dalam acara pembukaan maupun penutupannya pun tidak seekor pun orang pemerintah yang meresmikan, salah satu bentuk dukungan yang paling sederhana)

Dalam hal pembibitan, pemerintah juga bisa mendanai beasiswa bagi SDM-SDM perfilman iklan lokal berprestasi untuk melanjutkan studi ke mancanegara, misalnya Amerika Serikat, atau Inggris, atau Perancis, atau Jepang yang lebih advanced teknologi perfilman iklannya. Sebagai timbal-balik kontribusinya, para penerima beasiswa ini nantinya bisa (1) berbagi ilmu dan pengalaman studi yang didapatnya dengan rekan-rekan lain, atau (2) bisa juga didukung untuk membuka kanal usaha baru di negeri lain, dan kemudian bisa menyerap (ekspor) SDM lokal ke luar negeri.

Pemerintah juga bisa mendukung PR-ing dengan penyuluhan dan serangkaian seminar kepada kalangan agency dan pengiklan, bahwa sumber daya lokal sudah segini lho pencapaiannya (kasih lihat showreel-nya supaya semua mata bisa menilai dengan obyektif).

Komunikasi ini tentu sedikit banyak akan lebih meyakinkan pihak agency dan klien untuk mempercayakan pekerjaan-pekerjaan film iklan mereka kepada supplier lokal, dengan tetap menjaga persaingan tetap terbuka dan sehat. Itu akan lebih menyelesaikan masalah. Bukan pakai cara preman yang asal melarang lewat dan blokir jalan. Jangan-jangan “nodong”-nya juga a la preman. Lalu bilang demi nasionalisme? Tiga belas tambah delapan tujuh. Cepe’ deh…

Positioning

Salah satu ilmu penting yang bisa dipetik dari advertising modern adalah positioning. Di belahan lain dunia positioning sudah dikenal sejak setengah abad yang lalu, sebuah era setelah product-feature.

Di dalam teori positioning sudah ada brand, sudah memasuki era produk “me-too” di mana faktor pembeda produk satu dan yang lain tidak lagi semata-mata berdasarkan fitur dan ingredients-nya, tapi sudah menyangkut branding-nya: bagaimana produk A memposisikan dirinya di antara produk-produk yang lain, atau dengan kata lain bagaimana konsumen harus mengenali produk A.

Tanpa disadari teori positioning ini juga berlaku bagi kehidupan manusia sehari-hari. Misalnya bagaimana kita memosisikan diri kita di antara teman-teman kita, di sekolah atau di tempat bekerja, di dalam tim. Semakin kuat positioning kita, misalnya di lingkungan kerja, semakin susah kita tergantikan oleh orang lain. Sebaliknya semakin lemah positioning kita, semakin mudah kita tergantikan.

Positioning di dalam kehidupan individual dan kelompok kecil ini juga sama dengan brand, punya perjalanan. Artinya selalu bergerak, dan tiap kurun waktu tertentu harus terus dievaluasi apakah masih valid atau tidak. Kalau tidak (misalnya sudah out-of-date atau sudah disamai oleh orang lain) berarti harus dicari positioning baru. Alasannya sederhana, agar positioning tetap kuat.

---

Kelebihan positioning adalah kita tidak selalu harus jadi yang “ter-“. Ini sudah bukan lagi perang kecap nomor satu, nomor dua atau nomor tiga, bahkan nomor tiga puluh bisa tetap eksis dan dipilih. Salah satu contoh klasik yang terang-terangan menyebut peringkat yaitu Avis Rent-A-Car, yang merasa dirinya nomor dua dan dengan pe-de memperkenalkan dirinya sebagai nomor dua (setelah Hertz) dengan “We’re number two, so we try harder”.

Apple Computers dan BMW juga bukan nomor satu di kategorinya—Apple masih di bawah merek-merek PC, sementara BMW masih di bawah Mercedes-Benz. Tapi terbukti kedua merek ini tetap eksis, dipilih, dan bahkan punya penggemar fanatik seperti halnya fans sepakbola. Merek-merek ini bahkan sudah melewati fase positioning, mencapai fase yang lebih tinggi lagi, yaitu brand image.

