Modernitas yang tanpa bentuk
Oleh-oleh Stevie SulaimanDOCUMENTA 12”
Pameran: Kassel, Jerman, Juni-September 2007
Diskusi: Goethe Haus, Jakarta, 4 Oktober 2007
Pembicara: FX Harsono, seniman dan pengunjung pameran
Moderator: Enin Supriyanto, kurator seni dan pengunjung pameran
Pergerakan peradaban manusia telah sampai kepada jaman yang disebut modern. Istilah ini sangat populer dalam kehidupan masa kini, tapi sering kita jumpai pertentangan arti modern—sebagian mungkin juga tidak tahu betul, hanya sekadar ikut arus—begitu pula pandangan apakah modernitas adalah sebuah kemajuan zaman atau justru kemunduran.
Perkembangan teknologi militer, misalnya, malah mendatangkan perang yang merusak tatanan kehidupan dunia, baik secara fisik maupun mental, dengan menyisakan trauma berkepanjangan.
Arnold Bode, seorang Jerman, penggagas proyek seni Documenta—yang pertama kali diadakan tahun 1955 di museum yang sama di Kassel, Jerman—awalnya bermaksud berupaya merekonstruksi kerusakan dan perubahan-perubahan destruktif dalam kehidupan yang telah terjadi, terutama akibat Perang Dunia I dan II di mana di keduanya Jerman menjadi salah satu aktor utama. Caranya dengan perjalanan mundur ke belakang dan berangkat dari sebuah titik yang belum jelas bernama masa kini. Berusaha mencari petunjuk mengapa dinamika yang merupakan proses wajar dan hakiki justru mengarahkan kehidupan pada dekonstruksi.
Karena berangkat dari titik yang belum jelas, maka saat Documenta 1” digelar tahun 1955 pameran menampilkan karya-karya seni yang tanpa batas, alias bebas sama sekali. Bentuknya bisa apa saja.
Hingga Documenta 12”, lebih dari lima puluh tahun kemudian, pameran tetap menampilkan karya-karya yang bebas sama sekali. Tidak dibatasi bentuk, bahkan bebas hingga tanpa bentuk, misalnya salah satu karya yang terbuat dari debu, sehingga—menurut seniman FX Harsono, yang sempat mengunjungi pameran langsung—penonton yang masuk dibatasi hanya dua orang setiap gilirannya, harus “dilucuti” dari segala jenis benda (yang memungkinkan gerakan mengibas dan membuyarkan susunan debu pada karya), dan harus mengendap. Tentunya orang seperti saya yang alergi debu tidak diijinkan masuk, secara bersin saya berpotensi menjadi bencana abad ini :p
---
Lebih jauh bercerita tentang aneka karya yang sama sekali bebas, dan kadang dipajang bersama dengan karya lain yang tidak ada hubungannya sama sekali, membuat kita semua bingung: apa maksud dari semua ini? Apakah penggambaran dari makna kebebasan? Apakah arti kebebasan itu sendiri? Apakah bebas itu asal letak, asal ada, tanpa konsep?
Banyak karya yang menyisakan keheranan—entah kepada berapa bagian dari total sekitar 700.000 pengunjung pameran selama 3 bulan itu—termasuk beberapa karya yang dipajang tidak dalam ruangan berdinding putih (simbol netral yang sering dipakai di banyak pameran seni lain), melainkan biru, merah-oranye, dan warna-warni lainnya.
Tapi toh ada beberapa tatanan karya yang tampak sedikit lebih jelas maknanya, misalnya sebuah lukisan kontemporer tentang pasangan kulit hitam yang digambarkan sangat legam, nyaris tanpa dimensi karena gelapnya, lalu lukisan ini diletakkan seruangan dengan lukisan-lukisan klasik bertema romantisme. Teknis peletakan dan penyajian ini menimbulkan sensasi sendiri, memunculkan kesan sinis terhadap rasisme dan borjuisme yang menindas—berusaha menutupi permasalahan hidup dengan kemewahan gaya dan harta. Tapi, lagi-lagi, belum jelas maksud sesungguhnya di balik semua ini: apa kaitan antara isu rasisme, borjuisitas yang menindas tadi, dengan modernitas?
Titik terang baru tampak setelah Enin Supriyanto (moderator, yang juga saya kenal sebagai mantan Creative Director saya; lama menekuni seni dan budaya) menjelaskan tentang sebuah permadani karya seniman Iran yang berasal dari abad XIV. Tidak seperti layaknya seni permadani Timur Tengah pada zaman itu (dan mungkin sampai sekarang) yang sarat motif dekoratif bertema religius, permadani ini bermotif lukisan perfect-birdview (top angle a la sutradara Alfred Hitchcock) dari sebuah taman terkenal di jaman Raja Nebukadnezar.
