lundi, décembre 31, 2007

Karya terbaik John Lennon

Banyak orang mengenal John Lennon sebagai pilar The Beatles. Sebagian lainnya, termasuk aku, juga mengenalnya lewat karir solonya. Aku masih ingat dulu punya sebuah kaset album kompilasi, direkam di pita Chrome-dioxide (CrO2), dan di dalamnya ada lagu “Woman”.

Sampai sekarang aku belum bosan dengan lagu itu, dan beberapa kali kalau pas karaokean bareng teman-teman aku menyanyikannya.

“I love… you. Yeah, yeah, now and forever…”

Lirik yang sederhana ini jadi bermakna ketika dipadu dengan alunan musik dan vokal John Lennon—menjadi terdengar sangat tulus dan humble.

Tapi banyak orang lain tentu lebih setuju menobatkan Imagine sebagai masterpiece-nya. Sebuah lagu bertema perdamaian, paham dan idealisme yang diperjuangkan John Lennon bersama Yoko Ono, istrinya yang juga seniman. Dokumenter The US vs John Lennon (2006, David Leaf & John Scheinfeld), yang diputar di JIFFest lalu, menceritakan perjalanan memperjuangkan perdamaian ini.

Untuk memperjelas, dokumenter ini sengaja fokus pada paruh kedua kehidupannya, yaitu sedikit bagian ketika ia masih di The Beatles—saat menggubah lagu Revolution, yang dianggap sebagai titik perubahan John Lennon—hingga kemudian menjalani hidupnya bersama Yoko Ono di Amerika Serikat, dideportasi, kembali lagi, dan tewas ditembak tahun 1980.

---

Pada masa itu, Amerika Serikat dan dunia sedang dalam masa resesi di tengah bergejolaknya perang Vietnam, di masa pemerintahan Presiden Nixon (1968-1972, 1972-1973). Banyak anak muda di-draft (semacam wajib militer; populer dilakukan penguasa di game perang saat perang dan kekurangan tentara) dan dikirim ke Vietnam, di mana puluhan ribu di antaranya tewas di medan perang dan ratusan ribu sisanya pulang dengan cacat maupun trauma seumur hidup. Inilah yang berusaha dilawan oleh John Lennon melalui jalur seni, salah satunya melalui musik Imagine.

Ada juga musik Give Peace A Chance yang kemudian menjadi semacam “anthem” bagi para demonstran, begitu pula slogan “Make Love, Not War”. Slogan ini salah satunya didemonstrasikannya bersama sang istri, Yoko, dalam sebuah peliputan berita di kamar tidurnya, di mana mereka saling bermesraan hingga bercinta sambil ditutupi selimut—sebuah perpaduan seni instalasi dan teater. Liputan ini lalu ditayangkan di televisi di banyak negara, dan menginspirasi banyak orang melancarkan protes terhadap perang.

Momen Natal pun tak disia-siakannya dengan memasang billboard bertuliskan “WAR IS OVER” dengan sub-headline “If you want it. Merry Christmas from John and Yoko”. Billboard ini diterjemahkan dan disebarkan ke banyak negara, dan gaung perdamaian pun menggema di seluruh dunia. John Lennon menjadi ikon perdamaian, sekaligus ancaman bagi politik perang pemerintah Amerika Serikat saat itu.

---

Babak hidup selanjutnya kemudian lebih berkisar tentang konflik head-to-head dengan pemerintah Amerika Serikat (dan FBI-nya), yang membuahkan deportasi John dan Yoko pada 1972.

Tapi “angin” rupanya berpihak kepada John Lennon, karena hanya setahun setelah ia diusir dari negara itu, pemerintahan Nixon terlibat kasus korupsi dan Nixon dipaksa mundur. Hari mundurnya Nixon, yang dikabarkan lewat telepon oleh pengacara kasus deportasinya, rupanya juga bertepatan dengan saat Yoko melahirkan putra pertama mereka, Sean. Hari itu seakan hari kemenangan besar Lennon, dan seperti dikisahkan oleh Yoko Ono dalam cuplikan dokumenter itu, “I’ve never seen him so happy like that”. Ceria bagaikan anak kecil, lanjutnya.

Benar-benar seperti kisah fiksi—kemudian dilengkapi dengan dianugerahinya mereka permanent residence di Amerika Serikat pada 1976. Negara yang ditinggalinya kembali bersama sang istri dan anak, yang sekaligus juga merenggut nyawanya empat tahun kemudian. Harga sangat mahal yang harus dibayar oleh John Lennon untuk sebuah karya perdamaian, seperti pernah diucapkannya ketika diwawancarai wartawan tentang billboard ucapan Natalnya, “If you wonder if it’s expensive, it’s definitely cheaper than the price of a human’s life”.

Inilah pengorbanan tak ternilai seorang seniman yang memberikan hidupnya sebagai kanvas bagi karya seninya, sekaligus menjadikannya seorang seniman besar yang layak dikenang dan dihormati sepanjang masa. Inilah masterpiece John Lennon yang sesungguhnya.