Di tahap brand image benefitnya sudah tidak melulu diukur secara rasional, tapi sudah emosional: image apa yang didapat bila menyukai atau menggunakan brand yang bersangkutan. Orang pakai BMW X5 terbaru sudah bukan lagi sekedar ingin menggeber mesin atau menikmati 350 horsepower-nya, tapi ingin dipandang sebagai X5-er, sebuah pribadi yang smart dan sophisticated seperti yang tergambar dalam desain eksteriornya. Pengguna Apple tidak semata-mata mengejar Mac OS X dan perangkat plastik menawan berwarna putih, tapi juga ingin dikenal sebagai bagian dari komunitas Apple, sebuah cerminan pribadi yang modern dan smart-casual.

Sementara merek-merek internasional sudah bersaing di level yang sedemikian tinggi, sebagian besar merek lokal masih saja berkutat di level kecap nomor satu. Tak terkecuali pasar operator seluler yang masih harus susah-susah mengklaim dirinya “ter-“ ini, “ter-“ itu, nomor satu, pertama, dan blablabla…

Harus diakui “bermain” di bidang teknologi telekomunikasi sudah tidak bisa disebut sekedar bergerak atau mengalir, tapi berlari. Sebuah produk tidak lagi sempat diresapi nilainya sampai tahap emosional, karena tak lama kemudian muncul produk yang lebih baru lagi—lebih advanced, lebih lengkap, dengan harga yang sama. Flow-nya selalu seperti itu, nggak komputer nggak seluler, jadi tak heran sebagian pelaku bisnis ini tidak lagi merasa perlu brand building. Padahal brand building tetap perlu karena sebagian masyarakat masih pilih-pilih merek, apalagi untuk perangkat yang nilai investasinya tinggi.

Kalau kita membayangkan, misalnya, seorang direksi perusahaan memutuskan investasi IT untuk perusahaannya senilai sekian ratus juta atau sekian miliar, mana mungkin dia nggak pilih-pilih merek, atau memilih merek semata-mata berdasarkan fitur atau specs-nya. Dia pasti akan mempertimbangkan brand value dari produk itu, misalnya buatan mana, pengalaman brand-nya seperti apa soal after-sales service dan life-span produk.

Sedangkan di pasar ponsel (handset) yang turnover-nya sangat tinggi sekali pun—orang beli karena alasan fun, bukan karena fungsi—terbukti mereka yang peduli brand building lebih eksis, misalnya Nokia yang user-friendly, dan terakhir Sony Ericsson yang berhasil memosisikan dirinya sebagai merek yang advanced atau high-end (bagi pribadi yang lebih sophisticated). Bandingkan dengan Motorola, Siemens, atau Samsung yang lalai brand building, apa jadinya merek-merek itu sekarang?

---

Kembali ke positioning dalam kehidupan sehari-hari, ini sebenarnya adalah membangun karakter, atau kepribadian, atau ada juga yang menyebut jati diri. Semakin jelas karakter kita, semakin jelas orang lain mengenal kita.

Misalnya positioning si A adalah orang yang jujur, dia tentu akan dipercaya oleh teman-temannya. Di perusahaan dia mungkin akan diserahi posisi penting, atau diberi jabatan dalam divisi keuangan, karena manajemen merasa rahasianya aman dan kinerjanya bersih bila berhubungan dengan si A. Sementara si B, misalnya, memiliki positioning sebagai pribadi yang ulet, dia tentu akan dipercaya menangani problem-problem yang alot dan butuh kesabaran, misalnya negosiasi dengan pihak kedua dan ketiga. Tanpa ada positioning-positioning ini, dengan mudah seseorang akan digantikan oleh orang lain, karena ada dia dan nggak ada dia sama saja, nggak ada bedanya.

Lebih sempit lagi ke ruang lingkup advertising, seharusnya pola pikir yang kritis dan peduli positioning juga diterapkan. Misalnya antara art director dan copywriter, atau antara art director-copywriter dan group head atau CD, antara tim kreatif dan tim client service, dan seterusnya. Artinya apa? Artinya, kalau sampai terjadi suatu kondisi, misalnya dalam beberapa kali project, di mana group head atau CD-nya melulu harus turun tangan sampai masalah yang sekecil-kecilnya, si pasangan art director-copywriter itu harus segera introspeksi, sebenarnya fungsi atau peran mereka seberapa penting dalam pekerjaan itu—apakah hanya sekedar asisten atau penggembira. Begitu juga sebaliknya.