Karya permadani itu, menurut Enin, seraya memaparkan sedikit silsilahnya, adalah sebuah simbol modernitas karena (berusaha) memberikan pencerahan, atau dobrakan, atau gairah baru pada jamannya. Bermula dari sini, berlanjutlah pemaparan dan diskusi yang bermuara pada sebuah kesimpulan bahwa modernitas terjadi dan berpotensi terjadi di mana saja di seluruh dunia (secara presentasi digambarkan oleh karya permadani itu, dengan diletakkan di antara karya-karya Barat), bahkan di dalam diri seorang seniman yang dikelilingi oleh sedemikian ketatnya norma masyarakat dan religi seperti di Iran. Jadi modernisasi sebenarnya adalah proses yang berpangkal dari lokal, bahkan individual.
Artinya, kalau selama ini kita sering terjebak karena secara klise mengidentikkan modernisasi sebagai “westernisasi”, itu bisa jadi karena kita belum menghayati esensi modern itu sendiri. Kita terjebak pada bentuk, rupa, dan segala bungkus kemewahan (Barat) itu tadi, yang secara misionaris “menjajah” kita dan menciptakan kolonialisme modern. Kita terjerat oleh garis-garis kemapanan yang sengaja dibikin oleh kaum mapan alias borjuis (alias Barat), untuk membentengi kemapanannya—yang sebenarnya adalah naluri yang sangat wajar dalam kehidupan, mengingat prinsip kehidupan adalah kompetisi; suatu saat bila kita yang berada dalam posisi dominan juga akan punya potensi kecenderungan yang sama.
Berada dalam status yang tersesat dan hilang akar hilang bentuk, satu-satunya cara adalah mengumpulkan segala informasi yang ada, membuka semua channel dan batas, dan berjalan mundur ke belakang, seperti halnya Arnold Bode saat menggagas Documenta ini. Mungkin langkah ini dapat menjadi permulaan bagi kita masing-masing, bahkan secara individu, untuk mencari awal kesalahan arah perubahan kita. Sebuah pencarian jati diri, yang setelah tertemukan juga tidak lantas kita diamkan, melainkan selalu kita challenge dan pertanyakan untuk menumbuhdewasakannya—seperti misalnya pergolakan batin dan pencerahan yang dialami seniman permadani Iran tadi.
---
Sejauh ini, mestinya kita sudah bisa merasakan dan menerima secara nalar bahwa mengartikan modernisasi hanya secara fisik adalah dangkal, dan inilah yang kemudian (sebagai kambing hitam kedangkalan wawasannya tentang modernitas) memunculkan interpretasi modernisasi sebagai kemunduran jaman. Sebagai reaksi akhirnya golongan ini melakukan gerakan mundur yang bermaksud hidup dalam romantisme masa lalu, menolak segala peluang perubahan, dan berpotensi membentuk stagnansi peradaban—sementara kehidupan jalan terus dan selalu butuh penciptaan solusi baru, yang tidak sama dengan solusi-solusi yang sudah pernah ada.
Modernisasi seharusnya adalah pergerakan itu sendiri, dan gerakan (maju) itu baru terjadi kalau kita selalu berusaha terus menyangkal, mempertanyakan, memberikan challenge dan pressure terhadap diri kita sendiri. Why, why, and why?
Sementara, modernitas adalah sebuah nafas, gairah yang akan menimbulkan gejolak arus—di dalam individu itu sendiri, kelompok sosial, maupun masyarakat dunia. Ia tidak berbentuk dan tidak akan berbentuk, karena ialah perubahan itu, seperti bagaimana proyek Documenta ini menggambarkan¬nya. Dan hasil dari modernitas adalah kebudayaan yang makin dewasa, makin spiritual. Yang makin tidak terikat bentuk, atau fisik, atau materi, atau norma (termasuk di dalamnya agama sebagai ritual, bukan sebagai budaya atau personalitas). Sebuah masyarakat global yang makin majemuk, personalized, dan kaya. Bukan malah generik dan miskin bagaikan mesin.
Semakin kita berusaha membakukannya (memapankannya) ke dalam sebuah bentuk, atau tatanan, atau norma, semakin kita mengaburkan maknanya, dan semakin kita tersesat.

0 komentar:
Enregistrer un commentaire