Antardepartemen juga sama, seharusnya masing-masing elemen saling introspeksi, mempertanyakan keberadaan mereka di dalam sistem kerja di perusahaan itu. Misalnya, kalau tim client service-nya bisa bikin strategi, ide, sampai jualan ke klien, si tim kreatif harus bertanya kepada dirinya sendiri sebenarnya fungsi mereka di tim itu apa. Begitu juga sebaliknya.

Lebih jauh berkaitan dengan pihak ketiga, misalnya supplier. Kalau sebuah TVC dari ide sampai detil eksekusi dibikinin sama director, sebenarnya fungsi gue sebagai tim kreatif itu apa? Sebaliknya, kalau sampai gue harus bikin offline-cut sendiri, fungsi elu sebagai director itu apa? Kalau si art director yang harus pontang-panting bikin pre-production sheets, sebenarnya fungsi produser itu apa?

Begitu juga halnya hubungan agency dengan klien, kalau kliennya disuruh bikin brief yang jelas, kalau kliennya bisa cari supplier percetakan sendiri dan deal dengan vendor-vendor ini-itu sendiri, sebenarnya klien masih butuh gue sebagai agency-nya nggak ya? Kalau agency A bisa kasih service yang sama atau lebih bagus, terus apa gunanya tetap kerja sama dengan agency saya? Kalau agency saya tidak punya sesuatu yang unik yang tidak dimiliki agency lain, kenapa klien harus pilih agency saya?

Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini sebenarnya langkahnya sama seperti meneliti sebuah brand sebelum membuat campaign. Dan harus mulai diteliti dan dicari positioning-nya, atau kita akan selalu harus susah-susah jualan kecap dan banting harga—sejauh itu saja calon buyers (klien) menghargai kita, karena memang kitanya nggak berusaha menawarkan dan memosisikan diri kita lebih dari sekedar kecap dan harga yang anjiiing murahnya. Lama-lama yaa industrinya jadi menyebalkan: kerjaan anjiiing banyaknya, deadline anjiiing mepetnya, harga anjiiing ditekannya. Bisa lekas jebol kita punya jiwa raga.

Happy loong weekend?

Akhir pekan panjang lagi. Ada yang sibuk pulang kampung, ada yang liburan ke luar kota, ada yang liburan di dalam kota saja sepertiku. Lha sudah selesai cuti panjang, jadi yaa menikmati metropolitan saja lah… Lagian kangen juga istirahat a la urban gini, abis pulang kampung lama boseeen nggak ada apa-apa. Tontonannya cuman Spiderman. Blahhh!

Selebihnya banyak habis di dunia cyber dan TV kabel, nonton film-film Asia di Celestial Channel. Badan di Surabaya, isi kepala masih Jakarta. Teuteup…

Tadinya pengen banyak nonton saja, tapi karena sebagian sudah dicuri start sejak weekend lalu akhirnya tinggal Arthur and The Minimoys yang ditonton hari pertama long weekend kemarin. Sisanya, pengen mulai nyicil olahraga rutin, mengembalikan badan ke full-fitness. Sayang, baru jalan sehari, sejak Jumat kemarin bubrah gara-gara masuk angin, dan hari ini bertambah badan panas dan infeksi tenggorokan. Gembel!

Jadi ingat keluh kesah seorang teman yang bekerja di bank harus masuk hari Jumatnya. “Duh enak yaa kamu libur… aku masuk.”

Well, kalau melihat kondisi badanku sekarang, mungkin aku bisa bilang temanku itu lebih beruntung, walaupun masuk tapi nggak harus sakit. Paling menyebalkan liburan diisi sakit, nggak bisa ngapa-ngapain dan harus banyak tidur—walaupun harus diakui tidur siang itu lama-lama makin menyenangkan.

Jadi yaa begini nih loong weekend-nya. Tidur, makan, nonton TV, tidur, makan, nonton TV… Membosankan. Semoga cepat sembuh, biar Kamis dini hari bisa nonton final Liga Champions. Hidup Liverpool!!!

Full-fitness, I miss you

Kadang sempat heran kalau mengikuti berita cedera pemain sepakbola. Ada yang mingguan, ada yang bulanan, ada yang bahkan sampai setahun. Herannya lagi, sering kali mereka mengalami perjalanan panjang untuk kembali ke ritme permainan terbaiknya dan kebugarannya. Perjalanan itu bisa berminggu-minggu setelah cederanya benar-benar sembuh, bisa juga sampai bulanan.

Jadi kalau cederanya saja menghabiskan misalnya 3 bulan, untuk kembali ke kondisi full-fitness (atau full-training, menurut istilah di game Football Manager) biasanya butuh 2-4 minggu sendiri. Orang awam sepertiku mungkin bertanya-tanya, kok susah banget sih kayaknya? Bukannya kalau sudah sembuh ya sudah, tinggal nendang lagi, beres?

---

Ternyata tidak semudah itu. Enam bulan terakhir aku akhirnya mengalami sendiri problem serupa itu. Bukan cedera, tapi soal kembali ke full-fitness.

Aku sempat mengalami fase full-fitness yang sangat panjang semenjak intensif berolahraga. Dulu aku bisa ngegym 6 hari seminggu—4 hari latihan beban, 2 hari latihan kardio (treadmill, renang, squash). Kondisi fisik hari itu sangat menyenangkan, tidak pernah sakit dan selalu merasa bugar. Badan juga selalu terasa ringan, tidak berat seperti hari-hari ini.

Sejak bekerja akhir 2003, kebugaran itu tidak pernah mencapai puncaknya seperti pada masa itu, tapi masih terjaga dengan baik dengan 3-4 kali olahraga dalam seminggu. Itu terjadi sampai pertengahan 2005. Sesekali pernah sakit, tapi masih jarang.

Saat kesibukan meningkat sejak pertengahan 2005, dan memuncak di akhir 2006 sampai dengan sebulan lalu, praktis waktu olahraga banyak yang terkorbankan. Tinggal 1-2 kali seminggu, kadang bisa absen sama sekali. Puncaknya saat sakit akhir November 2006 lalu, absen sebulan, dan sampai hari ini masih struggling mencapai light-fitness sekali pun.

Kelebihan berat badan—dan pastinya kadar lemak berlebih—membuat badan terasa berat dan lembek, tidak lagi solid. Akhirnya mudah sakit. Dalam tiga bulan terakhir sudah dua kali sakit (walaupun sakit ringan), dan mungkin sempat kurang fit beberapa kali. Penurunan drastis, padahal umur masih belum sampai 30 tahun. Berlatih ringan saja mudah kecapekan, akhirnya bukannya menanjak lebih fit malah terjebak di fase kurang fit terus. Seperti lumpur, membuat jalan di tempat, tak kunjung maju.

Aku jadi teringat perjalanan panjang para pemain sepakbola tadi, yang menghabiskan berminggu-minggu dan bahkan berbulan-bulan untuk kembali ke ritme kehidupan yang ideal, full-fitness. Bahkan kalau dipikir-pikir mereka masih lebih mudah karena mata pencahariannya memang itu, sementara kalau orang seperti aku—dan tentunya banyak juga orang lain yang bukan olahragawan—pasti lebih sulit karena masih harus memikirkan pekerjaan kami masing-masing.

Huhh… Susahnya.

mercredi, mai 16, 2007

Posi+ivity

by Suede














You say what you want to say
Your diamonds are drops of rain
Your smile is your credit card
Your currency is your love

And the morning is for you
And the air is free
And the birds sing for you
And your positivity
















You play where you want to play
On the main streets where the creeps all prey
And you can feel like you're in dynasty
You could be what you want to be

And the morning is for you
And the air is free
And the birds sing for you
And your positivity

And the cars crash for you
And the sunshine is free
And the sirens call you

Yes, the morning is for you
Yes, the air is free
Yes, the world spins for you
And your positivity

Positivity...

mercredi, mai 09, 2007

Silence is golden?

Sesungguhnya, mereka yang memilih diam dan membiarkan kesalahan terjadi tidak lebih baik daripada mereka yang membuat kesalahan itu sendiri.

mercredi, mai 02, 2007

We're going to Atheeeeeens!!!

IF YOU SMELLLLLLLLLL... WHAT THE REDS ARE COOKING!